
Aneh memang...
Manusia terkadang baik, dan tiba-tiba saja menjadi jahat, arogan, dan menganggap yang lain adalah hama baginya...
Ingin sekali aku menghabisi makhluk hidup semacam itu...
Sekembalinya dari kawasan dengan membawa bonus dari sosok dua gadis dari Organisasi Legendary Arcane, aku dan Ramalia bergegas untuk mengkonfirmasi misiku lewat Petugas Pengawasan dan Pengambilan Reward Mission di Alun-Alun kota Sanderio.
Kertas yang kemudian datanya masuk ke hologram bagian Mission pun menghilang ketika aku mencoba memproyeksikan isinya--dan Petugas tersebut menuliskan kode misinya... Dan Voila! Sekejap saja tabunganku bertambah!
"Terimakasih! Silahkan datang lagi esok untuk mengambil misi yang lain!" Sapa Petugas tersebut sambil tersenyum. Padahal ini misi terakhir yang kuselesaikan sebelum aku kembali ke Imaginarian City.
Dalam langkahku menuju Pusat Pemerintahan Kota Sanderio, aku bergumam sambil menatap langit.
"Bagaimana dengan yang lain?"
Kusadari juga, tubuhku sudah mampu beradaptasi secara sempurna setelah latihan 100 Tahun ini. Semoga yang lain baik-baik saja...
...
...
...
Gebrakan keras terdengar di meja kerja sosok pria dengan sorban di kepalanya ketika melihat Venzo dan Ramalia berjalan bersama menuju Gedung Pusat Pemerintahan Kota Sanderio. Sosok lain mencoba menenangkannya dengan memberikan saran.
"Tidak perlu sekesal itu padanya, Nizmir... Aku tahu dia tidak menyelesaikan misi itu, tapi setidaknya dia melakukan apa yang dia bisa lakukan. Dengan tindakannya, kini jumlah korban di sudah berkurang drastis, bukan? Jika kau berkenan, berilah dia apresiasi..."
Namun dia tak menjawab, hanya dengan gelengan kerasnya dan matanya yang melotot menandakan dia masih merasa kesal.
"Juga, apakah kau kesal karena anggota dari Legendary Arcane bahkan berbaik hati padanya?"
Nizmir menunjuk pertanda bahwa ucapan orang itu benar adanya.
"Astaga... Kau itu memang merepotkan... Tidak ada salahnya aku menjadi Wakilmu... Rupanya kau memang ingin menyingkirkan dia dengan misi-misi itu..."
Sekalipun dia mengucapkan beberapa kata, kata itu cukup kasar.
"Karena dia itu anak baptis dari Iblis Lucifer! Aku tidak bisa menerima ini!"
Sekali lagi, Wakilnya menghembuskan nafas panjang atas ini.
"Baiklah. Kau saja yang memutuskan. Tapi aku tidak ikut campur jika Gramandall kecewa mendengar hal ini darimu..."
...
...
...
Akhirnya aku dan Ramalia sampai di sebuah istana megah di tengah kota Sanderio, dengan eksterior bergaya timur tengah--penjagaan ketat yang didominasi oleh prajurit bersenjata lengkap. Sebelum kami masuk, kami harus melewati pemeriksaan terlebih dahulu di gerbang utama Gedung Pusat Pemerintahan.
Salah satu dari dua penjaga menanyaiku sebelum Ramalia--aku memang tak ingin siapapun tahu jika Ramalia adalah Sandstorm Dragon itu sendiri.
"Ada keperluan apa sehingga anak muda sepertimu datang kesini?" Tanyanya dengan wajah serius. Ini seperti semacam interogasi sebelum memasuki Gedung ya?
"Aku dan adikku ingin bertemu dengan Perdana Menteri beserta Wakilnya."
"Perlihatkan identitasmu."
Dengan semacam transfer via hologram, aku memindahkan data identitasku dengan menggeser kearah hologram si penjaga tersebut. Sementara satu yang lain menjaga ketat Ramalia disebelahku dengan tatapan curiganya.
"Ryuichi Venzo... Jadi kau salah satu dari proyek 'itu' ya? Baiklah, silahkan masuk."
Proyek? Proyek Experian, mungkin. Aku hanya mengangguk setelah Petugas dengan pakaian seperti orang militer mempersilahkanku memasuki Gedung.
Gedung ini cukup luas dan tinggi. Jadi membutuhkan lift untuk sampai ke Ruang Perdana Menteri, yang pastinya dijaga dengan keamanan berlapis. Sesaat ketika aku melintas diantara Petugas yang berjaga disana dan pekerja Pemerintahan, samar-samar aku mendengar beberapa bisikan di telingaku, namun aku mengabaikannya karena hal itu tidak akan ada hubungannya denganku.
Setelah menaiki lift dari lantai 1 selama beberapa menit, kami sampai di sebuah lorong yang mengarah ke satu pintu ruangan diujungnya, dengan beberapa pintu di kiri dan kanan lorong.
Ramalia terlihat bersembunyi dibelakangku, seperti dia akan mengalami hal buruk disana. Aku mencoba menenangkannya sembari melangkah kesana.
Lantas, saat hampir sampai pada pintu itu, beberapa Penjaga yang nampak dari ruang lantai bawah sudah berada dibelakangku dengan tatapan tajam mereka. Kemungkinan saja ini adalah sistem penjagaan mereka terhadap tamu asing.
...
...
...
Ketika aku akan mengetuk pintu, pintu tersebut terbuka perlahan, pertanda seseorang membukanya dari dalam.
Disana, sang Perdana Menteri dan Wakilnya sudah menunggu di tempat mereka masing-masing.
"Duduklah." Sambutnya setelah aku memasuki ruangan yang dilengkapi dengan beberapa kamera pengawas di setiap sudut ruangan. Dengan tenang, aku duduk di sofa yang ada tepat di depan meja kerja Perdana Menteri beserta Wakilnya, dengan Ramalia yang semakin erat menggenggam lenganku.
Entah mengapa, aku sedikit merasakan kekhawatiran pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Perdana Menteri yang berpenampilan layaknya orang timur-tengah itu kemudian berdiri dari kursi kerjanya lalu duduk di depanku--sementara Wakil Perdana Menterinya hanya berdiri disana dengan raut wajah yang bingung akan mengatakan sesuatu.
"Apa misi yang kuberikan padamu? Kau masih ingat, bukan?"
"Ya, mengalahkan Sandstorm Dragon..."
"Lantas, kenapa kau malah membawanya kehadapanku?"
Kenapa dia bisa tahu?!
Si Wakil pun mendesah, lalu menjelaskan.
"Baiklah, Ryuichi Venzo... Sebenarnya Sandstorm Dragon adalah anak perempuan dari Perdana Menteri."
"Apa?! Lantas kenapa kau ingin sekali aku mengalahkannya? Apa kau ingin dia mati?!"
Raut wajah Perdana Menteri tersebut kini berganti menjadi raut wajah dengan emosi yang lepas.
"Karena ibunya adalah Monster yang menjelma menjadi manusia! Apa aku harus mengampuni monster yang memakan Para Petualang di ? Penjaga, bawa mereka ke penjara. Besok aku ingin Monster ini dieksekusi!" Umpatnya lalu berlalu meninggalkan kami, sebelum lusinan Penjaga masuk ke ruangan dan mulai menangkap kami.
"Apa-apaan ini?! Lepaskan kami, sialan! Ramalia!"
Seketika itu Ramalia pun berubah seiring ancaman yang dirasakannya--menjadi seekor naga pasir besar, membuat ruangan Kerja rusak di atapnya.
Sebelum Ramalia mencoba menghempaskan Para Penjaga, Perdana Menteri berlari kembali ke dalam Ruangan sembari menebaskan sebilah pedang ke perut Ramalia.
"Dari tanah kembali ke tanah! Imagination Real Battle Skill - Holy Seal Slash!"
Tebasan tersebut memberikan efek torehan cukup besar namun hanya memecah sisiknya. Kemudian muncullah sebuah formula sihir putih yang menciptakan rantai pengikat disekitar Ramalia.
GROOOOO!!
Ramalia merintih kesakitan. Aku pun berteriak pada sang Perdana Menteri.
"Hentikan! Dia kesakitan!"
Sebelum Ramalia mengecil kembali ke wujud manusianya karena kehilangan tenaga, Perdana Menteri menghilangkan rantai tersebut, namun tidak dengan formula sihir yang masih ada di tubuh Ramalia.
Sial! Bahkan aku belum bisa menolongnya.
Akhirnya, kami dibawa ke Lantai dasar, tempat dimana kami akan dipenjara untuk esoknya Ramalia dieksekusi.
Apakah ini tanda bahwa diriku masih terlalu lemah untuk menjadi andalan Divisi Kedisiplinan, Gramandall-san, bahkan Planet ini?
Apa yang harus kulakukan, ketika sebuah kalung mengunci paksa kekuatanku?
Ya, aku tak bisa berbuat banyak karena aku terlalu lemah, bahkan teman pertamaku disini yang bukan manusia--aku tak mampu meloloskannya dari Ayahnya...
Sial--sial--SIAAAAAALLL!!!