World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 19 - Kenyataan yang Terungkap



Meskipun Ryuichi Venzo melihat keadaan Ayame yang baik-baik saja, terkadang dia menemukan beberapa dari ekspresi teman kecilnya itu yang menunjukkan kekhawatiran.


"Venzo-kun... Sebenarnya, aku..."


Tiba-tiba saja Ayame bergerak seakan ingin membuka pakaiannya sendiri sembari menahan malu, namun Venzo menahannya.


"T-Tolong jangan disini... Ini tempat umum, Ayame... Setidaknya, cari tempat yang lebih sepi..."


Mendengar usulan Venzo, dia mengangguk setuju. Mereka berdua berpindah ke tempat lain yang lebih sepi. Tidak lagi di padang rumput yang luas, karena itu bisa saja digunakan orang lain untuk sekedar lewat ataupun menikmati semilir angin disitu.


Mereka berdua mulai memasuki daerah hutan perbukitan dekat kota. Venzo merasakan tidak ada yang berubah disekitar situ, kecuali jalan setapak yang semakin terlihat lebar.


Memandangi sekitar, tempat yang memberikan kesan nostalgia dirasakan Venzo, dan ditanggapi oleh Ayame.


"Dulu, kita sering bermain disini, kan?"


Venzo mengangguk, serasa ingatannya mulai berputar lagi menuju ingatan 3 tahun yang lalu...


Sebelum dia pergi ke Shinjuku...


"Nee, Venzo-kun..."


"Hmm?"


Dua insan berlawanan jenis yang sedang menikmati semilir angin di bukit dekat kota sepulang sekolah, berbaring sambil memandangi langit sore. Mereka berdua adalah Venzo dan Ayame, yang duduk di bangku SMP.


"Apa kau berencana untuk pergi dari kota ini?"


Wajahnya kesulitan mengekspresikan antara kebohongan ataupun kejujuran. Antara ingin tertawa untuk memberikan respon candaan, maupun sedih untuk memberikan respon yang nyata. Seperti sebuah rantai sedang mengikat batang tenggorokannya hingga dia tidak bisa berkata apapun soal itu.


Ayame yang berbaring di dekatnya mencoba mengetahui informasi tersebut dengan mendekatinya lebih lagi.


Yang jelas, itu membuat Venzo yang telah menginjak umur belasan tahun itu kelabakan.


"A-Ayame...!"


"Ada apa?"


"I-Itu..."


Fokus matanya pun berpindah-pindah, ditambah suasana sepi, pikiran Venzo semakin runyam.


Seragam sekolah yang terlihat sedikit terbuka menambah suhu tubuh Venzo meskipun hari tidak terlalu panas.


Sembari membuang muka, Venzo mengingatkan Ayame yang berada di dekatnya.


"Aku ini kan laki-laki, kau juga perempuan... A-Apa kau tidak malu?"


Sekilas, Ayame langsung bangkit, memasang posisi duduk dengan arah muka yang berlawanan dari Venzo dan bergumam.


"Venzo-kun... bodoh..."


Meskipun lirih, Venzo mengerti maksud dari ekspresi dan tindakan tiba-tiba itu, lalu membuang nafas pelan.


"Bukannya aku tidak peka... Aku tahu kita ini sangat dekat, bahkan banyak teman kita yang menganggap kita memiliki hubungan spesial. Aku pun tidak mempermasalahkan itu jika kau juga tidak terganggu tentang pendapat teman-teman kita..."


"Lalu, apa yang membuatmu-"


Sekejap, saat Ayame berbalik karena ingin mempertanyakan masalah Venzo, dengan cepat Venzo menyentuh bibir Ayame menggunakan jari telunjuknya, membuat Ayame terkejut.


"Jika kau memang memiliki perasaan terhadapku, maka aku tidak punya alasan untuk menolak."


Itulah apa yang dikatakan Venzo, sembari tersenyum cerah. Kata-kata yang jelas digunakan oleh calon raja harem. Maaf, sepertinya bukan...


Mendengar respon Venzo, Ayame ikut tersenyum dan memeluk Venzo.


"Venzo-kun!"


Suaranya bergetar, menandakan dia memang menahan perasaannya, dan tidak tahu harus berkata apa soal jawaban Venzo.


"Yosh, yosh..."


Venzo mengusap rambut Ayame dengan perasaan lega, ketika dirinya dapat memperdalam hubungannya dan memecah dinding diantara mereka berdua.


"Nee, Venzo-kun..."


"Hmm?"


"Apakah aku... boleh... meminta..."


"Meminta apa?"


"Ci... Ci... Ci..."


"Ciuman?"


Dari situ kecanggungan datang kembali, padahal mereka baru saja memperdalam ikatan mereka.


"Ehem!"


Venzo berdehem untuk memulai kembali pembicaraan yang terputus beberapa saat tadi.


"Haruskah aku menolak permintaan seorang gadis? Sepertinya itu kurang ber-etika... Hehehe..." ucapnya sembari menggaruk pipinya sendiri.


Lalu, keduanya kembali mendapat kecanggungan, karena bingung antara siapa yang harus memulai. Venzo akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah selanjutnya.


"Ehem! Baiklah, kalau begitu, aku mulai..."


Venzo memberanikan diri untuk menempatkan kedua tangannya ke bahu Ayame, dan dengan sedikit gerakan berarti menghadapkannya pada wajahnya, karena sebelumnya mereka sempat saling membelakangi.


Kini, apa yang ada dihadapannya, adalah sosok gadis dengan rambut hitam sebahu terurai dan memiliki belahan rambut bagian kanan. Mata coklatnya mengharapkan sesuatu, rona merah menggambarkan suasana yang terasa akan menghangat di hari yang semakin sore ini.


Berinisiatif untuk memimpin sebagai seorang laki-laki, Venzo mulai mendekap tubuh Ayame untuk saling berdekatan. Deru nafas mereka semakin terdengar satu sama lain.


[Adegan selanjutnya akan saya berikan di bagian Special Harem Volume 01]


Sekejap Venzo menggelengkan kepalanya untuk membuang ingatan tersebut, agar hormon prianya tidak bangkit disana.


Menelusuri jalan setapak di hutan setelah perbukitan, mereka menemukan aliran sungai jernih, bahkan mereka bisa melihat ikan-ikan yang berenang melawan arus dengan sangat jelas.


"Wah, masih jernih seperti dulu..."


Venzo mengucapkan kalimat yang menggambarkan apa yang dilihatnya. Ayame duduk diatas batu besar yang dekat dengan aliran sungai, lalu menempatkan kakinya kedalam air.


Setelah lama tidak bertemu, Venzo menemukan perubahan yang terjadi pada Ayame, yaitu rambutnya yang semakin memanjang semakin menambah aura kecantikannya, dan juga tubuh yang mulai tumbuh, termasuk bagian dadanya.


Meskipun pakaian Ayame yang dikategorikan sebagai one piece terkesan panjang selutut, tidak tertolong jika saat dia duduk, pakaiannya sedikit tersingkap ke atas, dan paha jenjangnya tereskpos.


"Kemarilah, Venzo-kun..."


Venzo berpikir keras untuk mengatakan agar membenahi posisinya. Tapi kehendak prianya berkata lain, yaitu membiarkan visualnya tersegarkan oleh pemandangan tubuh wanita tersebut.


Venzo akhirnya kalah dan duduk disebelah Ayame dengan mata yang nampak kesulitan untuk berpindah dari paha Ayame.


Canggung? Itu jelas dirasakan. Memang mereka dulu adalah teman sejak kecil. Berangkat sekolah bersama-sama, pulang sekolah, bahkan bermain pun mereka selalu bersama-sama. Dan Ayame pun menganggap Venzo lebih seperti kakak kesayangannya sendiri. Bagaimana Venzo selalu melindungi Ayame, namun Venzo memilih untuk melanjutkan sekolahnya di Shibuya, sedangkan Ayame tetap di Kyoto.


"Aku ingin mengatakan sesuatu..."


"Katakanlah..."


Sebelum Ayame benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya, dia sudah menanggalkan pakaiannya di depan Venzo. Dan terlihatlah beberapa torehan bekas luka di tubuhnya.


"Ayame?! Apa yang terjadi? Kenapa tubuhmu penuh dengan bekas luka?"


Venzo sangat terkejut melihat apa yang ada di tubuh Ayame. Terlebih itu seperti bekas cambuk di tubuhnya.


"Sebenarnya... Aku bekerja paruh waktu di sebuah rumah besar di kota... karena... orangtuaku meninggal akibat kejadian Bulan Sabit Berdarah... saat itu kedua orangtuaku bermaksud untuk mencariku..."


Apa yang diceritakannya memukul langsung perasaan Venzo, bagaimana peristiwa itu berhubungan erat dengannya, tidak hanya membunuh banyak orang, tapi juga kedua orangtua Ayame, dan kini membuatnya harus menanggung hidupnya sendiri dibawah perintah seseorang yang menjadi majikannya.


"Jika kau mengatakannya sedari awal..." ucap Venzo dengan nada gemetar.


"Aku tidak ingin merepotkanmu..."


Bersamaan dengan itu, tetesan air mata terlihat membasahi pipi Ayame, Venzo pun memeluknya erat, sambil berbisik lirih.


"Aku akan bicara pada Ibu dan Ayah soal ini... agar kau tidak tersiksa lagi..."


"Terimakasih, Venzo-kun..."


Kenyataan yang baru saja terungkap di balik keceriaan dan kelembutan teman kecilnya, ternyata menyimpan luka yang dideritanya, tanpa sedikitpun keinginannya memberitahu orang lain agar tidak merepotkan.


"Maafkan aku, Ayame..."


"Tidak, Venzo-kun... Itu semua bukanlah salahmu..."


"Ayo kita pulang... dan kemasi barang-barangmu..."