World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 61 - Ryuichi Akira (Bagian 1)



Hari-hari berlalu seperti biasa, kesedihan masih meliputi keluarga Ryuichi yang kehilangan sosok paling aneh dan ceria dari mereka--Ryuichi Venzo.


Sudah terlewat 100 Hari sejak peristiwa janggal tersebut, hari ini adalah hari biasa bagiku--Ryuichi Akira, melangkahkan kakiku menuju pintu untuk keluar dari rumah, dan selanjutnya berangkat ke Sekolah Menengah Atas Shibuya.


Keputusan tersebut kuambil setelah mendengar cerita bahwa dulunya Ryuichi Venzo mendapatkan keuntungan dengan bersekolah di sekolah itu. Sebuah sekolah yang bahkan terkenal karena murid-muridnya yang unik.


"Baiklah... Ini dia..."


Setelah menarik nafas panjang, kupersiapkan segala macam bentuk jawaban yang dibutuhkan saat wawancara nanti.


Disaat menaiki kereta dari kota IH, aku menemukan sosok gadis dengan seragam sekolah sedang berdiri dan terlihat memiliki pandangan kosong. Dengan maksud yang jelas aku berusaha mendekatinya, karena dia berada ditengah-tengah para laki-laki pekerja kantor yang juga berdiri, menyisakan keraguan pasti di benakku.


Akhirnya setelah beberapa saat mencoba menembus kerumunan, aku mendapati diriku telah berjarak dekat karena terdorong oleh desakan beberapa orang yang baru masuk.


Meskipun beberapa laki-laki mulai mencoba menyentuhnya, dia tak merespon sama sekali. Pandangannya tetap kosong, seperti ada yang hilang dari dirinya.


Apa yang harus kulakukan? Apa melindunginya cukup berarti? Dia memiliki celah yang sangat lebar sebagai seorang gadis SMA!


Sebentar kemudian, aku mencoba mengingat sesuatu...


Ya, aku mengingat di situasi seperti ini...


Ini adalah beberapa situasi dalam komik ero bacaan si Venzo, ketika seorang gadis dengan tubuh ideal dan tanpa perlawanan berada di tengah-tengah kerumunan pria... Uh... Apa itu sebutan genrenya...?


--Oh! Molester!


Sebagai karakter pencari kebenaran tentang etika erotis, apa yang akan seorang Ryuichi Venzo lakukan?


"Ah, persetan!"


Aku meracau pada diriku sendiri selagi kereta sudah mulai bergerak semakin cepat 10 menit yang lalu. Kemungkinan jika dia tidak diselamatkan, akan terjadi sesuatu yang tak kuinginkan terulang kembali!


Aku langsung menempatkan diriku dengan menarik beberapa lelaki kantor yang mengelilinginya.


Karena tubuhku lumayan besar dan wajahku yang terlihat garang, sorot mata tak bersahabat dari diriku membuat para pria yang awalnya berpikir akan mendapat keuntungan, mengurungkan niat mereka sembari berdecak kesal. Ternyata begitu ya? Mengingat umur mereka, mereka tidak peduli asalkan mendapatkan keuntungan seksual, dasar kumpulan pekerja yang kurang hiburan!


Sontak setelah aku berhasil mengambil tempat berdiri tepat di depannya, matanya terlihat berbinar dengan posisi masih melirik ke bawah.


"Venzo... Apa kau telah kembali? Kau membuat semuanya khawatir, tahu?! *hiks..."


Tetesan demi tetesan air mata membasahi pipinya, sebentar kemudian dia memukul-mukul dadaku pelan.


"Kenapa harus kau? Naya juga menolak untuk melanjutkan sekolahnya karenamu... Seluruh jadwal konsernya berantakan hingga dia memutuskan untuk berhenti berkarir... setelah dia kehilanganmu..."


Suara sesenggukan itu masih berlanjut, dan mungkin karena sudah lelah untuk mengatakan semuanya, dia membenamkan wajahnya padaku. Apakah ini salah satu gadis yang dekat dengan Venzo? Gadis secantik ini?! Kau memang sungguh berdosa meninggalkan gadis seindah ini!


"Huuuu... *hiks..."


Membalas emosinya, aku mengusap rambut hitam lurusnya pelan, sembari bergumam.


'Aku bukanlah Ryuichi Venzo, namun aku benar-benar tidak tega ketika melihat tetesan air mata seorang gadis jatuh ke Bumi...'


Setelah beberapa lama, tangisannya pun mereda, bersamaan dengan suara otomatis yang terdengar memberitahukan bahwa Kereta sudah sampai di Stasiun Utama Shibuya.


"Ah, maaf!"


Gadis tersebut menjauhkan dirinya dariku setelah kerumunan disekitar kami melonggar, sama halnya dengan responku yang nampak canggung dan hanya menggaruk kepalaku.


"Yah, maafkan saya juga. Saya sudah mendengar semuanya. Perkenalkan, saya adalah keluarga baru dari marga Ryuichi-- Ryuichi Akira." sambungku setelah sedikit terkekeh namun tetap sopan. Namun responnya berbeda kini, dia menutup bibirnya seperti terkejut mendengar pengakuanku.


Memang jika dilihat, tidak ada kemiripan apapun antara diriku dengan Venzo. Wajahku yang garang sepintas bisa membuat siapapun menjaga jarak. Namun dibalik itu semua, tersirat rasa ingin melindungi siapapun yang membutuhkan pertolongan. Itulah sikapku, hanya saja entah dengan cara dan tipuan apa Venzo bisa mengenal gadis sepertinya... Mungkin dengan tinggal lama sebagai pengganti Venzo, aku bisa belajar darinya soal wanita.


Sang gadis yang mengenal Ryuichi Venzo kemudian mengenalkan dirinya sembari meminta sesuatu.


"Maafkan aku, hingga lupa memperkenalkan diri. Namaku Asami Midori--teman sekelas Venzo. Sebelum itu, bolehkah kita berbicara soal Venzo?"


Aku mengiyakan permintaan itu dengan sedikit anggukan. Namun aku ingin memperjelas tujuanku padanya.


"Tapi, apakah aku tidak terlambat untuk mendaftar ke SMA Shibuya?"


Dia menggelengkan kepalanya dengan yakin sambil memberitahuku.


"Tidak apa-apa. Untuk pendaftaran, aku akan membantumu berbicara dengan Kepala Sekolah--setidaknya dia mengenal siapa Ryuichi Venzo, dan akan sangat mudah untukmu diterima disana... Setelah peristiwa itu, Kepala Sekolah memutuskan untuk siapapun yang memiliki hubungan keluarga dengan marga Ryuichi ingin mendaftar di SMA Shibuya, akan langsung diterima dan sekolah tidak akan memungut biaya sepeserpun hingga jenjang kuliah."


Wow! Benar-benar berpengaruh sampai ke institusi pendidikan! Siapa sebenarnya Ryuichi Venzo ini?


...


Sekitar 30 menit dari Stasiun Utama Shibuya, kami sampai di kawasan Institusi Pendidikan Shibuya. Pagar dinding tinggi dengan gerbang megah berdesain barat, dengan tulisan 'Kembangkan Dirimu di Institusi Pendidikan Ternama Shibuya Sampai Tak Terbatas!' membuat diriku hanya terdiam penuh keheranan.


"Besarnya..."


Asami Midori kemudian menunjukkan jalan padaku dengan menggunakan identitas yang tersemat sebagai kalung yang dikenakannya ke sebuah layar kecil di sisi gerbang.


<>


<>


<>


<>


Tak lama kemudian, gerbang yang berlapis perak tersebut mulai terbuka perlahan setelah mesin otomatis selesai mengkonfirmasi identitas. Asami-san mulai mengajakku untuk masuk ke dalam kawasan Institusi.


"Benar-benar perubahan yang sangat besar telah dilakukan oleh Kepala Sekolah Koike, saat ini Institusi Pendidikan Shibuya adalah Institusi Pertama yang memberikan muridnya kemudahan dalam mengejar pendidikan. Dan semua alumnus dari Institusi Pendidikan Shibuya adalah donatur dari seluruh Fasilitas yang ada."


Sembari berjalan-jalan, aku menemukan beberapa orang institusi menikmati aktivitas mereka dengan tenang, beberapa terlihat dengan nyaman menaiki sebuah skuter otomatis juga. Ya, karena kawasan ini terbilang luas, nampaknya perlu diberikan fasilitas untuk berkeliling.


Beberapa menit berlalu, kami sampai di sebuah kafe yang cukup ramai dengan siswa-siswi maupun anggota Institusi yang sekedar beristirahat. Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 waktu setempat. Untung saja masih ada tempat duduk yang kosong untuk kami berdua.


Disini aku merasa canggung karena aku adalah orang baru disini. Beberapa siswa-siswi terkesan melihatku dengan penuh pertanyaan, Asami-san kemudian menenangkanku sambil tersenyum.


"Tidak perlu khawatir. Memang seperti inilah jika ada orang asing yang bukan dari Institusi Pendidikan Shibuya ada disini. Tapi mereka pasti akan merubah sudut pendang mereka setelah tahu siapa kamu sebenarnya..."


Memangnya ada apa? Aku hanyalah orang biasa, Asami-san.


Tanpa diduga, salah seorang berpakaian rapi dengan blazer hitam dan celana kain hitam datang pada kami sambil menanyakan sesuatu.


"Oh ya? Apakah kau menemukan bakat baru, Asami? Siapa dia? Adik laki-lakimu, 'kah?"


Seperti dia telah mengenal Asami-san bertahun-tahun dari cara bicaranya yang santai sekaligus ukiran senyum lembut di wajahnya. Asami-san membalas dengan santai.


"Benar-benar sebuah kebetulan, Kenji. Dia adalah keluarga baru dari marga Ryuichi. Aku bertemu dia saat berada di kereta--"


Sekejap saja laki-laki yang dipanggil Kenji itu langsung menarikku dan menjabat tanganku seperti aku ini orang terkenal, pancaran sinar yang banyak keluar dari tubuhnya.


"WOAH, YANG BENAR? Jadi, kau dari marga Ryuichi?"


Sontak kemudian siswa-siswi lain mulai mengerumuniku dan menghujaniku dengan pertanyaan.


"EEEEHH?? BENARKAH KAU DARI MARGA RYUICHI??"


"APAKAH KAU ADIK DARI RYUICHI VENZO??"


"BERARTI KAU TINGGAL DI RUMAHNYA?? ATAUKAH, KAU MENJADI TUAN DI SATU-SATUNYA KAMAR RYUICHI VENZO??"


"SEPERTI APA ISI KAMAR RYUICHI VENZO?? APAKAH MENARIK UNTUK DIJELAJAHI??"


"NEE NEE, APAKAH KAU RESMI MENJADI KELUARGA RYUICHI??"


Serius dah, ini terlalu berlebihan! Ini membuatku bingung, tahu?


Asami-san dengan sedikit tenaga, memecah keramaian itu dengan berdiri dan menggebrak meja.


"Tolong jangan ganggu Akira! Dia masih baru! Kalian bisa menanyainya setelah dia resmi menjadi murid disini, mengerti?!"


Dengan kalimat itu saja, semuanya langsung diam dan mengangguk setuju, lalu kembali ke tempat duduknya masing-masing. Sebenarnya wanita dengan aura menakutkan apa dia?


Tapi jika dilihat secara mata Venzo, dia benar-benar ideal. Pakaian formal khas pekerja kantor, dengan stocking yang dikenakannya, serta kacamata bingkai kotak dan rambut panjang yang dikuncir kuda...


Duh! Sepertinya Virus Venzo mulai menular padaku... Aku harus berhati-hati agar tak berlebihan, karena ilmu Venzo yang kuketahui masihlah belum cukup.


Berpikir apa aku ini? Sadarlah, Akira!


"Maafkan mereka... Kau tahu, setelah Insiden Hilangnya 4 Pahlawan Muda di Pantai Okinawa, nama Ryuichi Venzo seakan menjadi perbincangan besar, bahkan Kepala Sekolah Koike sampai menempatkan namanya sebagai salah satu Pahlawan dalam Sejarah Institusi Pendidikan Shibuya... Jadi, tolong maklumi kejadian barusan..."


Hah? Masuk dalam sejarah? Yang benar saja?!


Kembali ke topik pembicaraan! Aku pun ingin tahu apa yang dilakukan Ryuichi Venzo selama ini, sampai namanya sangatlah dikenang...


"Ano... Asami-san, bolehkah aku bertanya soal Venzo?"


"Um! Aku akan memberitahumu apa yang aku tahu!"