
Imagine *Sebelumnya...
IMAGINATION BATTLE SKILL - COUNTER CROSS!
Gelombang bercahaya melesat kearahnya, namun sebuah pukulan berat melenyapkan skill tersebut.
BANG!
Padahal biasanya tidak ada yang menduga serangan itu! Dia benar-benar memiliki informasi penuh tentangku!
Tidak diduga, pukulannya pada gelombangku membuatnya terseret beberapa meter. Dia tersenyum puas.
"Tidak buruk juga untuk pengguna kecepatan... Mungkin kau akan menjadi saingan Nekorika jika diukur dari respon kecepatanmu dan kekuatan skillmu..."
Tidak buruk darimana?! Aku yang merasakan keburukan itu akan datang, tahu?! Ahli Materi beratribut Wrath memang memiliki ketahanan yang gila! Skill balasan yang biasanya bisa mengejutkan lawanku bahkan hanya dipukul!
Dari kejauhan, Nishiki mengamati dengan kebosanan. Namun dari perkataannya, sepertinya dia mengerti akan ketidakseimbangan disini.
"Hoaaaamm... Mr. Joseph Starblast... Bukankah ini sedikit berlebihan, mengingat tingkatanmu jauh diatas murid Nuevo?"
Starblast-sensei mengecilkan gelombang di tubuhnya sembari mempertanyakan hal itu.
"Apa maksudmu, Nishiki Kuro? Ini adalah latihan! Aku ingin tahu seberapa tahan anak panggilan dari Bumi ini, karena dia adalah salah satu dari pilihan Perdana Menteri Imaginarian City beserta Kepala Akademi."
Itu pun mendatangkan pertanyaan lanjutan dari Nishiki yang biasanya tidak ingin banyak bicara.
"Meskipun kau bilang ini hanya pemanasan semata? Empiria memiliki ketahanan pasif untuk mengurangi kecepatan Imaginer yang masuk ke dalam area jangkauan defensif Imaginer Atribut Wrath, juga memiliki pertahanan terhadap status magis yang cukup tinggi, 'bukan?"
Huh? Aku baru mengerti hal itu! Jelas-jelas itu sangat tidak menguntungkan bagiku! Jika aku tidak bisa melukainya sedikitpun, lantas apa gunanya pertandingan pemanasan ini? Ini pembantaian sepihak namanya!
"Seperti itu, huh? Bagaimana ya?"
Bagaimana ini? Apakah aku harus melanjutkannya? Tapi presentasenya terlalu kecil! Apa yang harus kukatakan*?!
...
Perdebatan masih terjadi antara Nishiki Kuro-- si murid sekaligus pengawas baru untuk Imagine Competition yang diadakan sekitar 2 bulan lagi, dengan Joseph Starblast-sensei, Ahli Materi beratribut Wrath yang mengajar hari ini. Nampak Nishiki tak sependapst dengan pemanasan yang dianggapnya berlebihan ini. Starblast-sensei bersikukuh untuk mengatakan bahwa ini untuk latihan ketika berhadapan dengan Imaginer Wrath.
"Aku sudah bilang, 'bukan? Ini untuk melatih pengguna Sadistic agar bisa menghadapi pengguna Wrath!" ucap Starblast-sensei yang mulai kesal dengan Nishiki. Nishiki hanya mengeluh lalu turun dari Kursi Pengawas yang melayang jauh diatas Arena Pertempuran.
Meskipun terbilang tinggi, dia dengan mudah mendarat hanya dengan tapakan kakinya, seperti gravitasi Experian yang mirip Bumi sudah tidak berlaku.
"Hmm, kalau begitu... Apakah aku perlu menjadi lawan tandingmu sebagai Imaginer Serenity? Aku ingin menjajal Imaginer beratribut Wrath dengan kemampuanku..."
Oi oi! Kau ingin menggantikanku melawan orang itu?
Sekejap dia mengalihkan pandangan kearahku yang berdiri agak jauh dibelakangnya.
"Ini bukan karena aku membantumu... Aku tidak suka keributan yang disebabkan ketidakadilan, itu saja... Lain kali jika kau ingin dibantu olehku, kau harus ingat apa yang perlu kau bayar..."
Lalu, pandangannya kembali kepada Starblast -sensei yang geram dengan sikap Nishiki.
"Oh, rupanya kau sudah mulai mengabaikan peraturan, Pengawas Baru? Kali ini aku akan serius..."
Gelombang aura dalam jumlah besar keluar dari tubuhnya. Dengan sikap mengisi kekuatan, dia melepaskan energi besar hingga lantai arena pertarungan retak dimana-mana.
IMAGINITY MODE - STARBLAST!
Imaginity?! Apalagi itu?
Nishiki kemudian menjelaskan sembari mengambil sebuah senjata dari celah dimensi kecil didekatnya.
"Imagination Evolution terdiri dari 3 tingkatan. Imaginion, Imaginity, Imaginiverse. Imaginion akan menambah status Seranganmu berkali-kali lipat. Imaginity menambah status pertahananmu, Imaginiverse bersifat Universe."
Kerugian itupun terpaksa membuatku harus mengakui kekalahan, daripada aku habis disini--
"Aku menyerah, sensei..."
"Itulah yang kuharapkan..."
Dia menonaktifkan area imajinasinya, serta mulai mengakhiri pertandingan ini. Nishiki Kuro bernafas lega.
...
Hari ini, kami berempat, aku , Engetsu Kazura, bersama Venzo, Izano dan Rinjou dipanggil oleh Ketua Divisi Teknologi, Sakamichi Misaka. Entah apa yang ingin disampaikan pada kami, yang penting adalah kami harus datang setelah jam akademi berakhir.
Keseharian yang cukup cepat, karena di Akademi ini, sistem pembelajarannya hanya 2 materi. Materi Teori Imaginer dan Praktek. Selain itu, kami bebas tugas. Mungkin ada beberapa Ahli yang meminta materi yang perlu dikerjakan di rumah maupun Asrama, seperti yang kemarin, Will Draven yang merupakan Ahli Bidang Komunikasi Verbal dan Digital, memberikan pekerjaan rumah setelah ada insiden penangkapan Venzo oleh Divisi Kedisiplinan.
"Oiya, untuk yang lain, silahkan buat pidato versi kalian sendiri. Untuk pengumpulannya, bisa dikumpulkan tahun depan."
Yakin sekali dia mengatakan hal itu! Ini hanya satu pekerjaan rumah, 'kan? 1 Tahun?!
""""""Baik, sensei!""""""
Dan kalian murid disini mengiyakannya?!
Izano nampak berpendapat soal ini.
"Ini 'kan hanya tugas pidato. Mengapa pengumpulannya sampai 1 tahun?"
"Mungkin perbedaan waktu antara Bumi dengan tempat ini." tambah Rinjou santai. Seberapa besar perbedaan disini dengan di Bumi?
Rinjou tampak serius saat mulai menanggapi pernyataannya tadi, dan wajahnya mendadak datar sembari memperlihatkan Smartphone miliknya.
"Ah, 1 Tahun di Bumi sama dengan 100 Tahun disini... Untuk jam, menit, detik, disini lebih cepat 2 kali lipat. Hari yang sama, dan bulan yang sama, namun penamaannya berbeda. Disini namanya menggunakan rasi bintang, dan dimulai setiap pertengahan bulan, di awal bulan selanjutnya di Bumi adalah bulan kedua disini."
Kita melewatkan 100 Tahun dan tidak bertambah tu--
Ah, aku baru mengingatnya. Saat dimana kami diinjeksi oleh sesuatu alat untuk mengkonversi imajinasi...
Ya, mungkin aku perlu mempelajari hal lainnya. Masih banyak tugas... Sialan... Meskipun aku harus hidup 100 Tahun di Kota yang tak pernah kukenal...
Ah, 100 Tahun lalu, aku sempat ditempatkan di Kawasan Kubah Utara--Blaze Island, dimana itu memiliki beberapa Kepulauan yang juga dipisahkan oleh lautan. Informasi yang kudapat cukup akurat saat aku mencarinya via hologram. Ada lebih dari 100 Pulau Kecil dan 5 Kepulauan Besar yang mendominasi Blaze Island. Aku akan menjelaskannya di cerita selanjutnya.
...
Setelah kami sampai di Ruang Kepala Akademi karena panggilan mendadak, kami pun dipersilahkan duduk oleh Kepala Akademi yang sudah menunggu kehadiran kami, plus disana juga ada semua anggota dari Divisi Kedisiplinan. Lantas itu juga membuat kami terkejut.
Haruka : Mengalihkan tatapannya kearah lain seolah-olah dia mendapat keputusan negatif dari apa yang diinginkannya.
Ruru : Entah apa yang dia lakukan, tapi menyembunyikan wajahnya pada telapak tangannya adalah yang terlihat disana.
Yuna : Memandangi Izano dengan penuh ketertarikan.
Miyuu : Tak ada yang spesial selain menatap datar, namun kurasa ada sedikit rasa tidak puas dalam ekspresinya itu.
Kami pun duduk tepat di depan para anggota Divisi Kedisiplinan. Setelah itu, Kepala Akademi mulai menyampaikan alasan mengapa kami dipanggil kesini.
"*Ehem!* Baiklah, aku akan memberitahukan mengapa kalian kupanggil kemari. Misaka, tolong jelaskan pada mereka!"
Itu namanya anda melarikan diri dari tanggung jawab, Pak! Apa karena Haruka merasa kesal dengan keputusanmu?!
Misaka-sensei, dengan data yang tidak pernah tertinggal dari lengannya, sedikit membenahi kacamatanya lalu mulai berkata...
"Kalian akan ditempatkan di Asrama Akademi Tingkat Atas. Kalian diperbolehkan tinggal satu atap bersama Divisi Kedisiplinan."
"YANG BENAR???"
Saking terkejutnya kami, teh yang disuguhkan dan akan kami teguk tertumpah begitu saja, mengundang reaksi berbeda-beda dari mereka. Yang emosi adalah Haruka, terutama.
"Setidaknya belajarlah sopan santun ketika meminum teh!" umpatnya sambil menggebrak meja. Nampak Sang Ayah mendesah dan berkata.
"Kau ini, tidakkah kau bersikap lembut seperti ibumu kecuali itu memang keterlaluan?"
"T-Tapi Ayah...!"
Ruru pun berpendapat demikian.
"Ayahmu ada benarnya juga, Haruka-chan... Kau tidak boleh terlalu kaku dengan adik kelasmu sendiri..."
Yuna dan Miyuu menambahkannya juga.
"Ufufu~ Apakah sifat ini yang membuat si Onihime jarang dilirik para pria?"
"Nomnomnom~ Bukan bentuk hormat atas Divisi Kedisiplinan, kau malah menyebarkan ketakutan pada siswa lain..."
Tersudut, dia hanya bisa diam membisu tanpa perlawanan. Jadi dia bisa seperti itu juga ya?
"Jadi seperti itulah... Kalian akan tinggal bersama Divisi Kedisiplinan, sekaligus untuk memberikan kalian pengalaman baru yang kalian belum mengerti."
Entah mengapa, ucapan Kazama-kouchou soal ini langsung mengarahkan pandanganku pada Venzo, yang jelas-jelas mengumbar senyum berbahayanya. Otakmu tidak bisa ya diam sebentar saja memikirkan hal yang benar?!
Mnghilangkan sejenak pemikiran itu, Venzo pun berdehem sembari membalas.
"Jika itu yang terjadi, maka kami dengan senang hati menerimanya. Segala aturan dan tata tertib Asrama Akademi akan kami ikuti--"
Aku dan Izano serta Rinjou mengangguk setuju akan hal itu, sebelum Kazama-kouchou akhirnya memotong pernyataan Venzo.
"Sebenarnya, tidak ada aturan khusus. Asalkan kau bisa memperbaiki hubungan dengan anggota Divisi Kedisiplinan, itu akan baik-baik saja."
Oh, tidak. Sepertinya ini akan sedikit sulit, berhubung masing-masing dari mereka berbeda sifat, sikap, dan tanggapan terhadap kami. Jika diurutkan dari yang paling santai sampai yang menyusahkan, mulai dari Ruru, Yuna, Miyuu, kemudian Haruka.
"Mungkin cukup itu saja yang perlu kusampaikan pada kalian. Juga, akan ada maid yang membantu keseharian kalian, jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan soal pekerjaan rumah."
Sejenak aku memikirkan apa yang Kazama-kouchou sampaikan ini. Akan seperti apa maid yang dibicarakan? Semoga saja enak dipandang.
Oh? Rupanya bukan hanya aku yang berpikir soal maid. Sebuah seringai sesat Venzo terlihat jelas, dan Izano juga Rinjou yang nampak membayangkan sesuatu hal menyenangkan dalam pikiran mereka. Masalahnya, ada berapa maid di Asrama Akademi Tingkat Atas?
Setelah diselesaikannya amanat tersebut, kami pun bergegas pulang. Hari pertama di Akademi Experian yang cukup menantang dan mengejutkan karena semuanya harus kami adaptasikan lagi dari awal.
Ah, sistem Hologram disini mirip seperti Smartphone pada umumnya. Diberikan fasilitas Global Positioning System yang membantu kami untuk mencari lokasi yang dimaksudkan. Kami menggunakannya karena anggota Divisi Kedisiplinan sudah kembali lebih dulu.
Sembari berjalan kaki menikmati senja Imaginarian City, aku bertanya pada Venzo, terutama soal bagaimana kronologisnya saat dia dicap sebagai tahanan di pusat Kawasan Kubah Selatan.
"Jadi, kenapa kau jadi mantan narapidana? Apa kau kelakukan hal-hal tidak senonoh disana? Atau kau mencoba memasukkan gadis loli ke dalam karung?"
Ya, pertanyaan itu juga mengundang rasa penasaran Izano dan Rinjou yang sedang sibuk dengan Smartphone mereka. Venzo menjawab dengan mukanya yang masam.
"Kau ini bertanya, atau mengundangku untuk membuat keributan?"
Aku kan hanya bertanya, siapa tahu kebiasaan fetishmu itu kambuh terlalu parah!
"Bagaimana, Sensei? Apakah itu ben- Maksudku, apa yang terjadi?" tanya Izano yang juga tidak bisa menahan diri soal ini. Rinjou hanya mengangguk menunggu jawaban pasti.
"Nanti aku ceritakan setelah kita sampai di Asrama..."
Ya, beberapa puluh menit pun berlalu, tak terasa setelah melewati puluhan blok gedung dengan keramaian setara Jepang, kami sampai di depan sebuah mansion dengan halaman yang cukup luas, tepat setelah senja berganti menjadi malam hari. Pada pagar beton disebelah pintu megahnya bertuliskan Asrama Akademi Experian Tingkat Atas.
"Jadi ini Asramanya?" ucapku yang kemudian takjub menatap apa yang ada di depanku ini tanpa bisa berkata setelahnya. Venzo, Izano dan Rinjou demikian. Kami berempat secara bersamaan mengungkapkan kekaguman kami.
""""Hebat...""""
Cukup luas untuk Mansion pada umumnya-- tidak! Bahkan ini lebih luas dari Mansion keluarga **** bangsawan koruptor dari Jerman yang akhirnya dipenjara kemarin.
Pintu Mansion perlahan terbuka sebelum gerbang, menampakkan empat siluet rambut panjang disana, memanggil kami.
"Mau sampai kapan kalian berdiri disana terus?! Besok adalah hari kedua kalian!"
"Venzo-kun, masuklah dan mandi!"
"Izano-kun, tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri~ Ufufufu~"
"Masuk..."
Hmm, sepertinya hari esok dan hari selanjutnya akan menegangkan. Venzo, Izano, dan Rinjou menepuk bahuku bersamaan, lalu masing-masing dari mereka mengungkapkan ekspresi yang sama.
"Ayo, jalan menuju masa muda yang hampir abadi dimulai!"
"Benar, Senpai! Kita masih muda, maka jangan sia-siakan masa muda kita ini!"
"Aku sependapat! Marilah kita nikmati bersama!"
Perasaan lega ini kemudian mengundangku untuk memulai langkah pertama, bersama ketiga teman yang idiot ini, menuju masa muda kami, bersama empat gadis yang sudah menanti kehadiran kami sebagai penghuni baru Asrama Akademi Tingkat Atas.