World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 22 - Karena Kau adalah Saudara Perempuanku yang Berharga



Setelah melewati beberapa minggu di rumahku daerah Kyoto, akhirnya malam terakhir tiba. Seperti biasa, sebelum tidur, aku, Ryuichi Venzo, mengerjakan naskah eroge yang masih kurang beberapa paragraf lagi. Dengan cekatan, aku mencoba mengetik keyboard yang tampil di Smartphoneku dengan kedua jempolku. Sambil membayangkan menjadi tokoh utama, aku mencoba berpikir sambil menulis bagaimana caranya merespon seorang gadis yang menyukaiku. Tema eroge kali ini adalah seorang pemuda yang bersekolah kelas 3 sedang mendapatkan banyak ungkapan cinta dari beberapa adik kelasnya dan kelas lain seangkatannya termasuk teman masa kecilnya yang bernama Yuki.


Kini giliran scene Yuki yang sedang belajar di rumah sang tokoh utama. Dengan beberapa ilustrasi yang diberikan oleh tim illustrator untuk mempermudah penulisan skenario eroge, aku mencoba memikirkan scene yang tepat berdasarkan ilustrasi.


Sementara itu, Izano sedang tidur, dan Kazura sedang menonton pertandingan bela diri di Smartphonenya.


"Hmmm, bagaimana ya?"


Aku bergumam pada diriku sendiri sambil mencoba mencari ide brilian untuk scene eroge route utama ini.


Tiba-tiba, Rinjou duduk disebelahku sambil tersenyum.


"Hare, rupanya Ero-sensei sedang sibuk ya?"


"Yah, begitulah. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku secepatnya atau tim pengamat kerja akan mengomeliku lagi."


"Hmmm, scene ketika seorang gadis sedang belajar di kamar kita..."


"Ha! Bagaimana kalau sang tokoh utama keluar untuk membuatkan teh, lalu si gadis yang penasaran menemukan beberapa majalah porno yang disimpan tokoh utama di bawah ranjang?"


"Wah wah, idemu cukup bagus juga, Rinjou!"


Setuju dengan pendapat Rinjou, aku menulis apa yang diusulkan Rinjou. Yah, dia memang murid yang hebat.


Selesai dengan scene tersebut, aku kembali menghentikan acara menulisku. Rinjou kembali bertanya.


"Ada apa?"


"Sampai disini, aku perlu menentukan pilihan. Seperti apa ya?"


Sekelebat ide lewat di pikiranku. Aku menulis sebuah pilihan saat si gadis, Yuki, mencoba bertanya soal majalah porno yang dia temukan. Pilihannya antara mengelak dari kenyataan atau mengakuinya. Disamping itu, aku juga perlu memberikan pilihan yang menjurus ke pilihan selanjutnya.


A. I-Itu punya temanku! Cepat kembalikan!


B. Itu milikku. Wajar kan jika pemuda seumuranku memiliki benda seperti itu?


"Hoooaaahem~ Ero-sensei, aku tidur duluan ya?"


"Yo, tidurlah dulu. Aku masih perlu menyelesaikan skenario eroge ini."


"Oke..."


Setelah selesai menjawab percakapan denganku, Rinjou masuk ke dalam selimut beserta kasur lipat tebal yang sudah kusiapkan untuk mereka.


Beberapa jam kemudian...


"Hoaaaahheem... Akhirnya selesai jugaaaa...!"


Aku meregangkan tubuhku yang cukup lama duduk sambil mengerjakan naskah eroge. Selesai berkutat dengan tugas negara, aku keluar rumah sambil menghirup udara segar malam di Kyoto. Aku mengecek Smartphoneku.


"Hmmm..."


Waktu masih menunjukkan pukul 11.30 malam waktu setempat. Aku mengerjakan naskah saat waktu menunjukkan pukul 9.00 malam. Cukup menguras tenaga juga ya?


Tiba-tiba, ada sebuah ketukan lirih di pintu kamar.


Saat aku membukanya perlahan, nampak sosok Ayame sedang berdiri disana, lalu mengatakan sesuatu dengan tenang.


"Apa kau belum tidur? Jika belum, temui aku di taman bermain. Aku ingin mengobrol sebentar sebelum kau kembali ke Tokyo besok pagi."


Mendapat ajakan tersebut, aku baru teringat akan sesuatu yang pernah terjadi lagi antara aku dan Ayame.


...


5 tahun yang lalu, saat aku masih tinggal bersama kakak dan kedua orangtuaku...


Kala itu disaat hujan deras, sepulang sekolah, Ayame dan aku masih piket membersihkan kelas.


"Venzo-kun... Apa kau sudah selesai?"


"Ah, aku sudah selesai."


"Kalau begitu, ayo kita pulang..."


Saat akan pulang, aku melupakan sesuatu.


"Hare? Sepertinya aku tidak membawa payung."


Mendengar hal itu, Ayame tertawa kecil.


"Aku juga tidak membawa payung. Maaf, Venzo-kun."


"Hee?"


Aku terkejut. Ternyata Ayame juga bisa lupa ya?


Mengingat aku sering mengenakan baju dalam, aku melepas seragam sekolahku lalu memberikannya pada Ayame.


"Pakailah ini."


"Tapi, Venzo-kun..."


"Rumah kita dekat kan? Aku tidak ingin kau kena demam."


"Bagaimana denganmu, Venzo-kun?"


"Jangan khawatir! Aku ini lelaki. Lelaki memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik kan?"


Disaat masih berdebat kecil dengan Ayame, kilatan petir terdengar keras diikuti hujan yang semakin deras dan angin dingin yang berhembus cukup kencang.


"Kyaaaa!"


Karena suara petir yang cukup keras, Ayame langsung menutup telinganya dan bersembunyi dibelakangku. Dia juga menarik-narik bajuku pelan sambil berkata pelan padaku.


"Ummm, Venzo-kun... Aku takut..."


Yah, aku sudah berteman dengannya sejak kecil. Jadi aku tahu dia takut dengan suara petir dan kilatannya.


"Baiklah, kita pulang sama-sama."


Berbekal seragam sekolah yang kami gunakan untuk menghindari hujan, kami berdua berlari menuju rumah.


Namun, tak berlangsung lama, seragam pengganti payung yang kami gunakan sudah basah seluruhnya karena hujan yang cukup deras.


"Ayame, ayo kita berteduh di taman bermain dulu. Nampaknya air hujan sudah mulai menembus seragamku."


Di tengah taman bermain, ada sebuah area permainan berbentuk setengah lingkaran dan terdapat 2 lubang di sisi berbeda untuk masuk ataupun keluar.


Tidak melihat ada siapapun, kami mencoba masuk kesana. Aku menyuruh Ayame untuk masuk duluan.


"Kau masuk saja dulu, Ayame."


Setelah Ayame masuk ke area permainan tersebut, giliranku untuk masuk. Karena sedikit memerlukan waktu untuk melepaskan tas yang berisi buku dan melemparnya duluan, bajuku basah kuyup meskipun aku berhasil berteduh.


"Venzo-kun..."


"Hmmm?"


Aku menjawab panggilan Ayame sambil mencoba mengeringkan seragamku dengan memerasnya.


Meskipun kilatan petir sudah tidak terdengar lagi, namun angin dingin yang berhembus membuatku sedikit menggigil karena efek bajuku juga yang ikut basah.


"Ha... ha... HAAATCYIII...!"


Aku mulai bersin karena kedinginan. Tanpa diduga, Ayame menempelkan tubuhnya yang masih kering pada tubuhku.


"A-Ayame... apa yang kau lakukan?"


Aku mencoba mendorong bahu Ayame agar dia tidak ikut basah karenaku. Tapi Ayame menggelengkan kepalanya sambil berkata padaku.


"Kau sudah mau membasahi seragammu untukku."


Dia kembali memelukku tanpa melanjutkan kata-katanya. Wah, tubuhnya hangat. Apalagi aroma tubuhnya dan rambutnya semerbak menggoda indra penciumanku meskipun hidungku tersumbat di satu sisi. Eh? Ah sial! Sepertinya ada yang sedang bangkit karena posisi Ayame yang memelukku dengan dadanya yang menempel pada punggungku.


Ayame adalah gadis yang dikenal pendiam namun ramah dengan teman. Dia juga memiliki tubuh gadis ideal dengan tinggi hampir sama dengan tinggiku, dan lekuk tubuhnya yang cukup menarik perhatian para laki-laki di sekolahku. Beberapa kali dia mendapat pengakuan perasaan dari banyak laki-laki yang menyukainya, tapi anehnya dia menolak sebagian besar dari mereka dan sering bercerita padaku soal itu. Jika kalian bertanya padaku apakah aku menyukainya? Jelas aku menyukainya. Tapi... belakangan ini aku mendengar bahwa dia masih saudara denganku jika dilihat dari silsilah keluarga lama. Itu membatasi pergerakanku untuk memulai pendekatan dengannya. Aku kan bukan pemaksa.


"Hari ini, beberapa laki-laki memintaku untuk menjadi pacar mereka..."


"Kau menolak mereka lagi ya?"


Perlahan dia merapatkan pelukannya padaku sambil berbisik.


"Nee, Venzo-kun..."


Karena dadanya terasa menekan di punggungku, aku mencoba berkonsentrasi untuk mengikis hawa nafsu yang mulai mengontrol otakku. Tenang... tenang... Dia masih saudara... masih saudara...


Karena aku tidak sanggup menjawabnya, aku menolehkan kelapaku kearahnya, tapi tanpa sengaja...


"Mmmmhhh!"


Aku membelalakkan mataku setelah merasakan bibir hangat dan sedikit manisnya menyentuh bibirku yang dingin dengan lembut. Beberapa detik berlalu, Ayame masih belum melepaskanku, malah dia memejamkan matanya seakan dia menikmati adegan ini. Ayameeee! Jangan tambah aura negatifku dengan ini!


Pikiranku terasa kosong, pertahananku pecah, nafsuku mulai tak terkendali, maafkan aku, Ayame!


Mendapat pengetahuan tentang ciuman dari beberapa film romantis yang pernah kulihat di TV, aku mencoba menekan bibirku ke bibir Ayame, sambil mendesak lidahku agar masuk dan menggelitik lidahnya. Anehnya, Ayane malah membalas permainanku.


Setelah beberapa menit larut dalam ciuman, aku melepaskan ciumanku dengan Ayame. Terlihat benang tipis tercipta diantara lidah kami berdua.


Dengan cepat, aku menundukkan kepalaku sambil berseru.


"Maafkan aku, Ayame! Aku terbawa suasana dingin hingga aku lepas kendali! Sekali lagi maafkan aku!"


Sambil menutupi senjataku yang hampir mencapai batas dari pertama berciuman, aku terus meminta maaf pada Ayame.


"Kenapa, Venzo-kun?"


"Karena... kita masih saudara!"


Aku berlalu meninggalkan Ayame yang masih terdiam di tempat berteduh. Karena hujan dudah mulai mereda dan langit juga mulai redup, aku berlari dengan membawa perasaan lega sekaligus menyesal. Sial! Apa yang sudah kulakukan?! Kenapa aku meninggalkannya begitu saja?!


...


Kini dia sudah mulai beranjak dewasa. Saat aku sampai di depan gerbang taman bermain umum, aku melihatnya dengan langkah gemulai seorang gadis normal berjalan di dekat area bermain dengan bentuk setengah lingkaran sambil meletakkan tangannya diatas area tersebut.


Melihatku yang masih berdiri di depan gerbang, Ayame tersenyum kearahku.


"Sudah lama ya?"


Aku melangkah kearah Ayame sebagai respon atas pertanyaannya.


"Kau masih mengingatnya, Ayame?"


Sambil menahan rambut panjangnya tertiup angin, dia mengangguk pelan saat aku berdiri disampingnya.


"Nee, Venzo-kun..."


"Hmm..."


Setelah aku meresponnya, Ayame mendekat padaku dan menyandarkan tubuhnya ke tubuhku sambil berbisik lirih.


"Bisakah kita lanjutkan adegan beberapa tahun lalu?"


Aku memang menginginkannya, namun sisi normalku mencegahnya untuk beraksi dan dengan halus aku berkata lirih padanya.


"Maafkan aku, Ayame... Tapi... aku tidak bisa..."


Tiba-tiba, Ayame membalas pernyataanku dengan nada sedikit terisak.


"K-Kenapa, Venzo-kun? Apa aku tidak pantas?"


"Bukan itu, Ayame!"


Sebagai lelaki sejati, aku tidak bisa membuat seorang gadis meneteskan air matanya untukku yang tidak sempurna ini. Aku memegang bahunya dan menatap matanya lekat-lekat sambil menghapus tetesan air matanya yang mulai mengalir perlahan.


"Itu karena... kau adalah saudaraku..."


"Tapi kita tak sedarah kan? A-Aku tidak apa-apa asalkan itu denganmu, Venzo-kun..."


Secepat mungkin aku meninggalkannya dengan penuh rasa tanggung jawab sebagai saudara sendiri.


Meskipun kami bukanlah saudara sedarah, aku masih memiliki jati diri sebagai seorang lelaki!


Bersama angin malam yang membawa rasa kasih sayangku padanya, aku melangkah menjauh dari Ayame sambil menyampaikan kata terakhir malam ini.


"Masa depanmu lebih penting daripada melakukannya denganku. Sekali lagi maafkan aku, Ayame. Kau terlalu berharga untukku. Lagipula, kita masih bersekolah... Jika saat itu tiba, aku akan membawamu bersamaku, tapi tidak sekarang... Tolong maafkan aku, Ayame..."


Seolah cerita kami telah usai, aku meninggalkan Ayame yang masih terdiam memikirkan kata-kataku di tempat yang menjadi kenangan itu, sebelum dia ikut pulang ke kediaman Ryuichi dengan perasaan kecewa...


-Pria Ero Sejati Harus Bisa Melihat Situasi Dan Kondisi Untuk Melakukan Hal Ero, Termasuk Perasaan dan Ikatan-