World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 05 - Sang Murid Pecinta Kaki Jenjang Perempuan!



Setelah mengurus beberapa dokumen yang kumintakan dari SMA Shibuya, Kazura dan Rinjou yang juga memutuskan untuk mendaftar ke sekolah tersebut mulai mengisinya di kamar masing-masing. Dan aku--Ryuichi Venzo, kini tinggal menunggu hasilnya.


Ah, sepulang sekolah hari ini, aku bermain-main dengan aplikasi Rinjou yang benar-benar dikirimkan dari Smartphone miliknya via aplikasi, lalu membuka kode pengaman juga memasangkan fitur-fitur terbaru yang diciptakannya. Dia juga memberitahuku soal beberapa fitur yang belum dicobanya namun selesai dibuatnya dengan keakuratan tinggi.


"Beberapa fitur masih belum kucoba, jadi aku ingin kau sebagai Raja Ero mencobanya, jika ada beberapa bug, katakan padaku. Aku akan memperbaikinya secepat mungkin."


Jadi, aku dijadikan subjek penguji coba nih?


"Dan satu lagi. Ada kemungkinan nanti beberapa kesalahan program akan membuat Smartphonemu meledak. Jadi, semoga beruntung, Ero-sensei!"


Sebelum dia menutup pintu dengan kecepatan tinggi, aku meneriakinya dengan kekesalan berarti.


"Aku akan menagihmu untuk itu nanti, keparat!"


Dan sekarang aku sedang dihadapkan dengan situasi berbahaya. Rasanya sungguh bodoh, mencoba membuka aplikasi dengan perasaan was-was, aku memasang perabotan memasak di kepala, wajah, dada, lengan, dan menyentuh layar Smartphonenya dari jarak yang agak jauh menggunakan 4 buah penggaris dengan panjang masing-masing 30 cm dan memasang tangan buatan yang kubuat dari baju tak terpakai di kamarku.


BEEP~


Setelah ter-install dengan aman dan sempurna, aku mulai dengan tombol 'Open App' yang tertera di layar. Layar seketika menghitam. Aku percaya ini masih prosesnya. Kuusap keringat dingin yang meluncur dari pelipisku, menunggu proses dari RAM ukuran kecil Smartphoneku selesai membaca programnya.


>> Perhatian! Aplikasi ini mengandung konten seksual, hanya untuk Pengguna dengan umur 18+! Apakah Anda tetap ingin membukanya? Y/N<<


Terlihat dari himbauan yang muncul, nampaknya si pembuat aplikasi tak pernah mencoba bercermin. Dasar sialan!


(Y)


>>Terimakasih telah menggunakan aplikasi kami! Tertanda : Maniac of Techno-Loli<<


'Bagus juga nama samaranmu, sialan! Bukannya teknologi, malah kau membuatnya menjadi Techno-Loli. Gabungan dari kata Technology dan Loli ya?' batinku setelah menekan tombol 'Y' yang ditampilkan pada layar.


Sejenak layar berubah menjadi background seperti sebuah kolam, dengan sebulir air menetes menciptakan gelombang beraturan di permukaan air tersebut.


Perlahan terlihat sosok gadis imut dengan pakaian seperti menyatu dengan anggota tubuhnya, membelah permukaan air tersebut, lalu tampilan mulai memutar, background kolam menghilang dalam sekejap, hanya memperlihatkan gadis yang seperti masih tertidur lelap tersebut.


"Cukup elegan dari penyambutan pertama kali. Seperti yang diharapkan dari si Maniak Tekno-Loli..." ucapku pada diri sendiri sembari tersenyum puas melihat hasilnya yang tanpa kendala.


5 detik setelah kemunculan gadis tersebut, tertera tulisan lain yang muncul di dahi sang gadis dalam Smartphoneku.


>>Belai Disini Untuk Membangunkanku, Onii-chan... (^_~)<<


"Emot macam apa itu!?"


Setelah selesai melepaskan jubah pelindung karena keadaan sudah mulai aman, aku mulai menyentuhkan jariku secara langsung ke permukaan layar, kemudian muncul gambar telapak tangan di bagian layar yang kusentuh. Meh, fiturnya sudah terdukung juga?


Setelah sekitar 4,5 detik mengusap kepala figur adik perempuan, kusebut saja Imouroid agar lebih gampang, matanya mulai bergerak sedikit, tanda dia merasakan sentuhanku.


Namun, kelopak matanya tak kunjung terbuka.


"-Huh!? Jangan-jangan, ini bugnya!?"


Tak lama setelah mencoba menjauhkan Smartphone untuk bersiap menerima ledakan dadakan, petunjuknya berubah kearah lain.


>>Belai Disini Untuk Memasukkan Perasaanmu, Onii-chan... (^_~)<<


"Berubah tempat lagi!? Dan lagipula, ada apa dengan emot itu!?"


Sedikit kesal karena proses yang cukup rumit, aku mulai menarik nafas dalam-dalam, menenangkan diriku, lalu mengusap-usap pipi Imouroid tersebut.


Sedikit desahan mulai terdengar, membuat kulitku seperti terkena rangsangan aktif.


"Nnha~"


Begitu saja terucap kata-kata yang biasa kugunakan saat terkejut.


"Oh shit!"


Terlihat lebih menjanjikan dari yang kubayangkan sebelumnya, aku bersedia melanjutkan petunjuk selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Sampai akhirnya, sentuhan jari telunjukku yang sudah memperlihatkan tanda-tanda lelah akhirnya menyudahi proses sentuh-menyentuh itu.


>>Silahkan masukkan info yang ingin anda terapkan pada HFVR-01<<


"Brengsek..."


Hal itu benar-benar membuatku menggeram, padahal gadis tersebut sudah bangun, ternyata perlu informasi juga!?


Aku membuka pintu kamar, lalu bergegas menuju kamar Rinjou, aku menemukannya sedang asyik bercakap-cakap dengan aplikasinya sendiri.


Rinjou langsung terkejut begitu melihatku datang dengan pelipis sudah dipenuhi otot.


"Oi, Rinjou, apa ini maksudnya? Kau ingin aku menilainya atau tidak, hah?"


"I-Itu memang prosesnya, untuk menyelaraskan pengguna dengan aplikasi, diperlukan info juga..." jawabnya gemetaran sembari waspada dengan melindungi Smartphonenya jika sewaktu-waktu aku menyerangnya.


Di dalam perdebatan yang sedikit keras dari diriku, suara bell listrik terdengar dari kamarku.


"Permisi..."


Suara pemuda asing terdengar disana. Siapa? Tamu kah?


Sebelum aku mendatangi tamu asing yang mengunjungiku, aku menyeringai pada Rinjou sembari memberi peringatan.


"Urusan kita belum selesai, keparat..."


Begitu saja, aku menutup sementara perdebatanku atas aplikasi yang memerlukan waktu lama untuk menikmatinya itu.


Dan, setelah aku keluar dari kamar Rinjou, ternyata yang kutemukan hanyalah bocah polos berkacamata.


"Kenapa kau membunyikan bell, kiddo?"


Dia adalah Yamaguchi Izano, pemuda yang mengklaim diri sebagai murid dari Ero-Ecchi Venzo, atau bisa kalian bilang itu aku. Dan satu fetish yang dimilikinya, dia cinta dengan kaki jenjang polos maupun berbalut stocking. Baginya, itu adalah sebuah harta karun dari bagian tubuh wanita.


"Ah, dasar kau ini... Ayo masuk..." keluhku lalu masuk ke kamar milikku sembari mengajak sosok yang memanggilku 'Sensei' itu.


Tampak beberapa rak buku tertata rapi di kamar. Isinya jangan ditanyakan, aku hanya mengkoleksi apa yang kubutuhkan. Referensi yang kudapatkan dari perburuan Akihabara, saat aku masih berada di Kyoto. Beberapa juga kudapatkan dari pemberian teman-teman Ayah yang mengetahui potensiku sebagai Pria Mesum.


Majalah-majalah Ero, dan juga beberapa Ero Figure tertata sedemikian rupa, tak ada yang berantakan karena meskipun aku tergolong seorang otaku, namun soal kebersihan aku tak pernah tanggung-tanggung.


"Wah, rupanya kamarmu bersih juga ya, sensei?" pujinya sembari duduk di ranjang yang biasa kugunakan untuk tidur.


"Aku tak pernah tanggung-tanggung soal kebersihan, nak." jawabku yang sedang merebus air di dalam ketel yang masih tersisa setengah sejak kemarin, lalu menyiapkan teh seduhan.


Beranjak dari tempatnya duduk, matanya menelusuri sekian banyak koleksiku yang masih tersimpan dalam rak.


Satu-persatu buku diambilnya, lalu diteliti covernya. Wajahnya terlihat sangat tertarik.


"Woah, sungguh mantap!" serunya sedikit keras.


"Hmph, kau masih menemukan satu dari sekian banyak judul di dalam kotak harta itu..."


Sebelum dia mulai membuka buku yang sebenarnya adalah manga tersebut, dia bertanya.


"Oiya, sensei. Kau tidak khawatir jika ada seorang gadis datang kesini lalu menemukan ini?"


Sembari menunggu air dalam ketel mendidih dengan suhu panas kompor gas yang rendah, aku menghampirinya lalu menjawab dengan enteng, di tengah kalimat aku juga mengibas-ngibaskan tanganku lalu mendesah pelan.


"Lalu apakah aku harus menyembunyikannya di bawah ranjang atau di tempat tersembunyi lainnya, seperti tokoh utama laki-laki dengan seluruh haremnya itu? Duh, pemikiranmu terlalu mainstream, anak muda..."


Aku menepuk pundaknya, kemudian menjelaskan alasan kenapa aku meletakkannya di rak begitu saja.


"Hei, nak. Apakah baik jika kau melakukan itu? Apakah itu berpengaruh pada pandangan gadis itu terhadapmu? Memang benar kemesumanmu akan sulit terdeteksi, kecuali gadis itu hafal letak persembunyian majalah-majalah Ero semua pemuda di dunia ini. Sama saja kau berniat membohongi gadis itu, dan menurutku tidak patut kebiasaan tersebut untuk dilanjutkan. Jika kau mesum, akui saja. Tak perlu kau sembunyikan, toh naluri itu akan muncul juga kan?"


Nampak dia mencoba mencerna apa yang aku sampaikan. Sebentar kemudian aku mendengar suara nyaring ketel yang menandakan air di dalamnya sudah mendidih.


"Jika dipikir secara logika sih, itu benar..." ucapnya mengangguk setuju dengan pendapatku.


"Lalu, apakah kau ingin mempermasalahkannya lagi?"


Saat selesai menyeduh teh hangat dalam gelas keramik yang kubeli dari distrik perbelanjaan terdekat, aku menyuguhkannya dan menanyakan hal itu. Dia menggeleng tanda dia puas mendengar peneranganku.


"Kenapa aku tidak terpikir sampai kesitu ya?"


"Ilmumu masih kurang tinggi, nak. Minumlah." jawabku sembari mengambil beberapa judul manga di rak buku milikku, yang sebagian besar adalah manga ero.


Manga Ero yang kupilih, 2 dari 3 nya berisi beberapa heroine dengan penampilan menggoda, mengenakan stocking dan juga garterbelt.


Sebentar kemudian, setelah mengamati cover manga yang aku bawa, dia menyemburkan minumannya padaku.


Teh yang masih panas itu mengenai tanganku, secara otomatis aku melemparkannya ke atas.


"Panas oi, panas!!"


"M-Maafkan aku, sensei! Manga yang kau bawa itu..."


Dengan cekatan aku menangkap manga yang baru saja kulempar tepat diatasku.


"Hah? Kenapa memangnya?" tanyaku yang membersihkan tanganku dari air teh bekas semburan Izano tadi.


"Itu... stocking..." ucapnya dengan mata berkilauan.


"Oh, ini? Yah, aku membelinya karena heroinenya cukup menggoda, dan juga banyak adegan ciuman di dalamnya. Hahahaha!" celetukku sambil menjelaskan isinya.


Namun, Izano tetap tak bergeming, dia terus memelototi manga yang ada padaku. Dengan cepat aku melempar manga yang kupegang kearahnya.


Tidak fokus, tangannya tak dapat menangkap manga yang kulempar dan mengenai wajahnya.


"Lagipula aku sudah selesai membacanya, dan kulempar ke wajahmu itu sebagai balasan karena sudah menyemburkan teh panas padaku." kataku lalu berdiri mengambil beberapa lembar tisu yang ada diatas meja belajarku.


"Ah, sensei! Aku perlu bertanya satu hal!" serunya memegangi manga yang kulemparkan tadi.


"Apa?"


"Tisu itu... kau tidak menggunakannya?"


Mengerti maksud Izano, pelipisku mengeluarkan otot kecil.


Aku menatapnya sedikit tajam sembari memberikan nada ancaman.


"Oh? Jadi, kau mencurigaiku menggunakan tisu untuk hal yang tidak-tidak? Kau kira aku ini pemuda seperti apa, dasar pecinta kaki polos!"


Sebelum menerima kutukanku, dia kabur begitu saja, meninggalkan gelas dengan teh yang masih tersisa seperempat.


Note :


Kiddo adalah sebutan untuk seseorang yang dianggap masih kecil, berasal dari kata 'Kid' namun penyebutnya adalah orang jepang.


Mainstream adalah istilah yang biasanya mengacu pada arus umum, yang berarti bahwa "arus utama" adalah hal-hal yang saat ini populer bagi kebanyakan orang. Hal ini paling sering diterapkan di (yaitu, musik, sastra, dan pertunjukan). Ini termasuk:


Sesuatu yang umum atau biasa;


Sesuatu yang akrab bagi kebanyakan orang;


Sesuatu yang tersedia bagi masyarakat umum;


Sesuatu yang memiliki hubungan dengan perusahaan atau entitas komersial.


Heroine adalah seorang gadis (atau lebih) yang memiliki hubungan ataupun peran penting dalam cerita. Heroine (dalam anime) biasanya dekat dengan Tokoh Utama Pria.