World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 30 - Penilaian Ulang, Diawasi Dari Kejauhan



"Haaaah... Lelahnya..."


Aku, Kyuasagi Rinjou, selesai mengerjakan data-data untuk program terbaruku, sekaligus memperbaiki program AI HFVR-01 agar nantinya dapat digunakan secara maksimal. Aku tidak terlalu mempermasalahkan harganya, itu hanya berbentuk donasi jadi sesuka mereka ingin membelinya atau tidak. Soal bisa dipakai atau tidak jangan salahkan aku ya?


Seraya meluruskan punggungku yang terasa kaku, aku mulai menggumam.


'Apa yang aku lakukan ini benar?'


Bahkan ketika aku berkunjung ke kediaman Venzo, dan melihat bagaimana dia dapat mengakrabkan dirinya dengan ayahnya sendiri, sosok yang nampak garang dan terukir goresan ketegasan di otot wajahnya itu.


'Hah, bahkan aku pun tidak pernah mengenal orangtuaku...'


Membuang segala kekalutan tersebut, aku menggerakkan diriku yang sedari pagi tidak berpindah tempat dari depan komputer, menuju dapur untuk memasak sesuatu.


'Ramen instan...'


Aku hanya berpikir, betapa praktisnya makanan ini sehingga membuatku menghemat banyak waktu untuk memasak.


Percikan api biru dari kompor yang kugunakan sedikit memberi penerangan di dapur. Aku terlalu malas untuk menyalakan lampu, meskipun disisi lain juga mengurangi konsumsi listrik yang tidak terlalu diperlukan.


Sembari menunggu air dalam ketel mendidih, aku mempersiapkan ramen instan mentah, mencampurkan bumbu dan rekan-rekannya ke dalam cup.


"Imagination Creator..."


Sejenak aku menyebutkan kata-kata yang menjadi nama grup band Venzo dan yang lain. Darimana dia mendapatkan inspirasi seperti itu? Apakah ada hubungannya dengan kebiasaan membaca doujinshi atau menonton hentai di kelas?


"Manusia memang memiliki keunikan mereka masing-masing 'kan?" ucapku pada diriku sendiri sambil tersenyum menatap langit-langit ruang dapur.


Tak terasa, suara uap ketel yang keluar dari moncongnya menyadarkanku akan lamunan yang taneh tersebut.


Ryuichi Venzo, orang yang selalu ingin kutemui semenjak aku melangkahkan kakiku di dunia internet, keunikan yang dimiliki bahkan berada di luar pemikiranku, yaitu dia adalah sosok gentle lolicon.


Memangnya pria tampan seperti dia tidak memiliki keinginan untuk menyukai sesuatu yang normal? Seperti gadis seumurannya?


Itulah mengapa aku menjadi seperti ini, ya karena si Ero-Ecchi Venzo itu...


"Hatcyiiii!!"


"Ada apa, Venzo-kun?"


"Apakah kau kedinginan, Venzo-senpai?"


"Ah, tidak juga. Udaranya tidak terlalu dingin sampai membuatku menggigil kok. Sepertinya ada seseorang yang membicarakanku."


Ah, terserah lah. Lebih baik aku mengisi perutku terlebih dulu lalu mulai membereskan masalah program ini lagi! Ramen instan, aku datang!


...


...


...


Kembali ke lokasi taman Jinguu Meiji...


...


...


...


"Ahhn~! V-Venzo-kun, jangan terlalu kasar~!"


"Sedikit lagi- Hnngh, tahan ya?"


Dari percakapan ini, sudah bisa dibayangkan gambaran apa yang terlintas, apa yang sedang dilakukan Venzo dan Naya yang menjauhkan diri dari keramaian...


"Senpai, apa sudah selesai?"


Suara Hana terdengar dari jarak sekitar 15 meter dari mereka berdua. Naya kesulitan menjawabnya karena sedikit tersengal oleh apa yang dilakukan Venzo padanya.


"S-Sebentar lagi-- Iyaaan~!"


Tak lama kemudian, mereka muncul dari kegelapan. Venzo menyeka keringatnya.


"Maafkan aku jika terlalu kasar, Naya..." ujar Venzo pada Naya yang membenahi kimononya yang sedikit berantakan.


"Itu tidak masalah, lagipula kau masih amatir mengikat kimono seorang gadis 'kan?"


"Yah, begitulah. Hahaha..."


Terdengar suara keramaian yang menandakan Festival Kembang Api akan segera dimulai.


"Senpai, mari kita mencari tempat untuk duduk menikmati kembang api."


Venzo dan Naya mengangguk setuju dan meninggalkan tempat mereka.


Masih berjalan dengan kedua gadis idola sekolah disampingnya, Venzo kembali menelusuri spot yang terjangkau visualnya dri lokasi dinyalakannya Kembang Api.


Saat kembali ke jalanan utama keramaian di Kuil Jinguu Meiji, secara mengejutkan dia bertemu Kazura dan Izano yang ternyata telah mendapatkan pasangan mereka disana.


"K-K-K-"


Itulah yang keluar dari mulut Venzo saat bertatap muka dengan kedua teman sekontrakannya mendapatkan pasangan untuk menonton Kembang Api.


"Kenapa bisa, maksudmu? Hanya kebetulan saja. Betul tidak, Izano?" lanjut Kazura.


"Yap, ini hanya kebetulan, sensei." tambah Izano.


Venzo menundukkan kepalanya sebentar, nampak ingin melepaskan sesuatu di depan mereka berdua, terutama Izano.


Lalu...


"Lanjutkan kemampuanmu, nak. Nampaknya kau sudah mulai menjajaki jalan kedewasaan." ungkap Venzo sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Izano yang mendengarkan itu seketika tersenyum senang dan membalasnya dengan anggukan penuh semangat.


"Um! Terima kasih, sensei!"


"Tunggu dulu, ada apa dengan rasa hormatmu itu? Kita hanya terpaut 3 tahun. Setidaknya perlihatkan sisi kerenmu di depan seorang gadis."


Mendengarkan saran dari Venzo, Izano langsung mengubah raut wajahnya, lalu merendahkan suaranya layaknya pria dewasa yang elegan.


"Belum seberapa, sensei."


"Oi, itu ciri khas tukang masak epic sebelah kenapa dipakai?!" seru Kazura menanggapi aksi keren Izano. Venzo pun tertawa diikuti tawa kecil para gadis.


Keributan kecil yang hangat itu pun disambut suara pemberitahuan lewat speaker.


《Perhatian. Festival Kembang Api akan dimulai 30 menit lagi. Dimohon untuk menempati lokasi yang sudah disediakan untuk pengunjung. Terima kasih》


Pemberitahuan itu membuat Venzo, Izano, dan Kazura terheran-heran.


"Oh, ternyata ada pemberitahuannya ya? Hebat." respon Venzo. Kazura menambahi.


"Yah, lebih baik kita segera mencari tempat yang tepat untuk menonton Kembang Api."


Izano mengangguk setuju, lalu mereka segera beranjak menuju tempat yang dimaksud.


...


...


...


4 gadis dengan seragam hitam bercorak masing-masing warna berbeda di tepinya itu duduk di sebuah ruangan futuristik. Ditengah mereka, meja polos yang terbuat dari besi menyangga lengan mereka dengan kokoh. Beberapa set hologram terpampang rumit di muka mereka.


"Mengapa kita yang diberikan tugas untuk menilai ulang mereka? Merepotkan!" keluh gadis pertama dengan rambut panjang lurus berkacamata. Gadis dengan rambut kuncir dua pun menjawabnya sembari jemari mungilnya menari diatas keyboard hologram, menorehkan tulisan-tulisan rumit di layar hologramnya sendiri.


"Moo~! Haruka-chan sendiri kan yang meminta mereka untuk dinilai ulang?"


Tak ingin ketinggalan, gadis dengan gaya rambut ponytail berwarna oranye ikut menyalahkan gadis yang dipanggil Haruka. Namun dengan nada layaknya kakak perempuan yang imut.


"Ara-ara~ Apakah Haruka-kun ingin lari dari tanggung jawab?"


"Nyam, nyam, nyam~ Yang protes tidak boleh komplain soal penilaian ulang." tambah gadis lain dengan rambut seputih salju, menatap hologram datar sambil mengunyah makanannya.


"M-Miyuu-san, uuuh... Jangan berbicara sambil makan... Itu tidak sopan..."


"Mng, nyammammmngmam? (Tapi, itu hanya berlaku di Bumi kan?)"


Gadis twintail yang mencoba menasehati gadis rambut putih dipanggil Miyuu itu malah dibalas dengan jawaban yang tidak jelas. Namun gafis itu tidak bisa lagi memberikan nasehat ketika Miyuu sedang berkonsentrasi pada penilaiannya terhadap pemuda dengan ciri khas pengguna teknologi.


Kyuasagi Rinjou...


Setelah menelan makanannya yang melembut akibat kunyahan yang cukup lama, dia mengeluh pada data yang didapatkannya.


"Mereka semua mesum, sama seperti ketua mereka."


"Ah, sepertinya aku sudah tidak sabar untuk bertemu Izano-kyun ini~" ujar gadis rambut oranye menatap wajah Izano di layar hologram dengan ekspresi bernafsu.


"Yuna! Berpikiran mesum itu dilarang!"


"Ah, maafkan aku, Wakil Ketua~ Nampaknya aku terlalu bersemangat... Fufufu~"


Percakapan di tengah ruangan tersebut terasa hangat, menggambarkan persahabatan diantara mereka yang erat.


...


...


...


Lain halnya di sebuah tempat yang gelap, yang hanya diterangi pendar cahaya sebuah hologram raksasa.


Disana, ada 22 sosok misterius berjubah yang sedang mendengarkan seorang paruh baya menjelaskan sesuatu.


"Mengapa aku mengumpulkan kalian, tangan kananku, adalah data ini."


Di depan mereka, tepatnya ditengah ruangan, terlihat data yang menggambarkan detail waktu dan perencanaan di sebelah siluet 4 orang.


"Mereka akan diambil alih paksa oleh Perdana Menteri Experian dan Divisi besar Experian. Dan secara tidak langsung, mereka akan mengancam rencana kita untuk membuat kedamaian di seluruh alam semesta."


"Mereka hanyalah anak-anak, tidak seperti kita!"


"Pemegang kebodohan bahkan lebih bodoh dari penampilannya..."


"Hoo~ Seperti yang diharapkan dari Pemegang Kematian, ucapan yang sadis~"


"Pemegang Matahari terlalu memanjakan adiknya sendiri..."


"Eh? Tapi kau selalu saja kalah ketika mengajak Pemegang Kematian untuk berlatih. Benar kan, Pemegang Kekuatan?"


"Kesampingkan itu. Pemegang Roda Keberuntungan. Apa yang kau lihat dari mereka?"


"Hah, cukup sulit menebak apa yang akan terjadi diantara mereka dan kita, kecuali jika keadaannya seperti ini, maka tidak lama mereka akan menemui kita... Putaran yang berat..."


"Pemegang Sihir saja kesulitan mengurangi keberuntungan mereka..."


"Aku juga berusaha semampuku, Pemegang Menara. Mungkin mereka berempat memiliki pelindung kuat..."


"Sucikan mereka, Pemegang Orang Suci Tertinggi! Mereka semua hina!"


"Aku menerawang berkat yang aneh pada mereka berempat, Pemegang Cinta. Apa pendapatmu tentang ini?"


"Mereka dipenuhi dengan cinta, aku tidak bisa melawan mereka. Mereka akan menjadi lawan yang seimbang~ Iyaaan~♡"


Keributan pun semakin keras diantara mereka yang saling membicarakan tentang siluet tersebut.


"Huh, dasar anak-anak muda, sangat suka membuat keributan..." keluh sosok yang terlihat memiliki aura gelap menyeruak itu.


"Maafkan kami, Master..."


"Itu tidak masalah... Kita sudahi saja rapat kita kali ini... Invasi akan kita mulai 300 tahun lagi, jadi bersiaplah menerima segala kemungkinan buruk jika keempat anak ini datang pada kita..."


Penjelasan tersebut disambut dengan penuh apresiasi oleh yang lain. Lalu dia melanjutkan kata-katanya.


"-termasuk Ryuichi Venzo... Aku merasakan sosok familiar pada dirinya."


Beberapa pihak pun memberikan komentar tentang orang terakhir yang disebutkan.


"Memang ada apa dengan dia, apakah dia memiliki kekuatan spesial? Dia hanyalah pemuda tak berguna, Master!"


Pemegang Kekuatan terlihat arogan ketika memberikan pendapatnya, dengan bijak Sang Master memberitahunya.


"Jika memang itu yang kaupikirkan, coba lawan dia 100 tahun lagi... Aku ingin melihat seberapa benar ucapanmu, Pemegang Kekuatan..."


Mengibaskan jubah hitamnya, Sang Master pun pergi tanpa ucapan berarti setelah sedikit perdebatan itu. Pemegang Kekuatan hanya terdiam mendengarkan apa yang disampaikan Sang Master. Pemegang Kematian, sosok yang terlihat menatap figur Ryuichi Venzo dengan mata serius kemudian mengingatkan Pemegang Kekuatan.


"Sebaiknya kau tidak terlalu meremehkan anak ini, seperti apa yang dikatakan Master. Mereka masih misterius, bahkan Pemegang Sihir yang tergolong kuat pun tak bisa memanipulasi langkahnya dengan sihir."


"Cih, kau terlalu nyaman di tempatmu hingga kau pun dengan tenangnya mengiyakan apa yang dikatakan Master. Dia itu hanyalah seorang bocah!"


Pemegang Kekuatan meninggalkan tempatnya dengan kekecewaan karena tak mendapat dukungan atas pendapat sarkasnya. Namun begitulah kenyataannya, keempat figur tersebut masih menjadi kontroversi diantara mereka semua. Apa yang akan terjadi, mereka cukup meunggu hingga waktu pasti Imagination Great War dimulai.


...


Mereka yang terpilih...


...


Mereka yang memegang kehendak pada titel mereka masing-masing...


...


Mereka yang bergerak dibawah pimpinan Master mereka...


...


Mereka yang bertarung atas nama Master mereka...


...


Dark Mind Organization Elite Army


Twenty Two Legendary Arcane