
Warning For All Readers!
Episode kali ini mengandung unsur segar (sesat dan vulgar), erotis, bahasan yang mengacu pada adegan dewasa dan lain-lain. Disarankan hanya untuk pembaca berumur 18 tahun keatas! Jika 18 tahun kebawah, saya mohon dengan sangat untuk tidak melakukan apa yang Main Character ataupun para Heroine lakukan dalam cerita ini, apalagi tanpa pengaman! Jika anda terpaksa atau ingin melakukan hal tersebut, disarankan menggunakan pengaman dan siap kondisi lahir batin karena itu bukan menjadi tanggung jawab saya, itu keputusan anda sendiri!
Jika ada yang ingin ditanyakan berkaitan dengan isi dalam cerita ini, silahkan tanyakan pada Penulis! Jangan tanyakan sekalipun tentang adegan ini pada orangtua anda, karena saya tidak ingin jadi buronan polisi!
Pukulan demi pukulan, tangkisan demi tangkisan terbentuk di tengah pertarungan mereka berdua. Saling melancarkan serangan untuk melemahkan masing-masing pihak tidak dapat dihentikan. Yang berada diluar hanya berlalu lalang meskipun beberapa ada yang ingin mencoba melihat keributan secara langsung, maupun mendekat untuk menyorot mereka dengan kamera Smartphonenya secara live dan menguploadnya ke sosial media dengan hashtag #PertarunganDiTempatParkir.
Entah berapa orang yang menyukai pertarungan tersebut. Beberapa orang luar menanyakan pada sang bodyguard sambil menyorot, apa yang mereka berdua inginkan hingga harus bertarung di tengah pagar hidup. Jawabannya simpel.
"Mereka memiliki keinginan yang bertolak belakang, dan salah satu Pria bertubuh kurus memilih untuk memutuskan keinginan siapa yang harus diutamakan dengan sebuah pertarungan tangan kosong."
Seketika penonton dari sosial media membanjiri video tersebut lewat panel 'suka' dan beberapa memberikan pendapat lewat panel 'komentar'.
>Apa yang mereka lakukan? Buang-buang waktu dan tenaga...
>Wah, sampai para bodyguard mengelilingi mereka bak ring pertarungan sungguhan!
>Jadi, apa yang mereka inginkan?
Salah satu penonton menanyakan hal itu lewat komentar, membuat sang penyorot perkelahian antara Venzo dan Calon Direktur yang terlihat masih muda itu bertanya secara detail pada salah satu bodyguard. Dengan tenang bodyguard tersebut menjelaskan namun sorot mata tetap ke tengah pertarungan yang mulai terlihat siapa pemenangnya.
"Salah satu yang berambut merah menyala, dia ingin membebaskan Kusakabe Naya dari bos kami yang bertarung dengannya sekarang. Bos menginginkan Kusakabe Naya menjadi miliknya."
Sang Penyorot hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Kedua pria yang sedang bertukar pukulan, tendangan, dan sikuan itu sedang memperebutkan Kusakabe Naya, sang Pianis nomor 1 di Tokyo. Si Penyorot itu jelas mengetahuinya karena Kusakabe Naya sering tampil di acara tv yang bertema musik. Entah itu genre pop, classic, maupun power metal, Naya dapat menguasai segala elemen musik dengan sempurna. Bahkan dia sering berkolaborasi dengan beberapa band ternama di Jepang. Julukan yang sering disebut dari beberapa band yang berkolaborasi dengannya adalah Princess of the Magical Touch.
>Mereka memperebutkan Kusakabe Naya? Tidak mungkin....
>Pasti ini pertarungan sampai mati...
>Pertarungan yang seru memperebutkan sang Pianis dengan Sentuhan Sihir! Aku ingin menontonnya sampai akhir!
>Si rambut merah itu tubuhnya kecil, pasti tumbang dalam sekali pukul...
>Jangan remehkan tubuh kecil, karena tubuh kecil lebih gesit dalam menghindar...
>Apa!? Kau mau mencoba berkelahi denganku?
>Siapa yang ingin berkelahi denganmu!? Begitu saja sudah terpancing...
>Diam kau! Ayo kita berkelahi sekarang juga! Dimana tempat tinggalmu!?
Kini video tersebut semakin ramai dengan keributan penontonnya sendiri, bahkan mereka hampir melewatkan kejadian saat Venzo menangkis pukulan hook dari si Calon Direktur dengan ayunan tendangan tinggi dan sukses membelokkan kakinya kearah tengkuk lawannya dengan cukup keras.
Dikenai hantaman tungkai di bagian tengkuknya, Calon Direktur tersebut tersungkur di lantai tanpa gerakan berarti. Video kembali ramai dihujani komentar, membuat para penonton dari sosial media sekaligus penonton yang lewat disekitar situ terkejut hingga ada yang mulutnya menganga seketika.
>WTF!? Sekali tendang?
>Cekatan sekali si rambut merah itu, memanfaatkan celah untuk satu serangan fatal diarah tengkuk.
>Apakah si rambut merah itu ikut beladiri? Dari gerakannya, seperti gerakan beladiri Karate...
>Mungkin saja begitu. Nasib sial datang pada si rambut hitam. Tidak tahu siapa yang dilawannya...
11 Bodyguard dari si Calon Direktur tersebut yang menjadi pagar hidup langsung membubarkan diri dan menggotong bos mereka menuju mobil. Salah satu perwakilan dari Bodyguard tersebut berhadapan dengan Venzo yang kini masih berdiri tegak sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Jadi, kau lihat siapa pemenangnya kan? Aku minta kalian untuk memberitahu bos kalian ketika dia sadar, memaksakan kehendak seorang perempuan adalah larangan bagi Pria Sejati. Jika kau ingin menjadikannya mempelai, maka jalanilah proses kebersamaan yang harmonis."
Setelah selesai menceramahi mereka yang tertunduk malu, Venzo mulai mengambil barang-barangnya, lalu pergi. Disanalah sebuah mobil hitam elit melaju kearahnya.
Karena Venzo kehabisan tenaga, tiba-tiba saja dia tumbang di tengah jalan, beberapa detik setelah semua yang ada disana membubarkan diri. Seseorang yang sempat menyorot pertarungannya berlari untuk sekedar membantunya berdiri.
"Ah... Terimakasih..."
Orang asing tersebut tersenyum sambil membalas ucapan Venzo yang berat.
"Tidak masalah, lagipula itu pertarungan yang bagus... Aku sudah mendengar semuanya..."
"Begitukah? Setidaknya, meskipun aku hanyalah Pria mesum, tapi aku memiliki caraku sendiri untuk melindungi hak seorang gadis... Apalagi, dia itu teman sekelasku..."
Orang asing yang kelihatan sudah berumur tersebut mulai berbicara, ketika mobil hitam yang melaju kearah mereka berhenti dan keluarlah sosok gadis yang dibicarakan Venzo dari sana.
"Benar-benar pria yang langka... Dulu, aku tidak pernah berpikir sepertimu... Yang kupikirkan hanyalah hidup layak, menikah, berkeluarga, lalu memiliki keturunan... Aku dulu juga pernah berpikiran mesum sepertimu, anak muda..."
Dia berbicara seperti itu sambil sedikit terkekeh. Venzo menjawabnya sambil tersenyum.
"Jika anda tidak mesum, anda bisa saya bilang tidak normal dan mungkin anda tidak akan memiliki keturunan seperti sekarang. Benar kan...?"
"Hahaha! Tepat sekali, nak! Kau memang jauh dari dugaanku! Bukanlah preman ataupun orang lemah, apalagi hanyalah orang-orang mesum yang tidak punya malu, tapi Ksatria dari Seantero Pria Normal di dunia ini! Lanjutkan perjuanganmu meluruskan seluruh Pria di dunia..."
"Terimakasih..."
Percakapan itu berakhir dengan Venzo yang kini dibantu oleh orang asing dan juga Naya, masuk ke dalam mobil Naya untuk selanjutnya dibawa ke tempat dimana Venzo bisa mengobati lukanya dan beristirahat sejenak.
...
...
...
Saat Venzo terbangun, dia baru sadar berada di sebuah kamar bercat pink yang sungguh rapi.
Yang mulai dia lakukan pertama kali adalah mencoba mencium semerbak aroma yang sedari tadi menggoda hidungnya.
'Ini... tempat tidur Naya!?'
Matanya mulai memandangi sekitar, dia menemukan sosok gadis bertubuh mungil sedang duduk disebelahnya sambil membaca buku.
Mendeteksi gerakan di ranjang yang didudukinya, gadis tersebut menengok kearah sumber gerakan.
"Senpai!? Kau sudah bangun?"
"Hana!? Kenapa kau ada disini!?"
"Ah! E-Etto! Tadi aku sempat berpapasan dengan Naya-senpai dan dia juga mengajakku karena dia mengatakan bahwa dia sedang bersama Venzo-senpai, jadi aku juga ikut..."
"Ah, itu..."
"Selain itu, kau terluka, Venzo-senpai!"
Ditatapnya luka yang ada di wajah Venzo seraya sedikit mendekat, alhasil rambut sepundak yang lurus tersebut jatuh di wajah Venzo, nampak seperti akan terjadi adegan yang selalu diidamkan para pemuda yang masih sendiri. Adegan ciuman.
Dari situlah, tangan Hana mulai menjelajah ke wajah Venzo, mekipun maksudnya adalah mencoba menyentuh luka lebam disudut wajahnya.
Beberapa detik berselang, knop pintu diputar dari luar dan masuklah Naya dengan nampan yang dibawanya.
Terkejut dengan suara knop pintu, keseimbangan Hana hilang seketika dan berubah menjadi gaya jatuh tepat ditubuhnya, dengan posisi wajahnya menghadap kearah Venzo.
BRUK!
Hasilnya bisa kalian bayangkan sendiri, ketika wajah saling berhadapan dan salah satunya jatuh ke wajah yang lain, tapi itu hanya berjarak sekitar 3 cm...
Mata Hana seakan kesana-kemari karena situasinya sangat tidak terduga, namun tangan Venzo memegangnya dengan cepat dan mendudukkan dirinya sendiri yang masih berbaring seperti tidak ada yang terjadi.
Hana langsung memposisikan dirinya kembali seperti saat awal dia menemani Venzo. Tapi Naya terlanjur menangkap semua kejadian tersebut, saat terlihat raut wajahnya yang mencurigai mereka berdua.
Menutup knop pintu perlahan, dia memberitahukan sesuatu pada Hana dan Venzo.
"Tenang saja, dirumah tidak ada siapapun kecuali kita bertiga kok..."
Venzo melongo mendengar penjelasannya, lalu bertanya memastikan.
"Memangnya orangtuamu kemana?"
"Ibu menemani ayah berlibur ke Kyoto. Ayah ingin menjernihkan diri setelah kejadian kemarin malam..."
Kejadian kemarin malam memang membuat Ayah Naya sangat menyesal, ketika Venzo datang bersama Naya dan memastikan bahwa Naya menginginkan masa mudanya diperpanjang lagi. Naya adalah gadis SMA, meskipun dia menjadi Pianis nomor 1 di Tokyo, keinginannya untuk menikmati masa sekolahnya hingga lulus nanti tidak bisa diabaikan menurut Venzo, yang notabene menghargai eksistensi wanita maupun gadis seumurannya.
Kericuhan yang disebabkan oleh adu mulut Venzo dan Ayah Naya yang berakhir dengan sedikit adegan kekerasan membuat Ayah Naya sadar betapa pentingnya membiarkan anak gadisnya memilih apa yang ingin dia lakukan sendiri, tanpa kekangan keras dari orangtua. Karena sang Ayah yakin, bahwa Naya dapat memilah mana yang baik maupun buruk untuknya.
'Mungkin pria itu memang tepat untuk Naya...' gumam Sang Ayah saat menikmati liburannya bersama istri tercintanya di daerah Kyoto.
"H-Hatcyiii!"
Suara bersin Venzo sedikit mengejutkan Naya yang membawa nampan berisi obat-obatan dan makanan hangat.
"Hah... Maafkan aku jika kemarin aku terlalu berlebihan..."
Naya menghampiri Venzo sembari membawa nampannya dan meletakkannya perlahan diatas ranjangnya. Hana mendengarkan dengan seksama dengan mata berkilauan.
"Apa yang terjadi kemarin malam, Naya-senpai?"
"Venzo menyelamatkanku dari pertunangan yang tidak kuinginkan dan membuat Ayah sadar akan keegoisannya..."
"Wah...!! Venzo-senpai memang kereeeen!"
"N-Naya! Kau terlalu berlebihan! Yah, itu hanya inisiatifku sebagai seorang pria normal... Jadi, itu tidak seberapa..."
Venzo mengatakannya tanpa berani menatap mata Naya dan Hana.
"Jadi, bisa kita lanjutkan yang kemarin malam?" goda Naya sembari merangkak diatas Venzo, yang tak punya pilihan selain berbaring menghindari Naya sebisa mungkin.
"Itu..." jawab Venzo seadanya, karena ada Hana juga, Venzo nampak mengurungkan niatnya untuk lebih agresif meskipun hanya ada mereka bertiga di rumah Naya.
"Kalau kau tidak ingin melakukannya duluan, aku yang akan melakukannya..."
Tangan halus Naya menyentuh kedua pipi Venzo, lalu dihadapkannya ke wajahnya sendiri. Dengan sudut yang tepat, dia mencium bibir Venzo secepat mungkin agar Venzo tak bisa melarikan diri lagi.
Tidak ada yang dilakukan Hana selain tertegun melihat adegan didepannya, ketika kakak kelas yang didekatinya sedang berciuman...
Yang terdengar disana hanyalah suara desahan Venzo dan Naya.
Merasa sudah terpojok, Venzo mencoba memegang sesuatu untuk menahan dirinya, tapi yang ada malah tangannya mengarah ke dada mungil Hana.
"Ah~! S-Senpai..."
Mendapat serangan dan juga salah pegangan, pikiran Venzo mulai kacau, rangsangan dari bibir dan tangannya kini mulai turun ke sumber nafsunya. Apalagi, kunci tersebut kini sedang diduduki Naya, jadi Naya merasakan sesuatu yang bangkit dari bawahnya.
Dilepasnya ciuman tersebut karena mereka berdua mulai membutuhkan oksigen yang cukup.
Nampak mata Naya menjadi sayu, dirabanya benda yang sedikit mengganggunya itu dengan lembut.
"N-Naya- nnnggghhh~"
"Hmmm? Apa yang ingin kau katakan, Ve-n-zo-kun?"
Rupanya Venzo bukan bermaksud untuk menghentikan kegiatan teman perempuannya yang mulai membahayakan, melainkan berpikir sejurus dalam otaknya apa ini bagus? Apa ini masuk dalam Hakikat Undang-Undang Pria Ero Sejati? Jika dia menerima ajakan Naya, memang tidak menyalahi Undang-Undangnya sendiri karena sudah tertulis :
Pasal 3 Ayat 29 Tentang Pantangan Pria Ero Sejati - Pantang menolak permintaan seorang gadis, meskipun permintaannya aneh-aneh!
Mulailah Venzo merebahkan tubuh Naya yang pasrah dengan apa yang Venzo akan lakukan.
Kesadaran yang sudah pulih sedari tadi, kini digunakan Venzo untuk melepas baju Naya, sembari memberikan pijatan di area dada Naya yang sedari kemarin terus memancing keinginan Venzo untuk menyentuhnya.
"Mmmmh~"
Desahan Naya mulai keluar, mengisyaratkan gejolak kenikmatan di setiap suara yang keluar dari bibirnya, karena Venzo sebisa mungkin membuat Naya nyaman dengan sentuhannya.
"Bagaimana?"
"Sudah kuduga -S-sentuhanmu memang- mmmhhh~ nyaman untuk para gadis~"
"Aku hanya berinisiatif saja, tidak lebih dan tidak kurang..."
"T-Tapi- nnhhh~ I-Ini membuatku- semakin mengingin- mmmhh~ inginkan lebih~"
Sebenarnya, jika Venzo ingin, Venzo bisa saja melepaskan jerat dirinya dan langsung memangsa Naya, tapi karena Venzo memiliki prinsip 'Melakukan hal Mesum pada seorang gadis itu harus beretika', jadi dia tetap pada posisinya saat ini, yaitu menahan sebisa mungkin hawa serigala lapar yang ingin menguasai syaraf ototnya agar bergerak secara kasar.
Setelah mereka berdua telanjang tanpa sehelai pakaian pun, Naya kemudian beranjak sebentar menuju meja dengan penuh buku, membuka tasnya, dan mengambil sesuatu yang sangat tidak asing di mata pria sejenis Venzo.
Sebuah Vibrator.
"A-Ano... N-Naya-senpai... I-Itu benda apa...?"
Venzo mendesah pelan sembari memberitahu Hana tentang benda yang dibawa Naya itu.
"Jadi, itu adalah Vibrator, alat yang digunakan seorang gadis untuk memuaskan dirinya."
"Caranya...?"
Perlahan mendekat dengan senyum nakal tergambar diwajahnya, Naya menyingkap rok Hana lalu menghidupkan benda tersebut sambil menekankannya ke daerah vital Hana.
Sekejap tubuh Hana merasakan sensasi geli ketika benda yang mengeluarkan suara bzzzzt tersebut menyentuh bagian sensitifnya, dan itu berlangsung beberapa detik.
"Mmmnnn~!"
"Bagaimana rasanya? Hmm?"
"G-geli~! Ahhn~!"
"Tapi sebelum itu..."
Dengan cekatan Venzo bergerak, memegang pundak Hana yang berada didepannya, menempatkan kepalanya disamping kepala Hana, lalu mengarahkan wajah Hana kepadanya.
"Biarkan aku mengambil ciuman pertamamu..."
"Mnnnn!"
Venzo mencium lembut bibir Hana ketika Naya lengah mengurus Vibratornya. Naya mendengus kesal karena kalah cepat.
"Moo! Sepertinya kau mengetahui siasatku!"
"Lebih baik aku yang mendapatkan ciuman pertamanya daripada sesama jenisnya..."
Kali ini keadaan Venzo sudah ditelanjangi, muncullah Venzo Junior dari sana sedang berdiri menantang karena dibangunkan oleh kedua gadis disekitarnya.
"Hmm? Venzo-kun kecil sudah bangun ya?"
Sebenarnya Hana malu saat melihat Venzo Junior tersebut, tapi karena rasa penasarannya yang besar, ditambah keadaan yang sepi membuat Hana ikut melihat benda yang berdiri tegak dibawah perut Venzo itu.
"H-Hei! Berhentilah kalian menatap benda itu dengan mata seperti itu!" tegur Venzo yang terasa paling malu diantara mereka.
"Saatnya pemanasan~"
Tangan gemulai Naya mulai mengarah ke Venzo Junior. Dan kemudian mulai bergerak naik-turun menggenggam lemah benda tersebut, membuat Venzo sedikit mengerang. Hana tertegun melihatnya.
"K-Kau belajar darimana, Naya!? K-kuh!"
"Seperti ini?"
Sambil memainkan Venzo Junior, Naya memperlihatkan sebuah Smartphone yang sedang memainkan gambar bergerak dengan adegan yang sama seperti yang dilakukan Naya sekarang.
"I-Itu -nnnggghh!"
"Ini Smartphonemu kan? Ini hal normal kok..."
Ketika Naya dan Venzo masih sibuk dengan itu, Hana merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Sambil menatap bagaimana Naya beraksi, dia menggigit jarinya dan menatap sayu kearah Venzo.
"S-Senpai..."
Venzo yang mengetahui reaksi Hana, langsung memberikan perintah.
"Baiklah... Duduk diatas wajahku..."
"H-Heeee?"
"Duduk saja..."
"Umm... P-Permisi..."
Akhirnya, Hana pun tanpa menolak, mengikuti apa yang Venzo sarankan. Saat Hana mulai menduduki wajah Venzo, sensasi kejutan terasa padanya.
"Hyyannh~!"
Ternyata lidah Venzo menjulur tepat pada bagian sensitif Hana. Sembari perlahan menggerakkan lidahnya, Venzo memijat dada mungil Hana dengan intensitas sempurna.
salah satu jari Venzo bergerak memutari puncak dada Hana yang mulai terasa menonjol dan mengeras. Bersamaan dengan itu terasa celana dalam Hana mulai terasa lengket dan hangat.
"Nnnhhhaaaa~ S-Senpaiiii~ Aaahhh~"
Naya tidak hanya memberikan rangsangan berupa gerakan tangan pada Venzo Junior, namun dia mulai mencoba untuk mengulumnya.
Yang jelas, kini Venzo mulai berada di posisi bahaya, sang serigala lapar mulai buas menggerogoti isi otak dan juga syarafnya, tak hanya menjilatinya.
Karena merasa sudah diambang batas, Venzo mencoba mendudukkan dirinya dengan menyampingkan tubuh Hana yang sedari tadi ada diatasnya.
"H-Hana, tolong duduk disamping sebentar."
"U-Ummm..."
Venzo pun bangkit, mencoba mengklarifikasi apa yang Naya inginkan.
"N-Naya... Apakah keputusanmu ini sudah tepat?"
Naya mengangguk pelan, berarti Naya memang benar menginginkannya.
"Kumohon... Hanya sebentar saja..."
"Baiklah... Jika kau merasa sakit, katakan saja... Aku tak ingin menyakitimu..."
"Um~ Aku akan menahannya..."
Disanalah Hana mulai memberikan protes.
"Senpai, kenapa hanya Naya-senpai saja? Padahal aku juga ingin..."
Mengerti akan maksud Hana, Venzo mendesah pelan lalu memberitahu Hana.
"Haaaah~ Kau akan mendapatkannya setelah Naya."
"B-Baiklah..."
Dengan sedikit pemanasan dari Vibrator yang digunakan sebelumnya sembari menyamankan si Junior, Venzo mengecek apakah tempatnya sudah siap.
Disentuhnya bagian sensitif Naya dengan lembut menggunakan jari, lalu sedikit memasukkannya untuk memastikan bagian luar dan dalam sudah cukup basah.
"Baiklah, ini sudah siap..."
"Umm~"
Sembari menggigit jari, Naya bersiap menahan rasa sakit saat Venzo mencoba masuk ke dalam organ intim Naya menggunakan si Junior. Perlahan tapi pasti, si Junior mulai mendesak masuk.
"Uukkhh~!"
"Mnnngghh~! Nnha~!"
Dan akhirnya, si Junior berhasil masuk dan tertanam ke dalam tubuh gadis yang baru saja tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Darah mengaliri bagian tubuh tersebut. Air mata Naya ikut mengalir, namun suaranya tak lepas seperti orang menangis, hanya saja sedikit terisak karena menahan rasa sakit.
"Kenapa kau memaksakan diri, Naya?" tegur Venzo yang masih tidak ingin bergerak, menunggu rasa sakit di tubuh Naya memudar.
"Jika aku tidak menahannya... ini tidak akan terjadi, kau tahu...?"
Naya menjawabnya lirih. Hana yang melihatnya pun mengangguk mengerti, jika seorang gadis ingin melakukan 'itu', maka awalnya perlu menahan rasa sakit.
"Sekarang... kau sudah mengerti kan, Hana? Bahkan dalam situasi yang sudah seperti ini, dia tetap saja mengkhawatirkanku..."
"Benar-benar senpai..."
Naya pun memberikan tanda dengan menggenggam lengan Venzo sembari tersenyum.
"Sudah tidak apa... bergeraklah..."
"Baiklah... Ini dia- ungghh~!"
"Hnn- aannhh~!
Dari gerakan pinggul Venzo yang berirama, desahan Naya mulai terdengar penuh dengan kenikmatan, tak lupa Venzo memberikan ciuman ke bibir Naya untuk memberikan sensasi lebih pada syarafnya.
Hana hanya bisa iri dengan melihatnya secara langsung. Ternyata dia merasakan hal berbeda ketika mencoba menontonnya lewat internet. Peka akan situasi, setelah melumat habis bibir Naya, dia bangkit namun tetap pada posisinya terus menghujam bagian bawah tubuh Naya dengan Juniornya, kemudian dia menarik tubuh Hana ke pelukannya.
"Eh- Mmmm~!"
Sambil menyelam minum air. Mungkin itulah yang dapat dideskripsikan pada apa yang dilakukan Venzo sekarang. Sembari tetap pada tempatnya untuk memberikan Naya sensasi erotis, Venzo menarik Hana untuk ikut masuk pada permainan erotis tersebut.
Tangan Venzo dengan lincahnya mulai bergerak ke bagian bawah Hana, yang sedari tadi dimainkan Hana sendiri. Disentuhnya bagian luar, lalu jarinya dengan hati-hati masuk ke dalam. Keluar-masuk-keluar-masuk lagi. Venzo pun merasakan jepitan yang masih kuat di jarinya.
"Nnyaaahh~ S-Senpaiiii~"
Sekali lagi, tubuh Hana seperti sedang dimasuki aliran listrik kecil yang kemudian meresap ke dalam syaraf-syarafnya, terimakasih pada hormon kewanitaan yang aktif dan mulai meningkat pada umurnya. Cairan yang bersifat melumasi bagian dalam organ sensitif Hana terus diproduksi saat diberikan rangsangan dan syaraf sensitif yang menerima rangsangan seksual pun merespon dengan cepat.
Sesaat Venzo juga menyamankan Hana, tiba-tiba desahan Naya mulai terdengar lebih keras.
"Ahhnn~ Nnnahh~ V-Venzo-kunnnhh~ A-Akuuuhhh~ Aaaaaahhhh~~!"
Beberapa detik berselang, tubuh Naya mengejang seperti tersengat listrik dengan voltase cukup tinggi. Venzo merasakan ada lebih banyak cairan yang menyelubungi Juniornya. Agar tubuh Naya tidak mengalami sentakan hebat setelah ***, Venzo menghentikan ritmenya sekejap.
"M-Maafkan aku~"
"Tidak masalah. Beristirahatlah sebentar, aku akan bermain dengan Hana."
Berbeda dengan Naya yang mungkin baru-baru ini mengerti hal erotis sejak mengenal Venzo, Venzo sudah melatih Juniornya sekian lama untuk dipraktekkan saat ini. Semua pria pasti tahu apa maksudnya kan?
Venzo perlahan mengeluarkan Juniornya dari organ sensitif Naya, dan Venzo Junior masih berdiri tegak, namun teksturnya kini lebih licin diselimuti cairan dari tubuh Naya.
"Ahhnn~! Sepertinya aku sendiri belum bisa membuat 'Venzo Junior' tertidur..." celetuk Naya yang masih terbaring dengan keadaan masih lemas karena efek dari ***.
Giliran Venzo mulai melepas perlahan pakaian Hana dari bajunya, disusul bra putih yang menutupi dadanya dan juga celana dalam putih yang dihias renda bunga-bunga mungil.
"Senpai..."
Hana pasrah saat tangan Venzo mulai membaringkan tubuhnya di dekat Naya. Kemudian Naya memandang Hana sambil tersenyum.
"Apa kau benar-benar ingin sepertiku?"
Itulah yang ditanyakan Naya pada Hana. Namun Hana memejamkan matanya sembari tersenyum kecil.
"Umm. Aku tidak menyesal sedikitpun memberikan keperawananku untuk Venzo-senpai, karena aku sudah melihatnya sendiri bagaimana caranya memperlakukan seorang gadis..."
Tidak menutup kemungkinan, Venzo tersenyum karena dipuji oleh Hana. Yah, karena dia tipe pria yang mengutamakan kenyamanan seorang gadis lebih dari dirinya sendiri, dia merasa senang jika seorang gadis menunjukkan rasa bahagia dengan Venzo.
Venzo menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Hana, lalu mengelus kepalanya pelan.
"Terimakasih, Hana. Itu lebih dari sekedar hadiah untuk pria sepertiku."
"Umm, seharusnya aku yang berterimakasih, karena senpai sudah memberitahuku bagaimana seharusnya seorang pria berlaku pada seorang gadis."
Mendengar alasannya, Venzo sedikit terkekeh.
"Tidak perlu berlebihan. Itu sudah kewajibanku sebagai seorang pria."
Entah kenapa, tumben sekali kata 'Ero Sejati' tidak diucapkan Venzo seperti biasanya.
Venzo menggumam karena mendengar penjelasanku.
'Sepertinya si penulis tidak melihat situasi ya? Bukan saatnya bercanda seperti pria bodoh!'
Iya, iya. Aku tahu it- Hei! Aku itu dirimu, dasar gila! Siapa yang menciptakan Undang-Undang Pria Ero Sejati kalau bukan aku? Siapa yang membuat Hana dan Naya mau melakukan hal erotis denganmu? Siapa yang memberikanmu kata-kata bijak tentang hal erotis? Siapa yang membuatmu berbeda dari si iblis pecinta oppai di cerita sebelah dan si pemuda yang beruntung kejatuhan gadis alien di sebelah juga? Itu aku, si penulis Eromen ini!
'Berarti itu salahmu kan? Salahmu yang bodoh menciptakan dirimu sendiri versi diriku ini. Heh.'
Kau mau jadi karakter utama cerita bertema tragedi? Aku bisa mengubahnya sekarang jika aku mau."
'...'
'...'
Hoo? Tidak bisa bicara lagi, ya?
'Berisik, bodoh! Lanjutkan saja apalagi yang aku lakukan dengan Hana!'
Nah, begitu lebih baik kan?
...
...
...
Sementara Naya beristirahat namun tetap dinyamankan Venzo, kini giliran Hana yang akan menerima si Junior ke dalam tubuhnya.
Hana dengan menahan malunya, perlahan membuka paha, memperlihatkan organ intimnya pada Venzo, bersiap untuk menerima si Junior.
"Hana, apa kau siap?"
"Umm..."
Anggukan Hana mengisyaratkan agar Venzo memulainya. Perlahan, ditempelkannya si Junior pada organ intim Hana, agar Hana dapat merasakan sensasi hangatnya saat awal bersentuhan.
"Hnnn~ S-Senpai~"
"Baiklah, aku akan memulainya. Jika kau merasa sakit, tidak perlu segan untuk mengatakannya."
Venzo membiarkan Hana tetap melihat prosesnya meskipun Hana sudah melihat ketika Venzo memecah keperawanan Naya, karena hanya melihat itu berbeda rasa dengan melihat dan merasakannya sekaligus.
Si Junior mulai masuk, perlahan-lahan hingga tenggelam setengahnya. Hana terdengar merintih saat menggigit jarinya. Venzo menarik tangan Hana, lalu menggantinya dengan bibirnya.
"Mmmmhhh~ Hhnnnhh~"
Venzo mulai mempercepat ritme ciuman dengan lidah yang mencoba mendesak masuk ke rongga mulut Hana, sebisa mungkin menggaet lidah Hana untuk menari bersama ditengah ciuman mereka, sementara Venzo Junior kembali bergerak masuk ke dalam organ intim Hana.
Nnnggg~ Uaaahhnn~"
Hana mulai merasakan sakit yang lebih dari awal tadi. Venzo menambah rangsangan dengan memijat dada Hana selembut mungkin untuk memberikan relaksasi sekaligus memanipulasi syaraf yang menerima rasa sakit.
Kini desahan Hana mulai terdengar normal, Venzo Junior juga sudah masuk sepenuhnya.
"Aku sudah masuk sepenuhnya, Hana."
Hana menghapus air matanya, lalu tersenyum.
"Terimakasih, senpai..."
"Apakah kau masih merasa sakit?"
Hana menggelengkan kepalanya untuk mengkonfirmasi apa yang dirasakannya sekarang.
"Sudah berkurang, bahkan hilang karena apa yang senpai lakukan padaku sebelumnya..."
"Syukurlah jika aku bisa membuatmu nyaman, Hana."
Venzo mulai menggerakkan pinggulnya, desahan Hana yang imut mulai terdengar lagi.
"Nnnnhhh~ Ahhh~ S-Senpaiii~"
"Bagaimana?"
"Entah kenapa~ Nnnhhaaa~ Rasanya~ Nikmat~ Mmmhhh~ Hangat sekaliiihh~"
Mendengar respon Hana, Venzo menambah kecepatan ritmenya.
"Aaaahhnn~ S-Senpai~! K-Kau memang hebat~! S-Sepertinya aku- nnhhh~ ingin lagi~!"
"Diterima, Tuan Putri."
Meskipun dalam mode melakukan hal ero, Venzo tetap memasang wajah kerennya, raut wajah yang sulit berubah, mungkin ada alasan tersendiri kenapa dia melakukannya.
Tanpa mempedulikan waktu yang terus berjalan, Venzo tetap memberikan kenyamanan pada Hana, tak lupa juga Naya yang staminanya pulih, ikut masuk ke permainan Hana dan Venzo.
Kini keadaan menjadi 2 lawan 1. Secara bergantian Venzo menghujamkan Juniornya ke dalam tubuh Naya dan Hana, juga beberapa kali mereka berganti posisi. begitu seterusnya sampai Venzo merasa dia sudah berada akan mencapai puncak kenikmatannya.
"N-Naya! Hana! Aku tak bisa menahannya lagi!"
Saat Hana dalam posisi berbaring, Naya menindih Hana dengan posisi saling menghadap. Naya kemudian memberi tanda pada Venzo untuk posisi terakhir, dimana si Junior akan menjadi sandwich diantara kedua gadis tersebut.
"Kami sudah siap, Venzo-kun~ Kemarilah~"
"N-Naya-senpai?"
"Dengan posisi seperti ini, kita bisa mendapatkan kenikmatan secara bersamaan. Bukankah begitu, venzo-kun?"
Venzo mengangguk mengiyakan penjelasan Naya.
"Nampaknya kau belajar banyak. Nakal sekali."
Dengan jahil, Venzo menampar pantat Naya.
"Awww~! Tapi aku melakukannya dengan melihat situasi, kau tahu?"
"Maaf, aku bercanda. Baiklah, saatnya penutupan."
Venzo mulai masuk diantara kedua organ intim mereka. Pada posisi tersebut, si Junior bergerak sambil bergesekan dengan klitoris Hana dan Naya. Sensasi yang ditimbulkan semakin kuat karena tidak hanya Venzo, Hana dan Naya juga tetap menerima rangsangan dari si Junior.
Pada posisi itu juga, Naya dapat menikmati bibir Hana dengan leluasa sembari saling memainkan dada masing-masing.
"Nnnhhh~ Naya-senpaiihh~"
"Ahhhnn~"
Mereka berdua larut dalam kegiatan mereka masing-masing, hingga tanda-tanda gejolak kenikmatan akan terlepas dari tubuh mereka mulai menghampiri karena kecepatan gerakan Venzo yang semakin menjadi.
"Hnnnnggg~ Naya, Hana~ Aku keluar~~"
"K-Kami jugaaa~"
"Guuuhhhhh~"
"Aaaaaaaaahhhh~!"
Venzo Junior menyemburkan cairan putih yang hangat ditengah himpitan tubuh molek Hana dan Naya, lalu *** kedua gadis tersebut menyusul. Dengan itu, berakhirlah adegan ero mereka. Tubuh Venzo roboh diantara kedua gadis yang juga merebah tersebut.
"Benar-benar seru ya, senpai?" ucap Hana sambil tersenyum membuka percakapan.
Menanggapi itu, Venzo tertawa tanpa kejelasan pasti bahwa itu antara lucu atau tidak.
"Ahaha, yah..."
"Pengalaman yang terbaik menurutku." jawab Naya sambil memeluk Venzo erat lalu mencium pipi Venzo lembut.
Hana terlihat tak mau kalah, ikut memeluk Venzo dari sisi lain.
"Moo! Naya-senpai curang! Aku juga mau Venzo-senpai!"
"Ara? Kau kan adik kelas, tidak boleh mendahului kakak kelas..."
"Tidak ada istilah seperti itu!"
Saat kedua gadis tersebut saling memperdebatkan masalah siapa yang memiliki Venzo, Venzo terkekeh dengan garis-garis suram diwajahnya sambil menggumam.
'Apakah aku bisa bertahan? Mereka sangat ganas...!'
Matahari sudah terbenam sejak tadi, namun tidak membuat Venzo beranjak dari tempatnya beristirahat. Dia membenamkan wajahnya di bantal dengan keadaan masih telanjang.
"Naya..."
"Hmm?"
"Bolehkah aku mandi disini? Aku khawatir jika aroma tubuh kalian akan membuatku dibantai saat pulang ke rumah kontrakan nanti."
Ketika itu Naya sedang mengambil handuknya dan menutupi tubuhnya. Sementara itu Hana baru saja terbangun setelah cukup lama beristirahat dari pertempuran panjang diatas ranjang.
Secara otomatis, melihat Naya yang masih dalam keadaan telanjang, dan juga Hana, mendadak Venzo Junior kembali berdiri dengan tegaknya.
Naya yang melihat respon itu langsung menggoda Venzo. Sementara Hana tertegun dan langsung menutupi bagian tubuhnya.
"Hmm? Sepertinya Venzo Junior ingin mandi bersama dengan kami berdua."
Entah karena lelah atau tidak sanggup lagi, Venzo menyentil pelan Juniornya sambil berucap
"Dasar keparat..."
Writer's Note :
Eromen : Kependekan dari istilah "Ero" dan "Ikkemen". Kependekan ini biasa digunakan untuk menyebut aktor tampan yang menjadi karakter utama dalam Japanese Adult Video (JAV).