World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 66 - Meditasi dan Kebahagiaan



Berkonsentrasi pada latihanku, aku--Ryuichi Venzo, menyempatkan waktu untuk bermeditasi sebanyak mungkin. Yah, karena aku memiliki 2 kontrak sekaligus, dan mereka memiliki informasi soal dunia dewa melebihiku, aku harus mendapatkan informasi tersebut.


Tak bisa dipungkiri lagi, ini bukanlah Bumi yang kukenal, meskipun kepercayaan mereka sama saja, namun dimungkinkan kita, Imaginer, dapat berhubungan sangat dekat, bahkan berbicara maupun menyentuh apa yang disebut dengan kehidupan tak kasat mata. Sudah banyak sekali kejadian yang kualami bisa dianggap adalah sesuatu yang diluar nalar. Diluar batas kewajaran. Interconnect, Inner Realm, Dewa-Dewi Mitologi, Malaikat Jatuh, Iblis, Malaikat Murni, bahkan kutukan dan berkah, aku dapat melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.


Jika manusia Bumi mengetahui hal seperti ini, mereka bisa mengatakan bahwa mereka sedang berhalusinasi maupun menganggapnya tanda bahwa mereka sedang mengalami akhir dari kehidupan...


Dewi Aphrodite adalah salah satu Dewi yang berada didalam tubuhku, mendukungku dengan atribut Cinta, Nafsu, dan Kelahiran. Fakta bahwa penyembuhan maupun semangat hidupku seringkali naik ketika aku memikirkan sesuatu yang tidak senonoh, membuktikan keberadaannya yang tidak bisa diabaikan. Bahkan seringkali efek dari atribut yang dibawanya mempengaruhi siapapun yang berada didekatku, apalagi lawan jenis.


Lalu, lawan dari hal tersebut, masih berada didalam tubuhku, yaitu kontrak yang terikat denganku selanjutnya--bisa kalian sebut itu adalah kontrak dari sebuah segel abadi saat terjadi Insiden yang mengaitkan hal mistis dan kehidupan selain manusia...


Insiden Bulan Sabit Berdarah Kyoto, yang menampilkan peperangan dan pembantaian massal oleh pasukan yang muncul dari belahan dunia lain... Pasukan dari Fallen Kingdom, yang dipimpin oleh Lucifer, memakan korban jiwa hingga puluhan ribu orang, bahkan diantaranya adalah orang tak berdosa.


Mungkin, tanpa adanya para Exorcist dari Klan Nakamura, aku berpikir bahwa dunia akan menjadi kekacauan dalam hitungan hari saja, dikarenakan selain Lucifer, Astaroth, Asmodeus, Azazel, Beelzebub pun termasuk dalam pasukan yang hampir tak terkalahkan itu.


Meskipun banyak dari kami mencoba berdo'a, meminta pertolongan pada Dewa yang kami percayai, mereka tak memperlihatkan cahaya dari do'a tersebut, yang membuatku berpikir secara rasional.


Mengapa Tuhan tak membantu kita, disaat kita diserang makhluk dari dunia lain? Apakah Tuhan sudah melupakan kita sebagai ciptaannya dan tak peduli dengan apa yang akan kita alami selanjutnya?


Namun, kami sebagai manusia, hanya bisa mencari cahaya sendiri, meskipun tak ada petunjuk yang meyakinkan dibalik apa yang kami alami. Karena kami percaya...


"Ada secercah cahaya diantara kegelapan. Ada secercah kegelapan diantara cahaya."


Itu adalah apa yang sempat menjadi sebuah konklusi setelah kejadian tersebut. Diantara orang jahat, pastilah ada orang baik. Dan diantara orang baik, akan ada penjahat. Itu sudah menjadi fakta, bahkan di jaman sekarang.


Pahlawan tidak akan pernah ada jika tak ada penjahat, dan penjahat pun tak akan pernah terbentuk jika tak ada pahlawan disana.


Ah, tekanan di otakku tak akan pernah mengendur sedikit saja, meskipun aku ini adalah tipe orang malas...


Suara manis Aphrodite menyadarkan lamunan panjangku di ranjangnya.


[Pangeran...?]


Sontak aku menonaktifkan mode berpikirku lalu menjawab Aphrodite.


"Ah, maaf... Aku sampai melamun..."


Mempersiapkan dirinya akan ritual selanjutnya, Aphrodite berada diatas tubuhku, menanggalkan semua kain yang membalut tubuh indahnya, sehingga setiap lekukan indah khas perempuan tercakup dalam pemandangan mataku.


[Ara~ Pangeran memang tidak pernah bisa tenang ya? Ufufu~]


Aku menggaruk pipiku sembari tersenyum kecut.


"Ya seperti inilah aku. Asalkan itu tidak mengganggu ataupun melukai siapapun, aku akan tetap menjadi diriku sendiri."


Aphrodite mengangguk puas karenanya, kemudian mulai mengajakku melakukan pemanasan terlebih dulu.


[Itulah yang membuatku mengikat kontrak denganmu, Pangeran~ Ah, bahkan aku tidak akan pernah bosan dengan rasa ini setelah ribuan tahun~]


Perlahan-lahan, Aphrodite mendekatkan wajahnya padaku, memberi sinyal agar menyambutnya dengan penuh hasrat. Apa yang perlu kutahan jika seperti ini? Aku harus melakukannya dengan gayaku, 'bukan?


[Ahn! Yah! Seperti itulah dirimu yang sebenarnya, Pangeran~!]


Aku menenggelamkan diriku dalam rengkuhan nafsu dan estetika sensual yang berpadu dengan gairah yang menggebu-gebu, menghasilkan kombinasi desahan dan simfoni keerotisan yang memenuhi ruangan Inner Realm milik Aphrodite. Kuhantamkan segala nafsuku ke tubuhnya, Aphrodite merespon dengan penuh kebahagiaan setelahnya.


Itu kulakukan selama 10 kali berturut-turut tanpa istirahat. Betapa hebatnya, bukan?


Selesai dengan itu, aku memeluk Aphrodite dengan penuh kemesraan.


[Ah, aku tidak pernah merasa bosan denganmu, Pangeran~ Kau tidak pernah lelah dan letih dalam memberiku kebahagiaan~] Ujarnya bermanja-manja di dadaku. Aku membalasnya sembari menggaruk kepalaku.


"Yah, sebagai kontraktor Dewi Cinta, Nafsu, dan Kelahiran, sudah menjadi tugasku 'kan?"


[Pangeran... PANGERAAAAN!!]


Aphrodite kembali merengkuhku dengan auranya yang menggebu-gebu dan menindihku penuh gairah, mengakibatkan batangku berdiri lagi. Kenapa kau bangun lagi, dasar batang bedebaaaaaaaah???!!!


Tapi, meskipun berkali-kali melakukannya, aku tidak merasakan lelah sama sekali, malah semakin lama aku melakukannya dengan Aphrodite, maka nafsu itu akan semakin menjadi dan semakin menumpuk seperti sedang mengisi baterai. Aliran auranya memberikan efek yang luar biasa pada tubuhku, pada otakku juga, sih.


Kami telah melakukannya sebanyak 20 kali. 2 kali lipat dari sebelumnya.


Sebanyak itu? Apa saja yang kulakukan? Bermain dengan banyak cara, aku tak pernah kehilangan akal selama itu mengenai hal erotis, asalkan lawan mainku tidak mengeluh dan bahagia, 'bukan?