
...
Hari ini adalah hari dimana aku--Ryuichi Akira, harus membersihkan masalah yang dibuat oleh Ryuichi Venzo.
Yang kumaksud bukanlah soal masalah besar, 'sih. Hanya saja, ini menyangkut perasaan gadis, dan tidak seharusnya lelaki sejati yang menjunjung tinggi gadis beserta seluruh keindahannya seperti Venzo melakukan hal ini...
Mau bagaimana lagi? Jika Tuhan berkehendak...
Setidaknya aku sudah mengerti akan hal itu, bagaimana Tuhan telah mengatur segalanya tanpa sepengetahuan manusia...
Karena keluargaku yang dulu juga mengalami siklus peraturan tersebut...
Bersama Asami Midori-san, gadis berusia 19 tahun yang baru saja mengambil pendidikan lanjutan kuliah di jurusan Fisika Modern--melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal Kusakabe Naya.
Kusakabe Naya adalah gadis populer yang memiliki julukan Putri dengan Sentuhan Sihir karena jari lentiknya yang dapat memuaskan telinga bagi yang mendengarkan permainan pianonya. Ya, dia adalah pemain musik terkenal yang dimiliki oleh Institut Pendidikan Shibuya, bahkan seringkali tampil di televisi nasional. Dia juga alumnus dari Sekolah Menengah Atas Shibuya yang kini telah berubah menjadi Institut Pendidikan Shibuya, tiba-tiba saja menghilang dari panggung layar kaca setelah insiden Hilangnya 4 Pahlawan di Pantai Okinawa, dan setelah semuanya, aku yang benar-benar perlu membersihkan kekacauan ini.
Hari ini, setelah menyelesaikan segala dokumen yang kuperlukan, kami bergegas menuju kediaman keluarga Kusakabe yang berada di Prefektur Saitama, Tokyo. Memang sedikit lebih jauh, namun dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi. Kami mendapatkan fasilitas mobil pribadi dari Institut Pendidikan Shibuya untuk ini.
Lagi-lagi Institut besar berperan aktif dalam melayani anak didik maupun alumninya... Apakah donasi alumnusnya memang kelewat banyak?! Dari bangunan, fasilitas penunjang seperti kendaraan dan teknologi pendukung...
Asami-san menjelaskan kembali sembari menguncir rambutnya ke mode ekor kuda.
"Ini adalah warisan dari Kepala Sekolah pertama juga berkat bantuan dari para alumnusnya, hingga bisa berkembang seperti ini. Memang bukan keputusan mudah. Banyak pertentangan dari beberapa pihak karena dikhawatirkan akan dianggap sebagai penyelewengan dana anggaran... Namun keputusan Direktur sudah dipikirkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum Ryuichi Venzo menghilang..."
Tuh kan? Warisan dari Kepala Sekolah Pertama? Memang sudah berapa lama sekolah itu didirikan?
"Sekolah Menengah Atas Shibuya berdiri sejak tahun 1980. Jadi sudah ada sekitar 28 Generasi yang berhasil meluluskan sekitar 99% murid mereka dengan nilai hampir seluruhnya sempurna."
Duh! Telalu banyak! Bahkan melebihi kekayaan negaranya sendiri! Kenapa tidak sekalian bikin negara?
Pertanyaan itupun tertahan di tenggorokanku tatkala menangkap pemandangan sebuah taman dari kompleks mansion besar dengan nuansa taman hijau berhias bunga warna-warni.
Disana juga ikut berjejer beberapa mobil hitam yang entah milik siapa terparkir di depan jalan setapak menuju mansion milik Kusakabe Naya ini.
"Sepertinya Direktur Perusahaan yang pernah dihajar Venzo kembali ingin memaksa Naya untuk menikah dengannya..."
Yang benar? Ryuichi Venzo menghajar Direktur Perusahaan?
"Apa masalahnya?" tanyaku yang merasa tergelitik oleh hal yang tidak logis tersebut. Bagaimana tidak? Orang biasa menghajar orang ternama? Apakah itu tidak membahayakan? Bukannya sama saja dengan bunuh diri?
Sambil berjalan masuk menuju kawasan Mansion yang rupanya telah terbuka gerbangnya dan di depan pintu Mansion telah dijaga oleh beberapa pria berbadan besar formal dan berkacamata hitam, dia menjelaskan.
"Memang itu adalah hal yang paling ceroboh dilakukan oleh teman sekelasku, tapi hal itu dilakukannya semata untuk melindungi hak Naya yang masih ingin menikmati masa mudanya ketimbang menerima lamaran pernikahan karena usianya saat itu masih 18 tahun. Naya juga menceritakan kejadian itu pada Venzo sebelum hari lamaran itu tiba, dan membuat Venzo bertindak dengan berpura-pura menjadi kekasihnya. Pertemuan di salah satu Hotel Bintang Lima itu juga dihadiri oleh kedua orangtua Naya. Kedatangan Venzo disana yang mengaku sebagai kekasih Naya lantas membuat ayah serta calon tunangan Naya naik darah dan mencaci Venzo disana..."
Hal itu wajar menurutku, dimana ada saat ketika seseorang menjadi penghancur sebuah rencana, hasilnya adalah cacian dan makian yang didapatkan.
Namun Asami-san melanjutkan cerita tersebut sembari tersenyum.
"-tapi aku benar-benar terkejut dengan pernyataan Venzo setelahnya, dimana dia bersikukuh bahwa Naya sendirilah yang harus memilih apa yang dia inginkan dan dengan siapa dia ingin menjalin hubungan. Ketika ayah Naya memukul Naya atas emosi yang terlepas, Venzo langsung bertindak cepat dengan memukul keras wajah ayah Naya sambil memberikan nasehat padanya..."
"Hei, orang tua... Saya beritahu anda satu hal... Saya juga memiliki ayah... Tapi ayah saya tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk melakukan apa yang diinginkannya... Dan saya sejujurnya bangga memiliki ayah seperti itu, meskipun dia keras dan tegas... Lalu, apa yang perlu dibanggakan dari anda!? Yang bisa memukul anak gadisnya karena keinginannya tidak terpenuhi!?"
Sebenarnya manusia dengan kapasitas otak sebesar apa Venzo ini? Nampaknya dia tak pernah kehabisan akal akan penanggulangan resiko berlebih atas tindakannya. Bahkan seluruh tindakannya memiliki antisipasi yang tak terpikirkan-- Tidak! Tindakannya saja tidak terpikirkan oleh orang seusianya, dimana dia mendahulukan hak orang lain ketimbang keselamatannya sendiri.
...
Bersamaan dengan pikiran-pikiran tersebut, beberapa pria besar mulai menganggap kami seperti ancaman, mendatangi kami dengan intensitas permusuhan. Aku harus bersiap, sementara Asami-san memasang kuda-kuda bertahan dan selesai-- merobek roknya?! Hey! Paha putih bersih dan mulus itu menganggu konsentrasiku, tahu!
"Akira-kun, kau telah melewati banyak waktu berada dibawah naungan Keluarga Ryuichi, 'bukan? Pastinya kau mendapatkan ilmu pertarungan dari Kepala Keluarga Ryuichi."
Soal itu, kau tak perlu meragukannya lagi, Asami-san! Semenjak melihat sosok kuat tersebut pertama kali berlatih di halaman rumah, aku tertarik untuk mempelajari Karate dan meminta langsung padanya, dan yang tak terduga, beliau dengan mudah menerimaku sebagai muridnya. Beberapa gerakan dasar hingga serangan balasan yang cukup rumit diajarkan padaku. Yang pasti, tubuhku merasakan langsung dampak serangannya, agar aku dapat mengukur serangan tepat untuk setiap ukuran tubuh lawan.
Tapi, Asami-san nampak tersenyum kecil, lalu melesat cepat bagai kilat diantara beberapa pria yang menghampiri kami.
"Kalau begitu, coba imbangi kecepatanku!"
FLASH! FLASH!
Saat dia sampai dibelakang salah satu dari sekitar 10 pria yang menghampiri, seperti sebuah kekuatan super terbangun darinya, lengan ramping tersebut menangkap lingkar pinggul pria tersebut, lalu membaliknya dan menghantamkannya pada lantai tepat di kepala-- ******! Dia benar-benar menguasai Suplex! Wanita seperti apa dia, yang lemah ketika di kerumunan, tapi sesaat menjadi monster tukang banting saat memasuki arena perkelahian?! Bahkan aku tidak pernah membayangkan Asami-san menjadi seperti ini!
Seakan staminanya dibuat dari keabadian, dia membanting satu-persatu pria hingga 7 pria telah terkapar dalam waktu 1 menit saja. Aku hanya dibuat melongo disana, ketika 3 pria tersisa di depan Mansion waspada akan serangan Suplex milik Asami-san.
"Jadi serangan German Suplex, huh? Menyeramkan, tapi kami sudah melihat gerakanmu, nona."
"Benar sekali, saat kau berada dibelakang kami setelah ini, kami akan pastikan kau tidak akan melihat matahari terbit lagi."
Hardikan dua dari 3 pria langsung memecah kekosonganku, dan dengan tanda dari Asami-san, aku melesatkan tubuhku kearah 3 pria tersebut sembari membalas mereka.
"Jangan abaikan aku, pria-pria besar!"
Dengan latihan yang kuterima dari Ryuichi Iruka, tubuhku telah membaca kuda-kuda mereka dan serangan yang tepat untuk mereka. Ketiga pria tersebut memasang lengan menyilang di depan dada mereka bersiap menerima hantaman tendanganku.
Namun aku tidak mengincar dada mereka, melainkan melompat setinggi-tingginya sembari memutar tubuh untuk menghasilkan tendangan mata kaki setinggi kepala. Alhasil, hentakan dari tendanganku mengenai salah satu pria yang berada disamping kiri dan menghantam kepala dua pria disampingnya kemudian.
Heh, bahkan aku telah mempersiapkan ini sebelumnya, dimana aku melatih kekuatan kakiku dengan 3 sandbag sekaligus, dan aku memaksakan diriku untuk menendangnya hingga kakiku harus mengalami pembengkakan selama 1 minggu!
"""UOGGHH!!"""
Akhirnya ketiga pria tersebut tumbang tanpa kesadaran tersisa. Asami-san terlihat kagum dengan ini.
"Ternyata kau lebih kuat dari dugaanku, Akira-kun! Bolehkah aku menyentuh kakimu sebentar saja?"
Ha? Untuk apa kau mau menyentuh kakiku? Kakiku baik-baik saja, karena aku sudah terlatih!
"B-Baiklah..."
Duh, kenapa tiba-tiba ini membuatku canggung? Apa karena Asami-san itu perempuan?
Aku mengangkat salah satu kakiku untuk diperiksa setelahnya. Asami-san tertegun sembari menggumam pelan.
'Tekanan ototnya besar sekali... Tunggu, ini seperti lapisan otot baru yang menggantikan pecahnya otot lama, tapi mengapa bisa sekeras dan setebal ini? Apakah dia memaksakan kakinya?'
Semakin keatas, terasa pengecekan ini semakin aneh. Aku berdehem untuk memecah fokusnya, kalau tidak, itu bisa merambah ke hal seksual.
"Ehem!"
Asami-san yang terkejut langsung teringat akan tujuannya.
"Ah, maaf! Aku sampai lupa! Kita harus bergegas melihat keadaan Naya!"
Melihat sekitar tidak ada lagi gangguan, kami bergegas masuk kedalam Mansion, meninggalkan 10 pria berjas hitam yang pingsan.
Ketika sampai didalam, Asami-san memimpin jalan dan mengarahkan kami langsung menuju kamar Naya. Kami sudah menebak saat pintu tersebut tertutup dan terkunci. Namun sebelum Asami-san mencoba memutar knopnya maupun mengetuk pintunya, aku menghentikannya sembari berbisik.
'Jangan dibuka dulu, Asami-san.'
'Kenapa?'
'Aku punya rencana.'
Setelah memberitahukan rencanaku dan Asami-san menyetujuinya, aku mencoba menguping pembicaraan didalam dengan menempelkan daun telingaku ke pintu, diikuti oleh Asami-san selanjutnya.
...
Pembicaraan yang terdengar di dalam kamar antara seorang pria dengan Naya, sedang berada di tengah permasalahan.
"Jadi, kau bersikukuh menolak lamaranku, ketika Ayah dan Ibumu setuju dengan itu beberapa waktu lalu?"
Setelah jeda sebentar, Naya menjawab dengan nada kesal.
"Dia lebih mengerti diriku daripada kau yang hanya ingin mengincar popularitasku! Sama sekali dia tidak peduli meskipun aku adalah seorang yang selalu tampil di depan umum, dia mengerti bahwa aku adalah Kusakabe Naya, bukan Putri Sentuhan Sihir!"
Namun si pria tidak menyerah sedikitpun, dia tetap memaksa Naya untuk menerima pendapatnya.
"Oh? Lalu bagaimana dengan kematiannya? Apakah kau masih tetap akan menunggunya, meskipun dia tidak akan kembali?"
Naya tak menjawab akan itu, membuat si pria mulai bertindak dari kata-katanya.
"Baiklah. Lagipula yang kubutuhkan saat ini hanyalah tubuh indahmu. Mumpung tidak ada yang mengganggu, kita mulai saja, Ritual Darah Keperawanan..."
Ritual Darah Keperawanan...
Nampak Asami-san digerakkan oleh amarahnya mendengarkan hal itu. Dengan penuh kesabaran, aku harus menjalankan rencana ini. Aku menahan Asami-san agar tidak merusak rencana kami.
'Sebentar lagi...'
Ya, karena aku memiliki dendam atas hal seperti itu, aku harus memberikan eksekusi yang tepat.
Eksekusi kejutan untuknya.
"Tidak... Apa yang akan kau lakukan?"
Suara Naya yang bergetar diiringi penjelasan balasan dari si pria yang disebut sebagai Direktur Perusahaan ini.
"Apalagi, selain menikmati tubuhmu disini? Orangtuamu tidak akan tahu karena mereka sedang bekerja, bukan?"
Terdengar suara tubuh yang dilempar ke ranjang dan resleting yang dibuka menambah suasana tegang disana. Baiklah, beberapa saat lagi, akan kami akhiri semua ini.
"Tidak... Jangan..."
Naya terdengar semakin tertekan dan ketakutan, tatkala langkah demi langkah yang diambil si pria semakin dekat padanya.
"Aku akan melakukannya--"
Sebelum hal itu berlanjut, aku mengetuk pintu dengan keras sembari berseru dengan suara asing seorang pengantar barang.
"PERMISI! PESANAN BARANG UNTUK KUSAKABE NAYA!"
Sontak Asami-san menahan tawanya mendengarkan aksi pertamaku ini. Si pria terheran, suaranya bisa terdengar.
"Huh? Padahal aku sudah menugaskan 10 penjaga untuk menngamankan halaman rumah dari pengganggu..."
Karena tidak ada respon berarti, aku mengulangnya kembali.
"PERMISI! APAKAH ADA ORANG DISINI?"
Sebelum Naya berteriak bermaksud untuk meminta tolong, mulutnya dibekap oleh si pria sembari mengancam keras.
"TO--MMMPPFFFFHHH!!"
"Jika dia mendengar ini menjadi sebuah ancaman, maka aku akan menghabisi hidupmu saat ini juga. Karena bisikan di kepalaku memberitahukan bahwa kau sudah tidak perawan. Ritual Pengorbanan Darah juga tidak masalah untukku."
Istilah itu...
Sama dengan istilah yang digunakan ketika keluargaku dibunuh...
Mereka yang mempercayai kekuatan dari Sang Iblis Merah, yang bermandikan darah...
Satan!!
Brengsek! Maka aku tidak perlu segan untuk ini, meskipun dia adalah seorang Direktur Perusahaan, yang kuperlukan adalah memukulnya sampai tak sadarkan diri!!
Gemeretak gigiku yang menahan amarah terdengar oleh Asami-san, memberikan sedikit ketakutan padanya.
"Baiklah, biar aku yang selesaikan ini, kau tetap diam dan tunggu disini." ucap si pria sembari mendekat kearah pintu, sebelum membuka dia bertanya padaku.
"Wahai pengirim barang, aku adalah kekasih Kusakabe Naya. Dia sedang pergi, jadi bisakah aku sebagai perwakilan menerima barangnya? Jika bisa, tolong letakkan saja didepan pintu. Terimakasih."
Tidak kehabisan akal, aku membalas.
"MOHON MAAF. TAPI SAYA MEMBUTUHKAN TANDATANGAN UNTUK BUKTI BAHWA BARANG TELAH TERKIRIM. SAYA TIDAK INGIN PERUSAHAAN MEMECAT SAYA KARENA HAL SEPELE."
Dia kembali beralasan, dan sekarang dia ingin menyogokku.
"Ayolah. Berapa tips yang kau butuhkan? Seribu Yen? Sepuluh Ribu Yen? Atau Seratus Ribu Yen? Aku akan memberikan cek asli jika kau menerima kesepakatanku ini."
Sepertinya kau benar-benar ********, ya? Kau kira aku akan tertipu dengan itu?
"MOHON MAAF SEKALI LAGI, SAYA HANYA MENGIKUTI PROSEDUR YANG DIJALANKAN PERUSAHAAN!"
Merasa sedikit kesal, dia kembali menanyakan sesuatu, kali ini dia menanyakan siapa bos perusahaan(bualan)ku.
"ARRRGGHH!! SIAPA PIMPINAN PERUSAHAANMU? BIARKAN AKU BICARA DENGANNYA SEKARANG!!"
Mentang-mentang kau ini Direktur Perusahaan ternama, tidak kubiarkan kau bertindak seenaknya!
"MOHON MAAF SEKALI LAGI, SAYA HANYA MENJALANKAN TUGAS!"
Dia terdengar menghela nafas sembari membalas pernyataanku dengan menerima syarat yang harus diikuti dalam bisnis.
"BAIKLAH, BAIKLAH, TUNGGU SEBENTAR! Merepotkan sekali..."
Beberapa saat setelahnya, langkah kaki mendekat ke pintu. Aku segera memasang kuda-kuda menyerang, yaitu mempersiapkan kepalan tangan didekat kepalaku sembari menarik nafas panjang.
Knop pintu berputar, dan pintu mulai terbuka. Sesaat setelah si pria memperlihatkan dirinya, aku berseru kemudian.
"Surprise, Motherfucker!"
Kepalan tanganku yang sedari tadi menahan otot-otot tubuh untuk bergerak cepat memberikan momentum, kini terlepas setelahnya menuju wajah si pria. Hantaman keras pukulanku mengenai rahangnya, mengakibatkan benturan yang cukup untuk membuatnya terlempar dari pintu.
"Naya!"
Asami-san langsung menerobos masuk setelah si pria yang mencoba memperkosa Naya terlempar dari pintu dan memeluk Naya yang bajunya hampir lepas sepenuhnya, memperlihatkan tubuhnya yang cukup berisi-- Sial! Aku harus fokus ke pria ******** terlebih dulu!
Si pria mencoba bangkit dengan cepat, namun tubuhku bereaksi lebih cepat darinya lalu mengunci pergerakannya terlebih dulu.
"Brengsek! Siapa kau?!" Cercanya padaku. Aku membalasnya dengan kekesalan sembari memukul kepalanya.
"Aku Ryuichi Akira, yang akan membersihkan masalah yang dibuat oleh Venzo! Dan jaga ucapanmu pada orang lain, ********!"
Dia kembali mengaduh dengan keadaannya sekarang, sementara Asami-san menenangkan Naya sekaligus menjawab pertanyaan Naya, yaitu tentangku.
"Ryuichi Akira?"
"Itu benar. Dia adalah pengganti Venzo."
"Tapi Venzo-kun..."
"Aku tahu itu, Naya. Tapi sudah saatnya kau melupakannya serta menjalani kehidupan barumu. Aku takin Venzo juga tidak akan senang melihatmu seprti ini terus, dan akan melakukan hal yang sama seperti kami jika mendapatimu jadi begini."
Nampak Naya terdiam, menelan bulat-bulat apa yang Asami-san katakan. Sebagai teman dekat Kusakabe Naya, Asami-san melakukan hal yang tepat. Aku merasa lega karena masalah sudah teratasi.
Namun kelegaan itu menjadi sebuah kepanikan tatkala aku lengah dan membiarkan si Direktur ******** lepas dari kuncianku sembari menjaga jarak dan mengacungkan sesuatu... Sebuah pistol!
"Hahaha! Kau lengah, bocah! Kau kira aku tidak mempersiapkan sebuah cara terakhir?!"
Jarak yang diambil nampaknya tidak terlalu jauh dari jangkauan kakiku, dan dia tak menyadarinya. Aku hanya berpura-pura menyerah dengan mengangkat tanganku tinggi-tinggi, memberikan kode pada Asami-san untuk mengikuti rencana kedua. Awalnya Asami-san dan naya tidak mengerti dan hanya mengikutiku.
"Baiklah, aku akan mulai membalas apa yang kau lakukan pada hidungku, bocah sialan!"
Ketika si ******** akan melayangkan tendangan lututnya padaku, disitulah celah terlihat jelas.
Topangan kakinya hanya satu, tidak akan kuat menahan sedikit hantaman tendangan bertenaga sedang. Dengan cepat, aku memanfaatkan momen tersebut untuk mengejutkannya.
"Celah!" seruku melayangkan sapuan bawah dengan kakiku, dia terkejut namun tak bisa mengelak dengan tumpuan satu kakinya, dan kaki lain sudah terangkat.
"Sial!"
Keseimbangannya terganggu, dan akhirnya dia terjatuh. Aku langsung menempatkan kakiku keatas untuk menggapai lengan yang bersenjata. Kutendang sekeras-kerasnya agar terlempar jauh dari jangkauannya.
Mencoba menggapai pistol yang melayang diatas langit, aku menangkap lehernya dengan kaki gunting, tepat sebelum jarinya sampai pada pegangan pistol itu.
"Aggghhh!!"
Selesai sudah, aku memutar kakiku untuk membanting tubuhnya. Pria tersebut tak sadarkan diri setelahnya. Padahal aku hanya berencana memukulnya.
Ah sudahlah, asalkan tersangka satu ini hilang kesadaran, masalah pun beres.
Asami-san kembali terkejut, namun tersenyum puas, diiringi kelegaan Naya disana.