World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 24 - Imagination Creator, Beraksi!



Hari ini, aku, Ryuichi Venzo, di hari pertama minghu kedua musim panas ini, memiliki jadwal yang tidak bisa lagi ditunda, yaitu mengikuti sesi latihan bersama anggota dari Klub Musik. Soal nama, kami belum memikirkannya, dan batas terakhir pendaftaran nama grup band yang ikut dalam Festival Musik Akihabara ditutup besok...


Kazura, Izano, dan Rinjou mengisi waktu mereka dengan menghabiskan waktu untuk kegiatan mereka masing-masing, entah itu di dalam maupun di luar kontrakan.


Aku berpamitan pada mereka setelah selesai sarapan pagi karena Naya dan anggota lain sudah menungguku.


"Lalu, jam berapa kau akan pulang?" tanya Kazura pasaku saat sedang sibuk dengan pemanasan otot sebelum berlatih sendirian.


"Hmm, mungkin saat sore aku akan kembali, kami masih perlu memikirkan soal nama grup..."


Mendengar jawabanku, nampaknya Kazura terheran-heran lalu bertanya lagi.


"Tumebn sekali kau mau berpikir secara kelompok, biasanya kau suka untuk memikirkannya sendirian..."


"Jangan samakan aku dengan makhluk hikikomori, bodoh! Adakalanya bersosialisasi itu perlu, kan?"


Benar-benar si bodoh ini suka memancing emosi dengan pertanyaan semacam itu...


...


Seperti waktu yang dijanjikan, aku berangkat dari kontrakan langsung pada pukul 8 pagi, karena Naya memberitahu jika kami harus sudah ada di area sekolah pada pukul 9 pagi untuk latihan dan juga pemberian nama untuk grup band kami.


...


Sesampainya di depan gerbang SMA Shibuya, aku masih belum menemukan satupun orang kecuali penjaga sekolah yang sudah duduk di pos dekat gerbang sambil melihat kearah jalanan yang cukup ramai dengan kendaraan dan lalu-lalang beberapa orang.


"Oh, si murid baru yang populer ya?" sahutnya padaku yang sedang berdiri di depan gerbang.


"Ah, anda mengenal saya?"


"Pastinya, semenjak keributan di Kantin ketika kau yang menghadapi anak berandalan itu, Ibu kantin menceritakannya padaku juga. Ngomong-ngomong, tumben di hari libur ini kau ke sekolah. Ada keperluan apa?"


"Soal itu..."


Tiba-tiba saja sebuah lengan melingkar di pundakku, lalu sumber suara yang ceria dengan sedikit urakan terdengar bersemangat di dekat telingaku.


"Kami akan mengikuti Festival Musik di Akihabara tentunya~!"


"N-Naya?"


Benar-benar terlihat seperti gaya gadis tomboy, dengan t-shirt bercorak hitam dan putih, dibalut rompi jeans bergaya terbuka, juga celana pendek, ditambah rambutnya yang sengaja dikuncir kuda itu adalah Naya. Dia datang dengan diantar Managernya yang selalu terasa memelototiku dibalik kacamatanya. Setelah semua, kau masih mencurigaiku, Manager sialan?!


Yang jelas, penjaga sekolah terkejut melihat Naya yang dengan beraninya melingkarkan lengan putih dan lembutnya padaku.


"Wah, wah~ Bahkan sang pianis cantik yang dijuluki Putri dengan Sentuhan Sihir bisa sedekat ini denganmu... Benar-benar murid baru yang hyperaktif ya?"


"--Yah, benar-benar sosok yang cocok jika dijadikan sebuah kapten..."


...Yang lain pun berdatangan dari belakang. Mereka adalah Zetsuka Kenji dari kelas C, Kirishima Yui dari kelas B, dan Kawaguchi Iori dari kelas B. Mereka datang dengan membawa barang-barang yang akan mereka gunakan masing-masing kecuali Kenji yang memang seorang vocalist.


Kawaguchi Iori dan Kirishima Yui membawa gitar dibalut tas dipunggung mereka. Tak seperti Iori, Kenji, dan Naya yang terlihat bersemangat. Yui masih mudah gugup jika berurusan dengan keramaian.


"U-Umm... M-Mohon bantuannya!"


Penampilannya nampak sederhana, dengan kemeja merah muda serta rok yang memiliki warna biru gelap yang mendominasi juga lipatan-lipatan disekelilingnya, rambut panjang sepunggung yang lurus, namun kesan kecantikan dirinya sudah terbentuk. Benar-benar kekuatan dari gadis pemalu.


"Jadi, bisa kita mulai sekarang, Kapten?" celetuk Iori sambil tersenyum lebar. Memangnya sudah diputuskan ya?!


Akhirnya, setelah selesai berbasa-basi sebentar, kami masuk ke dalam gedung menuju ke Ruang Klub Musik. Naya sudah memiliki akses penuh di dalam Klub Musik yang memang dihidupkannya lagi setelah anggota sebelumnya yang diisi oleh siswa-siswi kelas 3 lulus dan menyerahkan Klub Musik pada generasi yang lebih menjanjikan daripada mereka, yaitu Naya.


Dari peninggalan murid kelas 3, Ruang Klub Musik ini bisa diibaratkan seperti sebuah studio mewah, dengan banyak alat musik serta peralatan elektronik yang mendukung lainnya seperti speaker, equalizer, mixer, dan lain sebagainya. Terdiri dari ruang studio dan ruang Utama Klub, aku melihatnya seperti Ruang Klub yang sangat mewah.


Kami meletakkan barang-barang ke dalam studio, lalu berkumpul sebentar di ruang klub untuk memikirkan nama yang akan kami gunakan untuk mewakili grup band kami.


"Jadi kapten, bagaimana untuk keputusan nama?"


Sejenak aku berpikir- Hei, kenapa aku benar-benar harus berlagak seperti seorang kapten!? Kemampuan kalian kan lebih baik dariku!


Naya terlihat sumringah nyatanya saat aku mencoba memikirkan sebuah nama yang cocok untuk band ini, tak terkecuali juga yang lain.


Kebetulan juga Klub Musik memiliki papan tulis putih, jadi aku bisa menuliskan beberapa ide dari mereka dan juga dariku disitu, dengan sistem suara yang diperoleh dari kami.


Karena aku kaptennya, aku memberikan ide pertama dengan mulai menggoreskan tinta hitam dari spidol ke papan tulis putih.


Imagination Creator...


Tapi, seketika kupikirkan lagi setelah menulisnya...


'Nampaknya ini akan jadi berbelit-belit dan panjang, ini kan grup band, bukannya anime...'


Gumamanku disambung oleh komentar dari Naya yang kemudian disusul oleh Yui.


"Apakah itu tidak terlalu panjang? Kita membutuhkan nama yang sederhana, bukan? Namun juga ada filosofi dibaliknya?"


"Benar..."


Seketika ada pemikiranku yang muncul tentang filosofi tersebut, mengapa aku memberikan nama imagination Creator.


Mulai melangkahkan kaki mengelilingi mereka, aku menjelaskan.


"Imagination Creator, ketika itu dijabarkan, berkaitan dengan manusia yang jelas memiliki daya pikir yang dipusatkan di otak."


Setelah berhenti disamping Naya, aku pun melanjutkan.


"Aku ingin tahu, bagaimana caramu bermain piano. Apakah hanya dengan mengikuti arahan dari susunan not di buku, atau sudah mulai mengaransemennya sendiri?"


Setahuku, pemain piano professional, mereka memiliki cara masing-masing untuk membuat sebuah lagu menjadi lebih indah dan memiliki rasa baru bagi para pendengarnya.


"Memang lebih banyak aku memberi banyak sentuhan..."


Kujentikkan jariku untuk menghentikan jawaban Naya disana.


"Itulah hasil dari imajinasi, bahkan lagu yang diciptakan itu sendiri adalah hasil dari imajinasi penciptanya, bukan?"


Mereka yang mendengarkanku mengangguk, mencoba menyelaraskan keterangan yang kuberikan dengan nalar mereka masing-masing.


"Woah, jika dipikir-pikir, itu benar sekali, kawan! Benar-benar filosofi yang tepat!" ujar Iori setuju.


Tak hanya Iori, nampaknya Yui dan Kenji juga tersenyum puas. Naya pun hanya menggelengkan kepalanya tanda dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Yah, mau bagaimana lagi? Nampaknya hasil sudah terlihat. Aku akan mengirimkan nama grup kita ke pihak panitia Festival agar mereka dapat langsung menempatkannya pada daftar acara festival musik."


Yah, meskipun hanya asal buat, setidaknya aku mendapatkan pelajaran, bahwa segala keputusan harus diselesaikan dengan sebuah diskusi agar selesai dengan sempurna...


Dengan ini, sisanya tinggal berlatih saja, dan Festival Musik Tokyo bakal menyambut kami dengan banyak kejutan...


"Kalau begitu, sudah diputuskan, nama grup band kita adalah Imagination Creator!"


Iori mengangkat tangannya yang mengepal dengan penuh antusias, Kenji terlihat puas, dan Yui menyunggingkan senyum senang. Yang ada Naya malah memelukku erat.


"Kau memang hebat!"


"Ekkkhh! Badanku tipis, jangan dipeluk terlalu erat, nanti patah!" teriakku pada Naya, diselingi tawa yang lain.