World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 15 - Rencana Liburan Musim Panas



Aku, Engetsu Kazura, lagi-lagi harus kembali menuju ruang kesehatan bersama Rinjou untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan antara Venzo dengan perawat muda sekolah kami, Kawashima Yukari. Sementara itu, kami juga berpapasan dengan Izano yang sedang membawa beberapa buku bersama Asami Midori.


"Kazura-senpai! Rinjou-senpai! Kenapa kalian terburu-buru begitu? Oiya, Venzo-sensei kemana?"


"Itu yang kami khawatirkan!"


Kami berlari sambil menjawab pertanyaan Izano bersamaan. Dia masih mencoba mencerna apa yang kami katakan dengan wajah penuh tanya sambil melanjutkan jalan menuju kantor guru untuk mengantarkan buku tugas bersama Asami Midori yang tak lain adalah ketua kelas kami.


"Venzooooooooo!!"


Hampir sampai di ruang kesehatan, pintu ruangan terbuka dan Venzo keluar sambil membenahi kancing seragamnya, mengarahkan pandangannya kearah kami yang masih cukup jauh namun suara kami terdengar olehnya.


"Yo..."


Dengan cepat kami mengunci lehernya dengan lengan kami sambil menginterogasinya.


"Apa kau selesai melakukannya?! Bagaimana rasanya?"


Dengan senyum tak jelas sambil mengalihkan pandangannya kearah lain, Venzo menjawabnya.


"Y-Yah... Bagaimana ya? Rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata juga sih..."


Terlihat Venzo malah penasaran dengan pikiran kami dan bertanya tentang itu.


"Memangnya kalian tahu apa yang kulakukan tadi?"


"Kau keluar dengan kancing seragam yang terlepas, sialan! Memangnya apa la--"


Belum sempat kami menyelesaikan kata-kata itu, Yukari-sensei keluar sambil membenahi pakaian khusus perawatnya, juga.


"Ah, Venzo-kun... Nikmat sekali. Lain kali lakukan lagi ya?"


Petir seakan menyambar kepala kami berdua saat mendengar apa yang diucapkan Yukari-sensei.


"Ah, memang benar-benar kampret kau, Venzooooo!!"


"Lagi-lagi... Kita bawa dia ke dalam kelas sambil menginterogasinya lebih dalam soal kasus ini!"


Aku dan Rinjou terpaksa menyeret Venzo menuju kelas.


"He? Ada apa ini? Memangnya apa salahku? Toloooong! Aku mau dibantaiiii!"


Itulah yang keluar dari mulut Venzo saat kami berdua menyeretnya menuju kelas melewati koridor dan tangga kearah lantai 3. Sebelum kami benar-benar meninggalkan ruang kesehatan, Yukari-sensei terdengar sedang mengatakan sesuatu.


"Ada apa dengan mereka?"


Sesampainya di kelas, terlihat Midori sedang berdiri di sebelah tempat duduk Venzo bersama Izano. Kami berdua mengantar Venzo menuju tempat duduknya. Tak lupa aku meninggalkan pesan pada Venzo.


"Akan kuurus soal Yukari-sensei nanti, kampret..."


"Salah lagi..."


Venzo menggaruk kepalanya sembari mengeluh. Iya, memang kau selalu salah di mata semua laki-laki, karena otakmu yang terlalu cepat bereaksi dengan hal-hal berbau mesum.


"Sensei, Asami-san ingin berbicara denganmu..." jelas Izano yang masih berdiri disamping Midori.


Kami sudah kembali ke bangku kami karena jelas kami tidak ada urusan dengan pekerjaan rumah yang sudah selesai.


Midori nampak menyembunyikan wajahnya setelah Izano menjelaskan alasan kenapa Midori masih betah berdiri disitu.


Akhirnya, Venzo memberi tanggapan dengan bertanya pada Midori sambil melemaskan badannya.


"Ada apa, Midori? Aku mau mengerjakan pekerjaan rumahku sebentar lagi."


Tanpa berani memandang wajah Venzo secara langsung, Midori mengatakan sesuatu dengan lirih, meskipun masih bisa terdengar.


"Aku... minta maaf karena sudah membantingmu..."


Venzo yang mendengarkan hal itu langsung tertawa keras, hingga seisi kelas bisa mendengar dan menganggapnya sebagai kegaduhan.


"K-Kenapa kau tertawa?!"


"Ehem. Tidak ada. Lagipula, Midori yang normal memanglah seperti ini. Jadi, aku memaafkanmu."


Venzo mengatakan itu sambil tersenyum, membuat Midori menjadi salah tingkah. Venzo pun melanjutkan kata-katanya.


"Itu juga salahku yang memang tidak sengaja meninggalkan pekerjaan rumahku karena naskah yang teramat banyak dan itu cukup memakan waktu tidurku. Jadi, aku juga, sebagai pria, aku minta maaf."


Setelah Midori kembali ke tempat duduknya, Izano kembali ke mode murid Venzo.


"Seperti yang diharapkan dari sensei. Tak pernah mengecewakan gadis dengan sifat apapun ya? Hebat!"


"Huh? Kau baru melihatnya? Berarti ini ilmu nyata bagi pemuda polos sepertimu, nak." balasnya yang sedang dipuji.


Aku menambahkan kata-kata Izano sambil membenahi posisi dudukku. Itupun juga dibalasnya.


"Yah, dia selalu menerapkan Undang-Undang yang ditulisnya sendiri. Jadi, aku memakluminya meskipun terkadang otaknya lebih sesat dari wajahnya."


"Padahal otakmu itu lebih kekar daripada ototmu, Bakazura..." ejeknya.


Rinjou terlihat mulai mengetikkan sesuatu di Smartphonenya sembari menggumam.


"Sepertinya ini akan jadi pencerahan yang bagus..."


Venzo kembali menanggapi sambil tersenyum kearah kami.


"Karena Pria Ero Sejati itu harus bisa beradaptasi dengan gadis seperti apapun. Itu yang kubuat dalam Undang-Undang Pria Ero Sejati tentang Aturan Sebagai Pria Ero Sejati."


Setelah selesai berceramah, dia kembali fokus kearah bukunya. Sepertinya saat ini dia sedang sibuk. Jadi, kami hanya memasang wajah aneh setelah mendengar kata-katanya. Terkadang konslet pada naluri ero-nya, tapi terkadang beberapa kata bisa dipetik juga. Entahlah, teman yang cukup unik.


Tak terasa, hari ini adalah hari terakhir sebelum liburan musim panas tiba. Seperti biasa, kami menyiapkan agenda apa saja yang akan kami lakukan saat liburan yang selalu ada setiap 1 tahun sekali ini.


"Oi, Venzo. Apa kau sudah memikirkan soal liburan musim panas yang dimulai besok?"


Venzo mengarahkan posisi duduknya kearahku, yang berada tepat disebelahnya.


"Liburan musim panas, identik dengan berakhirnya masa keperjakaan, bukan? Jadi, apa kau tidak ingin mencicipi rasanya 'lulus dari keperjakaan'?"


Secara spontan, aku meresponnya dengan jitakan kearah kepala Venzo.


"Ugh, sial... Memangnya ada yang salah, bodoh?"


"Lulus otakmu kumuh! Memang tidak ada acara lain selain acara yang memanaskan otakmu itu?!"


"Hmm, sepertinya aku akan pulang ke kampung halamanku di daerah Kyoto. Aku ingin mengunjungi orangtua dan kakakku disana. Bagaimana dengan kalian, wahai murid-muridku?"


Izano dan Rinjou merespon dengan cepat. Dasar kalian...


"Bolehkah aku ikut denganmu, Sensei? Aku ingin tahu seperti apa orangtua dari seorang Ero-Ecchi- Ah, Ryuichi Venzo sang Guru Ero ini..."


"Hoho, ide bagus, Izano. Aku juga penasaran. Boleh aku ikut juga?"


Akhirnya, Venzo kembali mengubah posisi duduknya ke posisi normal sambil membalas pertanyaan Izano dan Rinjou.


"Itu tidak masalah. Orangtuaku mungkin membolehkan kalian berkunjung dan menginap. Aku akan menghubungi mereka nanti."


"Horeeee!"


"Tiket bayar sendiri, kampret!"


"Siap, Sensei!"


Setelah perundingan tak jelas tersebut, kami kembali fokus pada kelas karena pelajaran sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Yah, hari yang aneh dan tidak jelas bagiku, tapi cukup menyenangkan juga bisa memiliki teman akrab seperti mereka yang cenderung melepaskan aura khas masing-masing di sekolah elit seperti ini. Terasa hari cepat berlalu karena apa yang kami lakukan bersama.


Juga, dia pernah bercerita jika ayahnya adalah seorang Karateka pemegang sabuk hitam. Jadi, aku bisa meminta ilmu tentang seni beladiri karate untuk memperluas wawasanku.


"Ada apa, Kazura? Melamun seperti orang bodoh begitu?"


"Sepertinya liburan musim panas ini, aku ikut dengan kalian saja."


"Ah, kau ingin memperluas seni beladirimu ya? Tenang saja, ayahku orang yang fleksibel, jadi tidak perlu takut untuk bertanya apalagi meminta latih tanding dengannya."


Venzo pun berseru setelah membalas pernyataanku barusan.


"Yosh, liburan musim panas, kami datang!"


"Oiii!"


Kami membalas seruan tersebut, hingga kami kena lempar penghapus spidol oleh guru kami yang sedang menulis di papan putih.


"Kalian! Jangan berisik!"


Kami pun terdiam sejenak dan ditertawakan. Ah, kelas yang ramai sekali. Dan semua ini karena Venzo yang memulainya.