World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 10 - Besok adalah Hari Minggu Yang Sibuk.



"Jadi... Ada perlu apa hingga kamu mengundangku kemari?"


Aku, Ryuichi Venzo, sedang berdiri di belakang gedung sekolah yang sepi bersama sosok gadis dengan tubuh ramping dan lebih pendek dariku. Hanazawa Hana. Dialah yang menaruh surat berwarna merah muda di lokerku, kelihatannya seperti sebuah surat cinta, namun isinya hanya mengatakan bahwa dia mengundangku di tempat ini.


Jujur saja, aku tidak membayangkan jika dia ingin menyatakan perasaannya padaku...


Tidak terpikir...


Tidak!


Kalian mencurigaiku? Terserah kalian...


Selagi aku memutuskan untuk datang ke tempat dimana Hana ingin bertemu denganku secara pribadi, ketiga teman satu kontrakanku memilih untuk pulang daripada menungguku. Jelas saja, kalian mau menunggu seorang gadis menyatakan perasaannya? Satu abad kemudian kalian baru bisa mendengarnya.


"Ummm... Ano!"


Aku memegang pundaknya lalu menatap lekat kedua matanya yang sedari tadi menatap kebawah. Tanpa kejutan, tubuhnya yang terasa kaku dan gemetar kini diam bagai patung.


"Tatap mataku..."


Bulir keringat yang mulai keluar dari pelipisnya kuusap perlahan. Tidak perlu memikirkan keringat, katakan saja. Ini bukan metode hipnotis, aku hanya memberikan sugesti yang jelas padanya agar dia dapat menyampaikan apa yang ada dipikirannya dengan mudah.


"A... APAKAH BESOK KAU MEMILIKI WAKTU LUANG, SENPAI?"


"Hmmm..."


Ingin rasanya aku mengatakan tidak padanya, tapi itu akan terlalu menyakitkan berhubung dia yang mengajakku. Menurut Kitab Ero yang kutulis, hal itu kurang baik untuk seorang gadis. Dan juga, tubuhku ini hanya satu, dan aku tidak bisa membelah diri.


Sejenak berpikir melenceng dari acara utama, aku mencoba rencana harem. Untuk keberhasilan, aku sendiri tidak menjamin juga. Tapi apa salahnya aku melakukannya?


"Jadi, apakah besok kau ingin aku menemanimu?"


"H-Hanya sebentar! A-Aku ingin senpai menemaniku ke Perpustakaan di Kota Tokyo, dan juga aku ingin membicarakan sesuatu dengan senpai..."


Jadi aku harus memilih, antara diam dengan bom waktu terpasang di tubuhku, atau menerjang kerumunan pasukan musuh, yang memiliki kemungkinan kecil untuk berhasil.


Aku tidak peduli! Aku akan memilih opsi kedua!


"Baiklah, besok aku akan menemanimu..."


Ekspresinya kini berubah secara signifikan, dari gugup gemetar menjadi lega.


"Benarkah itu?"


"Yap." Aku menjawabnya dengan senyum, padahal otakku ini sedang mencari cara bagaimana mengatur waktu dengan Naya juga.


"J-Jadi, aku akan menunggu senpai di Persimpangan Akihabara jam 10..."


"Kuusahakan agar tidak terlambat... Tapi jika kebetulan beberapa temanku ikut, apa kau tidak keberatan?"


"Ummm, tidak kok, senpai..."


"Masalah kau ingin berdua denganku, aku akan memikirkannya nanti..."


Tetap saja aku bersikukuh mengucapkan itu dengan wajah keren meski harus pusing tujuh keliling. Hana kemudian pamit untuk pulang. Sebelum itu, dia sempat juga meminta untuk bertukar e-mail.


"Ummm, senpai... Apakah kau mau bertukar e-mail denganku?"


"Boleh kok. eroecchivenzo94."


Sepertinya dia malu saat mendengar alamat e-mailku yang terkesan blak-blakan. Ya seperti inilah aku, jadi bisakah kau sedikit memakluminya, adik kelas?


Sebentar kemudian, Smartphone yang sedari tadi stand-by di dalam tasku berdering. Tak perlu waktu lama untuk membukanya, tertulis disana sebuah pesan singkat dari alamat e-mail bernama hana_hana.


"Yosh, dengan ini, kau bisa menghubungiku jika aku terlambat dari jadwal yang disepakati. Tapi aku akan berusaha untuk tidak terlambat." jelasku sambil tersenyum.


"Sekali lagi terimakasih, senpai! Aku mohon pamit, selamat sore..."


Entah kenapa, setelah berbalik dia malah berlari. Mungkin saja dia menahan dirinya saat berbicara denganku.


Dengan berakhirnya pembicaraan antara aku dan Hana di belakang sekolah, aku meninggalkan lokasi tersebut untuk kemudian kembali ke rumah kontrakanku di Shinjuku. Cukup jauh memang, tapi kereta masih beroperasi hingga jam 10 malam nanti. Itu tak membuatku khawatir sedikitpun.


Saat keluar dari gerbang SMA Shibuya, aku menangkap pergerakan sosok gadis yang sepertinya sedang menunggu seseorang di sebelah mobil hitam kelas elit. Siapa lagi kalau bukan Naya?


"Naya?"


Sesaat setelah mendengarkan suaraku, dia langsung menghampiriku. Dari dalam bagian kursi kemudi, aku menatap mata empat yang juga melihatku dengan tatapan penilaian. Mungkin saja dia asistennya, berhubung Naya ini Pianis nomor 1 di Tokyo.


"Ikut aku..."


Masih berkutat dengan pendapatku sendiri, dia tanpa basa-basi langsung menarikku kearah mobilnya. Tanpa perlawanan dan pertanyaan aneh-aneh, aku ikut dengannya dan duduk di kursi penumpang bagian belakang. Hari itu sudah sore, Smartphoneku beberapa kali berbunyi dan saat aku mengeceknya, tiga orang bodoh sudah mengirimkan beberapa pesan untukku.


Kazura : Oi bodoh, mau sampai berapa lama lagi kau mengobrol dengan Hana?


Izano : Sensei, apa kau perlu aku menyiapkan makan malam untukmu? Rentarou-san memasakkan makanan untuk kita dan menanyakan kemana kau pergi.


Rinjou : Jika kau tidak segera kembali, aku akan mengendalikan aplikasiku untuk meledakkan Smartphonemu.


Pesan Rinjou seperti sedang ingin memberikanku kutukan abadi. Jadi, aku membalas ketiga pesan tersebut dengan satu pesan saja.


Aku : Naya mengajakku ke suatu tempat, jadi aku akan pulang sedikit terlambat. Sampaikan rasa terimakasihku untuk Rentarou-san. Untuk RInjou, jika kau mencoba meledakkan Smartphoneku, aku akan mengutukmu dengan Perjanjian Iblis yang kubuat sampai kau mati nanti.


Seketika di group chat antara kami berempat, Kazura dan Rinjou mengetik tulisan "lol" dengan banyak emoticon tertawa terbahak-bahak, kecuali Rinjou yang mengetik simbol tiga titik saja.


Beberapa puluh menit duduk di mobil, aku merasa ada yang aneh disini. Kita menuju pusat perbelanjaan. Dia mulai menarikku ke toko baju laki-laki. Dan, baru saja pertanyaanku keluar.


"Katakan padaku apa yang terjadi..."


Seketika gerakannya terhenti ketika ucapanku masuk ke telinganya. Diselingi dengan tatapan sedih, tubuhnya berbalik sedikit gemetar, lalu sedikit terisak menjelaskan.


"Aku dijodohkan oleh orangtuaku... dengan seseorang wakil direktur dari Perusahaan Besar nomor 2 di Tokyo..."


Sejenak dia mengambil sebuah jas hitam lengkap, sambil mencocokkannya dengan tubuhku.


"Aku menolaknya... Tapi... malam ini orangtuaku diundang untuk makan malam bersama di Hotel Tokyo, dan juga memintaku untuk datang membicarakan masalah itu..."


Sebenarnya aku merasa tidak enak juga mencampuri masalah orang lain, meskipun orang itu memintaku membantunya. Tapi, dia seorang gadis, dan point dimana seorang gadis dijodohkan itu membuatku muak. Berdalih karena sang laki-laki adalah calon direktur, pemaksaan adalah penyiksaan, dan itu menyakitiku sebagai Pria yang menghargai dan menjunjung tinggi eksistensi wanita meskipun ucapanku seringkali menodai pikiran polos gadis manapun yang mengenalku.


Aku memegang erat tangan gemetarnya, lalu dengan sorot mata tajam aku mengatakan,"Apa yang harus aku lakukan nanti?"


Kini ketegangan dan tatapan sedihnya sirna saat mendengarkan ucapanku yang setuju dengan apa yang diinginkannya, yaitu menolak perjodohan dengan menjadi pasangannya. Aku tidak peduli, aku memang tipe pria yang akan mencoba menerobos masalah sebesar apapun itu ketika itu menyangkut seorang gadis!


...


...


...


Di sebuah Hotel bintang 5 yang terletak di Pusat Kota Tokyo, beberapa orang yang berkumpul dalam satu meja makan malam mewah di lantai 55 sedang membicarakan sesuatu.


"Jadi, apakah Naya akan datang malam ini?"


Sosok pria paruh baya dengan penampilan elegan menjawab dengan lantang pertanyaan pemuda tampan yang juga berpenampilan rapi dan memperlihatkan aura kelas atas.


"Jangan khawatir, nak! Kami sudah menghubunginya, dan dia bilang akan datang setelah pertunjukan di sebuah stasiun televisi."


Senyum pemuda itu menandakan sebuah kepuasan, mungkin kepuasan tersendiri untuknya, lalu memberikan senyum formal pada pria paruh baya yang diajaknya berbicara.


"Aku tidak sabar untuk segera meminangnya, Kusakabe-san..."


"Tidak perlu tergesa-gesa, anak muda... Karirmu juga penting..."


"Tidak masalah. Aku sudah mempersiapkan semuanya..."


Dari lift yang memberikan bunyi "Ting!", muncullah sosok gadis yang dibicarakan, dengan gaun elegan yang dikenakan. Namun mereka tidak menyangka bahwa gadis tersebut menggandeng sosok pria dengan jas hitam berdasi biru yang diselaraskan celana panjang hitam, dengan rambut merahnya yang hampir menutupi salah satu mata birunya, berjalan kearah meja nomor 14, yang hanya tersisa 1 kursi saja.


Dengan elitnya, sang pria menarik kursi yang kosong tersebut dan mempersilahkan duduk gadis yang menggandengnya tadi.


"Itu sudah tugasku sebagai seorang lelaki..."


Raut wajah sang pria paruh baya kini berganti menjadi sedikit kesal, lalu bertanya pada anak gadisnya yang baru datang tersebut.


"Siapa lelaki yang kau bawa ini, Naya!?"


"Dia kekasihku..."


Sontak, orang yang ada dimeja tersebut memasang wajah terkejut. Dengan formal, Venzo menjelaskan.


"Naya adalah teman sekelas saya semenjak duduk di bangku SMP, dan kami mulai berpacaran saat bertemu kembali di bangku SMA."


Pria yang disebut wakil direktur oleh Naya itu, yang terlihat sedikit lebih tua darinya, berdiri tiba-tiba dan langsung menyambar kerah jas Venzo.


"Hey, anak kecil... Dia ini calon tunanganku... Apa yang kau banggakan dari dirimu, hah?"


Tanpa ragu, Venzo membalasnya dengan menarik kerah jas milik calon direktur tersebut.


"Masa bodoh mau kau Wakil Direktur atau siapalah, dia itu kekasihku... Dan kau tidak berhak menyentuhnya, apalagi merebutnya dariku... Sudah jelas aku lebih lama mengenalnya..."


Satu pukulan dilayangkan oleh wakil direktur tersebut ke wajah Venzo, membuat Venzo terjatuh.


"Venzo-kun!"


Tanpa pikir panjang, Naya langsung menghampiri Venzo untuk membantunya berdiri. Ayahnya jelas tidak percaya bahwa anak gadisnya lebih memilih Venzo daripada wakil direktur tersebut. Sudut bibir Venzo mengeluarkan darah karena pukulan tersebut membuat bibir bagian dalamnya membentur gigi taring sehingga menyebabkan sedikit luka robek.


Ayah dari Naya yang hilang kesabaran juga mulai beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku, dia menarik Naya ke belakangnya lalu mengangkat kerah Venzo juga.


"Berani-beraninya kau merusak acara pertunangan Naya, bocah!"


"Pertunangan tanpa keinginan sang gadis,  huh? Memalukan sekali anda, memaksakan anak gadis anda..."


BUAGH!


Kembali pukulan keras menghujam tubuh Venzo dengan mulus. Ayah Naya kembali mencerca Venzo ditengah ruang makan kelas elit tersebut.


"Memangnya kau siapa, hah!? Itu urusanku!"


Dia kemudian menghampiri Naya, lalu marah pada Naya.


"Kenapa kau membawa anak seperti ini!? Memalukan!"


"Aku tidak mau bertunangan dengannya!"


PLAK!!!


Sebuah tamparan mengenai wajah Naya, dari ayahnya sendiri. Venzo yang melihat kejadian itu, langsung berdiri, menyambar kerah sang Ayah, lalu meninjunya keras tepat dipipi. Naya terkejut melihatnya, dan sang Ayah langsung dihampiri istrinya yang sangat terkejut melihat suaminya dipukul seorang pemuda.


"Hey, orang tua... Saya beritahu anda satu hal... Saya juga memiliki ayah... Tapi ayah saya tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk melakukan apa yang diinginkannya... Dan saya sejujurnya bangga memiliki ayah seperti itu, meskipun dia keras dan tegas... Lalu, apa yang perlu dibanggakan dari anda!? Yang bisa memukul anak gadisnya karena keinginannya tidak terpenuhi!?"


Venzo naik darah, dia kembali menghampiri Ayah Naya, lalu mengangkat tubuh besar itu dengan menarik kerah jasnya (lagi) yang sudah ternoda oleh percikan darah.


"Sudah, tolong hentikan semua ini!" ucap sang istri meminta Venzo sembari sesenggukan menarik-narik jas Venzo agar melepaskan Ayah Naya. Namun pria itu tak bergeming. Ketika Naya memeluknya dari belakang sembari berbisik lirih,"Sudah cukup..." Venzo mendinginkan kepalanya, lalu berpesan sembari melepaskan genggamannya.


"Saya hanya memberikan peringatan untuk itu, orang tua... Keputusan pertunangan maupun pernikahan, biarlah anak gadis anda yang memutuskannya... Anda tidak akan menjalaninya lagi karena anda sudah menikah... Jadi, itu adalah peringatan terakhir... Jika saya mendengar masalah seperti ini lagi, saya tidak akan menahan diri..."


"Venzo-kun..."


Kesusahan berdiri, sang Ayah ditopang oleh istrinya, kemudian bertanya.


"Siapa namamu, anak muda?"


"Ryuichi Venzo..."


"Maafkan keegoisan orang tua ini, Ryuichi Venzo..."


"Jika anda ingin berubah menjadi orang tua yang baik, maka akan saya maafkan..."


"Dan juga..."


"Hmmm?"


"Tolong jaga anak gadisku..."


Kesal, sang wakil direktur menanyai Ayah Naya dengan nada kasar.


"Hei, Kusakabe-san? Apa pertunangan ini dibatalkan? Kau tidak bisa membatalkannya begitu saja kan!? Aku ini wakil direktur lho!"


Jawabannya adalah, sebuah pukulan keras di bibirnya dari Venzo yang melepaskan pelukan Naya dibelakangnya. Begitu kerasnya pukulan tersebut yang ditambahkan tenaga dorong kuat menyebabkan wakil direktur tersebut tersungkur beberapa meter ke samping.


"Manusia memiliki hak mereka masing-masing, dan hak itu lebih berharga dari hartamu. Camkan itu! Dan satu lagi, jaga ucapan yang kau lantunkan pada orang tua Naya, dasar wakil direktur yang tidak punya sopan santun!"


Venzo meninggalkan lokasi ditemani Naya, meninggalkan keributan dan beberapa orang yang membicarakan mereka dari mulut ke mulut. Mereka seakan tidak peduli karena itu masalah pribadi. Tapi lain dengan Venzo yang memiliki Hukumnya sendiri.


...


...


...


Saat di dalam lift bersama Naya, rasa sakit mulai terasa di tubuhnya. Dia sedikit mengaduh sembari memegangi rahangnya.


"Adududuh...!"


Naya, dengan wajah yang sedikit merah, dengan sisa air mata yang masih terlihat berkilauan, menyentuh wajah Venzo, sambil mengusap bekas luka lebam akibat pukulan disana dengan ibu jarinya.


"B-Bodoh..."


Venzo tersenyum kecut karena ucapan Naya.


"Mau bagaimana lagi? Aku tidak tahan melihatmu ditampar seperti itu..."


"Apa itu benar... kau membuat Hukum sendiri untuk menghargai wanita?"


"Apakah ada yang salah dengan itu?"


"Tidak ada... Hanya saja... kau tahu, kan?"


Naya memainkan jarinya, pertanda dia ingin mengatakan sesuatu tetapi mengalami kesulitan.


Menghentikan gerakan jarinya, dengan cepat wajahnya menempel pada wajah Venzo, bisa disebut juga dengan ciuman.


"Mmmmpffffhhh!!!"


Buru-buru Venzo melepas ciuman dari Naya, lalu bertanya.


"Ada apa dengan itu? T-Tiba-tiba sekali..."


"Itu sulit kukatakan! Aku ini gadis, kau tahu?"


Kembali ke mode kerennya, Venzo mengkonfirmasi dengan sebuah deheman kecil.


"Jadi, itu sebuah ungkapan?"


Naya mengangguk pelan dengan muka merah. Perlahan namun pasti, Venzo mengangkat dagu teman sekelasnya itu, lalu mengatakan sesuatu.


"Untuk yang tadi, kita lanjutkan besok saja..."


Kecupan kecil di dahi Naya mengakhiri pertemuan hari ini. Venzo mengambil tas sekolahnya di dalam mobil Naya yang masih ada di tempat parkir, lalu berpamitan pada asistennya.


"Ano, terimakasih tumpangannya~!"


"Oi, sudah selesai acaranya? Bagaimana hasilnya?"


"Kau tanyakan saja pada Naya~! Aku pulang jalan kaki saja~!"