
Selesai dengan festival musik, saatnya mendengarkan pengumuman juara dari festival musik. Para juri menilai dengan adil dan rahasia, jadi tidak ada unsur kecurangan karena nilai juga berasal dari banyaknya respon penonton.
Sebenarnya, peserta lain pun terlihat tak percaya dengan permainan kami.
"Tidak mungkin...!"
"Sesempurna itu...?!"
"Benarkah mereka...?"
Penampilan kami memang terkesan berisik, namun kami membawakannya dengan performa maksimal.
"Juara pertama festival musik SMA Shibuya tahun ini adalah... Imagination Creator!!! Disusul oleh Lightning Domination, dan Dark Harmony!!"
Sorak sorai atas kemenangan kami menggema di sekitar Akihabara. Nilai langsung diumumkan sendiri oleh para dewan juri yang merupakan personil grup dari beberapa band papan atas. Kami, sebagai juara pertama naik kembali keatas panggung untuk menerima penghargaan piala bergilir dan hadiah langsung dari Pencetus Acara.
Naya mencolek lenganku sambil berbisik.
"Venzo... Rupanya pilihanku benar ya? Kau memang terlihat keren saat memainkan drum~"
"Ehe, ehehehe... Aku hanya bermain sebisaku. Itu saja..."
"Moo~! Selalu saja merendahkan dirimu. Tapi, mungkin itu juga salah satu sifatmu yang membuat banyak gadis penasaran denganmu..."
"Haaa...??"
Aku heran tak percaya dengan apa yang diutarakan Naya padaku. Aneh sekali, memang sudah jarang sekali ya pria rendah hati di dunia ini?
Kenji yang berdiri di sisi lain ikut menyikut pinggangku sambil mengatakan sesuatu.
"Wah, wah, kau ini..."
"Ada apa memangnya?"
"Pianis terkenal yang punya banyak fans pria sedekat ini denganmu..."
Aku hanya terdiam menanggapi pernyataan Kenji soal itu. Aku masih belum berminat untuk menaruh perasaan pada seorang gadis. Mungkin saja karena memang belum ada tipe yang ku cari.
Setelah selesai dengan urusan festival musik, aku, Ryuichi Venzo, beranjak menuju tempat Izano, Kazura, dan Rinjou menungguku. Sampainya aku didekat mereka, aku mendapat sambutan tepuk tangan dari mereka.
"Meskipun tidak bisa beladiri, ternyata ada bakatmu yang menonjol ya? Bakat yang patut dibanggakan dan dipertahankan."
"Benar-benar Sensei yang sekarang jadi dekat dengan banyak gadis, termasuk ketua kelas kita sendiri. Benar kan, Rinjou-senpai?"
"Yah, ketertarikan beberapa gadis yang mendekatinya mungkin dari bakatnya itu. Sialan benar, Ero-sensei! Aku iri denganmu!"
Dengan santai aku menjawab keluhan mereka dengan ceramahku.
"Kau juga tak ada bedanya, Kazura. Gadis mana yang tidak tertarik dengan pemuda yang memiliki bakat beladiri sepertimu? Lalu kau, Izano. Kau kan punya bakat akademis, memangnya gadis mana yang tidak mau dekat dengan pemuda yang cukup pintar? Kau juga Rinjou, padahal kau sendiri dikenal banyak gadis gamer di dunia game, tapi kau masih iri denganku. Kau ini iri atau bodoh sih?"
Karena selesainya Festival Musik bersamaan dengan berakhirnya perlombaan hari ini, kami ikut pulang bersama yang lain. Yah, grup band kami sudah memisahkan diri karena hadiah juga sudah dibagikan. Tidak buruk juga sih, hadiah uang 50 ribu yen yang diberikan dari panitia, aku mendapatkan 20 ribu yen. Entah kenapa mereka memberikannya padaku. Tapi mereka hanya memberitahu.
"Mungkin kau lebih berusaha keras dari kami, jadi, kau layak mendapatkannya meskipun kau adalah anggota baru."
Kami pun pulang menuju rumah kontrakan lagi. Tanpa mengganti pakaian, aku membanting tubuhku di ranjang. Asal kalian tahu saja, benar-benar melelahkan menjadi seorang drummer yang memainkan lagu dengan tempo cepat. Terkadang kau harus memaksakan kaki untuk menginjak pedal drum sambil memukul cepat snare dan hit-hat hampir bersamaan.
Rinjou langsung membuka perangkat komputernya lalu mengakses game yang selalu dimainkannya, DragonRest.
"Ero-sensei, kau tidak ikut main? Kami akan masuk ke Volcano Rest lho."
Berhubung aku masih mengingat karakterku yang menggunakan equip yang terbilang tidak ada rasanya, aku menolak ikut mereka, Rinjou bersama anak guild -ILoveYou-.
"Percuma saja aku ikut, yang ada malah jadi beban kan?"
"Heh? Kau kan bisa jadi tumbal, Ero-Sensei? Hahahaha!"
"Sialan kau! Mungkin aku akan bermain PvP sebentar..."
Aku meminjam perangkat komputer milik Izano lalu mencoba log-in di game yang sama. Karakter milikku beratribut STR, beda dengan karakter Rinjou yang beratribut INT.
Tanpa berlama-lama, aku memilih masuk menuju Colloseum, tempat dimana Player bebas memilih sistem pertarungan dengan Player lain.
Izano duduk disampingku sambil mengamati permainanku, sebentar kemudian menanyakan sesuatu yang tidak jelas.
"Memangnya kau bisa bermain, Sensei?"
"Tsk, jangan remehkan aku, nak."
30 menit kemudian...
"Tsk, beberapa kali menang, beberapa kali kalah..."
Aku mengeluh sambil melemaskan tubuhku yang sedikit kaku karena bermain game. Aku melihat juga sedari tadi Rinjou tertawa senang. Ah, sepertinya dia sukses lagi.
Izano yang juga mengamati caraku bermain dalam kategori PvP terlihat sedikit heran lalu bertanya padaku.
"Sepertinya asyik juga ya, Sensei?"
"Jelas. Dari segi pertarungan, game ini tidak kaku dan tidak membosankan, apalagi game ini memakai sistem roleplay."
Kenyataannya seperti itu memang, game roleplay adalah game yang banyak dimainkan oleh pemuda yang hobi mencari inspirasi sepertiku, ketika aku mulai kehilangan ide, setelah memainkan game semacam ini, otakku menjadi lebih aktif kembali untuk sekedar mencampur-adukkan latar, plot, dan lain sebagainya. Di dalam game roleplay, kita diharuskan untuk berjuang lewat media game seperti layaknya kehidupan. Berpetualang, mencari uang, mendapatkan senjata juga pakaian untuk perlindungan, dan mengalahkan berbagai macam monster untuk menambah pengalaman sebagai petualang yang biasa disebut exp. Sejujurnya, lebih menarik daripada bermain roleplay bersama orang-orang bodoh yang seringkali mencoba menjadi yang super duper kuat layaknya si botak pahlawan anime sebelah.
Rinjou ikut menambahkan jawabanku pada Izano.
"Yup, itu benar. Makanya aku tetap memainkan game ini."
Kazura yang sedang asyik sendiri berlatih di dalam ruangan menertawaiku dan Rinjou sambil mengejek.
"Hahahahaha!! Bertarung di game tidak cukup membuatmu bisa membela diri, dasar kalian..."
"Berisik! Latihan latihan saja!"
Aku membalas pernyataan Kazura, namun dengan entengnya kaki Kazura melayang kearahku. Secara refleks aku menundukkan kepalaku.
"Hup!"
WUSH!
"Oi, sialan! Kalau mau latihan diluar ruangan, kampret! Nyaris saja kepalaku hilang!"
Aku menegur Kazura, izano juga ikut menegurnya.
"Kazura-senpai ternyata tidak tahu aturan juga ya?"
"Seperti yang diharapkan dari Kazura. Benar-benar maniak otot."
Rinjou menimpali seperti menyindir. Bagus, sekali-sekali Kazura memang perlu dipojokkan.
Hari itu terlewat begitu cepat ketika kami menghabiskannya dengan orang-orang dekat seperti sahabat sendiri, dan hal itu tidak bisa dipungkiri lagi. Ah, dunia terasa berputar dengan kecepatan penuh...
-5 Hari kemudian-
Hari ini adalah hari dimana Festival Kembang Api yang diadakan setiap musim panas datang. Sesuai janji 3 hari yang lalu, aku, Ryuichi Venzo, akan bertemu dengan Naya dan Hana di taman Yoyogi dan kemudian bergegas menuju Kuil Jingu Meiji yang terletak tidak terlalu jauh dari taman. Aku bersama Kazura juga Izano berangkat dengan menyewa mobil via online. Jika kalian bertanya soal Rinjou, dia lebih memprioritaskan guild warnya ketimbang melihat Festival Kembang Api, begitulah katanya.
"Tinggalkan saja aku, aku sedang ada guild war dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Juga, ada sedikit bug di aplikasi buatanku. Oiya, satu lagi, Konser Streaming Miyuu-chan akan segera dimulai. Jadi, aku tidak ada waktu untuk sekedar menonton hal yang meledak-ledak di atas langit itu. Terima kasih."
Jika kesibukannya sebanyak itu, apa dayaku untuk memaksanya ikut? Hanya Izano dan Kazura yang bersedia diajak olehku. Aku pun tidak terbiasa sendiri ditengah keramaian. Rasanya terlalu canggung, tahu?
Namun, semua hal itu sirna ketika aku sampai disana dan menemukan sosok gadis blonde dengan rambut ponytail bersama gadis bertubuh mungil rambut coklat disebelahnya, mengenakan kimono.
Semerbak aroma wangi langsung merasuk ke dalam hidung kami tatkala angin lembut membelai tubuh mereka berdua. Wangi ini...
Dan, ketika dua gadis tersebut mengetahui kami sudah ada didekat mereka, hanya aku yang diserbu layaknya barang diskon.
"Venzo-kun~!"
"Senpai~!"
Kedua lenganku secara otomatis sudah diisi oleh mereka, mengabaikan kedua makhluk kurang kharisma dibelakangku.
"Wah, sekejap kami langsung dilupakan... Benar-benar..."
"Dahsyatnya kharisma Ero-sensei..."
Mendengarkan ucapan yang lebih menjurus ke sebuah gerutuan itu, Naya dan Hana langsung menyapa mereka berdua sembari meminta maaf.
"Ah, maafkan aku, Kazura-san, Izano-san, selamat malam..."
"Selamat malam juga, Kazura-senpai, Izano-senpai... Maaf ya? Ehehe~"
Kazura dan Izano langsung ke intinya, membicarakan soal yukata yang mereka berdua kenakan, bermaksud mendahuluiku.
"Manis juga kau malam ini, Naya-san. Juga, Hana terlihat imut."
"Wah, Naya-san terlihat manis. Hana-san juga ya?"
Mendengar pujian Kazura dan Izano, mereka berterimakasih. Karena aku masih terdiam, Kazura menyahutku dengan nada khasnya.
"Oi, Ero. Apa kau tidak ingin memuji mereka yang rela berdandan berjam-jam?"
Izano mengangguk setuju dengan pertanyaan Kazura, namun aku dengan santai menjawab.
"Itu bisa kulakukan nanti, setelah kalian pergi. Hahahaha!"
Lagi-lagi jitakan melandas di kepalaku dengan keras, disertai hujatan.
"Lantas kenapa kau mengajak kami, dasar keparat!"
"Ero-sensei, lain kali kalau begini lebih baik kita berkelahi saja di tengah taman..."
Yah, memuji Naya dan Hana sepertinya tidak cukup. Kalian tahu kan apa yang akan kulakukan?