
Beberapa hari setelah kejadian soal penangkapan seorang bangsawan dari Jerman yang ditangkap polisi serta Pihak Kerajaan Jerman yang memberikan tuduhan padanya atas kasus penggelapan uang, akhirnya Ayame dan asisten rumah tangga yang lain dipulangkan ke tempat asalnya. Beberapa wanita yang kini tidak punya pekerjaan diberikan keterampilan pekerjaan secara gratis di Balai Latihan Kerja daerah kota IK dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah Jepang, kecuali Ayame yang masih bersekolah. Ryuichi Iruka dan Ryuichi Meika sepakat untuk membantu Ayame melanjutkan sekolahnya, dengan tinggal bersama keluarga Ryuichi. Keputusan ini sudah disetujui langsung oleh Ryuichi Iruka sebagai kepala keluarga, dan sebagai gantinya, Ayame berjanji akan membantu keuangan keluarga Ryuichi setelah nantinya lulus dan mendapat pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya.
Ryuichi Venzo memilih untuk menerima perawatan di rumah, dan Ayame membantu merawat luka-luka Venzo yang diakibatkan oleh siksaan dari anak tunggal Reichard Schneider ketika dirinya bersikukuh untuk membuat Ayame keluar dari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di kediaman Schneider.
Merasa sudah lebih baik, Venzo mengajak serta teman-temannya untuk sekedar memancing di sungai yang terletak di perbukitan dekat kota IK.
...
"Oi, Sensei."
"Ada apa?"
Aku, Yamaguchi Izano, kini sedang asyik memancing dengan Ero-sensei di sebuah sungai belakang rumahnya, yang cukup jauh memasuki hutan di daerah kaki gunung. Kazura-senpai dan Rinjou-senpai juga ikut, mereka malah mencoba menangkap ikan dengan tongkat kayu runcing.
"Tempat ini cukup sepi ya?" tanyaku yang duduk diatas batu sembari berharap pancing yang kupegang ini bergerak.
"Hmmm? Jika untuk melakukan adegan yang tidak-tidak dengan seorang gadis, ya jelas sangat sepi." jawab Sensei sambil mengeluarkan senyum jahatnya dan menggerak-gerakkan jari jemarinya seakan dia sedang meremas dan memainkan sesuatu yang mesum.
"Ero-Sensei memang pikirannya selalu menjurus kearah yang mesum ya?" Rinjou-senpai terlihat tertarik dan mencoba masuk dalam pembicaraan kami.
"Bukan kejutan lagi bila julukannya adalah Ero-Ecchi." tambah Kazura-senpai sambil berkeliling di area sungai, tempat kami memancing.
Cukup lama kami memancing, kami masih belum mendapatkan hasil. Karena Kazura-senpai dan Rinjou-senpai ikut berburu ikan disekitar tempat kail pancing kami mengambang, maka ikan yang ada disekitar situ jadi terganggu dan menjauhi kail pancing kami.
"Oi, Bakazura, Rinjou, carilah tempat berburu lain, bodoh! Lihat! Ikan yang ingin mendekati kail pancing kami jadi terganggu karena kalian!" seru Sensei yang mulai kesal dengan kail pancingnya yang masih belum disentuh oleh satupun ikan.
"Iya, iya, kampret! Kami akan pindah! Ayo, Rinjou!" balas Kazura yang mengajak serta Rinjou untuk berpindah ke tempat lain.
"Dasar!" keluh Sensei pelan sambil mengambil sebatang rokok yang ada di saku celananya.
Baru kali ini aku melihat Sensei merokok, padahal setahu kami bertiga, Sensei tak pernah merokok di dalam rumah kontrakan kami.
"Sensei, kau merokok?" tanyaku yang penasaran saat Sensei memantikkan korek apinya dan menyulut rokok yang ada dibibirnya itu.
"Hmmm? Kau belum pernah melihat laki-laki merokok ya?" balas Sensei yang mematikan kembali korek apinya sambil menatapku.
"Bukan begitu. Baru kali ini aku melihat Sensei merokok. Memangnya itu kebiasaan Sensei ya?" tanyaku kembali menginterogasi Sensei secara halus.
Akhirnya, Sensei kembali memantikkan api dari koreknya dan mulai menyulut benda yang menurutku tidak baik untuk kesehatan itu.
Saat menyulut rokok tersebut, suara percikan dari gulungan kertas berisi tembakau tersebut terdengar, meskipun tidak cukup nyaring.
Sebentar kemudian setelah menyulut rokoknya, Sensei terlihat memejamkan mata sejenak, lalu menghembuskan asap putih yang keluar dari sekali hisapan saat menyulut tadi, terlihat seperti perokok aktif yang sudah berpengalaman.
"Aku memang tidak pernah merokok di dalam ruangan, karena akan berdampak buruk bagi orang lain yang menghirup asap ini tanpa sengaja. Lagipula, benda ini selalu memberiku beberapa ide saat aku mulai kehilangan semangat menulisku." ucap Sensei sambil menatap birunya langit tanpa awan.
"Memang tidak ada cara lain ya, Sensei? Itukan tidak baik untuk kesehatanmu, uhuk uhuk!" tambahku yang sedikit terbatuk-batuk karena tak sengaja menghirup asap rokoknya yang berhembus kearahku.
Menyadari asap rokoknya mengarah padaku, Sensei menghisap rokoknya sekali lagi, lalu mengalihkan rokoknya disebelah kirinya, karena aku sedang duduk disebelah kanannya.
"Fiuh..." Sensei menghembuskan asap putih dari mulutnya kearah atas, agar tak berhembus kearahku.
Satu lagi kebiasaan Sensei yang aku ketahui. Dia selalu menghisap rokok saat dia kekuarangan inspirasi di pekerjaan menulisnya ataupun saat dia merasa bosan. Yah, beberapa orang beranggapan, rokok dapat memicu otak untuk lebih aktif lagi, tapi disisi lain, efek negatif yang ditimbulkan justru lebih banyak. Namun Sensei tidak memikirkan hal itu, yang penting dia tidak ingin merugikan orang lain dengan melakukannya di tempat sepi ataupun tempat khusus untuk merokok.
"Meskipun begitu, aku tidak merugikan orang lain kan? Lagipula, aku melakukan ini saat sedang butuh inspirasi dan saat ingin melakukannya saja." lanjut Sensei.
Selesai menikmati beberapa hisapannya sampai rokok tersebut tinggal tersisa beberapa senti saja, Sensei mematikan rokok yang masih menyala tersebut dan memasukkan puntungnya ke dalam sebuah kantong plastik yang sudah disiapkannya.
Satu lagi kebiasaan Sensei yang aku ketahui. Dia selalu menghisap rokok saat dia kekuarangan inspirasi di pekerjaan menulisnya ataupun saat dia merasa bosan. Yah, beberapa orang beranggapan, rokok dapat memicu otak untuk lebih aktif lagi, tapi disisi lain, efek negatif yang ditimbulkan justru lebih banyak. Namun Sensei tidak memikirkan hal itu, yang penting dia tidak ingin merugikan orang lain dengan melakukannya di tempat sepi ataupun tempat khusus untuk merokok.
"Yosh, dengan begini, otakku kembali aktif." ungkapnya sambil memasukkan kantong plastik berisi puntung rokok tersebut ke dalam saku celananya.
"Wah, Sensei pecinta lingkungan juga ya?" pujiku sambil tersenyum.
"Yang berkewajiban menjaga alam adalah manusia. Jadi, mulailah dari hal yang sangat kecil, karena hal kecil bisa menjadi besar dalam kehidupan kita. Bayangkan saja, apa yang terjadi ketika aku membuang puntung ini dalam keadaan masih menyala... Pasti akan menyulut rumput kering dan akan terjadi kebakaran jika dibiarkan saja kan?" jelas Sensei sambil menyentil dahiku sedikit keras.
"Aduh! Kenapa Sensei menyentilku?" keluhku sambil mengusap dahiku yang sedikit terasa sakit akibat disentil oleh Sensei.
"Mungkin kau harus banyak belajar lagi, Izano. Hahahaha!" balas Sensei sambil berdiri kemudian melangkah menuju kearah perginya Kazura-senpai dan Rinjou-senpai.
"Ayo kita menyusul Kazura dan Rinjou. Aku tidak mau disangka homo jika berlama-lama denganmu saja disini. Hahahaha!" ejek Sensei sambil berlari menjauh dariku.
"Kampret! Lihat saja kau, Sensei! Aku ini normal, tahu!" balasku meneriaki Sensei sambil berlari mengejar Sensei yang agak jauh dariku, tak lupa aku mengacungkan pancing yang ada ditanganku sambil mengayun-ayunkannya.
Akhirnya, setelah berlama-lama di hutan belakang rumah Sensei, kami pun bergegas kembali ke rumah Sensei karena hari sudah mulai sore, matahari mulai condong ke barat dan mengeluarkan sinar yang tidak terlalu cerah namun indah dinikmati saat kami berjalan di jalan setapak yang terbentuk secara alami itu.
Sampai di hamparan rumput yang bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi yang berhembus dari arah gunung yang tidak kuketahui namanya tersebut, Sensei, Kazura-senpai, dan Rinjou-senpai membanting tubuhnya disana.
Angin yang melambai dan melewati kami membuat pikiran kami jernih, seakan membuang segala penat kami setelah lama berburu ikan di sungai tengah hutan tadi.
"Nyaman sekali... Kenapa kau tidak bilang jika tempat ini menenangkan, Ero-Ecchi?" tanya Kazura sambil melipat lengannya di belakang kepala, memejamkan matanya sambil menghirup nafas dalam-dalam.
"Jangan salahkan aku, Bakazura! Kau saja yang tak pernah bertanya padaku!" elak Sensei yang kesal diomeli Kazura-senpai.
"Sudah, sudah. Yang penting kita sudah ada disini kan? Tidak perlu ribut." tambah Rinjou menengahi perdebatan mereka berdua.
Aku pun ikut membanting tubuhku didekat mereka bertiga, dengan ini, kami terlihat seperti pemuda petualang tanpa kekasih satupun, kecuali Ero-sensei yang masih membuat kami penasaran tentang kedekatannya dengan beberapa gadis di waktu-waktu dekat ini.
"Oiya, Sensei. Nishikawa Ayame itu siapanya Sensei?" tanyaku membuka percakapan.
Kazura-senpai dan Rinjou-senpai yang teringat akan hal tersebut langsung mengarahkan pandangannya kearah Sensei yang berada ditengah-tengah kami.
"Ha! Kau ingat akan menceritakan pada kami siapa dia, kan?" seru Kazura-senpai
yang masih penasaran akan hal itu.
"Hmmm, pasti Ero-sensei pernah melakukan hal 'itu' padanya ya?" tambah Rinjou-senpai ikut memprediksi alasan gadis yang kami tanyakan tersebut sangat dekat dengan Sensei.
"Baiklah, aku akan menceritakannya. Tapi ingat, rahasiakan ini dari siapapun!" jawab Sensei seraya bangkit dari tempatnya berbaring dan duduk menekuk lututnya.
Mencoba mendengarkan apa yang akan diceritakan Sensei soal gadis tersebut, kami terdiam sambil memfokuskan indra pendengaran kami pada suara Sensei.
Nishikawa Ayame, adalah gadis tetangga Sensei yang menjadi teman Sensei sejak umur 5 tahun...
Namun, sebelum Sensei berpindah menuju Prefektur Shibuya, kota Tokyo, sebuah insiden yang melibatkannya terjadi...
Saat itu, Nishikawa-san sedang berjalan pulang menuju rumahnya dari sekolah dasar bersama dengan Sensei...
Tiba-tiba ditengah perjalanan saat sore tersebut, mereka berdua dihadang dua orang laki-laki bertubuh besar...
Laki-laki yang menghadang mereka mengincar Nishikawa-san, tanpa rasa takut sedikitpun, Sensei mengeluarkan senjata yang selalu dibawanya untuk pertahanan diri, yaitu sepasang pisau kecil untuk melindungi Nishikawa-san...
Namun, karena tubuhnya terlalu kecil, Sensei tumbang hanya dengan sekali pukulan keras di kepalanya oleh salah satu orang laki-laki...
Kesadarannya pun hilang dan tiba-tiba saja dia sudah ada di kamarnya bersama Nishikawa-san dan ditemani oleh orangtuanya...
"Dimana aku?" tanya Sensei sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dan terasa balutan perban ada di kepalanya.
"Ayame, tolong jaga Venzo ya? Kami akan pergi mencarikan obat untuknya." ucap Ryuichi-san dan Nakamura-san pada Nishikawa-san sambil keluar dari kamar Sensei, dan yang tersisa hanyalah Sensei bersama Nishikawa-san.
"Venzo-kun... Kenapa? Hiks, hiks..." tanya Nishikawa-san sambil menangis karena tidak tega melihat Sensei yang masih terbaring lemas di ranjangnya.
"Errr? Bagaimana ya? Aku tidak bisa diam saja melihatmu akan diapa-apakan mereka, Ayame-chan. Lagipula... kau itu... gadis yang imut..." jawab Sensei sambil tersenyum lalu memalingkan pandangannya kearah lain.
"Tapi, mereka menduga kau sudah..." tanya Nishikawa-san kembali, berdasarkan apa yang dilihatnya.
"Aku tidak tahu... tiba-tiba setelah aku dipukul cukup keras... sebuah suara besar terdengar berbisik padaku... Oiya, apa yang terjadi?!" tanya Sensei yang penasaran kenapa mereka selamat.
"Kau... melukai mereka dan mereka lari ketakutan karena kau tiba-tiba berubah menjadi orang lain... Tapi, apapun itu, terimakasih." jelas Nishikawa-san, lalu perlahan wajah Nishikawa-san mendekat kearah Sensei.
Nishikawa-san mencium bibir Sensei dengan lembut, membuat Sensei terkejut.
Setelah melepaskan ciumannya, Sensei bertanya.
"A-Ayame-chan...! Kenapa kau... tahu...?" tanya Sensei yang masih membelalakkan matanya.
"A-Aku membacanya di cerita Putri Salju... Kalau ciuman itu adalah... tanda kasih sayang..." jawab Nishikawa-san terbata-bata dengan muka memerah lalu pergi berlari meninggalkan Sensei.
Cerita itupun selesai dengan rasa cemburu pada kami bertiga.
"Kampret! Bagaimana bisa dia menciummu di umur yang sekecil itu?!" teriak Kazura-senpai sambil mencekik leher Sensei dan mengguncang-guncangkan tubuh Sensei, Rinjou-senpai pun tak ketinggalan, aku juga ikut mencekik Sensei.
"Sensei sialaaaaaaaan!!!" teriakku sambil ikut mencekik Sensei.
"Ternyata benar dugaanku!! Ero-sensei sialaaaaaan!!!" teriak Rinjou-senpai yang tak mau ketinggalan.
"Eeeeek!! L-Lepaskan aku, sialan!! Ohooeek!! Aku tidak bisa bernafas... eeeekkk!! Kkkkhh!!" teriak Sensei yang terbatuk-batuk dan tersengal sambil mencoba melepaskan diri dari cekikan kami bertiga.
Ternyata salah satu dari kami memiliki pengalaman yang memang berbahaya sekali ya? Dasar Ero-Ecchi Venzo-sensei...