World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 47 - Datangnya Troublemaker Ditengah Eksekusi



Pagi harinya...


Seluruh warga berkumpul disekitar Alun-Alun Kota Sanderio, ketika beberapa Pasukan selesai memasang sebuah panggung dengan hiasan sepasang tiang pancung ditengahnya. Kilauan pisau pancung diatas ketika tersorot oleh sinar terang Canis Majoris menyilaukan perhatian warga yang memang sengaja dikumpulkan disana atas perintah Perdana Menteri Kota Sanderio, Maghadam Nizmir--yang didampingi oleh Wakil Perdana Menteri, Sunagahara Ryouma yang berdiri di panggung berbeda.


"Dengan ini, kami akan melakukan eksekusi mati terpidana dari Planet Asing yang berkomplot dengan Sandstorm Dragon. Penjaga, bawa mereka ke panggung!"


Dengan paksaan, Venzo dan Ramalia dibawa oleh para Penjaga yang menodongkan senjata api kearah mereka menuju panggung kematian--memecah gerombolan warga yang berdesakan menanti alasan Perdana Menteri juga eksekusi berlangsung.


Lagi, suara deheman membuat seluruh warga disana memfokuskan pendengaran dan penglihatan mereka pada Perdana Menteri tersebut menyampaikan apa yang mereka nantikan.


Sebelumnya, warga sempat saling berbisik soal tahanan yang terlihat bukan penjahat. Karena itulah, Perdana Menteri mencoba memperkuat kesalahan dua tahanan ini dengan ucapannya.


"Alasan pertama. Mereka bersekongkol dan mencoba menginvasi Sanderio dengan kekuatan gadis ini!"


Kembali suara desis warga disana-sini memunculkan keraguan--bahwa gadis secantik dia yang ditahan bersama Venzo itu adalah Monster. Kemudian, Perdana Menteri memunculkan sebuah hologram berukuran besar dibelakangnya, lalu melanjutkan.


"Ini adalah hasil rekaman kejadian dimana gadis tahanan ini berubah menjadi monster!"


Disana terlihat bagaimana saat Ramalia berubah menjadi seekor naga lalu Perdana Menteri menebaskan pedangnya ke perut Ramalia--mengakibatkan keterkejutan sebagian besar warga dan Petualang lainnya. Seketika itu Venzo menyerukan pembelaan yang merupakan kebenarannya.


"Itu karena dia semata ingin membela diri karena kau sebagai A-- Arrrrgghh!!"


Sebelum kebenaran terungkap, Penjaga disebelahnya menyambut pipinya dengan pangkal senjata api dengan keras.


"Pembelaan tahanan tidak berlaku disini, anak muda! Ini bukan Bumi! Tahanan akan dicap sebagai Penjahat, kini maupun nanti!" Balas Perdana Menteri tersebut lalu melanjutkan.


"Kedua, pemuda yang berasal dari Bumi ini adalah inang dari sosok Iblis, Lucifer!"


Kebisingan warga pun bertambah, semenjak mereka mengenal nama itu. Suara yang menyatakan keheranan menggema diantara mereka.


"Apa kau punya bukti untuk itu, Perdana Menteri Pecundang?!"


Kembali, Venzo mematahkan pendapat Perdana Menteri. Namun Perdana Menteri tak kehilangan akal. Dia menghentikan rekaman Ramalia pada hologram dan menggantinya dengan yang lain--sebuah gambar saat tubuhnya diperiksa oleh Penjaga ditengah malam sebelumnya.


"Lalu, gambar apa yang ada dipunggungmu ini, anak muda?"


Sebuah luka dengan lambang seperti lambang perlawanan penyakit seksual yang dibalik, lalu ditindih bagian bawahnya dengan bentuk huruf V sehingga membentuk sebuah lambang khusus.


"Sialan kau! Siapa yang menoreh luka pada punggungku?"


Mengabaikan pembelaan Venzo yang lain karena dia memang tidak bersalah, Perdana Menteri memperberat kesalahannya agar seluruh warga percaya.


"Itulah lambang Lucifer! Dan bagi siapa yang bersekongkol dengan Iblis, maka dia pantas mati!"


Sementara itu, Ramalia tidak dapat melakukan apapun karena kalung yang menjeratnya mematikan kemampuannya untuk kembali ke wujud naga. Venzo pun mengutuk hal ini--dimana dia difitnah secara terang-terangan oleh seorang Petinggi yang dipercaya oleh warganya.


"Ugh! Dasar Petinggi brengsek, tidak di Bumi, tidak disini, kalian sama saja!"


"Diam! Kau hanyalah tahanan! Bahkan Perdana Menteri Imaginarian City terlalu bodoh untuk mengambil Imaginer dari Planet asing sepertimu!"


Venzo dan Ramalia pun ditendang oleh Penjaga disebelah mereka hingga menunduk, dan kepala mereka ditempatkan di tiang pancung tanpa basa-basi.


"Karena tidak ada pembelaan berarti, mari kita mulai eksekusinya. 10 detik dari sekarang!"


Penjaga yang ada disamping tiang pancung dengan pedang di tangan mereka, bersiap memotong tali yang terhubung dengan pisau pancung. Venzo menggertakkan giginya kesal karena apa yang menjadi tujuannya pun sirna karena seseorang, juga dia tak bisa menyelamatkan sosok gadis yang juga menunduk menanti eksekusi disebelahnya. Namun, kekesalan itu tak beelangsung lama menjadi sebuah senyuman pasrah sembari mendengarkan suara Perdana Menteri bersama warga menghitung mundur.


"10...9...8..."


'Mungkin diriku ini memang tak berguna...'


"7...6...5..."


'Bahkan tujuanku pun tidak berarti sekarang... Teman-teman, semoga kalian dapat melanjutkan apa yang ingin kalian kejar... Ayah, Ibu, Davion nii-san, Lilia, Ayame, Naya, Hana... Maafkan aku, dan terimakasih atas semuanya...'


"4...3..."


Lalu, Venzo menghadap kesebelahnya, memandang Ramalia, lalu berkata.


"Ramalia..."


"Hmm?"


"Ternyata kau imut juga ya?"


"Terimakasih, Venzo. Kau juga tampan."


"Ahahaha! Jangan begitu, aku ini hanyalah pemuda tidak berguna. Apa kau tidak salah menyebutku tampan?"


"Tidak. Setidaknya kau sudah mempertemukanku dengan Ayah, itu sudah cukup berani untukku."


"Haaaah, seharusnya aku menikahimu. Tapi sayang, hidupku hanya sampai disini..."


"M-M-Menikah?"


"Oi, oi, wajahmu memerah tuh!"


"Apakah kau serius?"


"Yah, itu jika aku masih hidup sih. Mau kau berwujud Naga, Ular, atau apapun, kau tetaplah seorang gadis..."


"I-Itu..."


"Lagipula... kita akan bertemu di dunia yang berbeda. Bukankah begitu, Ramalia?"


"2...1..."


Dua penjaga menebaskan pedangnya pada tali penghubung bersamaan, menurunkan sang pemenggal untuk pertama dan terakhir kalinya pada Venzo dan Ramalia.


Seketika...


"Wooooohooooooo!!!"


Sebuah suara teriakan dari langit yang melesat cepat ke bawah disusul oleh suara dentuman keras yang mengarah ke panggung eksekusi--mengakibatkan panggung eksekusi roboh seketika. Sontak hal itu memicu keramaian orang-orang yang melihat, tak terkecuali Perdana Menteri beserta Wakil yang terkejut saat dua Penjaga yang ditugaskan untuk mengeksekusi tiba-tiba saja terlempar jauh dari kepulan asap akibat dentuman benda misterius tersebut.


"Ada penyusup!"


"Pasukan Pengamanan! Jangan biarkan tahanan lolos!"


Dengan perintah Sang Perdana Menteri yang mutlak, puluhan--bahkan ratusan Pasukan Pengamanan Perdana Menteri dengan atribut lengkap langsung menyerbu dan mengepung kepulan asap. Sementara beberapa Pasukan lain mengarahkan para warga untuk membubarkan diri.


"Silahkan tinggalkan tempat ini! Tempat ini berbahaya untuk umum!"


Tak ayal, para warga yang mendengar himbauan langsung buru-buru meninggalkan tempat mereka.


Kepulan asap pun menghilang, dan menyisakan puing-puing kayu bekas panggung eksekusi yang hancur, dan 3 orang termasuk Venzo dan Ramalia disana--gadis dengan jubah berlambang dipunggungnya sedang memikul kapak hitam dengan hiasan diamond ditengahnya, yang menggagalkan eksekusi Venzo.


"Naga itu, serahkan padaku!" katanya sambil menujuk kearah Ramalia.


Ramalia pun bingung karena dia memang memanggil lewat bahasa naga, namun yang datang malah seorang gadis. Perdana Menteri dengan sigap mengambil perintah untuk menyerang gadis kecil tersebut, tak terkecuali Venzo dan Ramalia yang masih ada disana.


"Pasukan! Serang mereka!"


Beberapa peluru pun dimuntahkan secara bersamaan oleh sebagian besar Pasukan itu, dengan sigap dia melompat tinggi setelah melindungi diri dari ribuan peluru berkat kapaknya--juga Venzo yang melindungi Ramalia setelah berhasil melepas kalung pengunci kekuatan dan menggunakan skill perlindungannya.


Imagination Battle Skill - Typhoon Slash


Rentetan peluru tersebut berhamburan menjauhi jarak putaran Venzo bersama sepasang pisaunya. Sementara diatas langit, ketika mengetahui Pasukan juga mengincar Naganya, dia menyeringai kesal.


"Beraninya kalian berusaha melukai nagaku ya~? Kalau begitu, rasakan ini!"


Imagination Battle Skill - Explosion Magma


Dentuman keras kembali menggema ditengah Alun-Alun kota Sanderio--kini disertai dengan lelehan magma yang merangsek naik dari lantai yang retak akibat hantaman keras kapak itu.


"GYAAAAAHH!! UUAAAHHH!! PANAAASSSS!"


Kini para Pasukan pun tumbang dengan skill tersebut, dan terlihat hanya wilayah pijakan Venzo dan Ramalia yang tidak hancur, pertanda bahwa si gadis kecil itu mampu mengatur dampak wilayah kerusakan dari skillnya sesuka hati.


"Nizmir-sama, Ryouma-sama, dimohon untuk mundur saat ini juga. Gadis itu adalah anggota kaki tangan ***!"


"Bagaimana dengan tahananku?!"


Nizmir masih bersikukuh ingin mengalahkan Yang Terpilih meskipun harus melawan Anggota Legendary Arcane. Ryouma berpikir sebaliknya dan menegur Nizmir.


"Pengalamanmu dengan mereka terlampau jauh, lebih baik mundur saja. Dasar... Masalah dengan Gramandall yang akan datang masih belum tuntas, malah ingin mendatangkan masalah lagi dengan kaki tangan ***..."


Dan dengan berakhirnya perdebatan itu, Nizmir dan Ryouma bersama Pasukan Pengamanan yang selamat memilih untuk mundur dan kembali ke Gedung Pemerintahan. Selanjutnya, Venzo pun menghampiri Ramalia yang masih kesulitan melepas kalung rantai--ternyata dibantu oleh si gadis kecil pembawa kapak hitam.


"Kau tidak apa-apa, Ramalia?"


"U-Um..."


Mungkin efek pengakuan Venzo masih tersisa pada diri Ramalia, membuat wajah Ramalia memerah ketika dekat dengan Venzo.


Sadar akan hal ini, Venzo pun bingung.


"Yah... Bagaimana ya?"


Tiba-tiba saja, sosok seorang pria botak dengan sebuah besi digenggamannya entah keluar darimana--muncul di belakang gadis kecil pembawa kapak itu dengan muka masam.


"Om Botak?!" Tanya si gadis pembawa kapak yang nampak khawatir dengan kedatangan si pria botak berumur itu, yang mengenakan jubah berlambang dengan pakaian seperti seorang Pendeta dibalik jubahnya.


Mendengar julukannya, si pria botak itu kesal, lalu memiting leher si gadis pembawa kapak itu sambil mengomelinya dengan nada datar.


"Ayo pulang."


"Gyaaaaaa!!! L-Lepaskan aku, Om Botaaaak!" Erangnya sambil meronta dari pitingan pria botak itu. Namun pitingannya begitu kuat sampai tarikan si gadis kecil pun tak mampu menggesernya.


"Tidak, kita pulang sekarang."


"Gyaaaaaa!!! Aku masih ingin bermain, Om Botak!"


Karena berulang kali si gadis memanggil dengan kasar, urat di pelipis pria botak itu keluar, dan bertanya sembari melotot kearah si gadis.


"Huh?"


Seketika gadis pembawa kapak itu diam penuh keringat sambil menjawab.


"Ah... Etto... Tidak jadi..."


"Dasar, sepertinya kau punya urusan yang harus diselesaikan disini. Cepat bicaralah sebelum kita kembali. Mengerti?"


Si Pria Botak itu mengendurkan lengannya untuk melepaskan si gadis mungil yang dipitingnya. Kemudian si loli yang nakal tersebut pun menghampiri Venzo dan Ramalia yang meninggalkan lokasi eksekusi namun tidak jauh dari Alun-Alun Kota. Sementara Perdana Menteri beserta Wakilnya mundur karena tidak ingin berurusan dengan anggota kaki tangan ***--Legendary Arcane.


"Mm, aku mengerti. Naga itu, aku ingin membawanya pulang." Kata gadis kecil itu.


Seorang yang dipanggil "Om Botak" itu melihat-lihat situasi. Nampak terlihat beberapa pasukan masih berjaga dialun-alun tersebut.


"Baiklah, cepat selesaikan urusanmu dan kita pulang. Aku akan urus mereka."


Setelah menyetujui kesepakatan tersebut, gadis kecil itu menghampiri kami.


"Yo, kalian." Sapanya dengan wajah senang. Venzo membalas sapaan si loli dengan kecurigaan.


"Kenapa kalian membantu kami? Aku adalah lawan kalian kan?"


Si loli itu memutar-mutar kapaknya seakan kapak itu ringan seperti gabus, namun dengan pipi yang menggembung.


"Aku tidak berniat menyelamatkanmu. Kebetulan saja aku mendengar naga itu minta tolong. Jadi aku ingin membawanya pulang."


"Kenapa kau bisa tahu? Siapa kau?"


Putaran kapak itu berhenti, lalu diletakkan di bahunya sambil memperkenalkan diri.


"Baiklah, sebagai lawan yang baik, aku memberikan bonus untukmu, otak mesum~ Namaku Alice Fritzy. Kutekankan sekali lagi, meskipun namaku Alice, aku bukan manusia setengah kelin- GYAAAAA!!"


Kembali si pria botak entah keluar darimana--muncul dibelakang Alice, menarik sepasang telinga panjang di tudung jubahnya.


"Cepat pulang!"


"T-Tunggu sebentar, Om Botaaaak!! Jangan menyebarkan identitaskuuu!!" Erang Alice yang memukul-mukul lengan si pria botak dengan lemah. Dilepaskannya genggaman itu, lalu dia menunggu sambil melipat lengannya. Alice pun melanjutkan sambil membenahi telinga tudung jubahnya yang kusut.


"Ehem! Soal bagaimana aku mengetahui jika dia adalah seekor naga, coba lihat keatas."


Ketika Venzo dan Ramalia mengikuti saran Alice untuk memandang langit. Nampak bibir si Alice seperti mengucapkan sesuatu, namun tidak terdengar olehku. Lalu seketika langit seperti pecah, dan dibalik pecahan itu muncul sosok tangan besar yang memecah langit--tangan hitam keunguan yang bersisik dan berkuku tajam.


"Naga?"


Ucapan Venzo benar. Yang keluar dari pecahan langit itu adalah sosok naga besar dengan tanduk--turun dari langit dan mendarat mulus di depannya.


"Dia adalah rekan kontrakku. Ancient Dragon Bahamut."


"HEEEEH?"


Dan anehnya, sang naga yang ada dalam setiap kitab religi tersebut memangĀ  memiliki ikatan, dengan lembut menurunkan kepalanya di depan Alice--Alice pun mengelusnya seperti hewan peliharaannya.


"Yosh, yosh~"


"Yang benar saja..." keluh Venzo saat melihat adegan tersebut. Ramalia kemudian mencoba berbicara pada Bahamut.


"Apa kau bisa berbicara bahasa manusia?"


"Jika diinginkan." Responnya menandakan bahwa dia adalah makhluk yang cerdas.


Sebentar kemudian, Bahamut bertanya.


"Sepertinya kamu ingin berpindah tempat, Sandstorm Dragon Ramalia. Jika ingin, ikutlah denganku ke Dimensi para Naga, Dragonia."


"Dimensi para Naga?" Tanya Venzo. Alice pun menjelaskan sembari menggaruk kepalanya.


"Alam semesta itu luas, mesum~ Bahkan Para Naga juga punya dimensinya sendiri~ Tapi, beberapa tertarik untuk keluar dan mencoba terhubung dengan manusia lewat kontrak~ Haah, merepotkan sekali harus menjelaskan hal ini pada orang mesum sepertimu~"


Venzo mengangguk mengerti meskipun sedikit kesal akan penyampaian terpaksa dari Alice. Terlihat wajah Ramalia murung karena itu.


"Ada apa, Ramalia?" Tanya Venzo yang penasaran menemukan raut wajah Ramalia.


"Apakah kita bisa bertemu lagi?" Tanya Ramalia. Alice pun terkekeh.


"Tidak apa-apa kok~ Aku juga sering bermain disana. Lagipula--"


Mata Alice kemudian menatap Venzo.


"Mencoba menikahi seekor Naga? Kau memang lelaki mesum ya~ Jika kau berhasil mengalahkanku, maka akan kuajak kau ke Dragonia menemui Naga baruku ini~ Nyahahahaha!"


Seketika Venzo kelabakan dengan pernyataan Alice.


"Kau mendengarnya juga ya?!"


"Sebenarnya aku membenci manusia sepertimu. Tapi aku masih menghargai karena kau tidak membenci para naga."


Kemudian Bahamut melanjutkan perkataannya.


"Baiklah, Aku yang menjadi saksinya. Kau harus tepati janjimu, anak muda. Berjanjilah sebagai seorang pria."


Bahamut pun mengarahkan kepalannya pada Venzo sebagai tanda janjinya. Venzo menunduk sebentar, membuang nafasnya sambil tersenyum.


"Itu pasti, karena aku ingin menjadi Raja Harem!" Balas Venzo sembari meninju kepalan Bahamut.


Dan dengan itu, Bahamut, Ramalia, bersama Alice dan pria botak kembali memasuki Dimensi para Naga lewat distorsi langit. Venzo melambaikan tangannya pada Bahamut dan Ramalia--Alice bersama si pria botak juga ikut terbang menaiki Bahamut yang masih belum diketahui identitasnya.


Setelah hilangnya sosok kedua Naga dibalik pecahan langit yang lenyal begitu saja, Venzo melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke Imaginarian City--menyisakan begitu banyak pertanyaan di keheningan antara mereka...