
Ya, malam ini, aku--Ryuichi Venzo berkumpul di kamarku bersama Kazura, Izano dan Rinjou. Tepatnya di kamar kosong lantai 2, tepat di depan kamar Divisi Kedisiplinan, Mansion Asrama Akademi Tingkat Atas Experian. Mereka berkumpul dikamarku karena ingin membicarakan soal latihan 100 Tahun kemarin.
Kami memilih untuk duduk dibawah karena kami terbiasa duduk seperti preman meskipun kamar kami lengkap dengan seambreg interior yang nyaman dan memanjakan.
"Bagaimana?"
Kazura memulai dengan pertanyaannya soal 100 Tahun latihanku. Yah, itu cukup panjang untuk kuceritakan di malam ini, mungkin bisa sampai esok pagi.
Izano dan Rinjou meninggalkan kesibukan mereka sendiri hanya untuk mendengar perjalananku.
"Setelah kita berpisah di 739149 Tahun Bintang melalui Celestial Warp Zone, sebuah pesan masuk ke Imaginer Hologramku. Berisi surat perintah untuk melaksanakan misi Rank S dari Perdana Menteri Sanderio." jelasku sembari mengingat kejadian tersebut. Karena semua masih penasaran dengan cerita selanjutnya, aku melanjutkannya.
"Yang pertama, aku harus membiasakan diri dengan suasana di Sanderio, yang sebagian besar daerahnya berpasir. Memang ada wilayah lain yang memiliki medan geografis rerumputan dan juga perairan, tapi itu hanya sekitar 15% jika kulihat pada peta Sanderio yang tersedia di hologram."
Rinjou pun memberikan pertanyaan setelah mengamati Smartphonenya sebentar.
"Dari berita yang kudapat, kau gagal menyelesaikan misi Rank S tersebut."
"Bukan gagal. Itu berhasil kulakukan." jawabku santai. Kazura nampak tak percaya lalu melayangkan pertanyaan yang hampir sama.
"Tapi berita mengatakan kau gagal, bukan?"
Setelah menghela nafas panjang, aku memperjelas jawabanku.
"Misi itu digagalkan oleh Perdana Menterinya sendiri."
Mereka lantas terkejut dengan pernyataanku dan Izano bertanya.
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Objek misinya adalah membunuh Sandstorm Dragon, yang tidak lain dan tidak bukan adalah putri kandung Maghadam Nizmir."
"APA KAU BILANG???" teriak mereka bersamaan, aku pun dengan cepat menyuruh mereka diam.
"Ssssttt!! Ini tengah malam, bodoh! Bisakah kalian tidak berisik?"
Rinjou tetap merasakan ketidakpercayaan dan masih mempertanyakannya.
"Aneh sekali. Bahkan berita ini disampaikan oleh Pihak Kerajaan Sanderio."
Sambil mengibas-ngibaskan tanganku, aku kembali memperjelas dengan apa yang kualami kemarin.
"Dia itu Perdana Menterinya Sanderio, jadi dia bisa memanipulasi apapun bahkan media massa di Kawasan Kubah Selatan."
Ketiga pendengarku pun mengangguk tanda mereka mulai puas dan menerima kenyataannya.
"Tapi tetap saja aneh, mengapa dia sampai tega ingin membunuh darah dagingnya sendiri?" tanya Izano kemudian.
"Dia tidak ingin mengakui putrinya yang notabene adalah seorang Demi-Human."
Rinjou nampak teringat sesuatu dan tiba-tiba saja menanyaiku dengan nada sedikit naik.
"Tunggu! Putri?! Maksudmu, dia perempuan?!"
"Itu benar."
""Wooooww...""
Itulah yang kemudian keluar dari mulut Izano dan Rinjou.
"Apakah dia loli? Siapa namanya?" lanjut Rinjou.
"Dia Ramalia. Aku yang memberinya nama. Dia tidak bisa berbicara karena dia memilih untuk mengasingkan diri di Forbidden Sand Area, dimana disana adalah tempat para monster pasir Rank A tinggal. Kalau kau bertanya soal tubuhnya--awalnya dia berubah menjadi gadis loli. Namun dia tumbuh seiring aku mengajaknya untuk menyelesaikan misi Rank A disana."
Rinjou mendecak sedikit kesal karena itu dan bersuara lagi.
"Enaknya menjadi dirimu, baru mulai sudah mendapatkan gadis loli..."
Ya, gerutuan itu membuatku sedikit kesal dan menjawab kekesalannya.
"Dan itu juga yang membuatku menjadi tahanan dan hampir dipenggal Pihak Kerajaan, kau mengerti, otak loli?!"
"Apa kau melakukan hal yang tidak senonoh padanya, keparat?"
Pertanyaan Rinjou yang ingin mempertebal capku sebagai tersangka sukses memancing jitakan keras dariku ke kepalanya.
DUAGH!
"Untuk apa itu tadi, oi?!"
"Ceritaku belum selesai, bedebah." jawabku lalu melanjutkan.
"Saat aku kembali untuk mengkonfirmasi misiku, aku mengajak serta Ramalia karena dialah sasaran dari misi tersebut untuk mempertanyakan kembali misinya. Dan pertemuan Ramalia dengan Perdana Menteri membuatku ditahan di Penjara Bawah Tanah Kerajaan Sanderio. Dan Keesokan harinya kami diputuskan bersalah dan dieksekusi di Alun-Alun Kota Sanderio. Sebelum pisau pancung diturunkan, tiba-tiba saja Naga Legendaris muncul."
Kazura bertanya soal itu, diselingi dengan anggukan penasaran Izano dan Rinjou.
"Naga Legendaris? Naga apa memangnya?"
"Naga yang pernah terdengar di dalam Kitab. Bahamut."
"""APA???!!!"""
"Ssssttt!! Sudah kubilang, tenang!"
Seruan kedua dari tiga pengunjung kamarku ini lantas menghasilkan panggilan masuk ke Hologramku dengan tampilan yang sudah tidak asing. Siapa lagi kalau bukan Wakil Ketua dari Divisi Kedisiplinan, Kurobara Haruka?
Terpaksa aku menjawab dengan muka tertawa pasrah.
"Ahaha... Selamat malam, senpai..."
"Maafkan aku, mereka tidak bisa menahan suara mereka."
[Lalu suruh mereka untuk diam.]
"Baik, baik."
Lantas dia mengakhiri pembicaraan kami--lebih tepatnya peringatan untukku.
Kembali berkumpul setelah menerima panggilan di pojok kamarku, aku melanjutkannya.
"Yang datang bukan hanya Bahamut saja, sih. Tapi juga kontraktornya, seorang gadis loli dari Legendary Arcane, Alice Fritzy."
Itu membuat Rinjou kembali frustasi dan memuntahkan kekesalannya.
"Kenapa kau lagi yang dapat gadis loli, sialaaaaan??!!"
"Ya mana aku tahu, dasar lolicon akut!" jawabku meledeknya.
Kazura bercerita dengan topik baru.
"Legendary Arcane rupanya benar-benar memburu kita, ya? Aku juga sempat bertemu dengan dua orang dari mereka saat melakukan latihan di Blaze Island."
Itu membuat rasa penasaranku sedikit gatal dan membuatnya bercerita lebih dalam dengan pertanyaanku.
"Siapa memangnya?"
"Entahlah, mereka gadis dan pemuda yang kembar identik, salah satu membawa tombak hitam, satu lagi membawa sebuah panah, dengan jubah bergambar bunga teratai di punggung."
Izano ikut menambahi dengan ceritanya sendiri.
"Aku juga, senpai! Malah yang kutemui dua Onee-san! Mereka benar-benar hebat!"
Dan, nampaknya Rinjou menyampaikan kejadian yang dialaminya dengan keirian yang pasti.
"Sialan kalian semua! Aku malah bertemu orang yang berlagak seperti kera juga pria bercakar seperti harimau!!"
Bisa disimpulkan dari situ, bahwa anggota Legendary Arcane memang terbentuk dari beragam orang dari belahan planet. Baik pemuda maupun gadis, bahkan yang kutemui lebih berbahaya. Yang benar saja, seorang gadis kecil menunggangi naga Legendaris? Apakah itu wajar?!
"Dan bagaimana perkembanganmu?" Kazura bertanya padaku. Aku berseloroh akan pertanyaan itu.
"Lumayan,'sih... Bagaimana denganmu?"
"Cukup menyakitkan, 'kau tahu? Membuatku harus berendam 50 Tahun di Kawah Gunung Versatio, Gunung paling tinggi dan aktif di Kepulauan Stigmatic Flare."
"KAU SERIUS??!!"
Kami bertiga terkejut karenanya.
"Nyatanya disana juga menggunakan sistem imajinasi, jadi kurang lebih rasanya seperti spa. Ditambah lagi aku mendapatkan sebuah mimpi disana."
Dia terdiam diakhir kalimatnya dengan ekspresi yang menunjukkan kekhawatiran.
"Mimpi apa yang kau maksud?" tanyaku penuh penasaran. Dia menggelengkan kepala untuk sekedar membuang pemikirannya itu lalu membalas.
"Tidak perlu dipikirkan, nanti kau juga akan tahu..."
Lantas, Izano dan Rinjou juga belum menceritakan masa latihannya.
"Oh iya, bagaimana dengan dua orang yang tersisa?"
Kazura pun menyadari pernyataanku dan menatap penuh pertanyaan kearah dua orang yang dimaksud. Izano pun mencoba menjelaskan miliknya karena Rinjou terlihat menolak untuk bercerita terlebih dulu.
"Aku ditempatkan di sebuah kompleks kuil kuno di Pegunungan Anemõs, wilayah pusat Kawasan Kubah Timur Windzyklus. Banyak makhluk penghuni yang memang diperuntukkan sebagaimana layaknya misi untuk mengasah kemampuan pertarunganku."
"Hmmm... Lalu, dua Onee-san itu bagaimana?" tanya Rinjou. Kau memang mengerti apa yang ingin kudengar, kampret!
Yang itu... Sekitar 67 Tahun setelah kita ditugaskan untuk berlatih, di Kota Vernathrea... Aku bertemu mereka, dua wanita berjubah yang kebetulan sedang pergi ke kota..."
"Mereka tidak ditangkap Pasukan Keamanan?!"
Itulah yang menjadi pertanyaan Kazura, karena jelas-jelas Legendary Arcane adalah kaki tangan Hiroshi.
"Jangankan Pasukan Keamanan, Petualang Kelas A disana saja ditumbangkan sekali pukul oleh salah satu Onee-san dengan dua lengan yang berbentuk seperti menara kuno!" lanjutnya dengan ekspresi takut. Kazura mengangguk mengerti.
"Memang, 'sih. Pasukan Keamanan paling tinggi hanya sampai di Rank Single-A."
Yang dimaksud Kazura adalah tingkatan dari Rank tersebut. Aku akan membantu menjelaskan, berhubung ini termasuk dalam Materi Pembelajaran di Akademi Experian.
Rank Imaginer memiliki 5 tingkatan-- dari Rank D sampai Rank S. Nah, mereka masih memiliki tingkatan lagi di dalamnya kecuali Rank D yang hanya memiliki 1 tingkatan yaitu Single-D. C memiliki dua tingkatan yaitu Single-C dan Double C. B memiliki tiga tingkatan yaitu Single-B, Double B, Triple-B. A memiliki 4 tingkatan yaitu Single-A, Double-A, Triple-A serta Quad-A. Dan Rank S sendiri memiliki 5 tingkatan dari Single-S sampai Penta-S. Diantara tingkatan ini nantinya akan membentuk sebuah garis yang menyambungkan Rank tersebut kecuali Rank D. Entah siapa saja yang memiliki Rank Penta-S ini, tapi memungkinkan juga anggota Legendary Arcane memilikinya karena aku sendiri sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri sekuat apa mereka.
Rinjou kemudian mulai menceritakan kisah latihannya, namun dengan ekspresi bosan.
"Apa dayaku yang hanya mengatasi para makhluk hijau kroco di Kawasan Enforest, tepatnya di Kepulauan Rain Forest?"
"Makhluk hijau? Maksudmu Goblin?" tanya Kazura.
"Jangan remehkan Goblin, senpai. Meskipun mereka lemah, jika mereka menang jumlah, mereka bisa mengeroyokmu."
Rinjou mengibas-ngibaskan tangannya seraya menyambung kalimatnya.
"Senjataku bukan pedang panjang, dan juga bukan pistol yang memiliki amunisi tertentu. Senjataku adalah senjata imajinasi, dua pistol dengan amunisi tiada batas."
Kami bertiga pun mengangguk mengerti. Yah, memang benar. Imajinasi membuat senjata beramunisi pun sampai tak terhitung, tergantung daya imajinasinya.
Tak terasa waktu telah berlalu, Sinar Canis Majoris kembali bersinar setelah menggeser kerlap-kerlip bintang di angkasa dan menghapus langit gelap. Sudah waktunya untuk bersiap. Kami berempat pun beranjak dari tempat duduk kami kemudian melangkah menuju keperluan masing-masing, kecuali diriku.