
Sebuah kota mati di ujung timur Kawasan Kubah Pusat Imaginarian City--Luxville, sebuah kota mati yang dibumihanguskan pada 733285 Tahun Bintang. Kini yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan yang ditumbuhi lumut dan tanaman merambat. Kiriya Rozuke, salah satu anggota Legendary Arcane, menapakkan kaki diatasnya bersama sosok gadis disebelahnya.
"Masih sama..." ucapnya sembari berlutut dan mengambil sedikit pasir didekat kakinya. Hembusan angin pun menghamburkan butiran objek tersebut dari genggamannya. Sang gadis bertanya padanya.
"Jadi, apakah kau dulu tinggal disini?"
Terdiam seolah sedang membayangkan sesuatu, lalu dia menjawab.
"Saat aku dan Yuriko masih kecil. Namun sekelompok orang yang menamai diri mereka sebagai Twelve Holy Knight menghancurkan kota ini. Orangtuaku juga dibunuh."
Keterkejutan memaknai semburat wajah sang gadis.
"Twelve Holy Knight?! Legenda yang terkenal dengan cerita mereka dalam Holy Expedition 1000 Tahun itu?"
Berjalan diantara puing-puing bangunan, Rozuke menjawabnya.
"Itu bukanlah ekspedisi, melainkan pembantaian."
Terdiam entah tidak menyangka atau yang lain kembali mengisi ekspresinya. Mereka melanjutkan perjalanan ini.
"Sebenarnya aku ingin kemari bersama Yuriko. Berhubung dia mendapatkan misi di Sanderio, kemudian menunjukmu untuk menjadi penggantinya. Jadi, maaf, Luna." tutur Rozuke membalas pernyataan si gadis yang dipanggil Luna.
"Aaaahh- tidak masalah! justru aku malah senang karena kau sudah mengijinkanku untuk menemanimu..." katanya pada Rozuke sambil menundukkan kepalanya.
Langkah kaki tetap mereka ambil setelahnya. Tak terasa, akhirnya setelah melewati banyak puing-puing bangunan, mereka tiba di depan sebuah pohon besar, hampir mirip cemara namun berukuran lebih besar dan terkesan lebih pendek, dengan ranting tak berdaun yang sudah terlihat mengering, pertanda memang tidak pernah terjadi hujan sehingga tidak ada sedikitpun air tanah yang bisa diserap oleh akar-akar besar yang muncul disekitar pohon tersebut.
"Pohon ini..."
Rozuke bergumam lalu mulai menyentuh pohon tersebut dengan telapak tangannya. Luna pun mengikuti apa yang dilakukan Rozuke disebelahnya sembari memejamkan matanya. Sepasang sayap putih muncul dibelakangnya, menimbulkan suara kibasan.
"Ini... masih hidup?!" ucap Luna sedikit terkejut.
"Kau akan tahu, tunggulah sebentar lagi..."
Kala itu memang hari sudah mulai sore, sinar bintang yang meredup menghasilkan bayangan mereka yang mulai memanjang dan memudar seiring semakin menghilangnya cahaya dari bintang pusat Canis Majoris.
Dan ketika senja telah selesai dengan waktunya, beberapa ranting mulai menyala perlahan.
Fenomena yang sama sekali belum pernah dilihat oleh Luna selama hidupnya. Rozuke menatap ranting-ranting yang menyala ini lalu menjelaskan.
"Ini adalah Arasluxium, pohon yang bercahaya setiap seratus tahun sekali, para tetua Luxville menganggapnya sebagai pohon yang diberkati oleh para Malaikat."
Kekaguman itu pun membentuk menjadi sebuah ucapan yang keluar dari bibir Luna.
"Indah sekali..."
Cahayanya mulai terang dan lebih terang, tiba-tiba saja sensor kesigapan Rozuke menangkap sesuatu, lalu menyentuh bibir Luna.
'Sssttt! Ada kelompok sedang menuju kesini!'
Luna pun diam dan mencoba mendengarkan dengan inderanya. Seperti yang disampaikan Rozuke, ada pergerakan dari arah barat.
'Lalu bagaimana?'
'Untuk sementara kita sembunyi dan amati apa yang mereka cari...'
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk sembunyi di bagian reruntuhan kota, tidak terlalu jauh dari Arasluxium.
Tak lama kemudian, kelompok tersebut datang, berkasak-kusuk disekitar Arasluxium sambil melihat ke segala arah, mencaei sesuatu.
"Kemana mereka pergi? Aku tak bisa merasakan kehidupan disini!"
"Jangan anggap remeh anggota Legendary Arcane. Mereka berbahaya, dan yang terpilih dari pengganggu One-Seeing Mind!"
"Kita benar-benar kerepotan menemukan mereka, padahal informasi menunjukkan jika mereka sedang melakukan perjalanan kemari..."
Apa yang dibicarakan kelompok tersebut, menjadi pertanyaan Rozuke dan Luna. Kiriya mengelus dagunya dan bertanya dalam hatinya sendiri.
'One-Seeing Mind? Musuh utama Master? Aku akan menanyakannya langsung jika itu diperlukan.'
Salah satu dari komplotan tersebut merasakan sesuatu dan menengok kearah lokasi dimana Rozuke dan Luna bersembunyi, lalu berteriak kearahnya.
"HEI KALIAN! KELUAR SEKARANG JUGA DARISANA! AKU SUDAH MENEMUKAN KEHADIRAN KALIAN! NAMPAKNYA SALAH SATU DARI KALIAN MENCOBA MENGGUNAKAN KEKUATAN ELEMEN KEMATIAN UNTUK MENUTUPI JEJAK! SAYANG SEKALI INDERAKU INI TAJAM!"
Selang beberapa detik, Rozuke dan Luna memperlihatkan diri, keluar dari persembunyian, yang letaknya tidak terlalu jauh. Sosok bayangan dalam kegelapan itu kemudian tertawa jahat seraya mengejek.
"Khukhukhu~ Ternyata kalian hanya anak-anak ya? Apakah pemimpin Legendary Arcane memiliki fetish terhadap anak-anak?"
Ya, penampilan mereka seperti makhluk aneh bergigi tajam dengan nafas menderu penuh permusuhan. Ketika Luna ingin menyiapkan senjatanya dan memasang kuda-kuda, Rozuke menahan Luna sembari mengingatkan.
"Tidak perlu. Makhluk seperti mereka itu bodoh. Percuma membuang kekuatanmu pada mereka."
Yang jelas, gaya bicara Rozuke mengundang emosi bagi lawannya, dan mulai meradang dengan senjata mereka yang muncul dari dimensi lain.
"Cara bicara yang bagus untuk memulai pertumpahan darah... Hyaaaaaah!!"
Kumpulan makhluk semacam gabungan genetik antara manusia dan makhluk lain itu pun memperpendek jarak dengan Rozuke. Rozuke dan Luna yang sudah terbiasa dengan serangan yang dilancarkan pertama kali oleh musuhnya kemudian melompat untuk menghindari dampak kerusakan. Seakan dia menganalisa data pergerakan lawannya sepersekian detik, setiap serangan yang diberikan oleh lawan tidak ada satupun yang diterima oleh Kiriya dan Luna.
Sembari tetap menghindar, Rozuke menjawab dengan ucapan seperti sebelumnya.
"Aku 'kan sudah bilang, mengeluarkan tenaga untuk melawan makhluk bodoh seperti kalian itu tidak ada gunanya."
Dan lama kelamaan, makhluk-makhluk tersebut mulai terlihat kelelahan dan berhenti untuk mengambil nafas.
"Haa... haa... S-Sialan...! Sungguh cepat bocah ini...! Tangkap si gadis!"
Seranganpun mencoba diarahkan pada Luna, namun hasilnya sama saja. Bahkan Luna memiliki kemampuan untuk terbang dan meliuk-liuk lincah di udara bagaikan burung, dengan mudah menghindari setiap serangan yang diarahkan padanya.
"Haa... haa... Dia lebih gila dari si bocah laki-laki, bos!"
Sepatah kata terdengar dari belakang mereka, nada dingin yang mengancam.
"Sudah selesai, 'kah?"
Entah apa yang berhembus diantara mereka, bulu-bulu halus mereka berdiri setelah getaran keras terasa mencapai tubuh mereka--Rozuke memunculkan sebilah sabit dari distorsi di dekatnya. Luna melihat kearah Rozuke dengan mata bersinar sambil bergumam.
'Waaaah, kereeeen! Dia terlihat seperti Lord of the Fallen!'
Angin berhembus disekitarnya, memunculkan debu hitam, dan Rozuke hilang diantaranya. Lawan dibuat celingak-celinguk karenanya. Bahkan sosok musuh yang memiliki pendengaran tajam pun tidak bisa mendeteksi kehadirannya.
"A-Aku tidak bisa mendeteksi keberadaannya!"
"Sial! Dimana dia?!"
"Oi, bocah! Jangan main-ma-"
Belum selesai seruan kekesalannya dimuntahkan, puluhan tebasan membuat mereka terkapar tanpa sadar.
IMAGINATION REAL BATTLE SKILL - BLACK ANTHEM OF DEATH
Pandangan mereka juga tertuju pada sosok pemuda yang tadi mereka cari, telah ada di depan mereka sambil menebaskan sabitnya yang penuh dengan cairan biru. Pandangan mereka mengabur dan kemudian menjadi gelap.
"Kalian bukan manusia, jadi kalian pantas untuk dibunuh." bisiknya ketika memandang mayat makhluk yang sudah terbujur kaku dengan mata melotot.
"Ikutlah denganku, Luna." ajak Rozuke sambil menonaktifkan kembali kekuatannya karena dirasa pertarungan sudah tidak diperlukan lagi. Luna mengangguk serta membalas dengan senyuman lembut.
"Ya."
...
Sampailah mereka setelah melewati blok-blok gedung yang hancur, di sebuah tanah lapang dengan banyak gundukan berjejer disana.
"Ini..." ucap Luna pertama kali. Rozuke menyambungnya.
"Ini adalah pemakaman warga Luxville yang menjadi korban Pembantaian Twelve Holy Knight."
Rozuke mulai menelusuri gundukan demi gundukan dengan batu diatasnya yang memiliki jenis berbeda, dan berhenti di depan dua gundukan dengan batu bertuliskan nama kedua orang yang dimakamkan dengan nama marga "Kiriya".
"Disinilah orangtuaku dimakamkan." kata Rozuke dengan wajah datarnya.
Semburat kesedihan nampak di wajah Rozuke meskipun dia berusaha menyembunyikannya dengan wajah biasanya, sembari menatap dua batu nisan yang tertancap di ujung gundukan tersebut, mulailah dia berdo'a pada kedua orangtuanya. Dan kali ini Luna pun menyatukan kedua tangannya dibelakang Rozuke, berharap agar roh kedua orangtua Rozuke damai di Surga. Kedua sayap putihnya pun muncul seiring do'a yang dipanjatkannya.
"Tuhan, jagalah kedua orangtua dia selalu diatas sana, bahagiakan mereka di Surga, serta kabarkanlah bahwa anak-anak mereka selalu sehat bersamaku. Amen."
Merasa ada yang salah, Rozuke bertanya.
"Kenapa kau berdo'a pada Tuhan?"
"Eh? Karena aku adalah umat Tuhan, 'bukan? Meskipun kini aku adalah seorang Fallen Angel, aku akan tetap berdo'a sepanjang waktu..."
"Meskipun Tuhan tidak ada? Normalnya, Fallen Angel tidak bisa berdo'a pada Tuhan, bahkan mengalami sakit kepala."
"Soal Hilangnya Tuhan setelah Perang antara Malaikat dan Iblis itu? Tuhan memang menghilang, tapi sistem tetap ada. Toh, aku yakin, Michael-sama dan Lucifer-sama dalam Legenda Sepasang Pedang Surga masihlah hidup."
"Atau bahkan mungkin ada di dunia ini."
"Aku belum tahu pasti."
Rozuke masih penasaran dengan semua cerita yang berkaitan itu, dimana dia mengetahui jati diri Luna Merculight sebagai gadis Fallen Angel, Perang Dua Faksi Di Langit Surga, dan Legenda Sepasang Pedang Surga yang menjadi pahlawan dari Faksi Surga. Karena dia memang membaca hal-hal yang membuatnya penasaran di waktu senggangnya hanya untuk menghabiskan waktunya.
Tak lama kemudian dia berdiri kembali untuk segera beranjak dari tempat itu.
Gelapnya langit menutupi kelamnya puing-puing kota Luxville beserta kisahnya.
Menyisakan kesunyian berarti disekeliling cahaya Pohon Arasluxium yang masih dihuni oleh kumpulan peri penjaga yang hanya akan ada 100 tahun sekali.
"Kita pergi, Luna."
Mengikuti Rozuke, langkah kaki Luna memberikan irama tertentu disekitar makam warga Luxville yang menjadi korban pembumihangusan dari Twelve Holy Knight, yang perintahnya masih dipertanyakan.
Yang pasti, hal itu masih akan menjadi daftar dendam di lubuk hati Rozuke, dimana kedua orangtuanya yang tidak bersalah pun harus ikut menjadi korban.