World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 07 - Serangan Salah Sasaran



Aku, Ryuichi Venzo, ikut mengantar Engetsu Kazura alias si Otak Berotot, Yamaguchi Izano alias si Murid Pecinta Kaki Perempuan jenis berbalut ataupun tidak, dan juga Kyuasagi Rinjou alias Maniac Of Techno-Loli, menuju ke Ruang Kepala Sekolah untuk mengumpulkan berkas pendaftaran sebagai siswa baru di SMA Shibuya yang sekarang menjadi sekolahku. Oiya, aku ditempatkan di kelas 3-A. Sebenarnya semua kelas itu sama saja, karena sistem penempatannya diberikan secara acak tanpa memandang nilai akademik maupun non-akademik. Seperti contoh sederhana, aku yang memiliki hobi mengkoleksi doujinshi dan membacanya, juga menulis cerita fiksi, ditempatkan di kelas 3-A. Kali ini aku juga merambah ke Novel dengan genre Harem, dimana si karakter utama pria ini, mendapati kenyataannya yang hidup kembali namun memiliki tugas berat dalam hidup normalnya.


Okay, kembali ke cerita utama!


Dengan ayunan pergelangan tangan normal, kuketuk pintu Ruang Kepala Sekolah. Sedangkan Kazura, Izano, dan Rinjou mencoba mempersiapkan diri dalam wawancara singkat dan khusus ini agar tidak terlalu gugup.


Dilihat dari pintu Ruang Kepala Sekolah yang cukup mewah, dengan ukiran kayu tebal dan kuat berwarna silver, dapat dipastikan jika ini memang salah satu SMA bergengsi, meskipun cara penerimaan siswanya yang terbilang unik juga sedikit aneh.


"Silahkan masuk."


Suara yang dalam dan sedikit memiliki kesan santai itu menyambut kami, mempersilahkan kami memasuki Ruangan yang dikhususkan untuk pimpinan sekolah.


Tangannya nampak tidak sabar untuk menerima berkas ketiga temanku yang memutuskan mendaftar di SMA Shibuya ini.


Aku membawakan berkas tersebut ke meja sang Kepala Sekolah, Ryuuji Koike. Dengan wajah yang memperlihatkan rasa penasaran, dia mulai mengamati berkas tersebut satu-persatu, lalu mulai berbicara dengan tenang.


"Jadi, kalian tinggal satu kontrakan?"


Kami mengangguk bersamaan, memastikan kami mengatakan kebenaran yang ada, karena SMA Shibuya tidak membutuhkan pendaftar yang terbiasa berbohong.


"Meninggalkan tanah kelahiran? Kalian pemuda yang menarik..."


Suara pintu yang diketuk terdengar, Sang Kepala Sekolah mengijinkan seseorang yang mengetuk pintu untuk segera masuk.


Muncul sosok wanita bertubuh tinggi dan berkacamata, dengan pakaian ala sekretaris, di dadanya terdapat Plat Nama tertempel dengan tulisan 'Mizuhara Rika' sedang membawa nampan berisi minuman hangat. Jika tercium dari aroma yang keluar dari 4 gelas tersebut, bisa dipastikan isinya teh.


Perlahan, gelas-gelas tersebut diletakkan di meja, tepat di depan kami. Respon pertama yang kami lakukan adalah, memandang 2 objek berbeda di satu arah visual. Jika kalian belum tahu, saat sang sekretaris wanita berumur sekitar 30 tahun keatas itu sedang meletakkan gelas berisi teh sambil sedikit membungkukkan badannya, kemeja putih yang terbalut jas hitam itu menampakkan celah pada 3 buah kancing paling atas yang tidak terpasang. Aku, Kazura, Izano, dan Rinjou menyadarinya sedari awal wanita itu datang, tapi bertingkah seolah tidak ada yang spesial.


"Silahkan diminum..." ucapnya datar lalu meninggalkan ruangan begitu saja.


Sebentar kemudian, Kepala Sekolah berdehem, memecah delusi kami bertiga, kecuali Rinjou yang tak tertarik dengan hal yang baru saja dilihatnya.


"Aku sudah membaca berkas milik kalian bertiga, dimana berkas kalian sama menariknya dengan berkas milik Ryuichi Venzo. Jadi, aku memutuskan untuk menerima kalian sebagai siswa di sekolah ini. Aturannya sangat sederhana. Jadilah diri kalian sendiri."


Kazura, Izano, dan Rinjou memasang wajah lega mendengarnya, begitupun aku. Dengan ini, mereka juga resmi diterima SMA Shibuya.


Secara bersamaan, mereka bertiga berseru pada Kepala Sekolah sambil membungkukkan badan mereka sebagai penghormatan.


"Terimakasih, Koike-kouchou!"


"Baiklah, sekarang, saatnya kalian melakukan upacara penerimaan siswa pindahan di kelas kalian..."


Kami berpamitan pada Koike-kouchou lalu bergegas menuju kelas 3-A, kelas yang direkomendasikan dalam berkas.


Di perjalanan menuju kelas 3-A, kami melintasi koridor lantai 3, dimana ruangan kelas 3 ditempatkan. Kazura bertanya padaku soal wawancara dengan Kepala Sekolah tersebut.


"Memangnya Koike-kouchou melakukan wawancara sesederhana itu?"


Menjawab sentuhan tangannya pada bahuku, aku memberikan penjelasan singkat.


"Awalnya aku sendiri terkejut dan penasaran, sama sepertimu..."


Izano menyimak dengan tenang, sementara Rinjou masih belum merasa bosan dengan Smartphonenya.


"Saat aku bertanya pada yang lain, sistem wawancaranya dari awal sekolah ini berdiri tidak berubah. Dan tidak ada masalah serius yang dialami sekolah ini. Dari Naya masuk, lalu menjadi Pianis Nomor 1 di Tokyo, lalu beberapa prestasi yang ditorehkan siswa-siswi lainnya, sudah membuktikan bahwa sistem wawancara beserta aturannya perlu dipertahankan, bukan?"


Kazura mengangguk setuju, mengingat bahwa dirinya juga salah satu Pengguna Seni Beladiri Karate. Izano bertanya soal hal lain pada Venzo.


"Tapi, tidak ada masalah dengan siswa yang hanya memiliki kemampuan akademis kan?"


"Tidak ada masalah. Selama kau mau menjadi dirimu sendiri, kau ingat apa yang disampaikan Koike-kouchou kan?"


Rinjou tiba-tiba saja mengeluh dengan nafas berat sembari berkata.


"Enaknya, Ero-sensei di awal ceritanya sudah mendapatkan kenalan teman yang terkenal di Tokyo, seorang gadis cantik pula... Resiko pemuda ganteng..."


Sedikit kesal karena disamakan seperti pemuda yang memiliki keberuntungan setara Dewa, aku membalas keluhan Rinjou.


"Memangnya aku tidak berusaha?"


Kazura memberikan opini tentang itu.


"Tapi percuma saja menjadi ganteng kalau fakta mengatakan bahwa tubuhmu itu lemah soal berkelahi..."


Aku juga menyadari itu, sialan! Kenapa kau perjelas lagi!?


"Baiklah, pengguna seni beladiri. Apa saranmu?"


"Mungkin hanya beberapa teknik melumpuhkan dan serangan balasan cukup untukmu..."


Heh, kenapa kau tidak menyarankannya dari awal? Dengan begini ketampananku tidak akan sia-sia kan?


Kami pun sampai di depan ruang kelas yang berada disebelah tangga arah ke lantai dua dan arah ke atap. Kantin sekolah ada di sebelah kelas 3-E, dimana tempatnya mencakup hampir 3 kali lipat luas sebuah kelas.


Saat langkah kaki kami sudah mencapai muka pintu kelas 3-A, suasana senyap terasa. Kemungkinan masih jam pelajaran. Ketukan pintu kami berikan untuk memberikan sinyal pada guru kelas yang sedang mengajar.


Perlahan aku menggeser pintu kelas, lalu mulai masuk dengan tenang.


Sang guru yang sempat berdiri di dekat bangku paling belakang, kembali ke tempatnya dan mulai menyampaikan sesuatu, disamping ketiga temanku ini memperkenalkan diri mereka di depan kelas.


...


Selesai terlewat beberapa jam, akhirnya jam istirahat tiba. Beberapa dari siswa maupun siswi keluar dari kelas untuk sekedar mengisi tenaga mereka dengan makan siang. Ada yang makan siang di luar gedung sekolah, ada juga yang masih berada di kelas, mungkin sambil mengerjakan tugas yang belum selesai.


Kami memutuskan untuk membeli makanan ringan di kafetaria yang berada di ujung lorong lantai 3.


Cukup ramai kafetaria pada saat jam istirahat, kemungkinan banyak siswa dan siswi yang tidak membawa bekal.


Antrian memanjang sudah tercipta di depan lingkup kafetaria. Kami cukup menunggu sembari berkutat dengan kegiatan masing-masing.


Tiba-tiba saja...


"Oi, minggir! Aku sudah lapar!"


Desakan sosok siswa bertubuh besar membuat barisan antrian menjadi berantakan, bahkan menghilang begitu saja. Dia berbuat ulah lagi...


Dia yang kubicarakan adalah Ryuuji Kojiro, anak dari Kepala Sekolah yang pernah menggeledah tasku di luar sekolah bersama komplotannya. Berbeda jauh dari sikap ayahnya yang lebih tenang.


Tangan besarnya mendorong beberapa siswa-siswi yang berbaris rapi di depan laci kafetaria. Sebenarnya ibu penjaga kafetaria ingin melakukan protes. Tapi apa daya, Kojiro adalah anak Kepala Sekolah, jadi sosok yang didatangi itu diam saja, dengan satu siswi yang masih ada disana.


Pemuda dengan tinggi hampir 2 meter itu menepuk bahu siswi yang ada di antrian paling depan sembari memberikan nada menakuti.


"Hey, anak manis... Minggirlah, aku mau pesan, daripada aku menggunakan kekerasan..."


Namun siswi tersebut tak kunjung minggir. Jelas Kojiro sedikit kesal karena bahkan ucapannya tidak digubris. Tangan besarnya mulai diangkat, bersiap memberikan dorongan keras pada siswi tersebut. Dan tidak ada yang berani maju? Memangnya anak Kepala Sekolah berpengaruh?


Tanpa pikir panjang, langkah kakiku menerjang kearah kerumunan yang hanya bisa melihat saja, menembusnya, lalu mencegah peristiwa itu sebelum orang lain menahanku.


Mengetahui bahwa aku yang muncul, sontak Kojiro dan kelompoknya tertawa.


"Huahahaha! Kau lagi, bocah kurus!? Kau ingin meminta maaf soal hidungku ini, hah!?"


Ya, hidungnya masih ditutupi perban, bukti bahwa pukulanku dengan tepat menghantam keras dan sepertinya menimbulkan luka dalam. Sedangkan Kazura, Izano, dan Rinjou yang mendapatiku masuk ke dalam api, menghela nafasnya pelan sambil mengeluh entah apa yang mereka keluhkan tentangku, tapi aku dapat memastikan seperti ini,"Dasar Ero, jika itu urusannya soal gadis, dia selalu jadi yang tercepat masuk ke dalam masalah dan menambah masalah baru...", "Maklumi saja, Senpai... Toh kita ada disini juga karena dia kan?", "Dan aku kalah lagi dalam urusan merasakan kehadiran gadis loli..."


Setidaknya aku menemukan apa yang aku lihat...


GRIP!


Sebuah pegangan di kerah seragamku serta jegalan kaki yang cepat diberikan gadis tersebut, jelas salah sasaran. Serangan bantingan yang dilakukan tiba-tiba ini mengakibatkan tubuhku berputar dan jatuh dengan muka menghadap langit-langit gedung sekolah.


Gadis itu terkejut saat mendapatiku yang dibantingnya, lalu memasang wajah panik sembari meminta maaf berulang kali. Yang kulakukan hanya tersenyum pahit dan membalas dengan nada berat.


"M-Maafkan aku, senpai!"


"Yah, tidak masalah buatku... Aku terlalu cepat masuk ke dalam masalah..."


Apa daya, tubuhku yang dibanting membuat Kojiro dan kelompoknya kembali tertawa terbahak-bahak.


"Bahahahahah! Pahlawan macam apa kau ini? Pahlawan Kesialan? Terimakasih untuk itu, bodoh! Aku tidak berselera untuk makan siang. Dah!"


Begitu dia mengatakan sesuatu yang menjengkelkan ketika aku masih terkapar, dia pergi meninggalkan kafetaria bersama kelompoknya. Yah, setidaknya masalah selesai, tidak ada keributan lagi.


Tangan gadis itu yang masih memegang kerahku dilepasnya, lalu menarik tanganku agar aku bisa bangun dari lantai.


Ketiga orang yang sedari tadi bersamaku kini terbengong dengan kejadian barusan. Mungkin mereka berpikir, sebodoh apa aku ini, yang membuat lawakan tidak lucu di kafetaria. Sejujurnya, itupun tidak sengaja. Aku tidak tahu jika gadis ini cekatan dalam hal beladiri.


"Ah, apakah senpai murid pindahan beberapa hari yang lalu? Aku Hanazawa Hana, dari kelas 2-A."


Jadi, dia mengetahuinya? Setidaknya aku juga perlu memberitahukan namaku kan?


"Aku Ryuichi Venzo, salam kenal."


Tepat tangan kami masih berjabat, beberapa siswa-siswi yang tadi mengerumuni lokasi masalah, kini kembali berbaris untuk mengantri.


"Ah, aku lupa membeli sesuatu..."


Dia mengatakan itu dengan nada sedikit menyesal, namun aku melihat ibu kantin melambaikan tangan padaku sambil mengulurkan dua bungkus roti yakisoba dan tersenyum.


Setelah menerimanya secara cuma-cuma serta mendengarkan alasannya memberikan roti tersebut, aku kembali pada Hana sembari memberikan salah satu roti tersebut.


"Ini dari ibu penjaga kafetaria. Beliau berterimakasih karena sudah menyelesaikan keributan tadi."


Wajahnya bersyukur, lalu dia berterimakasih padaku untuk rotinya. Hey, hey! Aku hanya perantara saja kan?


"Ano, senpai... terimakasih..."


Dia meninggalkanku menuju tangga turun kearah lantai 2. Yah, tugas hari ini sudah selesai. Aku juga sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Jadi, aku tidak perlu mengantri lagi kan?


Kembali ke tiga idiot yang memasang wajah tak percaya, aku menampakkan senyum kemenangan.