
"Hmmm..."
Aku-Ryuichi Venzo, sedang asyik menikmati mimpi dalam tidurku, dimana aku sedang terbang bebas di angkasa, kesana-kemari, dan banyak melihat Malaikat bersayap tersenyum kearahku dengan telanjang! Kenikmatan apalagi yang harus kuabaikan meskipun hanya sebatas mimpi?
Namun ditengah perjalanan terbangku, aku merasa membentur sesuatu... Lebih tepatnya membentur awan tebal tepat di wajahku dan sedikit terpantulkan disana.
"Huh?"
Aneh sekali. Kukira awan putih masih bisa ditembus. Kenapa ini tebal sekali seperti bantal?
Di luar tubuh Venzo...
"Hnngghhh~~"
"Nyaaaanhh~~~"
Suara desahan terdengar menggoda ketika Venzo yang tertidur menghadapkan wajahnya ke buah dada di sebelah kiri, lalu meraba dan meremas buah dada di sebelah kanan seolah tidak menyadari jika ada dua gadis sedang menemaninya tidur.
Geliat tubuh gadis sebelah kiri mengakibatkan kakinya bergerak kesana kemari. Lidah panjang bercabangnya menari mengiringi tarian rabaan Venzo.
Kembali ke dalam mimpi...
Aku masih disibukkan dengan menyelidiki awan tebal yang berbentuk seperti benda yang tidak pernah hilang dari pikiranku. Apalagi selain salah satu bagian tubuh perempuan yang memikat pria tulen sepertiku ini?
Ya, rasa-rasanya ini mirip dada...
Aku mencoba memegangnya dan merasakannya dengan hatiku...
"Hmm, benar-benar mirip. Dan ini juga hangat, serta memiliki degupan didalamnya... He?"
Tak lama kemudian, Para Malaikat yang melihatiku sedari tadi melesat kearahku dengan kecepatan tinggi bersamaan. Woi! Kalian berniat menghantamku dengan itu?! Tidak! Aku bisa bangun dari mimpi!!
Tabrakan beruntun tak dapat terhindarkan, sehingga membuatku jatuh dari langit. Aku berteriak penuh penyesalan dengan itu.
"GYAAAAAAAA!!!!!!"
Akhirnya aku terbangun karena hal itu, dan menyadarkanku bahwa, tanganku sedang memegangi karya seni Tuhan yang seringkali menyesatkan lelaki ini.
"Are? Dada siapa ini?"
Aku bertanya-tanya ketika terbangun dan mendapati dua gadis Demi-Human, yang satu berkaki ular, yang satu lagi seperti kucing, sedang meresponku dengan ekspresi berbeda.
Nampak sang manusia setengah ular menatapku dengan kesal dan mata berair, sedangkan si kucing menatapku dengan senyum jahat.
"Kuuuuuuu...!"
"Fufufu, ternyata benar apa yang dikatakan Nekorika, kamu adalah manusia yang gemar membuat anak, nyan~"
"He?"
Setelah melongo tanpa berkata-kata, barulah aku sadar dan terkejut.
"HEEEEEEEEE????"
Si ular lantas melepaskan kekesalannya dengan membelit tubuhku.
"Dasar mesuuuum!!"
"Ooeeeekkkhhh!!"
Belitan yang begitu kuat, ditambah dengan kesadaran yang masih belum sempurna, membuatku tumbang dalam sekali serang. Aku tertelungkup tak berdaya setelah dibelit seperti sedang terikat jangkar dan ditarik paksa dengan kapal tanker.
Sial... Pagi hari yang menyebalkan...
...
Setelah selesai dengan penjelasan mereka, barulah aku mengerti kenapa mereka ada disekitarku.
Mereka berdua adalah Perwakilan Ras dari Planet lain. Si ular adalah Putri dari Kerajaan Planet Lamionic. Lamionic Zelvira, dan si kucing adalah Putri dari Kerajaan Planet Nekonian. Nekonian Kizumi.
Awalnya mereka merubah bentuk menjadi ular dan kucing biasa, namun mereka akan merubah diri menjadi setengah manusia ketika diperlukan. Dan karena mereka ingin menemuiku, maka itulah yang terjadi. Mereka ingin bertemu dengan Ketua Divisi Perdamaian Antar Planet dan Galaksi yang telah dituliskan dalam prasasti masing-masing Ras yang akan muncul setiap 1000 tahun sekali. Tepat di tahun yang disebutkan, adalah kemunculan kami berempat pertama kali ke Experian.
"Oh, itu sebabnya mengapa kalian berdua datang padaku? Tapi, aku masih belum menjadi Ketua Divisi yang kalian sebutkan tadi?"
""HAAAAAAAHHHH?""
Mereka ikut terkejut. Hey! Aku tidak tahu kalau akan diangkat menjadi orang penting, tahu!
Tak lama kemudian, pintu otomatis terbuka dan menampilkan kehadiran tiga idiot yang nampaknya telah menungguku bersiap berangkat ke Akademi.
"Oi Ero! Masih berkutat dengan kejantananmu itu?!" sapa Kazura ketus. Diikuti Izano dan Rinjou.
"Lebih baik kau sumbangkan saja benihmu itu ke tempat yang tepat daripada kau buang terus."
Aku mengacak rambutku sembari menegur mereka.
"Tidak lihatkah kalian aku masih berdiskusi dengan Perwakilan Ras?!"
Mereka nampak melihatku dan lawan bicaraku, lalu saling melihat, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Wah, kau sedang mempelajari bahasa hewan?! Lucu sekali..."
"Sensei, sepertinya kau masih mengantuk. Jika begitu, kembalilah tidur..."
"Kembali lagi si Ero dengan halusinasinya... Kami duluan kalau begitu. Ayo, Izano, Kazura."
Huh? Kalian tidak bisa melihat bentuk manusia dari mereka?
"Kami memiliki sensor yang mengirimkan ilusi pada orang asing. Jadi mereka tidak melihat kami sebagai Demi-Human, namun terlihat seperti hewan biasa." jelas Kizumi tepat setelah ketiga makhluk kampret meninggalkan pintu kamarku. Pantas saja. Tapi ejekan mereka membuatku sedikit kesal.
"Oi, tapi itu akan membuat orang-orang disekitarku menganggap bahwa aku ini gila! Kau ingin aku dianggap gila?"
Zelvira menjawab dengan keras.
"Ini hanya untuk diplomasi, dan ini privasi, jadi kami tidak boleh menyebarkan identitas kami sebagai Putri Kerajaan, kau mengerti?!"
Ya, ya, terserahlah, diplomasi atau apapun itu. Aku harus berangkat atau aku akan ketinggalan materi akademi lagi.
...
Aku berangkat seorang diri menuju Akademi meninggalkan dua Putri Perwakilan Ras, dan tiba-tiba saja disambut oleh dua gadis kembar rambut pirang berpilin.
"Oh ya, kenapa pagi ini aku harus melihat wajah burukmu pertama kali, huh?" keluh si arogan Levyna, ditegur lembut oleh saudari kembarnya, Stevyrne.
"Levyna, tidak baik berbicara seperti itu... Maafkan Levyna ya, Ryuichi Venzo-kun?"
Aku menghormati Stevyrne dan membalasnya ketimbang Levyna dengan membungkukkan badanku dengan elegan.
"Tidak masalah, senpai. Selamat pagi, anda benar-benar sinar mentari yang hangat di mata dan hati saya, Stevyrne-senpai."
Kata-kata itu sukses membuat Stevyrne tersipu malu, dan membuat Levyna kesal.
"Uuuuuhhh, ada apa denganmu sebenarnya?! Kenapa kau tidak menghormatiku seperti Stevyrne?!"
Aku bangkit lalu memasang wajah heran.
"Perbedaan yang jelas, 'bukan? Jika kau bisa berubah, mungkin aku akan bersikap berbeda..."
Semakin kesal dengan ucapanku, Levyna kemudian mulai meracau dengan sebuah tantangan.
"Baiklah, kau rakyat jelata! Jika aku bisa mengalahkan kau dan timmu di Imagine Competition, maka kau harus menghormatiku sampai akhir hidupmu!"
"Mmm-hmm... Lalu?" balasku sambil mengacuhkannya dengan mengecek smartphoneku. Dia melanjutkan rasa bangganya dengan terus menantangku.
"Kau harus mengakhiri karirmu sebagai Imaginer dan bersikap sebagai rakyat jelata! Dan ingat selalu namaku, Levyna Zernov, di kehidupanmu! Ahahahaha~!"
Seketika itu, smartphoneku tergelincir dari tanganku. Dia yang menyadari aku mengacuhkannya kembali marah padaku.
"Kau dengar tidak?!"
Setelah mengambil kembali smartphoneku yang terjatuh, aku membalasnya dengan kalem.
"Hanya itu saja? Tapi, jika aku menang..."
Dengan kecepatanku, aku menyerang titik lemahnya sebagai gadis, yaitu menggapai dagu langsingnya dan tersenyum licik tepat di depan wajahnya sembari melanjutkan kata-kataku.
"Kau harus menyerahkan hidupmu padaku, termasuk jiwa dan ragamu padaku. Bagaimana?"
Hal itu membuat Stevyrne melihatku dengan mata berbinar, kecuali Levyna yang wajahnya memerah padam.
"A-Apa katamu??!!"
Meninggalkan kedua kakak kelasku itu, aku menambahkan.
"Karena kau telah mencoba merubah takdirku, maka aku tidak akan menahan diri... Levyna..."
Kekesalannya semakin menjadi saat aku melambaikan tanganku dan memanggil nama depannya.
"Guuuuuhhhh!!!! Awas kau ya??!!!"