
100 Tahun berlalu...
Entah berapa monster kecil yang sudah berkali-kali hidup kembali di beberapa lokasi yang kugunakan untuk menempa diri...
Entah berapa skill tersembunyi lagi yang harus kupelajari...
Aku, Ryuichi Venzo, mendapatkan pesan singkat melalui Hologramku bahwa statusku sudah berkembang cukup pesat karena beberapa misi rank A yang sudah kuselesaikan tanpa sedikitpun mengambil misi utamaku--yaitu mengalahkan Sandstorm Dragon.
"Nee, Venzo~" ucap salah seorang gadis yang kini sedang duduk disampingku. Dia adalah Ramalia--sang Sandstorm Dragon sendiri. Dikarenakan sekarang dia berubah wujud dan ingin menjadi manusia, aku tidak bisa begitu saja membiarkannya lenyap demi misiku--jadi aku membawanya serta sebagai teman pertamaku di Planet ini. Yah, awalnya dia merubah diri dalam bentuk manusia. Namun karena masih dalam tahap awal, dia berubah menjadi sosok gadis kecil dengan sisik naga yang masih tertoreh di sebagian besar bagian tubuhnya.
Kini, perubahannya berangsur membaik dan juga, pertumbuhan tubuhnya semakin bertambah seiring dia bersamaku di setiap misi. Dia pun seringkali bertanya padaku bagaimana cara bersosialisasi dengan manusia. Aku mengajarinya dengan normal.
Hari ini, aku akan mengambil beberapa misi sebelum melapor ke Perdana Menteri Sanderio beserta Wakilnya bahwa aku sudah selesai dengan latihanku.
Dan, kembali ke pertanyaan Ramalia. Aku menghentikan sarapanku di Motel sembari bertanya padanya.
"Ada apa?"
"Apa kau akan pergi?"
Aku menjawabnya sambil menggenggam kedua tangannya erat.
"Jika aku pergi ke suatu tempat, mana mungkin aku tidak mengajakmu? Tapi jika aku pergi ke belahan dimensi yang berbeda, aku hanya ingin berpesan padamu untuk menjaga diri dan menunggu. Aku pasti akan kembali."
Mungkin karena sisi manusianya sudah berkembang pesat, dia memelukku kemudian.
"Entah mengapa, jika kau pergi, aku merasa kesepian..."
Membuang segala rasa sedih yang mulai menggerogotiku, aku menyelesaikan sarapanku, lalu mengajaknya pergi.
Hari ini, ada sebuah misi rank A yang akan kami ambil. Lokasi masih berada di sekitar , dimana monster rank A hingga rank S muncul secara acak. Kawasan ini memang dilarang untuk dimasuki Petualang baru karena banyaknya monster kelas tinggi.
Yang kami lawan kali ini adalah beberapa monster raksasa--semacam ogre dengan senjata berbahaya ditangan mereka. Dengan kecepatan, aku berusaha menyerang titik vital mereka sembari meliuk diantara kaki dan tubuh mereka menggunakan skill percepatan.
Meski begitu, respon mereka tidak bisa dianggap remeh. Hampir beberapa kali tubuhku gepeng jika aku tidak segera menghindari serangan ganas dari pukulan senjata mereka. Ramalia hanya sekedar membantu dengan beberapa kemampuan mengendalikan pasir miliknya.
"Sandstorm!"
Badai pasir mengurangi daya visual mereka, namun tak memberikan efek negatif padaku yang dengan mudah menempatkan beberapa tebasan pada mereka dan juga diakhiri dengan skill pamungkas pertama milikku.
Dual Punishment!
Beberapa monster tersebut tumbang, meninggalkan jejak tubuh mereka di tanah dan lenyap.
Hembusan pasir disekitarku berhembus kencang. Kulihat Ramalia mencoba merasakan sesuatu lewat tangannya yang ditapakkan ke bawah.
"Venzo, menghindar!" Serunya.
Sekejap saja, tanah disekitar situ berguncang keras, getarannya sampai menimbulkan gelombang pasir tepat dibawahku. Dengan sisa tenaga yang ada aku segera melompat--menyingkir dari tempatku berpijak.
BOOM!
Ledakan ditengah pasir tersebut dibarengi dengan munculnya bayangan besar di langit--monster berekor dan memiliki sepasang capit besar.
"Scorpion King Aranaum..." gumam Ramalia saat menangkap visual penuh monster yang berhasil turun ke bawah dengan mulus. Raungan besar sekaligus ekor tajamnya yang berkilau cukup membuat tubuhku bergetar.
GIIIIIIIIIIII!!
"Kuh!" Keluhku sembari menutup telinga.
Suaranya cukup keras hingga mengundang beberapa Petualang disekitarku yang buru-buru mengepungnya.
"Hei, anak-anak mundur saja! Ini bagian kami!"
Disana, ada sekitar 10 orang yang mengelilingi makhluk ganas itu. Sang Pimpinan kemudian memulai komandonya.
"Baiklah, yang memiliki kecepatan, pancing dia sampai lengah. Yang memiliki kekuatan ataupun daya rusak, serang begitu lengah!"
"""""Baik!"""""
Namun sebelum mereka selesai bergerak dengan rencana mereka, sebuah sabetan dari ekor mengakhiri rencana tersebut. 10 orang langsung terpelanting saking cepatnya serangan itu. Mereka terlempar jauh sampai ke lokasi yang tidak dapat dilihat. Teriakan mereka yang terhempas berangsur menghilang.
Beruntung jarakku dengan monster tersebut masih dibilang jauh. Ramalia pun memunculkan pedang dari tangannya yang terbuat dari pasir.
"Wow! Kau memiliki senjata?" Tanyaku heran.
"Saharian Blade, aku menciptakannya baru-baru ini."
Kemudian dia berlari menuju Scorpion King yang sudah terlanjur menganggap kami berdua juga sebagai musuh--lalu melompat kearah kami. Aku memilih untuk menghindarinya sementara Ramalia mencoba untuk menyarangkan luka pada monster tersebut.
TRANG!
Pedang Ramalia terpental seakan kulitnya terbuat dari titanium--bahkan itu mengkilap!
Scorpion King melesatkan ekor tajam beracunnya kearah Ramalia. Buru-buru aku membuka dimensi pertarungan lalu merapal skill percepatanku untuk menyelamatkannya.
Imagination Battle Skill - Lightning Speed!
Cih, sepertinya aku terlalu lambat untuk menggapainya! Sial! Apakah sisa tenagaku ini sia-sia saja?
...
Tiba-tiba saja, sebuah benda menembus cangkang dari ekor tersebut, membuat Scorpion King meraung kesakitan sembari menarik ekornya.
GIIIIAAAAAA!!
Dan sebentar kemudian, aku melihat visual yang menampakkan dua orang berjubah hitam dengan lambang mirip bunga, sedang berlari kearah kami sambil berteriak kegirangan.
"Hei, heeeeeiiii~! Minggirlaaah~!"
"Oii, Yuriko! Tungguuuuuuuu!"
Salah satu yang didepan berlari dengan dua pedang merah menyala ditangannya, sementara satu yang dibelakang nampak kerepotan membawa senapan di punggungnya--jadi dia yang menembak ekor Scorpion King? Dari jarak berapa ratus meter?!
Aku berhasil menangkap Ramalia dengan mulus setelah tembakan tadi. Lalu menatap kearah dua orang misterius itu.
Ketika jaraknya cukup, orang itu melompat tinggi dengan tapakannya yang bahkan terasa sampai di bawahku. Tudung kepalanya pun terlepas, memperlihatkan sosok gadis ponytail dengan rambut biru gelap. Sementara satu dibelakangnya berhenti dan terlihat tersengal.
"Hah... hah... hah... Kau tahu kan aku tidak handal dalam hal fisik, Yuriko?"
Melihat ada ancaman lain, Scorpion King bergerak cepat setelah menerima serangan, dan masuk ke dalam pasir untuk mengecoh lawannya. Terlihat gumpalan pasir kesana-kemari karena jejak monster itu. Sang gadis berpedang yang dipanggil Yuriko hanya diam ditengah gelombang pasir dari monster itu setelah mendarat mulus, namun tatapan matanya memperlihatkan dia super waspada terhadap lawannya.
Dengan sedikit helaan, dia berucap.
"Haaaa... jika seperti ini, Hibiki pun tidak dapat diandalkan..."
Yang punya nama pun murung sembari membalas keluhan gadis berpedang itu.
"Haa? Apa kau menantangku, Yuriko?"
Tapi, terlihat wajahnya sedikitpun tidak ada kekecewaan atas itu, malah dia tersenyum bukan main.
"--Tidak akan kubiarkan kau mengambil mangsaku!"
Kuda-kudanya pun berganti menjadi lebih meyakinkan. Kedua tangannya yang memegang pedang diletakkan di pinggang, seperti sedang bersiap untuk melakukan serangan kuat.
...
BLAM!
Dia menangkap lompatan Scorpion King dibawahnya dan melompat kedua kali--lompatannya lebih tinggi dari monster itu!
"Bersiaplah dipanggang, makhluk sialan!"
Seruannya terdengar, dibarengi dengan tebasan dengan kecepatan kilat kearah Scorpion King.
ZINGZINGZINGZINGZINGZINGZING!
Satu tarikan dari entah berapa tebasan itu, dia terdiam pada lompatan di langit, lalu merapal mantra serangan setelahnya.
Imagination Battle Skill - Secret Aeternum Technique - Thousand Embrace of Sun
Sekali dia hentakkan kedua pedangnya, Scorpion King sudah kehilangan kedudukannya dan dijatuhkan di pasir dengan tebasan keras menembus cangkangnya dan mengoyak tubuhnya disana. Kami berdua tertegun kemudian setelah gadis tersebut mendarat dengan mulus.
"Hei, kau..." sapanya sambil menengok kearahku yang masih terdiam heran.
Dia melempar sebuah gulungan kertas padaku. Dengan cekatan aku menangkapnya, lalu bertanya.
"Untuk apa ini?"
Dia pun berlalu bersama gadis dengan Rifle yang berdiri kokoh dibalik punggungnya.
"Ambillah..."
Setelah aku membuka gulungan tersebut, aku dibuat berteriak bersamaan dengan berlalunya dua gadis berjubah tersebut.
"SATU JUTA KEPING EXPERIAN GOLD???!!!"
Yang dia selesaikan dengan sebegitu mudahnya--misi tingkat SS?!
Dan aku pun baru menyadari saat Ramalia mengecek bekas tebasan Yuriko, sang gadis dengan jubah berlambang mirip bunga tadi.
"Ini terbakar dan tidak bisa padam..."
Bahkan tebasannya pun membentuk seperti bunga.
Sejenak otakku berpikir. Gambar bunga ini... sepertinya tidak asing bagiku. Bunga Teratai?
Mungkinkah dia... Red Lotus?! Dan jubah berlambang itu... Legendary Arcane?
"Venzo?"
"Tidak salah lagi..."
Pertanyaanku mengakhiri perjalananku bersama Ramalia menuju kota untuk mengambil hadiah pemberian Yuriko--meskipun dia adalah salah satu bagian dari tangan kanan Organisasi Dark Mind...