
Melewati yang biasanya tersedia di setiap perbatasan Kawasan Kubah, berjarak 1 km dari , aku--Ryuichi Venzo, memutuskan untuk kembali ke Imaginarian City karena 100 tahun lebih sudah terlewat begitu saja.
100 tahun lebih itu tidak sebentar. Banyak sekali hal yang terjadi... Ah, aku masih terpikirkan Ramalia--mungkin aku terlalu cepat untuk mengatakan hal itu. Sialan! Sekarang malah Legendary Arcane yang menjadi hambatan!
Setidaknya, aku tidak kehilangan dia untuk selamanya--mungkin seiring waktu, aku bisa bertemu dengannya lagi.
"Aaaaahhh!! Aku lupa jika disana juga ada Naga Jantan!!" Keluhku mengingat bahwa kemungkinan dia akan melakukan hubungan dengan Naga disana, Dragonia--Dimensi Naga yang tak terjamah oleh manusia, kecuali Alice. Yang benar saja?! Gadis kecil sepertinya malah memiliki kontrak dengan Bahamut yang bahkan namanya sering terdengar di Kitab Religi?!
Tidak hanya Alice--kemungkinan anggota lain bahkan lebih kuat darinya. Oh iya! Pria botak yang bersama Alice! Bahkan Alice pun tidak berani menjawab ketika temperamen pria itu mulai memburuk...
Ketika aku memijak lantai besi dari portal Celestial Warp Zone yang melengkung, lengkungan tersebut menciptakan energi elektromagnetik disekitarnya dan memunculkan sebuah distorsi ditengahnya--tanda Celestial Warp Zone baru bisa digunakan untuk berpindah tempat. Perlahan, langkahku membawaku masuk ke distorsi itu dengan tujuan Kawasan Kubah Pusat--Imaginarian City...
...
...
...
"Huh... Si bodoh itu belum juga kembali..."
"Benar juga. Padahal kita sudah selesai, tinggal dia saja! Apa mungkin, dia sedang menuju kesini membawa semua pacar temuannya?!"
"Sabar, senpai... Mungkin dia sedang melakukan misi tambahan--maka dari itu dia lebih lama dari kita..."
"Venzo-kun..."
"Dasar laki-laki mata keranjang itu..."
"Ufufu~ Sepertinya ada yang menarik perhatian banyak orang ya~?"
"Nom-nom~"
...
...
...
Sesampainya di jalan keluar dari Portal, yang tersambung langsung dengan Laboratorium Experian Academy, riuh tepuk tangan dari seluruh peneliti yang menyadari kedatanganku terdengar keras. Misaka-san pun menghampiriku.
"Terimakasih atas kerja kerasmu, Ryu-kun."
"A-Ah, sama-sama..."
Baru kali ini seseorang memanggilku seperti itu. Rasanya sedikit aneh dan membuatku canggung sih...
"Sebelum kau keluar dari Laboratorium, biarkan kami melakukan pemeriksaan padamu terlebih dulu..."
"Baiklah..."
Seperti yang dikatakan oleh Ketua Divisi Teknologi, Sakamichi Misaka, aku pun dibawa ke Ruang Pemeriksaan terlebih dahulu dan dipersilahkan berbaring di ranjang yang tersedia untuk analisa selanjutnya.
Sekilas, ranjang yang kugunakan untuk berbaring sama seperti ranjang pasien pada umumnya yang ada di Rumah Sakit. Namun perbedaannya, penyangga yang digunakan terhubung langsung oleh besi yang diisi oleh mesin dan sirkuit teknologi tinggi yang berguna untuk membaca kondisi tubuh seseorang, kondisi mental, tekanan darah, golongan darah, dan yang terpenting adalah daya imajinasi--sumber daya yang digunakan untuk memunculkan kekuatan imajinasi.
Sesaat, beberapa peneliti lain selain Sakamichi Misaka yang hanya mengumpulkan dan menyimpulkan analisa datanya--menyampaikan sesuatu padaku sembari memijat bahuku perlahan.
"Aku sarankan agar kau lebih rileks saat pemeriksaan agar hasilnya lebih baik."
"T-Terimakasih."
Bukan itu saja yang membuatku canggung--seragamnya pun memperlihatkan belahan dada yang cukup besar itu jelas membuatku sulit untuk rileks. Peneliti yang sedang berkutat dengan pemeriksaannya pun menyampaikan hasilnya.
"Uh... Ketua Misaka... Mohon maaf, tapi sepertinya daya imajinasi Ryuichi Venzo mendadak naik ketika kau memijatnya..."
O-Oi! Itu hanya sisi mesumku saja! Kenapa harus anda laporkan padanya?!
Sebentar kemudian, Misaka-san memperhatikanku lebih dekat lagi.
"Hmm... Apa yang menjadikanmu dapat meningkatkan daya imajinasimu dalam waktu singkat?" Tanyanya dengan mata yang memang memperlihatkan aura penasarannya.
"Ah... Etto..."
Kemudian, Peneliti yang juga ikut menganalisaku berpendapat.
"Jangan-jangan... Dia dengan leluasa menggunakan Penguat Daya Imajinasi Tipe Primer?!"
Primer? Apa maksudmu, Nafsu?!
Misaka-san menjelaskan.
"Ada 3 tingkatan cara manusia memperkuat daya imajinasinya. Yang pertama adalah Tingkat Tersier atau tingkat bawah--meliputi Simplicia. Lalu Sekunder atau tingkat menengah--meliputi 6 kategori pecahan dari Primer, yaitu Happiness, Sadness, Pleasure, Pain, Comfortia, dan Liberia. Lalu Tingkat Primer atau tingkat atas yang hanya dikuasai oleh Imaginer Rank SSS--meliputi Lusteria, Protectia dan Destroia. Hampir belum ada sejarah Imaginer yang mampu menggunakan Lusteria untuk menguatkan daya imajinasi."
Perlahan, jemari tangannya pun turun, sembari mulai menari-nari di dadaku.
"Katakan... Apa ini memiliki efek khusus setiap kali kau disentuh oleh seorang wanita?"
"Ketua! Lonjakan Daya Imajinasinya semakin besar!!" Seru Peneliti pertama. Aku tak sanggup lagi!
Kubangkitkan paksa tubuhku lalu kembali membenahi seragamku seraya berucap.
"Maaf... Aku tidak bisa melakukannya... Ini akan mempengaruhi tindakanku jika dilanjutkan..."
Tanpa ingin mendengar tambahan lain dari Peneliti maupun Misaka-san sendiri, aku bergegas keluar dari Laboratorium--lalu sadar ketika keluar dari ruangan yang penuh dengan penelitian dan mesin bahwa aku tidak tahu jalan...
"Bodohnya..." keluhku pada diriku sendiri sambil menepuk dahi.
Tak lama kemudian, kudengar suara beberapa murid yang kebetulan melintas di koridor depan Laboratorium--tidak. Itu bukan suatu kebetulan belaka.
"Oya oya... Lihat siapa disini..." sapa sosok rambut hitam belah tengah dengan sorot mata penuh sindiran dibaliknya, ditemani sosok pria berbadan besar rambut spiky merah dengan lengan besar--serta dua pemuda berbadan kecil rambut hijau yang mirip namun beda belahan rambut saja.
Penasaran atas cara bicaranya yang terasa merendahkan, aku bertanya.
"Siapa kalian?"
Lalu, sosok yang berada paling depan menggapai kerahku sembari membalas pertanyaanku.
"Jadi seperti ini anak Bumi yang diandalkan Ayah Ruru? Lemah sekali..."
Dengan kesal kutepis lengannya lalu kulawan balik pernyataannya dengan jari telunjuk yang mengacung padanya, lalu kulanjutkan dengan jari tengah yang kuarahkan khusus padanya.
"Aku bukan tipe orang yang suka memulai perselisihan--tapi jika kau memaksa, aku tidak akan segan, ***!"
Wajahnya kini berganti menjadi wajah yang berpura-pura untuk takut, namun senyuman tanda penerimaan tantangan diluncurkan padaku--juga si bongsor yang mulai membunyikan ruas jemarinya.
"Oho, sungguh galak dan tidak punya sopan santun ya? Baiklah, buktikan jika kau dan teman-teman tidak bergunamu itu--bisa mengalahkan kami--Divisi Pertahanan Generasi ke 50, Psycorps!"
Cih, sungguh menjengkelkan pemuda ini! Apa dia tidak mempedulikan penggemarnya sebagai petarung?!
Berlalu meninggalkanku yang masih belum membuang raut wajah kesal, dia meninggalkan pesan.
"--tapi jika kau kalah, menjauhlah dari Ruru dan kembalilah ke Bumi, anak baru... Hahahaha!!"
Dengan berakhirnya pesan itu, terlintas dalam pikiranku untuk melenyapkannya...
Lenyapkan...
Hancurkan...
Bunuh...
Mungkin lebih baik menyimpannya sampai waktunya tiba--waktu yang tepat untuk membuatnya diam.
Kulihat, ada tiga orang dengan gaya rambut yang kukenal baru saja berbelok dari koridor lain menuju kearahku--oh! Itu mereka! Mereka juga menyadari keberadaanku saat Psycorps menjauh dan tak terlihat lagi.
"Oi! Venzo!"
"Kemana saja kau, Sensei? Kami menunggumu!"
"Apa kau menggoda wanita lagi?"
Mungkin soal Misaka-san, aku tidak bisa memberitahu mereka. Aku hanya memberitahu yang lain.
"Yah... Ada beberapa masalah yang terjadi... Lalu, bagaimana dengan kalian?"
Mereka pun memunculkan senjata mereka dari medan imajinasi. Kazura dengan sepasang gauntlet emas, Izano dengan sepasang mata pisau yang menyatu dengan sarung tangan membalut lengannya, lalu Rinjiu yang dengan lihainya memutar-mutar sepasang HG yang muncul dipinggangnya.
"Woah! Kalian berhasil?" Seruku kagum pada mereka. Kazura malah bertanya balik.
"Lantas kau bagaimana?"
Aku? Aku hanya bersenjatakan dua bilah pisau yang keluar begitu saja saat kuaktifkan medan imajinasi.
"Kau yakin?"
"Sensei, bukankah itu terlalu biasa?"
"Kau tidak menyembunyikan senjata rahasiamu, 'kan?"
Begitulah respon mereka ketika melihat bentuk dari senjataku yang biasa-biasa saja, tak seperti milik mereka.
"Hanya ini yang kudapat, hehe..."
Seketika, mereka berseru kearahku dengan kerasnya.
"Apa yang kau lakukan selama 100 Tahun ini, sialaaaaaan??!!"
"Setidaknya aku kembali dengan selamat, 'kan?"
Pembicaraan yang kumulai kembali setelah 100 tahun berpisah dengan mereka, membawa kami berempat melangkah menyusuri koridor untuk selanjutnya menemui Kepala Akademi beserta Perdana Menteri Experian yang pasti hanya tinggal menunggu laporan hasil latihanku saja--entah beliau membutuhkannya atau tidak.