World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 62 - Ryuichi Akira (Bagian 2)



Setelah beberapa lama berbincang dengan Asami Midori yang ternyata adalah Ketua Kelas 3-A, kelas dimana Venzo juga ditempatkan, aku--Ryuichi Akira, kini bergegas menuju Kantor Direktur Utama Institut Pendidikan Shibuya, Ryuuji Koike.


Ya, tujuanku ini tidaklah sendiri. Asami-san sudah mengatakan sebelumnya bahwa dia akan membantuku berbicara dengan orang yang dulunya hanya seorang Kepala Sekolah SMA Shibuya, lalu setelah perombakan fantastis yang terjadi belakangan ini akhirnya beliau menjabat menjadi Direktur Utama.


Saat mulai memasuki wilayah Kantor Utama Institut Pendidikan Shibuya yang berada ditengah-tengah wilayah lain, mataku dimanjakan oleh taman indah dengan bermacam-macam hiasan bunga disamping jalan menuju bangunan bergaya istana namun dengan kesan modern. Tak lupa air mancur pada titik pusat jalan tersebut yang bercabang 4, disanalah mataku tertuju fokus. Asami-san menjelaskan.


"Ini adalah permintaan Direktur Utama sendiri, untuk membangun patung 4 pemuda yang hilang sebagai bentuk penghormatan beliau terhadap mereka. Inilah mengapa ketika kau menyebutkan marga Ryuichi, mereka langsung mengerumunimu layaknya orang yang masih hidup masuk dalam sejarah. Setelah kejadian tersebut, Ryuuji Koike merasa benar-benar kehilangan murid terhebatnya. Dalam Pidato Perpisahan Kelulusan kami, beliau telah menyampaikan bahwa agar selalu mengingat Venzo, Kazura-san, Izano-san, dan juga Rinjou-san, perlu dibangun patung memorial. Inilah patung memorial yang kumaksud."


Ya, diatas kolam air mancur yang lebar itulah, di sisi depan menghadap kearah kami--berdiri patung 4 pemuda yang sedang melangkah bersama sambil mengukir senyum, seakan Pendidikan itu menyenangkan untuk didatangi. Saling merangkul bahu satu sama lain juga menjadi gestur yang unik dan menarik untuk dilihat disana. Dibawah kaki mereka, juga terukir tulisan yang benar-benar penuh dengan siratan persahabatan mereka.


-**Nikmatilah setiap langkah yang kau ambil, resapilah setiap senyum yang terukir, pelajarilah setiap nilai hidup yang terlahir, hargailah setiap gurauan kecil dari kawanmu yang hadir, karena seluruh aspek tersebut akan menjadi hal penting yang kelak akan didengarkan generasi masa depan.


Monumen Kenangan 4 Pahlawan Insiden Pantai Okinawa : Ryuichi Venzo, Engetsu Kazura, Yamaguchi Izano, dan Kyuasagi Rinjou**-


Asami-san menyampaikan dengan nada sedih setelahnya.


"Namun yang menjadi masalah adalah, Naya. Dia mengurung dirinya selama ini. Dia tidak mau berbicara dengan siapapun, sebelum akhirnya aku memaksa untuk berbicara dengannya."


Dia menceritakan sosok yang dipanggil Naya itu kemudian, sembari mengisyaratkan untuk duduk di bangku permanen yang lumayan panjang di dekat air mancur tersebut.


...


Setelah selesai dengan cerita soal Naya dan Venzo, kami kemudian melanjutkan jadwal kami yang tertunda, yaitu menemui Direktur Utama Ryuuji Koike, yang berada di Kantor Pusat Institut Pendidikan Shibuya.


...


Suara lonceng nyaring yang menandakan pukul 12.00 waktu setempat terdengar menggema hingga ujung kawasan Institut. Tanda tersebut bersamaan dengan sampainya kami di depan pintu Kantor Direktur Utama yang cukup besar dan elegan, ornamen khas oriental disematkan ke dalam desainnya, semakin menambah kesan artistik.


Asami-san menekan tombol bel yang ada disebelah kiri pintu, sembari berbicara.


"Permisi, Direktur Koike, saya, Asami Midori dari Jurusan Fisika Modern bersama tamu yang pasti ingin anda temui."


Yang ingin ditemuinya? Serius? Apakah ini efek dari nama Ryuichi yang kini ditambahkan pada namaku? Aku sedikit malu dengan hal ini, dimana aku agak diistimewakan, berhubung aku telah melalangbuana ke segala tempat dan bekerja keras demi menunjang hidupku sendiri, tanpa terpikir mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan semudah ini...


Pintu utama dari Pimpinan Institut pun terbuka perlahan, menampakkan siluet seseorang yang sedang berdiri menatap ke luar jendela, meninggalkan sejenak beberapa berkas yang menumpuk di meja kerjanya.


"Siapakah gerangan yang akan menemuiku kali ini, Midori-kun?"


Pria paruh baya dengan rambut disisir kebelakang itu menanyakan sesuatu pada Asami-san. Asami-san menjawab dengan sopan.


"Dia adalah keluarga baru dari marga Ryuichi. Dia ingin mendaftar di sekolah ini sebagai mahasiswa."


Hah? Memangnya seperti itu kesepakatannya?!


Sang Direktur mendekatkan dirinya pada kami yang masih berdiri di depan pintu, sejenak terkejut pada posisi kami lalu memecah keheningan sementara ini dengan deheman kecil.


"Ah maaf, silahkan duduk dulu, mari kita berbicara secara santai... Midori-kun, buatlah teh untuk kita bertiga."


"Baik, Direktur."


Kulihat di Kantor Direktur ini, tersedia fasilitas lengkap seperti alat elektronik, dan alat masak sederhana yang tidak memerlukan tempat besar juga. Asami-san mulai mencari bahan-bahan untuk membuat teh, sementara aku mengambil tempat duduk di salah satu set lengkap furnitur ruang tamu pada umumnya.


Sementara Asami-san sedang sibuk menyeduh teh hijau, Direktur Utama tersebut menyodorkan sekotak rokok padaku bersamaan dengan meja yang tiba-tiba terbelah dan memunculkan sebuah kotak kosong yang sepertinya digunakan sebagai asbak.


"Apakah kau mau?"


Aku menolak dengan menggelengkan kepalaku sembari menjelaskan alasanku.


"Maaf. Saya tidak merokok."


Terlihat semburat ketidakpuasan muncul diwajahnya yang sedikit keriput karena efek penuaan, namun kemudian tersenyum kecut.


"Kukira kau adalah calon murid yang terlalu santai seperti Ryuichi Venzo. Maaf kalau begitu. Permisi." celotehnya sambil menyalakan rokok yang sudah ada di mulutnya.


Meskipun beliau adalah seorang Direktur, namun etikanya sebagai seorang perokok tetap dijaga. Terlihat sopan sekali orang ini, bahkan terhadap calon muridnya sendiri.


...


Beberapa lama, akhirnya Asami-san datang dari dapur kecil Kantor Direktur Utama dengan nampan berisi cangkir keramik sekaligus wadah berisi teh yang diseduhnya tadi.


Setelah meniupkan asap rokoknya keatas, beliau berterimakasih pada Asami-san.


"Terimakasih, Midori-kun."


Nampak Asami-san sedikit kesal ketika melihat Direktur Utama merokok, lalu mengeluh.


"Direktur! Anda ini tidak sopan sekali!"


Beliau membalasnya dengan santai.


"Yah, Akira-kun tidak keberatan dengan ini. Lagipula aku sudah mengatakan permisi sebelumnya. Tidak masalah, 'kan?"


Aku hanya merespon dengan anggukan dan senyum kecut didepan mereka.


"Ahaha, tidak apa-apa, Asami-san. Aku sudah terbiasa dengan itu."


Lalu Asami-san mengambil tempat duduk dan menjelaskan sambil membuang nafas berat.


"Bahkan sebelumnya Direktur tidak pernah seperti ini. Kebiasaannya kambuh setelah Venzo menjadi murid disini..."


"Tidak ada salahnya juga, Asami-san. Terkadang, jika pikiran sedang kalut, pria memang perlu merokok untuk sekedar menenangkan otak. Itulah yang disarankan Ryuichi Venzo-kun padaku. Dan itu berhasil. Hahaha-- Uhuk, uhuk!"


Nah kan? Anda mulai batuk-batuk juga karenanya. Sebenarnya kerasukan apa Direktur Utama ini?


Setelah melegakan tenggorokannya dengan permen mint yang diambil dari kantongnya, dia mulai menanyakan tujuanku kemari.


"Baiklah, Ryuichi Akira-kun. Karena kau adalah salah satu keluarga dari Ryuichi Venzo-kun, maka tanpa berbelit-belit, aku menerimamu sebagai murid disini. Untuk formulir pendaftarannya, kau bisa memintanya di Ruang Pengajar Institut Tingkat SMA dan menyerahkannya kembali kesana ketika arsip pendaftaranmu sudah lengkap."


SEMUDAH ITU??!! INSTITUT MACAM APA INI??!!


"B-Baiklah, jika hanya itu yang diperlukan, saya akan menyiapkannya setelah ini.." balasku sembari menyeruput teh yang sudah disuguhkan oleh Asami-san.


Hmm, aroma yang menenangkan, dan rasa manis yang lembut berpadu sempurna dalam seduhan teh Asami-san.


Direktur pun memuji teh buatan Asami-san.


"Kualitas teh hijau yang dipadukan dengan kemampuan penakaran yang tepat, teh buatanmu selalu enak, Midori-kun!"


Asami-san mengeluh kembali karena itu.


"Tapi saya tidak akan menerima tawaran anda sebagai Wakil Direktur Institut jika anda bermaksud begitu..."


Kata-kata itu sukses membuatku memuntahkan sedikit teh yang telah kuminum sebagian.


"Ahaha... Tidak diterima lagi ya?" ujarnya sambil terkekeh.


"Mau bagaimana lagi, saya baru melewati 1 semester kuliah, dan anda malah membuat saya harus mengemban tanggung jawab yang lebih tinggi lagi... Anda ini, memang kelewat santai, Direktur..." jawabnya dan lagi-lagi mengeluhkan itu. Aku pun sampai tidak bisa berkata apa-apa dalam perdebatan ini.


"Ah, lalu, bagaimana dengan Naya-kun?"


Hal itu sukses membuat Asami-san menampakkan raut wajah murung.


"Dia masih belum melanjutkan karirnya..."


Ya, sebenarnya tujuan utama Asami-san mengajakku kemari adalah membicarakan itu juga. Mengembalikan Kusakabe Naya ke keceriaannya semula.


Tapi apakah aku bisa?


Aku bukanlah Ryuichi Venzo! Aku hanyalah orang asing yang diadopsi oleh keluarga Ryuichi!


Apa yang semestinya kulakukan, Ryuichi Venzo?! Apa kau bisa memberitahuku lewat telepati ataupun bisikan?! Jawab aku, sialan!


...


*Di Akademi Experian...


"Hatcyii!"


Venzo mendadak bersin, dan itu mengejutkan seisi kelas berhubung suara yang dihasilkan terlalu keras.


Sang Ahli pun sedikit menegurnya.


"Venzo-nyan! Kenapa bersinmu sangat keras, nya?! Itu mengejutkanku, nya!"


Dia meminta maaf sembari membalas.


"Maaf, Nekorika-sensei... Tiba-tiba saja hidungku gatal..."


Hal itu mengundang sedikit cekikikan teman-teman sekelasnya. Kemudian ruang kelas kembali tenang, Nekorika kembali menjelaskan materi tentang penggunaan Imagine Power.


"Baiklah, aku akan melanjutkan penggunaan Imagine Power beserta batasannya, nya~"


"Baik, Nekorika-sensei!"


Ditengah seruan tersebut, Kazura berbisik.


'Memangnya kau tidak enak badan, Ero?'


Venzo menggelengkan kepalanya, mengundang tanda tanya di kepala Kazura. Izano ikut berbisik.


'Kemungkinan ada yang sedang membicarakan dia, senpai...'


'Jika ada orang yang membicarakan dia, pasti dia bersin lebih dari sekali, Izano...'


'Benar juga, ya? Venzo-sensei 'kan siswa baru yang populer di kalangan Kelas Avante dan Phenology-'


Venzo sedikit kesal lalu menyahut dengan sedikit keras, membuat Izano merinding


'Diam kau, bocah!'


'Ampun, sensei...'


Kazura dan Rinjou menepuk dahi bersamaan.


''''Dasar*...''''