World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 46 - Pintu Tujuan



Nee, nee...


Apa? Kau mendengar panggilan?


Oh? Ada disana ya?


Baiklah~ Besok pagi kita berangkat~


Nyahahahahahaha~!


...


...


...


Ryuichi Venzo, seorang pendatang dari Bumi ke dunia lain bernama Experian--kini malah mendapatkan hukuman penjara karena berusaha melindungi seekor monster yang berubah menjadi manusia, sekaligus anak dari Perdana Menteri Sanderio--Ramalia. Bersama Ramalia, kini dia meringkuk di lantai terbawah Gedung Pemerintahan Kota Sanderio dengan penjagaan rapat.


Dinginnya jeruji besi yang berbaur dengan sedikitnya cakupan oksigen disana dirasakannya bersama tahanan lain. Esok harinya, Ramalia akan dieksekusi, dan Venzo sama sekali tidak menerima tindakan tersebut. Namun apa daya, dengan kalung pengunci kekuatan imajinasi yang terpasang di lehernya, dia hanya bisa diam sambil mengutuk diri karena tak bisa melakukan apapun ketika Pasukan Penjaga meringkus mereka.


'Sial--sial--SIAAAAAL!'


Mungkin jika dia bisa mengaktifkan imajinasinya sedikit saja, dia akan lolos dengan mudah. Tetapi sepertinya kalung yang terpasang di lehernya terbuat dari bahan yang tak mudah putus--antara baja atau uranium.


Yang dia lakukan saat ini adalah memandangi Smartphonenya sambil mengeluh, lalu memandangi Ramalia yang tertidur di pangkuannya. Dibelainya rambut coklat panjang itu.


"Besok, aku akan berusaha sekeras mungkin menyelamatkanmu, meskipun itu artinya aku harus menjadi lawan pihak Sanderio maupun menurunkan reputasi Ayah Ruru-senpai. Asalkan kau bisa bebas menapaki jalan hidupmu sendiri."


Entah Ramalia mendengarnya atau kebetulan saja, gadis itu mengigau kemudian.


"Mmm... Venzo... Jangan pergi..."


Venzo meresponnya dengan senyuman, lalu bersandar pada jeruji untuk memejamkan matanya, menuju esok hari dimana Ramalia akan dieksekusi.


...


...


...


Bangun...


Pangeran...


Bangun...


...


...


...


Tiba-tiba saja Venzo berada ditengah sebuah area yang sangat gelap, sehingga hanya dirinya saja yang terlihat.


"Dimana ini?"


Venzo merasa kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini, disusul oleh dua cahaya yang muncul dari kejauhan.


Salah satunya adalah nyala cahaya merah darah, lingkaran yang memiliki dinding cahaya sampai ke langit.


Yang lain adalah cahaya biru, yang bersinar lembut sampai ke angkasa. Nampak kilauan memancar diantara cahaya tersebut.


"Jadi, inikah pintu tujuanku, yang hanya muncul ketika mentalku sudah siap?" gumam Venzo saat mengingat apa yang pernah dikatakan ibunya, Meika.


...


...


...


"Venzo..."


"Iya, bu..."


"Ketika mentalmu sudah siap, kau akan menemui Pintu Tujuan dalam hidupmu. Itulah mengapa Klan Nakamura dikenal dengan julukan klan pembasmi iblis."


"Pintu Tujuan?"


"Hm~ Akan ada dua pintu bercahaya. Hitam dan Putih. Itu adalah simbol antara Kegelapan dan Cahaya. Jika kau memilih Pintu Hitam, maka kau akan memiliki kekuatan dasar tentang sihir. Jika kau memilih Pintu Putih, maka kekuatan pembersihan dan pemurnian akan menjadi kekuatan dasarmu. Semua Generasi Klan Nakamura memilih Pintu Putih, meski ada beberapa yang memilih Pintu Hitam untuk kepentingannya sendiri."


Saat mengatakan kalimat terakhir, wajahnya terlihat murung.


Venzo mencoba membayangkan hal itu dengan menatap langit-langit ruangan di rumahnya.


...


...


...


"Hitam dan Putih? Lalu kenapa malah ada Merah dan Biru?!!"


Ya, dia mengamuk sendiri di tempat itu, karena apa yang dilihatnya tak sesuai dengan cerita turun-temurun yang diberitahukan ibunya.


Tapi Venzo tak diam saja, dia melangkah ke warna yang diinginkannya untuk masuk, karena pintu tersebut dirasa melambai padanya--tak seperti yang merah yang hanya memberikan tekanan menakutkan padanya.


Kakinya pun mulai memasuki area berwarna biru itu, kemudian tak perlu menunggu lama, cahaya tersebut memindahkannya ke tempat lain seiring cahayanya yang semakin terang. Venzo memejamkan matanya untuk sejenak dikarenakan cahaya yang menyilaukan disekitarnya.


Kemudian ruang hitam tersebut berubah, menjadi sebuah ruangan ungu dengan semerbak aroma yang entah kenapa menggugah juniornya untuk bangkit--mungkin karena ruangan tersebut memperlihatkan sebuah kamar dengan ranjang bertirai transparan dengan ukuran king size.


"Ruangan siapa ini?"


Aroma yang dirasanya memiliki sumber itu diresapinya lebih dalam dan dicarinya, membuatnya mengambil jarak sedekat mungkin ke ranjang besar tersebut.


"Woah, ranjangnya..."


Ranjang yang kini dirabanya itu menciptakan sebuah sensasi tersendiri di otaknya. Akhirnya, karena kalah dengan imajinasi liar sendiri, dia pun memilih untuk naik keatas ranjang dan berbaring.


"Eh?"


Saat dia mulai terlelap akan kenikmatan ranjang yang ditidurinya tanpa ijin, suara jejak kaki dan aroma lain yang juga lebih kuat--hampir seperti feromon--kembali menyerang indra penciumannya, membuatnya terbangun.


"Siapa itu?"


Tanpa memasang kuda-kuda waspada, Venzo bertanya pada sosok yang datang. Dan responnya...


"Ah, rupanya Pangeran Yang Ditakdirkan, Garis Keturunan Suci, Generasi ke 25 sudah datang ya?"


Akhirnya, sosok yang bersuara tersebut muncul dari samping, lalu melangkah menuju ranjang melalui bagian tengah, dan membuka tirai transparan dengan anggun--sosok wanita dengan rambut pirang, bergaun ungu dengan motif bunga di beberapa bagian, transparan sehingga memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.


Tak ayal, mata Venzo terbuka lebar di ranjang. Wanita itu tersenyum melihat respon Venzo.


"Tidak perlu seterkejut itu, Pangeran~"


Wanita itu langsung menyambut tubuh Venzo dengan pelukan, mencoba menenangkan Venzo dengan kelembutannya.


Dengan lincah dan lentik, jari jemarinya mulai melepas kemeja Venzo, lalu menari-nari di dadanya. Hal ini jelas-jelas membuat nafsunya naik.


"Ufufu~ Imutnya~"


"A-Ano... Apakah aku mengenalmu?"


Dengan helaan nafas yang harumnya kembali menyerang sensitifitas hidung Venzo, dia memperkenalkan dirinya.


"Jadi, perkenalkan. Aku adalah Aphrodite..."


Dengan perkenalan itu, Venzo berpikir seperti dia sedang membuka buku di otaknya, lalu merespon cepat ketika menemukan jawaban dari nama tersebut.


"Ah, aku ingat! Kau Dewi dari Mitologi Yunani itu 'kan? Putri dari Dewa Petir Zeus--"


Raut wajahnya pun meredup, ditambah dengan garis-garis latar belakang biru menuju hitam di kepalanya.


"--dan memiliki beberapa suami... kan?"


"Ayolah~ Aku pergi ke dunia ini tanpa ijin mereka hanya untuk bertemu denganmu, Pangeran~"


"Tidaktidaktidaktidak! Aku akan dicap sebagai pencuri istri orang! Apalagi semuanya Dewa! Apa kau mau aku terbunuh?!"


"Hmm? Padahal menurut cerita yang kudengar dari Ayah, bahkan kekuatanmu dapat mempengaruhi beberapa Rasi Bintang lho~"


Venzo menghentikan penjelasan Aphrodite dengan pertanyaan yang tabu ditanyakan pada seorang wanita. Venzo pun mengetahuinya dan meminta maaf sebelum masuk ke topiknya.


"Maafkan aku sebelumnya..."


"Untuk apa, Pangeran?"


"Aku ingin bertanya soal umurmu..."


"Ah, umurku ya? Menurut perhitungan awal diriku tercipta... Mungkin--397 juta tahun~"


Meskipun umurnya terlampau jauh untuk seorang manusia, lekuk tubuhnya mencerminkan bahwa Aphrodite adalah Dewi yang mewakili Kecantikan.


"Tapi..."


"Hmm?"


"Perkenalan lisan tidaklah cukup untukku, Pangeran~"


"He?"


Dan perlahan Aphrodite mulai membuka pakaian Venzo sembari tersenyum nakal.


"Mari kita saling memperkenalkan diri--lewat tubuh~ Ufufu~" lanjutnya.


GYYYAAAAAA!!


Teriakan Venzo mengakhiri mimpinya, saat memilih Pintu Tujuan warna biru.