World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 26 - Pengumuman Kepala Sekolah



Setelah aku mengantarkan Naya ke rumah, lalu bertemu kedua orangtuanya yang nampak bahagia usai liburan ke luar negeri, aku tetap bersamanya hingga dia benar-benar kehilangan kekhawatirannya terhadapku. Aku tidak bisa jika harus meninggalkannya dalam kondisinya yang masih membutuhkan dukungan. Aku harus bertanggung jawab ketika aku berkaitan dengan masalah ini kan?


Setelah Naya benar-benar bisa menenangkan dirinya, aku berpamitan pada orangtuanya yang sebenarnya mengajakku untuk makan malam tapi aku menolaknya dengan halus karena aku tahu mereka mengkhawatirkanku karena tak segera pulang ke rumah kontrakan. Dengan diantarkan oleh Managernya, akhirnya aku sampai di rumah kontrakan, dan langsung beristirahat karena waktu aku sampai di kontrakan, waktu menunjukkan pukul 10 malam waktu setempat...


...


Keesokan paginya adalah hari yang cukup sibuk bagiku, Ryuichi Venzo. Karena... hari ini adalah hari dimana agenda pengumuman dari Kepala Sekolah dimulai, juga hari dimana Festival Musik Tahunan Tokyo yang diselenggarakan di Akihabara akan berlangsung. 2 tahun yang lalu, karena aku menyukai musik, aku hanya bisa menonton dari layar televisi. Sekarang, aku malah ikut menjadi pengisi acara festivalnya.


Saat berangkat menuju sekolah, aku kembali menghafal nada dan tempo lagu yang akan kumainkan bersama beberapa personil band andalan sekolah. Sebelum liburan musim panas, aku sempat menjalani latihan beberapa kali. Jadi, aku tinggal mengikuti tempo lagu aslinya saja kan?


Dengan mengenakan kemeja dan celana hitam, aku berangkat ke sekolah bersama Kazura, Izano, dan Rinjou yang juga tak ingin ketinggalan pengumuman yang penting ini. Mereka juga mengenakan pakaian nyaman ala mereka sendiri.


"Jadi, setelah pengumuman selesai, kau akan ikut Festival Musik di Akihabara?" tanya Kazura.


"Ya, begitulah. Naya memintaku untuk ikut karena Klub Musik benar-benar kekurangan anggota di bagian drummer."


"Wah, ternyata sensei tidak hanya berbakat dalam hal ero saja ya? Aku bangga sekali menjadi muridmu!" celetuk Izano.


"Aku beritahu, kharisma bukan hanya terpancar dari wajah saja, tapi juga kemampuan yang kita kuasai, nak. Jika kau menguasai bidang akademik, maka kuasailah. Kharismamu bakal bertambah dari situ, untuk menopang kharisma dari wajahmu. Hahahaha!"


Mendengar penjelasanku, mereka nampak tersindir dan merasa kesal.


"Entah kenapa aku jadi ingin berkelahi denganmu sekarang, muka mesum..."


"Sensei sungguh tidak berperasaan dalam hal membedakan muka..."


"Jadi begitu ya? Mungkin aku perlu menyuruh Imouto untuk meledakkan smartphonemu sekarang?"


Dengan refleks, aku langsung berlari meninggalkan mereka lebih dulu sebelum aku tertangkap.


Tiba-tiba saja-


Tubuhku menabrak kumpulan orang, yang anehnya mereka terjungkal ke depan semua. Dan yang kulihat, dua orang sedang membawa gitar di punggung mereka.


"Lho? Kalian sudah disini?"


Mendengar suaraku, Iori yang langsung menyambutku.


"Dasar kapten, kenapa kau tergesa-gesa begitu?"


"I-Ini! Aku sedang dikejar iblis dibelakangku!"


Iori, Yui, Kenji beserta Naya pun nampak heran melihat kami yang sedang kejar-kejaran seperti kucing dan tikus. Sebenarnya, banyak juga siswa lain yang melihat kami, karena pengumuman ini sangat penting sehingga mayoritas siswa-siswi SMA Shibuya harus datang.


Lalu, ada sekelebat bayangan datang dan berhasil menjatuhkanku dengan beban tubuhnya yang menjadi sebuah gaya tubruk.


"Aha~ Kau tertangkap, senpai~"


Si gadis dengan postur tubuh kecil namun memiliki kekuatan lebih besar dariku ini adalah Hana. Sekitar satu minggu aku tidak melihatnya- tapi, aku sedang diburu para iblis!


Seketika mereka yang mendapatiku tertangkap langsung menyiapkan serangan secara bersamaan seperti anjing yang mendapatkan mainannya.


"GYAAAAAA!!"


Akhirnya aku tertangkap dan disiksa dengan kuncian dari dua arah oleh Izano dan Rinjou pada lenganku, lalu dieksekusi oleh Kazura yang menarik kuat kedua kakiku lalu menginjak selangkanganku layaknya pedal gas mobil yang dimainkan, membuatku tidak bisa menahan gelak tawa karena geli.


"GYAAAAHAHAHAHAHA! OI, HENTI- HUAHAHAHAHAHA! BANGS- HAHAHAHAH!"


Kazura tak sedikitpun terlihat ingin menghentikan eksekusinya meskipun dia tahu otot perutku mulai mengeras.


"WOAHAHAHAHA! N-GG-NIKMAT GUNDULMU- KYAHAHAHAHAHA! LEPAS OI!"


"Tidak sebelum kau meminta maaf pada kami, sensei... Khukhukhu..."


Bocah ini, sejak kapan Izano jadi sadis?! Perutku sudah mulai meminta istirahat oi!


"Minta maaflah pada kami, Ero-sensei, sebelum kau mati karena tertawa..."


Rinjou juga? Sial! Padahal aku mengatakan yang sebenarnya, tapi daripada aku mati tertawa, lebih baik aku menyerah saja.


"YAAAAAHAHAHAHA! B-BAIKLAH, HENTIKAN, AKU MINTA MAAF PADA KALIAN!"


Akhirnya, gerakan kaki Kazura yang konsisten itu berhenti, lalu mereka melepaskan kakiku, dan membersihkan tangan mereka seperti selesai membereskan misi mereka. Misi gundulmu!


Bel masuk terdengar, dengan dibantu oleh Hana, aku berdiri sambil membersihkan pakaianku dari kotor.


"Senpai, apa kau tidak apa-apa? Apakah itu geli?"


Sambil membuang nafas panjang, aku menjelaskan.


"Rasanya sama saja seperti kau sedang digelitiki seseorang di pinggulmu, tapi lebih parah yang ini..."


Melihat adegan tadi sih, semua anggota Klub Musik malah tertawa, termasuk Naya. Tidak ada yang ingin menolongku, jadi aku berusaha untuk lepas sendiri. Toh, adegan seperti itu biasanya memang dilakukan siswa seusiaku dan terlihat menggelikan.


"Sudah, sudah. Pengumumannya bakal dimulai. Ayo kita segera masuk." Kenji mengingatkan kami.


Karena jalanan depan gerbang SMA Shibuya sudah sepi dari siswa-siswi lain, kami bergegas masuk.


Lokasi pengumuman ditengah liburan ini berada di Aula Gedung Sekolah, yang mampu menampung lebih dari 500 orang. Jadi, itu sudah lebih dari cukup untuk sebuah pengumuman sekolah.


Di podium, sang Kepala Sekolah yang lebih suka berpenampilan formal sederhana itu telah berdiri sembari menyiapkan secarik kertas ditangannya. Melihat kami yang baru sampai di gerbang pintu Aula, beliau yang memiliki nama Ryuuji Koike berdehem, memberikan tanda pada kami untuk segera menempati tempat duduk yang disediakan berbaris per kelas.


Setelah seluruh kursi para siswa-siswi terisi, Kepala Sekolah mulai bersuara.


"Selamat datang, wahai siswa-siswi SMA Shibuya yang selalu aku banggakan. Terimakasih trlah bersedia datang dan meluangkan sedikit waktu kalian ditengah liburan panjang musim panas ini."


Menatap ke bawah sebentar, beliau kemudian melanjutkan. Kami mendengarkan apa yang Kepala Sekolah sampaikan dengan seksama, para guru pun terlihat sangat serius, namun tersenyum seperti akan ada hal istimewa hari ini.


"Baiklah, kita langsung saja ke topik utama, alasan mengapa aku sebagai Kepala Sekolah, meminta kalian untuk datang kemari disaat kalian menikmati liburan... 4 hari lagi, kita semua akan berlibur ke Pulau Okinawa bersama-sama."


Hanya siswa-siswi saja yang berteriak terkejut dengan apa yang beliau sampaikan, termasuk aku sendiri. Liburan bersama ke Pulau Okinawa?


"Liburan bersama?!"


"Serius?"


"Kita semua? Kita butuh banyak biaya kalau begini!"


Itulah respon dari beberapa siswa-siswi soal pengumuman Kepala Sekolah. Beliau pun menjelaskan detail keseluruhan.


"Kita akan berlibur bersama ke Pulau Okinawa selama 3 hari. Soal biaya perjalanan, menginp, makan dan sebagainya, aku sudah mengurusnya. Kebetulan, teman-temanku bekerja disana sebagai pemilik hotel dan restoran, dan dia memberikan paket liburan untuk kita sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-53 kemarin. Jadi, kalian cukup menikmati apa yang ada disana. Tidak perlu mengkhawatirkan soal biaya lagi. Mengerti?"


Sebagian besar siswa menyambut hal ini dengan sukacita. Kami pun tidak bisa lari dari kesenangan ini. Yup, histeria kebahagiaan menggema di Aula Gedung Sekolah, meskipun beberapa terlihat sedikit murung. Mungkin saja mereka memiliki jadwal lain yang tidak bisa ditinggalkan.


Namun tidak bisa dipungkiri lagi, SMA Shibuya yang memiliki karakteristik penerimaan siswa-siswi yang tergolong aneh memiliki pemasukan dari siswa-siswinya sendiri yang tergolong besar, dari siswa-siswi yang memiliki bakat seni besar, maupun siswa-siswi yang menyumbangkan kemampuannya lewat kapasitas akademik yang luar biasa. Catatan-catatan kelewat bagus tertoreh di sekolah ini, termasuk Naya yang menjadi pianis nomor 1 di Tokyo.


Haaaa, benar-benar sekolah yang luar biasa...