World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 00 - Prologue



Okinawa, Jepang


9 April 2025


Hari ini, adalah hari yang begitu spesial bagi mereka, 4 pemuda yang sedang berlibur di tengah liburan musim panas.


Menikmati keindahan pantai yang disuguhkan dan difasilitasi oleh Kepala Sekolah mereka nampak terasa berbedadari tahun-tahun sebelumnya.


"Sungguh keindahan yang hakiki..."


Ryuichi Venzo, pemuda pertama dengan rambut merah dan mata berwarna biru layaknya keturunan campuran itu memandangi langit cerah saat berjalan-jalan di pantai.


Engetsu Kazura, pemuda selanjutnya dengan tubuh kekar dan rambut spiky putih itu mengacuhkan hiruk-pikuk para wisatawan dan juga teman-teman sekelasnya yang sedang menikmati liburan musim panas, menanggapinya.


"Itu kan pendapatmu saja..."


"Tapi, sepertinya ucapan sensei memang benar..."


Yamaguchi Izano merespon sambil menikmati Ice Stick yang menyegarkan dengan wajah polosnya. Sedangkan pemuda terakhir dari kelompok tersebut, Kyuasagi Rinjou, yang sibuk dengan Smartphone Codingnya hanya berkata, "Begitulah..."


Tiba-tiba, beberapa gadis yang nampak satu sekolah dengan mereka mulai bergerombol, mengajak mereka untuk bermain.


"Senpai, bagaimana kalau kita bermain voli?"


"Venzo-kun, temani aku berenang~"


Entah kenapa, yang difokuskan disini malah Venzo, sedangkan yang lain langsung memperlihatkan wajah kurang bersemangat.


"Maaf, aku ingin jalan-jalan sebentar bersama mereka. Kalian duluan saja, nanti aku menyusul..."


Dengan halus, Venzo menolaknya karena dia tidak ingin mengecewakan perasaan para gadis yang ingin mengajaknya melewatkan hari terakhir liburan sekolah SMA Shibuya, dan kembali ke percakapan awal.


"Kau kan bisa menerima ajakan mereka, bodoh..." keluh Kazura yang merasa sedikit iri.


"Mungkin itu bisa dilakukan tahun depan... Berkumpul bersama kalian saat ini terasa penting bagiku..." jawab Venzo sambil tersenyum.


"Haaah... Itu membuat kita semakin mempertegas title Pemuda Kesepian, tahu?" tutur Rinjou.


"Toh, sensei juga terlalu sering menolak mereka... Mungkin sensei sudah puas dengan layanan Kusakabe-san dan Hanazawa-sa-ADUH!" celetuk Izano yang langsung disambut Venzo dengan jitakan.


"Sialan kau, kampret!"


Selingan tawa sekali lagi mempersatukan keakraban mereka yang berbeda aliran, berbeda fetish, dan berbeda prinsip tersebut. Keramaian kecil yang bertambah di bibir pantai Okinawa.


Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang diawasi...


Bukan dari satu lokasi yang sama, bukan dari kota yang sama...


Namun dari planet dan galaksi yang berbeda.


Sebuah planet yang memiliki teknologi super canggih dan sistem yang mendominasi planet yang memiliki kode EX-5050 (Experian), planet yang masuk dalam daftar isi Galaksi Andromeda.


Imagination System...


Dengan Kubah yang bertindak sebagai Atmosfer dan Pelindung dari serangan radiasi maupun senjata dengan daya ledak setara nuklir, kubah tersebut terbagi menjadi 5 bagian.


Laboratorium Penelitian Akademi Experian


Kawasan Kubah Pusat, Kota Imaginarian


Experian


PIIP-PIIP-PIIP-PIIP


Suara-suara dari mesin laboratorium terdengar saling bersahutan seperti hal itu sudah menjadi melodi yang alami di ruang tersebut, dengan beberapa pria dan wanita berpakaian ala peneliti, namun ada beberapa orang dengan pakaian resmi masing-masing mengamati tes utama yang akan dilakukan.


Seorang wanita yang berumur sekitar 30 lebih yang mengenakan jas laboratorium namun dengan tambahan berkas di tangannya mengamati beberapa pekerjaan kemudian melaporkan pada seorang pria berjas layaknya seorang direktur.


"Gramandall-sama, D.I.G.I.T sudah siap untuk diaktifkan." Tutur wanita tersebut pada salah satu pria berjas rapi yang sedang mengamati pekerjaan mereka dari dekat pintu otomatis laboratorium.


Disana, ada 4 pria paruh baya dengan pakaian elite didampingi 4 gadis muda berseragam akademi.


Salah satunya, rambut panjang dikuncir dua kesamping, bertanya pada pria yang selesai mendapatkan laporan tadi.


"Ayah, apakah keputusan ini sudah tepat?"


"Pergerakan Hiroshi sudah mulai meluas, anakku. Jika mereka tidak segera dipindah paksa dan dilatih, maka besar kemungkinan Planet ini, bahkan alam semesta pun dapat digenggamnya..."


Dua pria lain menanyakan kualitas subjek yang mereka targetkan menggunakan alat dengan sebutan D.I.G.I.T.


"Apa kita tidak punya waktu untuk memberikan kesempatan manusia Bumi lain dianalisa?"


"Hiroshi memberikan kita waktu 500 tahun lagi kan?"


Namun, pria lainnya, dengan rambut dikuncir ke belakang, berkacamata, Nampak lebih bijak menanggapi keputusan Gramandall dengan memberikan saran.


"Tuan-tuan, ada kalanya sebelum kita meragukan pilihan Perdana Menteri, kita telaah dulu keuntungan dan resikonya ketika kita memilih untuk menganalisa manusia Bumi yang lain. Jumlah manusia Bumi sekarang kurang lebih sekitar 10 triliun. Menganalisa kekuatan imajinasi seseorang memerlukan waktu satu minggu berdasarkan lonjakan tertinggi daya imajinasi masing-masing. Jika kita tidak merasa puas dengan hasilnya, kita perlu menganalisa manusia yang lain. Tinggal kita kalikan saja, itu jelas melebihi waktu yang diberikan Hiroshi untuk melancarkan serangan massal ke Imaginarian City. Tapi, jika kita memilih untuk mengambil subjek yang sekarang, kita masih memiliki waktu untuk melatih mereka sampai waktu yang ditentukan tiba. Coba kita lihat data mereka."


Layar hologram dengan ukuran besar muncul di depan mereka, dengan grafik dan potret tubuh yang lengkap.


Disana, grafik mereka melebihi batas garis merah yang tampil pada bagian grafik data.


"Kazama, ini bukan data manipulasi kan?"


"Aku tidak percaya ini..."


Kedua pria yang tadinya ragu-ragu kini terkejut dengan tampilan grafik analisis keempat pemuda itu. Kazama menjawab pertanyaan kedua pria yang terlihat sangat mengenal baik dirinya.


"Kiryu-san, aku mengerti mereka adalah manusia Bumi primitif jika aku menangkap pendapatmu. Tetapi lihatlah grafik imajinasi mereka, bahkan lebih tinggi dari rata-rata Imaginer biasa. Mereka bahkan dapat menciptakan alam semesta mereka sendiri dengan kekuatan imajinasi yang masing-masing dari mereka miliki, itupun memiliki kemungkinan bahwa mereka akan menjadi Legenda Imaginer di masa depan. Dan data ini bukanlah hasil dari manipulasi karena data ini adalah analisis sebenarnya yang dimulai dari 3 hari yang lalu."


"3 HARI YANG LALU?! TIDAK MUNGKIN!"


"Awalnya aku juga tidak percaya sama sekali. Tapi nampaknya kenyataan berkata seperti itu... Bagaimana denganmu, Shigura-san?"


"Hmm, biarlah sang Juara dan anak-anak saja yang memutuskan. Aku cukup melihat hasilnya..."


"Jadi, sudah diputuskan dengan 3 suara terbanyak, kita sepakat untuk memindah paksa mereka kemari dengan menggunakan D.I.G.I.T..."


Sosok yang dipanggil Sang Juara pun memberikan keputusan yang sudah dianggap sah oleh mereka semua tanpa ada konflik yang lain. Namun, anak-anak gadis masing-masing pria kemudian angkat bicara pada ayah mereka. Dua setuju, dua yang lain terasa masih ragu dengan keputusan tersebut.


"Ayah! Kenapa kau setuju begitu saja!?"


Gadis dengan gaya rambut yang terurai pertama mengatakan itu pada ayahnya.


"Haruka, aku mengerti ini terlihat seperti gegabah maju di medan perang. Tapi apa salahnya kita mempercayai mereka? Dan apakah kau belum pernah mendengar kisah The Blessed Imaginer, Imagination Galactic War?"


"Itu, beberapa ahli pernah bercerita tentang hal tersebut..."


Sang gadis bernama Haruka tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya dan hanya menunduk dan mendengarkan apa yang disampaikan Ayahnya.


"Kau lihat presentase mereka yang imajinasinya diatas rata-rata? Mereka adalah kandidat yang memiliki kemungkinan menjadi The Blessed Imaginer..."


"Bagaimana bisa?"


"Semakin besar tingkat imajinasi seseorang, maka semakin besar daya cipta mereka terhadap sesuatu yang dianggap hanyalah bayangan saja. Apalagi Experian juga menggunakan sistem tersebut..."


Gadis satu lagi, dengan gaya rambut yang diikat seperti ekor kuda, dengan tatapan mata yang datar, sedang asyik memakan coklatnya, namun tak lupa ikut memprotes keputusan tersebut.


"Mmm~ Mereka hanyalah kumpulan pemuda mesum, otak mereka hanya penuh dengan gadis telanjang..."


"Itu adalah pikiran pria yang sedang menginjak periode dimana kedewasaan mulai menghampiri mereka, jadi Ayah menganggap itu wajar..."


"Hoo? Ayah yang mesum..."


"Kau tidak akan lahir tanpa elemen tersebut..."


"Itulah mengapa Ibu memilih untuk pulang ke kampung halaman..."


"Guh!"


Yang lain hanya menanggapi perdebatan anak dan Ayah tersebut dengan ekspresi lelah di wajah mereka, seperti hal itu sudah menjadi kegiatan sehari-hari mereka.


Disebelah pria yang bernama Kiryu, sosok gadis dengan tatapan yang penuh dengan ketertarikan, lebih menikmati apa yang dia lihat sembari mengekspresikan kepuasan tersendiri.


"Ara-ara~ Sungguh para lelaki yang menarik~ Sllrrrpp~"


Gramandall melangkah ke pusat ruang kendali laboratorium dimana D.I.G.I.T dapat digunakan.


Kepala Penelitian kembali bertanya tentang keputusan tersebut.


"Gramandall-sama, jika anda yakin dengan ini, D.I.G.I.T sudah siap untuk digunakan."


"Ya, aku yakin akan keputusan ini. Semoga ini bukan kesalahan, Misaka."


Kepala penelitian yang dipanggil Misaka kemudian memberikan perintah ke seluruh staff penelitian untuk melakukan inspeksi terakhir.


"Kepada seluruh staff penelitian, lakukan inspeksi terakhir!"


"YA!"


Tangan-tangan staff penelitian yang ada disana mulai cekatan mengendalikan hologram yang tersambung langsung ke alat-alat disana. Data-data alat yang akan digunakan bermunculan, dan bagian masing-masing dari mereka sudah cukup dari kata siap.


"D.I.G.I.T Performance - 100% siap!"


"D.I.G.I.T Energy - 100% siap!"


"D.I.G.I.T Device - 100% siap!"


"D.I.G.I.T Coordinate Location - 100% siap!"


Dengan inspeksi terakhir tersebut, alat yang dinamakan D.I.G.I.T telah siap untuk digunakan.


Misaka memunculkan sebuah tombol 'Enter' via hologram di depan Gramandall.


"Gramandall-sama, silahkan tekan Enter untuk menggunakan D.I.G.I.T."


"Baiklah..."


BEEP~


Terasa getaran yang mulai insentif di seluruh Gedung Akademi, ketika Gramandall selesai menempatkan jarinya ke tombol hologram tadi, ditambah dengan suara sirine tanda bahaya dan peringatan.


**PERINGATAN!


DISTORTIVE INTERGALACTIC INSTANT TELEPORTATION DIAKTIFKAN! SELURUH PENGHUNI GEDUNG DIMOHON UNTUK TETAP DI TEMPATNYA SAAT TEMBAKAN PEMECAH DIMENSI DAN PARTIKEL PEMINDAH OBJEK BERLANGSUNG**!


Tembakan pemecah dimensi, metode yang sama seperti wormhole, digunakan untuk memperpendek rute antargalaksi. Sedangkan partikel pemindah objek digunakan untuk memindahkan objek dari lokasi yang sangat jauh dalam waktu singkat.


HITUNGAN MUNDUR AKAN DIMULAI SETELAH PARTIKEL SIAP DITEMBAKKAN!


Gedung Akademi yang membentuk huruf X pun bergeser menjauhi porosnya, memunculkan sebuah meriam raksasa dengan 2 moncong laras panjang dengan ditopang susunan mesin yang cukup rumit.


Percikan elektron berkumpul di tengah mesin yang beroperasi, yang semakin lama semakin membesar. Dibawahnya, roda-roda gir yang tersusun berputar, piston-piston bergerak memperbesar energi yang akan digunakan.


Beberapa siswa-siswi yang melihat aktivitas tersebut mulai saling berbisik selama materi berlangsung.


'Hei, Pihak Akademi akan memanggil kandidat Imaginer baru!'


'Benar... Aku tidak sabar sekuat apa mereka yang terpanggil?'


'Kau datang dari alat itu juga?'


'Tidak, tapi beberapa puluh tahun yang lalu, ada satu kan?'


'Benar, dia anak Bumi dengan darah Rusia...'


'Aku berharap dia adalah pria tampan...'


'Aku juga, dan tidak hanya itu, aku ingin dia nanti menjadi Imaginer kuat...'


'Kyaaa! Apa yang aku pikirkan?'


'Itu normal kan? Kita juga manusia yang punya keinginan...'


PARTIKEL SIAP DITEMBAKKAN!


HITUNGAN MUNDUR DIMULAI!


10... 9... 8...


Para siswa-siswi dari segala kelas masih meributkan hal itu ketika semua Ahli yang mengajar mendadak keluar dari ruangan gara-gara pemanggilan tersebut. Pemanggilan yang dilakukan oleh 3 Petinggi Experian dan juga Kepala Akademi sendiri.


"Apa yang Gramandall-sama pikirkan, melakukan pemanggilan di jam segini? Mengganggu aktivitas belajar!"


"Mungkin saja Misaka menemukan sosok yang menarik, nyan~!"


"Aku harap yang ini tidak terlalu lembek..."


7... 6...


Ujung meriam D.I.G.I.T mulai memperlihatkan cahaya terang, bersiap untuk melepaskan partikel tersebut keluar dari Experian. Bagian Kubah yang menjadi jalur meriam dibuka saat itu juga, menyisakan atmosfer tipis dari Experian.


5... 4... 3... 2... 1...


PEMECAH DIMENSI DILEPASKAN!


Suara ledakan serta gemuruh dari meriam tersebut melebar hingga ke tengah Kota, menimbulkan getaran setara gempa berkekuatan 5 Scale Richter.


Laser berwarna keunguan yang berisi elektron dan atom meledak ketika menyentuh atmosfer tipis Experian, terlihat jelas pecahan dari dimensi lain.


Kemudian, satu tembakan lagi yang berwarna kekuningan seperti listrik keluar dari ujung meriam yang lebih kecil masuk menuju pecahan dimensi tadi.


Suara sirine tanda bahaya berhenti, kondisi Akademi kembali seperti biasa. Tinggal menunggu Partikel Pemindah Objek memindahkan targetnya ke Laboratorium Akademi Experian


Kembali ke Okinawa...


Disaat Venzo dan kawan-kawan menemani para gadis dan yang lain bermain air di bibir pantai, sesuatu yang aneh tiba-tiba saja terjadi.


Tidak ada pemberitahuan cuaca buruk sebelumnya, awan gelap muncul diatas Pulau Okinawa dalam sekejap mata, seperti akan ada tornado.


Angin yang semula bertiup pelan disekitar mereka menjadi bergejolak, membuat gelombang laut mulai meninggi.


"Ada apa ini?" ucap Venzo terkejut pada perubahan cuaca yang signifikan itu.


"Entahlah, aku tidak menangkap pemberitahuan cuaca buruk sama sekali disini..." tutur Rinjou yang mengecek Smartphonenya. Izano terlihat khawatir, lalu memberikan saran sementara beberapa wisatawan yang kebanyakan adalah teman sekolahnya mulai meninggalkan pantai secara perlahan.


"B-Bagaimana kalau kita kembali ke hotel?"


Rupanya tidak hanya dia yang merasa khawatir. Para gadis, termasuk Kusakabe Naya dan Hanazawa Hana juga memperlihatkan raut wajah yang sama ketika melihat perubahan cuaca yang tidak biasa ini.


"S-Senpai, aku takut..."


Naya mencoba menenangkannya dengan memeluk adik kelas rivalnya itu. Sebagai rival cinta yang memperebutkan Venzo, dia tetap peduli pada adik kelasnya meskipun dalam hal siapa yang mendapatkan perhatian dari Venzo, mereka bersaing ketat.


"Tenanglah, Hana-chan... Aku ada disini..."


Tidak membiarkan Hana dan Naya tetap di tempat, Venzo langsung menyuruh mereka berdua untuk kembali ke hotel terlebih dulu.


"Hana, Naya, dan yang lainnya. Kalian kembali saja ke hotel dulu..."


"Eh? Bagaimana dengan kalian?"


"Kami akan membantu para penjaga pantai untuk mengarahkan wisatawan kembali ke hotel..."


Dengan itu, Hana, Naya, dan yang lainnya mengangguk lalu bergegas menjauhi bibir pantai. Sebelum itu, Naya menengok kearah empat pemuda tersebut sambil menyampaikan pesan.


"Berjanjilah agar kalian kembali dengan selamat..."


"Berharaplah seperti itu..."


Sebentar kemudian, kilatan petir mulai turun di bibir pantai Okinawa, membuat seluruh wisatawan yang tadinya tenang kini mulai panik.


Suara penjaga pantai yang mencoba menenangkan para wisatawan terdengar.


"DIMOHON PARA WISATAWAN UNTUK TETAP TENANG AGAR TIDAK ADA YANG TERLUKA, KAMI AKAN MENGARAHKAN KALIAN MENUJU HOTEL!"


Venzo dan kawan-kawan kemudian menghampiri penjaga pantai yang mengumumkan himbauan tadi.


"Tolong ikut sertakan kami untuk mengarahkan para wisatawan menuju hotel..."


"Tapi ini berbahaya, nak! Kau tahu kan jika tersambar petir sekali saja tubuh kalian akan terpanggang!?"


"Kami tahu resiko itu, setidaknya evakuasi wisatawan ini cepat selesai dan kita semua bisa kembali di barisan paling belakang..."


"Kalian..."


Penjaga pantai nampak kesulitan untuk mendahulukan para pemuda itu karena mereka tetap bersikukuh ingin membantu.


"Baiklah, kita mulai dari barisan paling belakang, beberapa penjaga pantai lain sudah mengarahkan para wisatawan di baris depan..."


"BAIK!"


Venzo, Kazura, Izano, Rinjou mulai bergegas untuk mempercepat aksi mereka, mengarahkan wisatawan yang kesulitan berlari karena masih berada di dalam air agar segera meninggalkan pantai.


"Ayo, segera tinggalkan pantai..."


"Tidak perlu panik, ikuti himbauan dari penjaga pantai..."


"Ikuti mereka dan tetap tenang..."


Venzo dan kawan-kawan mulai menyelamatkan beberapa wisatawan yang merasa khawatir, dan mencoba menenangkan mereka. Beberapa wisatawan bahkan tertegun dengan mereka berempat yang mementingkan keselamatan orang lain daripada menyelamatkan diri mereka sendiri.


"Terima kasih banyak, kami berhutang budi pada kalian..."


"Simpan itu untuk nanti, cukup traktir kami untuk makan bersama, itu sudah lebih dari cukup bagi kami..."


Itulah yang disampaikan Venzo sambil tersenyum, Kazura mengacungkan jempolnya, juga Izano yang merasa hidupnya kini berguna untuk orang lain, juga Rinjou yang tak pernah merasa hidupnya seperti seorang pahlawan.


Mereka kembali menelusuri pantai dengan visual masing-masing, memastikan bahwa seluruh wisatawan Pantai Okinawa sudah kembali.


Namun, intensitas petir yang turun sangat banyak, sehingga membuat mereka sedikit bergetar untuk sekedar kembali masuk ke dalam air.


Para penjaga pantai menegur mereka kemudian.


"Hey kalian! Mau sampai kapan kalian disitu!? Petir yang menyambar semakin banyak, kalian tahu!? Biar kami yang mengurus sisanya!"


Namun, pandangan mata mereka tertuju pada 4 gadis yang masih tertinggal disana. Gadis dengan kuncir dua, lalu gadis dengan rambut terurai, gadis dengan ponytail samping, dan gadis dengan rambut kuncir kuda kebelakang. Mereka terlihat kesulitan keluar dari air laut yang gelombangnya semakin menjadi.


"Kau lihat kan, Kazura? Gadis-gadis itu?" Tanya Venzo


"Ya aku melihatnya..." jawab Kazura sembari mengangguk


"Sensei, senpai, mereka perlu diselamatkan!" tambah Izano mempertegas


"Woah! Tidak ada waktu lain selain menyelamatkan gadis loli!" seru Rinjou yang kini sangat bersemangat.


Mereka pun bergegas berlari menyusul para gadis tersebut, namun para penjaga pantai bingung karena sudah tidak ada wisatawan disana.


'Apa yang mereka lakukan? Wisatawan terakhir kan tinggal mereka saja...' gumam penjaga pantai yang melihat mereka berlari ke arah laut.


"OI, KALIAN! PARA WISATAWAN SUDAH DIEVAKUASI SEMUANYA! KENAPA KALIAN MALAH KEMBALI KE LAUT? MENJAUH DARI SANA!" teriak Penjaga Pantai tadi menggunakan pengeras suara, namun mereka tetap berlari kearah laut.


Setelah mereka berhasil masuk ke laut, mereka mencoba menanyakan keadaan para gadis tersebut.


"Hey, kau tidak apa-apa? Cepat kembali ke hotel sekarang juga!"


"Kenapa kau masih disini? Keadaan semakin memburuk!"


"Ano, tolong segera kembali ke hotel, ini darurat..."


"Gadis manis, perlukah aku menggendongmu ke hotel sekarang?"


Dan mereka baru menyadari, para gadis yang mereka hampiri di laut itu ternyata hanyalah hologram. Sontak raut wajah mereka berubah drastis saat mereka mencoba menarik tangan para gadis tersebut.


"Are? Hologram?"


"B-Bagaimana bisa?"


"Eh? Kenapa mereka tidak bisa disentuh?"


"Kok aneh? Siapa yang meninggalkan hologram semacam ini?"


Saling memandang, kemudian mereka berinisiatif untuk keluar dari air dengan cara, lari sekencang mungkin.


"SIALAN! KITA TERTIPU!"


"TIDAK MUNGKIN MEREKA HANTU! ANGGOTA TUBUH MEREKA MASIH UTUH!"


"APAKAH ITU SEMACAM ILUSI KITA?"


"BUKAN, BODOH! ITU HOLOGRAM TEKNOLOGI TINGGI!"


Mereka berlari sekencang-kencangnya, memaksa kaki mereka untuk memecah air yang memperlambat gerakan mereka. Beberapa Penjaga Pantai mencoba menyusul mereka agar selamat dari sambaran petir yang acak.


Naas, sebuah petir yang berukuran besar tiba-tiba turun dan menyambar keempat pemuda tersebut, melahap tubuh mereka kedalam cahaya.


"GYAAAAAAAAAA!!!"


Peristiwa itu berlangsung beberapa detik, dan sambaran petir yang cukup kuat tersebut membuat Penjaga Pantai yang hampir sampai pada mereka terhempas ke belakang.


Petir tersebut menghilang seketika, termasuk keempat pemuda tadi pun ikut hilang.


Mata para penjaga pantai yang ingin menyelamatkan keempat pemuda tersebut terbelalak tak percaya dengan apa yang terjadi tadi. Sekali sambar, ukuran petir tersebut lebih dari 20 meter.


"Mereka... hilang..."


"Tidak... Mereka mati... bahkan tubuh mereka lenyap..."


Keempat penjaga pantai tersebut kembali dengan tangan hampa. Tidak ada yang tersisa dari keempat pemuda itu. Semburat kesedihan terlihat dari wajah mereka.


"Hei, kasihan sekali ya mereka?"


"Dengan umur semuda mereka, mereka malah tewas disambar petir..."


"Malang sekali, padahal niat mereka hanya membantu kita..."


"Meskipun begitu, kita harus memberitahukan yang sebenarnya pada Pihak SMA Shibuya tentang kejadian ini..."


Tidak ada darah, potongan tubuh, maupun tubuh utuh yang terpanggang, keempat pemuda itu lenyap begitu saja tanpa meninggalkan sisa untuk diidentifikasi. Kemudian mereka menceritakan semuanya kepada Pihak SMA Shibuya. Dan apa yang terjadi?


Meskipun kebanyakan dari mereka tidak terlalu mengenal dekat keempat pemuda tersebut, Pihak SMA Shibuya merasakan kesedihan yang mendalam atas hilangnya keempat pemuda dari sekolah mereka. Bahkan, Hana dan Naya tidak bisa menahan tangis mereka ditengah berita duka tersebut.


Sebenarnya, mereka hanya dipindah paksa menuju Planet lain, kurang lebih seperti penculikan alien terhadap manusia.


Detik-detik saat mereka tersambar petir...


'Ah, akhir hidup yang tragis...' keluh Venzo


'Padahal aku belum membahagiakan Karen nee-chan... Kenapa nasibku seperti ini ya?' imbuh Kazura


'Aku masih perjakaaaaa...'


'Harapanku untuk mendapatkan seorang gadis loli sirna sudah...'


Izano dan Rinjou tak ketinggalan mengucapkan sepatah dua patah kata sebelum jiwa mereka terlepas dari tubuh...


Melayang-layang di tempat yang putih, mereka tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.


Tapi, tempat itu seketika berubah...


BRUK!


"Adauw! Baru kali ini aku merasakan alam kematian yang sekeras ini..." keluh Venzo seraya bangkit dari tempatnya jatuh. Namun, dia terkejut bukan main saat menyentuh tubuhnya sendiri.


"Hei, kita belum mati! Tubuh kita masih utuh!"


Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka alami barusan. Kazura mulai menyadari jika mereka telah berpindah tempat setelah dia melihat sekeliling, penuh dengan tembok besi tinggi dan sebuah ruangan diatas yang memiliki kaca, layaknya mereka sedang diteliti di dalam sebuah tabung baja.


"Oi, tempat apa ini?"


Mereka mulai melihat sekeliling. Saat itulah sebuah lingkaran hijau muncul dengan menampakkan 4 gadis disana yang menyambut mereka.


"Jadi, ini mereka?" tanya salah satu gadis dengan rambut panjang lurus terurai berwarna hitam, dengan kacamata bermodel bingkai bawah, menambah aura kedewasaannya.


"Uuuhhh~ Itu benar, Haruka-chan..." jawab sosok gadis bertubuh mungil dengan gaya rambut twintail panjang, bergantian matanya mengamati hologram lalu memandang ke kumpulan pemuda yang nampak kebingungan dengan apa yang terjadi.


Dua gadis yang lain, salah satunya terlihat sibuk dengan makanannya menatap lekat kearah masing-masing pemuda yang ada di depannya, lalu menyimpulkan sesuatu.


"Dari wajah mereka, nampaknya daya imajinasinya dalam mode tiarap..."


KREK!


Seketika hati mereka pecah seakan dilenyapkan oleh sentakan raungan godzilla yang lepas di hadapan mereka, mendengar ucapan yang menyakitkan dari gadis yang juga bertubuh mungil, dengan banyak makanan di tangannya.


"Moo~ Kau tidak boleh begitu, Miyuu-chan... Ah, maafkan dia ya, Pria-pria Tampan~?" terang gadis terakhir dengan nada menggoda, membuat perasaan mereka sedikit terobati.


Venzo mulai menanyakan rasa penasarannya tadi.


"Etto, kami ada dimana sekarang? Apakah kami sedang diadili di Neraka? Atau, kalian ini malaikat?"


Sontak keempat gadis yang mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan Venzo tersipu bersamaan. Kazura, Izano dan Rinjou malah memiting Venzo sembari berbisik.


'Dasar kau itu, tidak di kehidupan nyata, tidak di dunia setelah mati, tetap saja jadi orang mesum...'


'Aku kan sudah bilang, Bakazura! Manusia yang berlaku mesum itu normal!'


'Sensei, kau tahu kan', Hukuman Tuhan bagi orang mesum itu seperti apa? Apalagi, kau adalah orang paling mesum di alam semesta...'


'Sejak kapan jiwa orang mati punya kaki!?'


'Oi, Ero-sensei, memangnya kau ingin memakan semua gadis di tempat ini? Aku dengar Michael itu punya pedang suci. Apa kau mau 'pedang'mu itu dipotong karena menggoda gadis di Surga?'


'Hey, kau mengharapkan itu, sialan!? Dasar kau murid durhaka!'


Memecah bisikan keempat makhluk yang mereka panggil, para gadis tersebut menyambut mereka, lagi-lagi dengan ekspresi yang memperlihatkan dere mereka.


"A-Ano! Perkenalkan, namaku Ruruberry Stefhold, dari Divisi Kedisiplinan!"


"Aku Kurobara Haruka, dari Divisi Kedisiplinan... Laki-laki benar-benar merepotkan..."


"Hai para pria tampan~! Aku Yuzuhara Yuna dari Divisi Kedisiplinan~ Jangan sungkan untuk main denganku ya~? Fufufu~"


"Miyuu Stravis, dari Divisi Kedisiplinan. Nyam, nyam~ Kalian berpikiran mesum, menjijikkan."


Merespon perkenalan tersebut, Venzo berdiri di depan teman-temannya yang mesih mempermasalahkan lokasi yang mereka tempati sekarang, lalu bertanya dengan jelas.


"Baiklah. Kami ada dimana? Lalu, kalian ini makhluk apaan? Semacam Demi-Human kah? Alien berwujud manusia kah? Atau makhluk lain?"


Gadis yang bernama Ruruberry maju dengan sedikit gugup, lalu menjelaskan apa yang ada di dalam hologramnya.


"A-Ano, kalian berada di Imaginarian City, Kawasan Kubah Pusat di Planet Experian, tepatnya tahun 739125..."


Mata keempat pemuda tersebut memandang heran keempat gadis tersebut. Keheningan sejenak terasa disana.


"Kami adalah manusia masa depan yang disebut dengan Imaginer... Kalian berada di Planet Imajinasi sekarang..." terang gadis yang memiliki nama Kurobara Haruka itu sambil melipat lengannya di bawah dada.


"Buktinya?"


Kazura nampak telah kembali ke mode kekarnya dengan maju disamping Venzo dengan ekspresi tantangan.


"Kami akan mencoba mengadu kekuatan Imajinasi denganmu... Apapun yang kalian pikirkan bisa terjadi kapan saja-"


Venzo dengan tegas memberi tanda untuk menghentikan pembicaraan.


"Jika itu tentang imajinasi, jelas imajinasi kami lebih berbahaya dari kalian!"


"Hmph, sombong sekali makhluk primitif ini! Baiklah, coba jika kalian bisa menghentikan kami!"


Seluruh gadis disana memulai berkonsentrasi, dan muncul senjata di masing-masing mereka. Buku Sihir, Pedang Besar, Cambuk, dan Tombak.


Kazura, Izano, dan Rinjou berbalik setelah menggapai leher Venzo untuk ditarik.


'Hey, Ero sialan! Sekarang mereka menantang kita untuk beradu imajinasi kan? Ucapanmu itu terlalu gegabah, tahu!?'


Venzo menyeringai seperti memiliki rencana yang menakutkan.


'Bakazura, apa kau tidak menyadari sesuatu?'


'Apa maksudmu?'


Izano memperlihatkan wajah yang menggambarkan baru sadar akan sesuatu.


'Senpai, yang sensei maksudkan itu mungkin saja kata-kata apapun yang kalian pikirkan bisa terjadi, benar kan?'


Meskipun begitu, Rinjou tetap khawatir.


'Tapi, apa kau memiliki siasat melawan mereka? Aku tak mau dibunuh loli, tahu!?'


'Memangnya aku mau dibunuh loli? Aku juga tidak. Jadi begini rencananya...'


Empat gadis yang sudah siap dengan senjata mereka masing-masing menunggu respon dari empat pemuda yang masih melakukan diskusi. Selesainya, mereka tetap saja tak membawa apapun.


"Misaka-sensei! Tolong berikan mereka 'alat' itu!" seru Haruka pada salah satu Petugas Laboratorium yang mengamati dari luar ruangan.


Empat makhluk itu merasakan sesuatu seperti nyamuk menggigit leher mereka.


"Apa ini!?"


Suara yang menggema diruangan menjelaskan apa yang baru saja terjadi.


"Imagination Nano Chip Converter atau disingkat INCC. Dengan ini kalian sudah menjadi seorang Imaginer. Pikirkan apa saja yang ada dibenak kalian, entah itu untuk menyerang maupun bertahan. Skill yang akan muncul dapat dipelajari lagi suatu saat agar lebih kuat."


Tanpa memberikan kesempatan, keempat gadis mulai berjalan kearah mereka dengan senjata yang menyala-nyala.


"Oi, bagaimana ini, Ero!? Mereka benar-benar ingin membunuh kita!"


"Sensei, kau harus bertanggung jawab jika aku terbunuh!"


"Lakukan jurus Minta Maaf Sembari Saltomu itu, Ero-sensei!"


Ketiga pemuda tersebut diliputi kepanikan karena mereka merasakan bahaya. Namun, Venzo memberitahu mereka sesuatu.


"Lakukan apa yang aku katakan, lalu gumamkan kata Dress Break..."


"Apa yang kau pikirkan, bodoh?! Itu jurus dari anime sebelah! Kenapa kau bawa-bawa kesini?!"


"Sensei, kau ingin dimarahi Ichiei Ishibumi karena scene pembuka ini?"


"Aduh, guru yang bodoh..."


"Sudah diam saja kalian, biar aku yang bicara dengan MC harem si pecinta oppai itu..."


Mereka mulai memejamkan mata bersamaan, memusatkan otak mereka pada satu pikiran.


"Dress Break..."


Dan tiba-tiba saja...


ZRASH!


Keempat seragam gadis tersebut hancur layaknya tersapu gelombang tak terlihat, sesaat setelah mata keempat pemuda tersebut terbuka.


"KYAAAAAAH!"


Namun imajinasi yang menjadi kenyataan sudah terekspos di mata mereka. Tepat seperti yang mereka bayangkan di dalam otak mereka. Keempat gadis tersebut secara refleks menutupi tubuhnya yang telanjang tanpa sehelai benang pun, termasuk celana dalam dan penutup dada mereka yang ikut hilang.


Lagi-lagi suara menggema terdengar menyampaikan sesuatu di ruangan tersebut.


(Pertandingan selesai! Dimenangkan oleh 4 Pemuda dari Bumi!)


"Masa bodoh, akan kusimpan pemandangan ini dalam memoriku!"


"Sialan kau, Ero-Ecchi! Kau selalu menang soal hal Ero! Rasanya aku perlu bersyukur untuk hari ini!"


"Sensei, kau membuatku tidak polos lagi... Hueeeee~ Aku harus menikmatinyaaaa~"


"Terimakasih makanannya~"


Beberapa menit menikmati wajah malu para gadis yang baru mereka temui sedang sibuk menutupi bagian tubuhnya yang mengundang mata lelaki, mereka menyadari bahwa mereka mulai serius, lalu merapal skill mereka masing-masing.


"K-A-L-I-A-N...."


Tebasan besar dan bola berbahan elemen terlepas dari keempat gadis tersebut, mengarah pada Venzo, Kazura, Izano, dan Rinjou. Jika dilihat, skill yang bergabung menjadi satu itu siap melahap mereka hidup-hidup.


Tanpa lari, mereka menerima dengan senyum puas. Menyadari mereka mendapat konsekuensinya ketika melakukan sesuatu.


"Ah, aku sudah puas... Lebih baik dari hanya melihat ratusan judul doujinshi saja..."


"Ini sudah cukup... Aku akan menjadi pemuda baik lagi..."


"Sensei, Senpai... Terimakasih..."


"Ero-sensei, teman-teman, kalian memang pria hebat..."


BOOM!


Aroma gosong tercium dari tubuh para pemuda yang menerima skill mematikan dari Divisi Kedisiplinan tanpa perlawanan. Para gadis tersebut sudah ada dihadapan mereka yang masih kejang-kejang dalam wujud mereka yang menghitam diakibatkan daya hancur skill yang luar biasa.


"Uuuuh~ Aku tidak akan bisa menikah..."


"Kalian harus bertanggung jawab! Mengerti!?"


"Ara-ara~ Itu benar sekali, karena kalian yang menatap tubuh suci kami dengan mata serigala~ Ahhh, tatapan yang menggairahkan~"


"Lihat siapa yang merasa puas ditatap kawanan pria mesum..."


Akhirnya, perjalanan keempat pemuda yang harus bertanggung jawab di dunia dengan sistem berbeda ini dimulai...