World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 51 - Pidato Sang Master Ero, Tertangkap!



"Semua manusia itu diciptakan berdampingan dengan lawan jenisnya. Jadi, jika lawan jenismu berpikir sedang melakukan hal romantis denganmu, itu adalah hal yang wajar menurutku..."


Itulah sedikit bagian dari pidatoku, Ryuichi Venzo, dimana sedang mendapatkan tugas dari seorang Ahli Komunikasi Verbal dan Digital, Will Draven. Ceritanya begini...


Satu jam sebelum materi dilaksanakan, beliau datang ke Kelas Nuevo dengan sikap formal. Kami dengan rasa hormat akan para Ahli kemudian mengambil sikap berdiri dan menunduk sembari berseru.


"""""""SELAMAT SIANG, PAK!""""""""


"Selamat siang." Jawabnya lalu memberikan tanda untuk mempersilahkan duduk kembali.


Sistem pengajaran disini rupanya hampir sama seperti sistem pengajaran sekolah di Bumi. Itulah yang sebelumnya sempat diberitahukan saat Ketua Kelas, Yamashita Aoi, memberikan data soal Pengenalan Sistem Pendidikan Akademi disini. Yang menjadi perbedaan adalah pembebasan terhadap penggunaan materi akademi juga waktu saat akan ada Kompetisi Pertandingan Imaginer--Imagine Competition.


Meskipun disini mengedepankan Imajinasi, namun materi lain tidak dikesampingkan. Contohnya ya seperti ini. Ada Pendidikan soal Komunikasi Verbal dan Digital. Disampaikan bagaimana cara berkomunikasi yang benar dan formal.


Disaat yang lain sedang mendengarkan bagaimana penjelasan dari aang Ahli, aku menyibukkan diri berburu gambar-gambar untuk referensi materi ceritaku. Yang jelas hanya diperuntukkan untuk yang normal saja.


"Hmm, menarik juga-- Wow, yang ini mantap, sialan!"


Kegaduhan kecilku lantas mengundang komentar teman-teman sebangkuku. Siapa lagi kalau bukan Kazura, Izano, dan Rinjou?


"Oi, perhatikan pelajaran, bodoh!"


"Sensei terlalu asyik dengan materinya ya?"


"Bahkan aku yang tergolong punya duniaku sendiri masih kalah jika dibandingkan dengannya..."


Menghentikan kegiatanku sesaat, aku membalas lalu melanjutkan kegiatanku.


"Kau kira sudah berapa puluh tahun aku tidak melakukan hal seperti ini, ha? Bayangkan, kau berlatih di tengah gurun pasir-- Darimana kau dapat sinyal untuk menjelajahi internet? Bahkan pohon saja tidak ada, kampret!"


Ketidaksaranku akan pancingan mereka ternyata menghasilkan tepukan di bahuku-- dan aku menemukan sang Ahli tersebut berada dibelakangku dengan muka sedikit masam. Bahkan Ketua Kelas sepertinya hanya bisa pasrah karena aku mengenakan headset jadi teriakan pun tidak akan masuk ke dalam telingaku.


"Bagaimana jika kau memberikan contoh bagaimana berpidato yang benar? Sedangkan aku akan menggantikanmu sebagai siswa. Santai saja, anggaplah kau ini menjadi seorang Ahli sungguhan agar kau tidak merasa tegang."


Kesialanku itupun dibarengi dengan cekikikan tiga orang yang sebangku denganku. Aku melotot kearah mereka, dan mereka tetap saja terkekeh karena aku tertangkap basah tidak mendengarkan pengajaran di hari pertamaku masuk akademi ini.


Dalam hati aku mengumpat, 'Awas kalian ya?'


Dengan langkah berat aku maju ke depan Kelas, sambil memikirkan apa yang harus kupidatokan di depan orang-orang baru ini.


Hawanya terasa semakin aneh saat pandangan para siswa-siswi tertuju padaku, seolah aku ini adalah Ahlinya. Bahkan sang Ahli duduk di bangkuku, bertindak sebagai penggantiku! Yang harusnya disana itu aku, kan?!


"Ehem, baiklah..."


Sembari membasahi kembali tenggorokan yang mengering dengan sekali deheman, aku memulai pidatoku.


"Selamat siang. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Ryuichi Venzo. Saya adalah siswa pindahan dari Bumi. Umur saya 18 tahun--entah bagaimana penghitungan umur saya disini, saya belum begitu paham, jadi mohon bantuannya..."


Mencari data-data yang kubutuhkan via smartphone, aku kembali berbicara panjang seraya mengambil beberapa langkah disekitar situ. Mata mereka pun mulai menampakkan antusiasme tinggi terhadap materi yang akan kubahas. Kalian serius?! Ini menegangkan oi!


"Kali ini saya akan menjelaskan sebuah kehidupan... Yaitu kehidupan manusia--manusia biasa maupun mereka yang dilahirkan dengan kemampuan spesial... Kita semua..."


Perdebatan kecil diantara siswa-siswi dimulai. Dari bisikan, saling pandang, dan ekspresi berpikir masing-masing dari mereka. Ini masih pembuka, sial! Jangan membuatku kehilangan konsentrasi atau Ahli ini bakal tidak puas dengan pencontohanku, yang terburuk adalah hukuman menanti, kalian tahu?! Sambil menuliskan sesuatu di hologram besar, aku melanjutkannya.


"Disini saya memiliki sebuah prinsip, dimana HERO tidak akan tercipta tanpa esensi H dan ERO. Kalian mengerti maksud saya?"


Kembali pembicaraan antar siswa-siswi terdengar disini, yaitu pembahasan tentang esensi H dan ERO ini. Kecuali Kazura, Izano, dan Rinjou yang menepuk dahi mereka bersamaan seakan mereka sudah menebak ini pasti terjadi. Sialan kalian, sudah menumbalkanku tapi masih belum puas mempermalukanku!


Sang Ahli kemudian angkat bicara dari bangkuku dengan mengangkat salah satu tangannya.


"Apakah ini esensi terlarang yang kau bawa dari Bumi? Jika itu benar, aku ingin mendengarkan hal itu darimu langsung bagaimana perkembangan budaya terlarang tersebut."


Budaya terlarang? Memangnya penduduk ini tidak lahir dengan normal?!


Kembali pada topikku.


"Disini saya tidak hanya menekankan pada esensi yang anda sebut terlarang, tapi ada esensi penggabungan suku kata juga."


"Padahal H dan ERO sama saj-"


Sebelum Kazura selesai menyampaikan rasa kurang puasnya, sebagian besar siswa-siswi, bahkan Sang Ahli pun menyuruhnya untuk diam. Dengan iseng aku pun membalas layaknya seorang Ahli, "Terimakasih atas perhatiannya, Engetsu Kazura. Tapi nampaknya anda masih belum mendengarkan sepenuhnya apa yang akan saya sampaikan disini. Jadi tolong tahan argumen anda sampai saya selesai dengan penjabaran saya."


"Maaf, silahkan lanjutkan."


Dengan file yang ada, aku mulaiĀ  mengumpulkan semua ilmu yang kupunya disini, dan memulai memperlihatkan apa yang kumiliki.


"Tapi sebelum itu, bisakah saya meminta Ahli Will Draven untuk menutup jendela agar saya dapat berpidato dengan tenang?"


"Aku mengerti."


Perlahan, ruang kelas pun menjadi gelap karena jendela sudah tertutup oleh benda tipis yang bertindak seperti gorden muncul ditengah kaca jendela tersebut.


"Pertama-tama, saya akan mengajukan pertanyaan untuk anda semua. Yang memiliki ketertarikan dengan lawan jenis, silahkan angkat tangan kalian."


Dan hampir semua pendengar mengangkat tangan mereka didepanku. Aku memberikan pertanyaan langsung kepada beberapa siswa maupun siswi yang tidak mengangkat tangan.


"Jadi, mengapa anda tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis anda?"


Jawabannya pun bermacam-macam.


"Itu sudah diajarkan pada kami sejak kecil."


"Aku kurang tertarik, itu saja."


"Aku malu mengakuinya, kata orang dewasa disekitarku, itu memalukan." dan sebagainya. Dan responku ketika mendengarkan alasan mereka adalah, mendesah pelan atas keanehan ini.


"Sungguh aneh memang, dari jawaban yang saya dengarkan disini. Karena Tuhan menciptakan manusia berpasangan, supaya manusia bisa melahirkan penerusnya."


Mereka yang mengerti maksudku langsung menutupi wajah mereka yang memerah padam. Berarti mereka memang memerlukan materi seperti ini. Sebenarnya planet macam apa ini? Apakah hal erotisme benar-benar dilarang?


Lantas seluruh siswa-siswi panik dalam suara disetiap sudut ruangan, disusul dengan pintu otomatis yang berdesis menyampaikan bahwa ada yang datang.


'Ups, sepertinya akan ada penangkapan...' gumam sang Ahli lalu menyembunyikan dirinya, sepertinya itu menggunakan skill.


Suara seruan pun terdengar dari pintu kelas yang terbuka, itu terjadi disaat aku berada didepan kelas. 4 gadis berseragam dengan pita bertuliskan 'Divisi Kedisiplinan' dilengan kanan mereka muncul. Sepertinya ini memang terlalu dilarang bahkan dijelaskan di tempat instansi.


"Atas tuduhan menyebarkan kesesatan, kau akan kami tangkap, Ryuichi Venzo! Bersiaplah menerima hukuman!"


Hah? Memangnya kalian ini apaan?! Dan kenapa kau malah memakai monolog yang seharusnya diucapkan Pimpinan Ksatria Suci?! Memangnya aku ini keturunan iblis yang harus dimurnikan?!


Lantaran sangat aneh bila aku memberikan materi penting dan ditangkap, aku menginterupsi peringatan tersebut.


"Sebentar! Tunggu sebentar! Ini aneh sekali! Aku hanya memberikan contoh pidato disini! Memangnya itu salah? Kalian manusia atau bukan, 'sih?"


Nampak tidak menerima alasanku, si Wakil Ketua yang jelas dari Divisi Kedisiplinan, Kurobara Haruka, si galak tsundere ini, melesat kearahku dengan Pedang Besar sudah siap di pegangannya.


"Menurut atau ini akan jadi rumit!"


Melihat pukulan pedang yang berat, aku melompat menjauhi area pukulannya. Eh? Mengapa tempatnya sudah berubah jadi tempat lain?! Apa ini?!


"Dimensi Imajinasi!"


"Tepat sekali~"


Dari belakangku, Sekretaris Divisi Kedisiplinan yang sungguh sadis ini, Yuzuhara Yuna, bersiap menangkapku dengan cambuknya. Jadi dimensi imajinasi ini adalah pemindah lokasi khusus untuk para petarung agar tidak mempengaruhi dimensi nyata?! Sepertinya aku masuk ke dalam cakupan dimensi yang mereka buka tanpa sempat membuka dimensiku sendiri. Baiklah! Aku mempertahankan argumen logisku, jadi aku juga tidak akan tinggal diam!


IMAGINATION BATTLE - OPEN DIMENSION!


Lingkup imajinasi mulai melebar, mengenai keempat anggota dari Divisi Kedisiplinan. Sebelum Yuzuhara Yuna mulai mengarahkan skillnya padaku.


BINDING PAIN!


Cambuk tersebut memanjang dan meliuk-liuk disekitarku. Berbahaya jika tertangkap cambuk berduri seperti ini!


IMAGINATION BATTLE SKILL - LIGHTNING SPEED!


ZAP!


Aku keluar dari lingkar cambuk sebelum cambuk tersebut dapat meremas tubuhku.


Tapi karena tidak melihat yang lain, aku baru sadar didepanku sudah ada si Bendahara Divisi Kedisiplinan tukang makan ini, Miyuu Stravis--sudah siap dengan tombaknya.


"Bersiaplah."


Lingkaran bercahaya yang kuinjak ini... Gawat!


SPEAR DANCE TECHNIQUE - NORSE AURORA!


Dengan menyilangkan kedua senjataku didepan, aku bermaksud untuk melindungi diriku dari serangan ini.


Tapi...


Kuh! Gerakannya sangat cepat! Dia berhasil menyarangkan beberapa tebasan disekitar lengan maupun tubuhku!


"Khu! Sial!"


Terseret ke belakang karena serbuan ujung tombak dan pukulannya, aku memilih melompat mundur untuk mempersiapkan skill pertahananku.


Bahkan aku masih mendengar suara Ketua Divisi Kedisiplinan--Ruru-senpai, memberikan saran padaku.


"Aku mohon, menyerah saja, Venzo-kun..."


"Tidak! Aku melakukan hal yang benar! Memangnya kalian mau anak kalian lahir dari program diluar tubuh?! Memangnya kalian mau anak kalian lahir dari mesin?!"


Merasa bahwa sarannya tidak kuterima, dia mulai membuka distorsi, memunculkan buku didepannya seraya merapal sesuatu, dengan aura ungu yang mulai menyeruak disekitarnya. Sepertinya itu bukan aura biasa...


Sebelum mantra selesai, aku harus melemahkannya setidaknya dengan satu serangan saja-


[Hoo, sungguh tidak disangka...]


Suara Lucifer yang terdengar seperti tertarik dengan aura milik Ruru-senpai ini menggema. Dengan singkat aku mempertanyakan hal ini ketika aku disibukkan dengan serangan tiga lainnya.


"Memangnya apa yang tidak disangka?! Aku sedang sibuk, jangan tiba-tiba kau ingin meminjam tubuhku sesuka hatimu ya?!"


Dan saat masih berkutat dengan menghindari serangan, ragaku ditarik ke dalam, tepatnya kini aku sudah berada di singgasananya.


[Diam dan lihatlah dari sini, aku akan bicara dengannya...]


Dengan kepercayaan diri yang diatas normal, dia menghilang dari Altar yang kupijak sekarang, ditinggalkan dengan cermin visual yang memperlihatkan situasi diluar tubuhku saat ini. Dimana aku terdiam dengan posisi yang berhasil menahan pedang besar, cambuk, dan tombak disaat bersamaan. Mereka pun tertegun akan perubahan signifikan ini.


"B-Bagaimana bisa...?"


"Tidak mungkin, skill gabungan terkuat kita--"


"Dihentikan..."


Yang jelas, mereka sekarang berhadapan dengan sosok selain diriku meskipun tubuhku masih menjadi tubuh kurusku. Ruru-senpai yang memancarkan aura keunguan dari tubuhnya pun ikut terkejut, dan berteriak ditengah area pertarungan.


"L-LUCIFER-SAMA?!"


Lantas, Haruka, Yuna, dan Miyuu juga ikut terkejut mendengar teriakan Ruru-senpai, setelah senjata mereka dilepaskan begitu saja oleh Lucifer yang kemudian mengambil alih tubuhku.


"Tidak kusangka bisa bertemu denganmu disini."


SEBENARNYA ADA APA INI??