
Hari ini, aku, Ryuichi Venzo, sedang membuka lokerku di sekolah untuk berganti sepatu. Saat membukanya, terlihat secarik kertas jatuh dari dalam lokerku ke lantai.
Menangkap gerakan jatuh tersebut, secepat kilat aku menyambarnya ditengah keramaian para murid yang sampai di depan loker setelahku, tak terkecuali si tiga orang bodoh yang lokernya berdekatan denganku.
"Oi, apa itu? Surat cinta?"
Kazura yang pertama kali menyadari apa yang jatuh dari dalam lokerku barusan.
"Wah, sensei sudah mendapatkan surat cinta?"
Meskipun aku berhasil menyembunyikannya di balik badanku, Izano tetap mengatakannya dengan wajah tersenyum. Kau ini susah ditipu meskipun polos ya?
Tak elak, ketiga siswa itu mengerumuniku, lalu memasang wajah ingin tahu di depanku. Ini seperti kalian mengajakku mengadakan kesepakatan jahat...
Sudah tidak ada pilihan lain lagi, aku mendesah lalu memperlihatkan selembar amplop imut berwarna merah muda itu.
"Dari siapa?"
Saat kucoba melihat siapa pengirim surat tersebut berkat pertanyaan Kazura, suara lembut dan imut menggelitik telingaku begitu saja.
"Selamat pagi, Senpai..."
Secepat kilat sosok dari asal suara tersebut melewati kami, semakin menimbulkan pertanyaan diantara kami berempat.
Perlahan namun pasti, tanganku mulai membalik amplop tersebut...
~Hanazawa Hana~
"Hanazawa Hana!!??"
Seketika tempat loker yang biasanya hanya diisi dengan ucapan selamat pagi menjadi riuh tak terkendali, jangan tanya apa sebabnya.
"HANAZAWA HANA? GADIS IMUT KETUA KLUB TENIS ITU!?"
"BAGAIMANA BISA KAU MENDAPAT SURAT DARINYA!?"
"APA ISINYA, APA ISINYA!?"
Seperti itulah keributan yang disebabkan oleh suara dari sebagian besar murid laki-laki yang mendengar nama Hanazawa Hana.
Maaf jika aku mendadak menulis surat ini, Senpai... Soal kemarin, aku minta maaf karena sudah membantingmu... Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, tapi aku kesal melihat ulah Kojiro-senpai dan aku tidak melihatmu ada disana... Anoo, untuk itu, sebagai permintaan maaf, aku ingin berbicara denganmu sepulang sekolah nanti...
Hanazawa Hana, Kelas 2-A
...
...
...
"Terkutuk kau, kampret!!!"
"Eh?"
"Ternyata dari sekian banyak lelaki normal dan mencoba menjadi tampan di depan gadis idola, kau yang tidak normal malah dipilih... Sial..."
"Oi, aku masih normal, karena itu aku mesum!"
"Kemesumanmu melebihi batas normal, tahu!?"
"Itu wajar bagi manusia yang mulai menginjak masa pubertas! Apa kau tak pernah mengerjakan materi Biologi?"
Itulah perdebatanku dengan para siswa yang mengidolakan Hana, terjadi di ruang loker sekolah SMA Shibuya. Benar-benar tidak berguna sampai Kazura dan Izano mengeluh atas keributan yang terjadi ini.
"Kita tinggalkan saja orang-orang bodoh nan mesum ini berdebat sampai otaknya menyusut..."
"T-Tunggu aku, Kazura-senpai!"
Kegiatan sekolah berjalan seperti biasa. Sang guru yang hadir di kelas menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan materinya, dan, beberapa dari kami menulis materi yang benar-benar diperlukan untuk dipelajari.
Sedangkan yang kulakukan, adalah mencari informasi tentang Eroge terbaru yang bisa diunduh secara gratis dibalik buku materi yang sengaja kubuat berdiri tegak diatas meja untuk menutupi Smartphoneku, namun terlihat seperti membaca.
Biasanya sih, jika aku memerlukan materi untuk belajar, aku meminjam buku milik Izano yang memilih untuk mengerjakan materi yang diberikan guru dan memilih untuk menulisnya nanti saat berada di rumah kontrakan.
Tapi, setelah bel tanda istirahat berbunyi...
Aku tertangkap basah oleh Naya yang iseng mendatangiku yang sedang sibuk berpindah-pindah website.
Sepasang lengan ramping berkulit putih itu dengan sengaja disandarkan pada tubuhku, lalu sebuah bisikan menyenangkan menggelitik telingaku dengan tiba-tiba.
'Bukannya mengerjakan materi, kau malah sibuk mencari Eroge... Nakal sekali...'
Yang jelas, aku terkejut karena banyak sensasi yang merangsang syaraf kulitku yaitu lengannya yang menempel dan juga payudara kenyalnya yang menekan punggungku, sehingga membuatku merespon dengan memajukan tubuhku dengan gerakan cepat. Alhasil, dahiku sukses menghantam buku di mejaku tadi, menciptakan bekas garis mirip gambar sederhana burung camar ketika dilihat dari kejauhan.
Seketika hampir semua siswa seisi kelas yang awalnya memberikan tatapan tajam kearahku mengganti ekspresi menjadi menahan tawa mereka saat melihat keadaan dahiku sekarang.
Tak jarang, beberapa siswa beda kelas menatapku dengan tatapan sinis sembari berucap...
"Cih, dia lagi... Bahkan pianis nomor 1 di Tokyo pun mendekatinya..."
"Ide bagus..."
Kazura mengeluh sambil memperingatkanku akan hal itu.
"Hei, Ero-Ecchi... Kau lihat kan mereka yang barusan lewat? Sepertinya mereka kesal padamu karena dekat-dekat dengan Kusakabe Naya..."
Namun dengan tegas Naya membalasnya sambil menarik lenganku kearahnya.
"Aku yang memilih untuk dekat dengan Venzo-kun karena dia mau jujur pada dirinya sendiri, tidak seperti yang lain kok!"
"Ya, ya, aku tidak ikut campur. Aku hanya mengingatkan saja, kemungkinan Priamu itu bakal dihajar sepulang sekolah nanti..."
Seketika Naya mengambil Smartphone dari sakunya, menggeser-geser layar, lalu menempelkan ke telinganya seperti akan menelepon seseorang.
"Halo Produser, aku ingin beberapa teman kekarku berangkat ke sekolah sekarang... Jadi, ada beberapa siswa yang ingin berurusan dengan temanku, aku tidak ingin temanku terluka, jadi tolong beritahu mereka untuk segera datang ke sekolah..."
"HA?"
Setelah menutup telepon dengan seseorang yang ternyata adalah Produsernya, dia tersenyum santai.
"Nah, selesai... Besok jangan lupa ya~?"
CHU~
Sebuah kecupan hangat di pipi mengejutkanku. Lagipula tidak hanya aku, namun Kazura, Izano, dan Rinjou, serta siswa lain langsung meneriakiku bersamaan.
"LAGI-LAGI KAU YANG BERUNTUNG!!"
"Hah..."
Karena besok adalah hari minggu, hari dimana Naya mengajakku kencan. Aku sih, tidak ada alasan untuk menolaknya, berhubung aku hanyalah pemuda yang tinggal di rumah kontrakan, penulis cerita fiksi yang masih amatiran...
Hanya saja...
Mungkin saja itu benar, aku terlalu beruntung, sang pianis Tokyo nomor 1 sedang dekat denganku...
Tapi, apa sebabnya!?
Jika itu disebabkan oleh ketampanan, sebagian besar siswa disini lebih tampan dariku!
Terkenal? Aku tidak terlalu terkenal! Aku hanya siswa biasa!
Mesum? Aku mengakuinya! Bahkan aku dibilang paling mesum di sekolah! Yang berani membawa benda-benda kesukaan para pemuda di kelas hanya aku saja!
Apa yang membuatnya bisa sedekat ini denganku? Itu masih menjadi misteri besar... Apalagi Hana, ketua Klub Tenis dan juga Anggota dari Klub Beladiri...
Selagi menunggu seluruh kegiatan sekolah berakhir, aku menghabiskan waktu tidur diatas atap, berbaring di lantainya sambil menatap langit biru dan awan putih yang bergerak sesuai dengan arah angin berhembus...
Lokasi yang ideal bagi pemuda yang menginginkan ketenangan dunia ditengah pendidikan, menanti saat-saat menjadi budak dari gedung-gedung pencakar langit di Pusat Kota, menghabiskan waktu dengan berkas menumpuk di meja kerja, menatap layar komputer yang dipenuhi data-data yang diinginkan pimpinan agar selesai tepat waktu, dan pulang malam dengan muka lelah dan kusut.
Ah, terjadi lagi keluhan-keluhan yang sama sekali tidak berguna, tidak akan mempengaruhi apa yang terjadi nantinya.
Mungkin aku berpikir, agar aku bisa menempatkan diri pada posisiku sebagai seorang dengan umur dewasa, aku membiarkan diriku untuk bekerja keras hingga memiliki tabungan yang cukup hingga berumur cukup dewasa untuk menikahi seorang wanita, baru memutuskan untuk melahirkan generasiku. Bukannya berhasil menikah, tapi masih meninggikan pekerjaan mereka juga, yang membuat kebanyakan orang memiliki presentasi rendah untuk sekedar mendapatkan quality time dengan pasangan mereka lalu memiliki anak.
"Haaaaaah, dunia ini semakin membingungkan..." keluhku.
Sekelebat bayangan seketika lewat di pikiranku, seorang gadis dengan rambut kepang dua berlari dengan riangnya, lalu tersenyum padaku.
"Tangkap aku, Venzo-kun~!"
Seketika membuatku bangkit dari pembaringan tenangku karena saat itu keadaanku sudah hampir mendekati tidur pulas.
Rasa sakit kepala yang tiba-tiba saja terasa seperti suara keras bergema diotakku membuatku sedikit mengaduh.
"Sial... Siapa dia sebenarnya?"
Tak terasa, suara bel tanda seluruh jam pelajaran berakhir terdengar. Tepat saat Kazura, Izano, dan Rinjou membuka pintu dari arah tangga sembari membawakan tasku.
"Membolos lagi?" tanya Kazura sambil melempar tas kearahku.
Aku mengangguk dengan raut wajah sedikit murung.
"Yah, jika Sensei sedang banyak pikiran, yang dia bisa lakukan adalah menempatkan dirinya sejauh mungkin dari keramaian. Bukan begitu kan?"
Izano mengatakannya seperti dia sangat mengenalku.
"Jadi, kau ada janji kan dengan Kapten Klub Tenis?"
Rinjou mengingatkanku akan surat yang diberikan Hana padaku.
Seketika aku berdiri dan kepalaku kembali merasakan rasa pusing, sehingga membuat tubuhku terhuyung selama beberapa detik.
Untungnya Kazura dan Rinjou berhasil memegangi tubuhku agar tidak jatuh.
"Kurangi kebiasaan burukmu, mulailah berolahraga..." tegur Kazura yang meskipun tegas dan keras, dia sebenarnya mengkhawatirkanku.
"Iya, aku tahu itu, bodoh..." ucapku sedikit malas.