World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 36 - Hari Yang Ditentukan, Pantai Okinawa



Hari yang ditentukan pun tiba...


Aku merasa deg-degan...


Apa yang harus kukatakan padanya nanti?


Uuuuhh~ Ternyata ini lebih sulit dari yang dibayangkan...


Bagaimana aku bisa menghadapinya?


Dari dalam sebuah Laboratorium yang ada di akademi, kembali kuteliti seluruh persiapan untuk ini. Mulai dari tenaga yang dibutuhkan, dampak yang ditimbulkan, sampai efek terhadap objeknya.


Inilah aku, Ruruberry Stefhold, bersama dengan Tim Divisi Kedisiplinan, mengkaji ulang program yang akan digunakan. Tak lupa Sakamichi Misaka-san yang ikut membantu disela kesibukannya dalam meneliti prasasti lama Experian yang sedang dilaksanakan di daerah Sanderio.


Tapi, tetap saja tanganku tidak berhenti gemetar. Aku tidak memiliki persiapan cukup untuk menemuinya...


Haruka yang menangkap kejanggalan akan sikapku bertanya.


"Ada apa, Ruru?"


Bagaimana menjelaskannya jika aku gugup bertemu dia? Aku tidak bisa mengatakannya secara langsung. Dia sangat tegas sebagai seorang Wakil Ketua Divisi...


"Ah! Etto... Tidak perlu dipikirkan..." jawabku dengan nada yang melemah di akhir kalimatku.


Meskipun begitu, Yuna dan Miyuu tampak khawatir dan mendekatiku dari tempat mereka melakukan pengecekan data.


"Moo! Terkadang kau harus jujur tentang dirimu sendiri, Ruru-chan~! Mungkinkah itu... kau sedang berpikir bagaimana menemui kandidatmu nanti? Fufufu~"


"Itu wajar, berhubung kandidat kita mempunyai kebiasaan buruk..."


B-Bahkan Miyuu-chan berpikiran seperti itu??? Yuna-chan tidak mengalami permasalahan sama sekali tentang sifat mereka.


Aku menghela nafas pelan untuk menenangkan diriku dari kegugupan yang tak ada sisi positifnya ini, lalu menyadari bahwa ini adalah takdir mereka. Formula sihir yang kuperkirakan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan ini.


Sebagai pemilik atribut Wisdom, aku memang perlu bijaksana untuk melakukan sesuatu.


"Lalu, apakah yang kita lakukan ini adalah sebuah kesalahan?"


Pertanyaan besar pun mengisi kepala mereka yang saat ini penuh dengan data-data keempat pemuda itu, yang tidak tahu menahu tentang hal ini.


Tak lama, ayah menghubungiku via hologram sambil berjalan entah darimana menuju kemana.


[Ruru, bagaimana keadaan disana?]


"Kami sedang melakukan pengecekan data, ayah."


[Ah, begitu ya? Sebenarnya ayah sudah sampai di koridor akademi lantai 1. Sebentar lagi Ayah akan datang ke Laboratorium Teknologi.]


"E-Eeeeh?"


[Juga, aku ingin mengamati bagaimana kemampuan mereka secara langsung... Baiklah, Ayah tutup dulu, ada panggilan masuk dari Perdana Menteri Sanderio.]


Hologram Ayah pun menghilang, mengakhiri percakapanku dengan beliau. Apakah mungkin...


Hirohito-sama sudah mulai bergerak?!


Pikiranku mulai berpengaruh pada aktivitasku saat ini dan terasa perlahan menghasilkan gangguan seperti menurunnya konsentrasi, inisiatif, dan respon terhadap yang lain...


Aku merasakan ketakutan yang cukup membuat pikiranku terkurung dalam sangkar...


Beberapa kali aku mengalami kesalahan saat memperbaiki data, Misaka-san pun menyadarinya dan langsung berinisiatif untuk membenahi kesalahanku. Misaka-san pun memberi saran setelah selesai merevisi data dariku.


"Jika anda merasa ada yang mengganggu pikiran anda, anda diperbolehkan beristirahat."


Tapi, ini demi dia, dan aku tidak mau mengecewakannya saat kita bertemu nanti. Kukepalkan erat kedua tanganku sebagai penyemangat untuk diriku sendiri.


Aku tidak ingin mengecewakannya...


Aku tidak ingin membuatnya membahayakan nyawanya...


Aku hanya ingin dia nantinya menjadi apa yang diinginkannya...


Aku tahu dia bisa melakukannya...


Merasa semangatku telah kembali setelah memikirkannya, entah kenapa kegiatanku terasa lebih ringan. Apakah ini memang takdir?


...


"Woaaaaaaah, pantaiiiii!"


"Kambuh lagi otaknya..."


"Biarkan saja, Kazura-senpai. Sensei memang seperti itu."


"Hmmm, cukup banyak juga loli disekitar pantai, saat Loli Sense-ku menyala..."


Oi, Rinjou! Sejak kapan kau mendapat kemampuan seperti itu?!


Ah sudahlah, yang penting saat ini adalah menikmati liburan yang diberikan oleh Kepala Sekolah.


Tak ada bedanya, beberapa lelaki yang sekelas denganku berpikiran sama ketika berdiri di dekat kami.


"Waaah, pemandangan yang indah~"


"Kepala Sekolah memang yang terbaik, hingga memikirkan setiap detail keinginan kita!"


"Ya, kita abadikan momen ini setiap detiknya!"


Apa yang mereka maksud sepertinya memang sama, dimana menonton para gadis berlarian di bibir pantai, bermain permainan yang biasa dimainkan di pantai, bermain air, maupun sekedar menikmati sengatan matahari yang masih hangat.


Aku, Ryuichi Venzo, mulai mencium aroma pikiran kotor dari banyak lelaki saat ini, aroma yang cukup membuatku bersemangat untuk menikmati momen hebat.


Pagi ini, setelah menikmati sarapan pagi yang berkelas, kami pun diberitahu para guru dan juga Kepala Sekolah untuk memulai agenda di pantai. Agenda ini sangatlah ditunggu para siswa-siswi, apalagi para siswa, dimana mereka bebas untuk melakukan seleksi dari kejauhan maupun dari jarak dekat. Kalian pasti tahu apa yang kumaksud. Seleksi pasangan, meskipun nampaknya beberapa siswa sudah memiliki pasangan, mungkin lebih ke sekedar menikmati pemandangan saja.


Tak lama setelah siswa-siswi mulai berlarian untuk berbaur dengan keseruan suasana pantai berpasir putih, aku merasakan gaya tekan yang luar biasa empuk pada punggungku.


"Ve-n-zo-kuuun~"


Munyuun~


Dari tekstur lembut di punggungku dan suara menggoda ini, aku bisa mengetahuinya dengan jelas siapa yang sedang menangkapku dengan merengkuhkan kedua lengannya padaku.


"Selamat pagi, Naya..." tanggapku.


"Naya-senpai curang~" respon sosok lain yang menangkap lenganku dari samping. Ya, sosok gadis ini bertubuh ramping dengan ukuran dada yang tidak cukup besar, namun aku sangat menikmati sensasinya.


"Tak perlu berebut, Hana. Lagipula tubuhku hanya satu." Sapaku setelah menghela nafas.


Oh, berbicara soal pakaian renang. Naya nyaman dengan mengenakan bikini berwarna biru dan putih yang dikolaborasikan dengan renda dipinggirannya. Terkesan lebih feminim yang selaras dengan tema hari ini. Begitupun dengan underwear yang berwarna sama, itu ketika kedua gadis yang barusan menyapaku dengan sapaan biasa mereka memperlihatkan pakaian mereka sambil bertanya.


"Nee, Venzo-kun. Bagaimana penampilanku?"


Cukup dengan wajah keren dan simbol lingkaran yang tercipta dari jempol dan jari telunjuk yang membentuknya untuk menilai pakaian yang dikenakannya.


Berbeda tipis dengan Hana yang sepertinya mendapatkan saran dari Naya. Warna imut pink dan putih yang menggambarkan keimutannya ditambah bawahan rok pendek berenda untuk menutupi underwear berwarna sama semakin memberikan kesan bahwa dia benar-benar sangat imut.


Aku tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali- Wah, wah, rupanya penampilan mereka mendapatkan antusias lebih dari gadis lainnya.


"Wah, Naya-san sungguh cocok sekali mengenakan pakaian renangnya~"


"Hana-san juga nampak imut~"


Itulah beberapa respon positif dari gadis lain yang berkumpul disekitarnya. Naya dan Hana tersenyum dengan itu. Kazura, Izano, dan Rinjou pun bersiap lalu menyampaikan sesuatu.


"Oi, Ero. Saatnya kita bermain juga."


"Benar, sensei. Jangan terlalu fokus ke Naya-san dan Hana-san saja. Jangan lupakan bahwa kita perlu menikmati momen ini. Benar kan, Rinjou-senpai?"


Benar sekali. Aku sudah tidak sabar untuk menambah koleksi foto-foto gadis loli disini... Hohoho~"


Kembali aku menghela nafas dan merespon, "Baiklah, baiklah..." lalu menyunggingkan senyum pada mereka. Kazura yang nampak sadar bertanya padaku.


"Hmm, tubuh yang bagus. Sejak kapan kau memiliki tubuh semacam itu?"


Yah, semenjak kecil aku memmang gemar melakukan olahraga sederhana seperti sit-up dan push-up. Itulah mengapa meskipun aku nampak kurus dari bagian lengan, namun bentuknya tetap terjaga.


"Wah, seperti inikah tubuh sang guru Ero?" Timpal Izano. Rinjou mengelus dagunya sembari menilai.


"Hasil dari latihan sederhana yang dilakukan dalam waktu yang cukup lama..."


"Sudah hentikan pandangan kalian, bodoh! Ini bisa berakibat salah paham, tahu?" Tanggapku sedikit kesal.


Sejenak setelah mereka bubar dari mengamati tubuhku, aku berseru, "Baiklah, kita mulai liburannya~!"


"Oui!"