
Kembali ke Experian, dimana Venzo dan kawan-kawannya ditangkap-- maksudku, dipindah paksa oleh Pihak Experian, manusia super yang disebut Imaginer, yang selanjutnya diberikan pengetahuan dan latihan menjadi Imaginer.
Sebuah Nano-Chip yang disuntikkan melalui mesin analisa tubuh, merubah kehidupan setiap manusia, menjadi seorang Imaginer, mengkonversi setiap imajinasi pemiliknya menjadi sebuah kekuatan...
Venzo telah sampai pada materi pertengahan Kelas Nuevo, dimana materi teori mulai berkurang. Praktikum adalah lanjutan.
"Haa... Haaahh... Seberapa banyak kau berkembang, Kazura?!"
Rasa lelah didera Venzo, melawan Kazura, yang juga menderita kelelahan fisik. Saat ini murid-murid Nuevo sedang menjalani materi praktikum.
--Yup, melalui pertandingan latihan, diharapkan murid Nuevo dapat mengerti situasi ketika ada pertarungan Imaginer yang bisa terjadi kapan saja. Venzo yang memiliki atribut Sadistic melawan Kazura dengan atribut Wrath. Tidak ada yang menang maupun kalah dalam waktu singkat. Meskipun hanya diperlukan beberapa menit percobaan, nyatanya mereka tetap bersikukuh menentukan pemenangnya dengan pertarungan percobaan yang mereka anggap sungguhan.
"Heh... heh... Memangnya aku saja yang bertambah kuat, otak mesum? Hah... Haaahh... Dasar masokis berkedok atribut sadis..."
Otot pelipis Venzo muncul, pertanda intimidasi dari Kazura bereaksi.
"Oh... Kau yang mulai duluan ya, dasar sialan?"
FLASH!
"Ayolah, meskipun aku terlihat lelah, aku belum puas jika belum bisa menghajarmu sampai babak belur!"
Kazura memperkuat dirinya dengan lapisan aura merah ketika Venzo mengambil langkah cepat untuk menyerang. Venzo yang sampai disebelah Kazura sekejap mata membalas kebanggaan Kazura.
"Jangan mimpi untuk menghajarku, jika kau tidak bisa mengikuti kecepatan-- Sial, keras sekali idiot kekuatan ini!"
Sambil menyerang, rupanya serangan Venzo tidak bisa menembus lapisan aura Kazura, bahkan terpental seperti sedang memukul besi padat. Giliran Kazura melompat dan menghempaskan tendangan memutar dengan lapisan aura merahnya. Namun kecepatan Venzo dapat menghindari tendangan melintang setinggi kepala itu.
"Giliran--Jangan menghindar supaya aku bisa mengenaimu, sialan!"
Pertarungan yang didominasi oleh saling menghindar maupun menerima dengan lapisan pertahanan ini nyatanya cukup lama, bahkan pertarungan Izano dan Rinjou selesai terlebih dulu.
"Ano, sensei, senpai... Mau sampai kapan?"
Izano bertanya, Rinjou nampak pasrah karena dia tahu, kedua orang ini tidak akan pernah lelah sampai mereka bisa mendaratkan kepalan di wajah satu sama lain.
"Biarkan mereka, Izano. Biarkan kedua idiot itu bertarung. Meskipun waktu habis, mereka tidak akan peduli sampai mereka dapat bekas tinju di wajah mereka--"
Secara bersamaan, adu tinju di wajah terjadi antara Venzo dan Kazura, lalu meneriaki Rinjou bersamaan dari dalam arena pertarungan.
""DIAM KAU, SIALAN!!""
"Benar, 'kan? Bahkan aku saja diteriaki seperti itu..." keluh Rinjou, dibarengi dengan tawa kecut Izano.
Murid Nuevo lainnya juga sudah selesai mencoba mengadu imajinasi mereka sebentar. Namun hanya Venzo dan Kazura yang bertahan dengan gaya mereka sendiri--
Pertarungan barbar tanpa henti...
"Ya ampun, kalian benar-benar maniak bertarung, nya~" Keluh Nekorika yang masih mengamati kedua petarung ini.
Pertarungan yang diawali dengan saling mengumbar rasa bangga akan menjatuhkan satu sama lain ini pun menjadi tontonan murid-murid Nuevo selagi menunggu jam materi selesai. Seperti biasa, pertarungan ini masih mengundang decak kagum murid Nuevo yang bahkan sudah lama sekalipun. Dan pengamatan bersama ini diijinkan pula oleh Ahli Materi hari ini, Nekorika.
"Benar-benar seru!"
"Ayo, Ryuichi Venzo! Jangan kalah melawan Engetsu Kazura!"
"Kau bisa, Kazura! Pukul dia secepatnya!"
Sorak-sorai meramaikan kelas Nuevo, seperti adu tinju profesional yang disiarkan secara langsung di televisi internasional.
...
Sementara itu, di lokasi lain, tepatnya di Ruang Khusus Divisi Kedisiplinan...
"Haa... Haa..."
Deru nafas berat itu berhembus dari bibir kecil Ketua Divisi Kedisiplinan yang terbaring di sebuah ranjang yang nampaknya muncul dari lantai, terletak di sutu ruangan, ditemani oleh tiga anggota lainnya. Haruka, Yuna, dan Miyuu menampakkan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Apa yang harus kita lakukan untuk ini? Sudah kesekian kalinya dalam 100 Tahun, bahkan seluruh Akademi masih belum cukup untukmu..." keluh Haruka pada Ruru. Ruru pun meminta maaf.
"M-Maafkan aku, Haruka-chan... Tapi, mengertilah kondisi ini harus kutanggung sebagai seorang Demi-Human... Haa... Haa..."
Wajah ketiga teman Ruru itu pun memerah tiba-tiba, ketika mengetahui alasan mengapa Ruru terbaring tak berdaya di Ruang Khusus Divisi Kedisiplinan, meminta ijin untuk tidak mengikuti materi hari ini.
Sebenarnya masalah ini sudah diserahkan oleh Sakamichi Misaka, tapi beliau memberitahu mereka sesuatu.
"Mungkin pria itu bisa memenuhinya, berhubung yang dibutuhkannya adalah esensi penting dari pria itu, dan pria itu lulus uji... Untuk saat ini, kalian bisa membawanya ke Ruang Khusus Divisi kalian sendiri, jika kalian bersedia, kalian bisa memanggilnya untuk mengatasi ini..."
Haruka mengacak-acak rambutnya sembari berteriak.
"Arrrgghhh!! Kenapa harus dia yang mengatasi ini???!!!"
Yuna nampak tidak ada masalah dengan syaratnya sembari menjelaskan pada Haruka.
"Tapi, Haru-chan, kau paham kan tentang Penguat Daya Imajinasi Tipe Primer, Lusteria? Misaka-san memberitahu bahwa anak itu memilikinya, dan juga termasuk dalam kapasitas yang tidak bisa dianggap kecil lho~"
Miyuu mengangguk dan menanggapi penjelasan Yuna.
"Sebesar obsesinya terhadap hal-hal menjijikkan."
Haruka pun berdiri dan memutuskan pergerakan selanjutnya dengan mantap.
"Baiklah, berarti hanya dia yang bisa diandalkan. Yuna, Miyuu, kalian juga ikut!"
Melihat Wakil Ketua Divisi yang bersemangat, Sekretaris dan Bendahara Divisi pun membuat pose menyambut misi mereka masing-masing sambil membalas seruan Haruka.
"Seperti inilah yang diharapkan. Ufufu~"
"Baiklah. Miyuu Stravis, Ready for Action."
Mereka pun keluar ruangan, meninggalkan Ruru disana, dan itu dilakukan demi kesembuhan Ruru.
Ruru adalah keturunan dari seorang Imaginer dan juga Manusia Setengah Succubus sekaligus pemilik kontrak sosok Ratu Succubus di dalam tubuhnya--Lilith, yang membuatnya memiliki kekuatan imajinasi tipe magis, dengan tambahan energi mana ekstra yang dihasilkan dari nafsu. Namun ketika energi mana ekstra tersebut tersisa sedikit, maka ketahanan tubuhnya akan menurun, dan sensitivitas tubuhnya ditingkatkan hingga memasuki sindrom dimana dia akan merespon apa saja yang berhubungan dengan nafsu dan menghisapnya dengan bibir.
Passion of Lust Hunter Syndrome, membuatnya akan mencoba menghisap nafsu siapa saja yang ditemukannya. Namun jika kesadarannya masih mampu mengendalikannya, maka yang terjadi adalah seperti sekarang, dia memutuskan untuk berbaring dan menyendiri di Ruang Khusus.
...
Derap langkah kaki beberapa orang terdengar menggema di koridor Lantai 2, dimana itu adalah koridor menuju kelas Nuevo. Seketika telah sampai, pintu otomatis membaca kehadiran beberapa orang tersebut dan mendesis perlahan, menampakkan wujud 3 gadis dengan ikat lengan bertuliskan Divisi Kedisiplinan, sontak menghentikan riuh ramai di kelas Nuevo yang sedang menonton pertarungan barbar ala Venzo dan Kazura yang masih belum selesai--saling meremas bahu masing-masing dalam keadaan pakaian dan wajah yang sudah tidak karuan.
"Brengsek kau! Mengalahlah agar pertarungan ini selesai, dasar otak mesum!"
"Diam kau, *******! Aku tidak akan berhenti sampai bisa mengalahkanmu dengan kekuatanku sendiri, kepala otot!"
"""BERHENTI SAMPAI DISITU!"""
Seruan ketiga gadis Divisi Kedisiplinan yang sudah berada di dalam kelas Nuevo pun menarik perhatian Venzo dan Kazura, menengok ke sumber suara, yang nyatanya seluruh siswa sudah terdiam duluan termasuk Izano dan Rinjou. Nishiki hanya merespon pelan dan kembali memejamkan matanya seperti biasa, dengan kaki yang diluruskan diatas meja.
"Hah, orang-orang merepotkan lagi yang datang... Kukira hiburan ini akan lama, tidur saja lah..."
Setelah mematikan area pertarungan dan kembali ke dimensi nyata, Venzo dan Kazura menerima item pemulih dari Nekorika, lalu mendatangi Divisi Kedisiplinan. Dari tatapan mereka bertiga, jelas tergambar bahwa mereka sedang mencari Venzo.
"Ada apa, senpai?"
Miyuu merespon datar.
"Kami butuh bantuanmu, Ruru sedang sakit."
Entah darimana datangnya, semangat dengan jumlah besar langsung mengisi otak Venzo hingga efek pengobatan dari item yang diberikan Nekorika merespon lebih cepat dari Kazura, sehingga Venzo terlihat cerah seperti tidak ada pertarungan sebelumnya. Nekorika tertegun.
"Wah, cepat sekali, nya~ Padahal dibutuhkan waktu 1 jam untuk pemulihan total, nya~"
Termasuk seluruh siswa-siswi kelas Nuevo tertegun akan hasil yang dicapai Venzo, tak terkecuali Kazura.
"Hey, Ero! Kau curang ya? Pasti kau menggunakan cheat!"
Venzo menengok ke sumber kekesalan lalu merespon dengan kesal.
"Cheat ndasmu! Mana ada cheat di dunia ini? Memangnya ini game?!"
Izano dan Rinjou pun mengeluh atas kebodohan Kazura.
"Disini mana ada cheat, senpai?"
"Bodohnya jika sistem imajinasi ini disamakan dengan game..."
Percakapan pun berlanjut, Yuna mengingatkan.
"Karena Ruru membutuhkanmu, jadi kita harus cepat~ Ufufu~"
Venzo menginterupsi.
"Tunggu sebentar, senpai! Apakah tidak ada lagi yang diperlukan--"
"Wooaaaahhh!!"
Secepat kilat ketiga gadis Divisi Kedisiplinan meninggalkan kelas Nuevo sembari berpamitan pada Nekorika, dibalas sekaligus oleh Nekorika yang heran disana.
"SENSEI, KAMI MEMINTA IJIN UNTUK MEMINJAM RYUICHI VENZO SEBENTAR!"
"JANGAN KASAR-KASAR, NYA~"
Melihat tiga gadis Divisi Kedisiplinan dan Venzo sudah jauh, Nekorika melanjutkan kata-katanya dengan mata yang bersinar penuh rencana.
"Soalnya aku juga membutuhkannya nanti, nyan~"
Terdengar oleh seluruh siswa-siswi kelas Nuevo, Nekorika teringat dan menutup bibirnya. Kazura, Izano dan Rinjou menepuk dahi bersamaan.
...
Sesampainya di depan pintu Ruang Khusus Divisi Kedisiplinan Akademi, Yuna langsung melempar Venzo yang menggeliat seperti cacing saat pintu otomatis terbuka sambil menyampaikan pesan, dibarengi Haruka dan Miyuu.
"Ryuichi-kun~ Tolong jaga Ruru, ya? Aku yakin kau bisa. Ufufu~"
"Jangan mengeluh, ini tugasmu! Bahkan Seiga tidak direkomendasikan untuk mengatasi ini... Tidak mencerminkan pria sejati..."
"Jadi, seperti itulah. Giliran kami sudah selesai, sekarang giliranmu."
Pintu otomatis tertutup, meninggalkan Venzo yang bengong disana. Dari belakangnya, terlihat bayangan hitam bermata merah mengeluarkan suara seperti hantu di film horor.
"Venzo-kun~ Tolong Aku~"
Bulu kuduknya berdiri, Venzo menggumamkan sesuatu.
'Eh? Apakah Ruru-senpai yang berada dibelakangku ini... baik-baik saja?'
Ya, kedua lengan mungil itu perlahan melingkar di lehernya, dan mulai terdengar jelas deru nafas hangat kakak kelasnya itu di telinganya. Aroma nafas buah yang manis dan menggelitik syaraf itu tercium, dan hembusannya ke daun telinga dalam jarak dekat membuat Venzo terguncang. Suara yang tadinya mencekam, kini berubah menjadi lebih menggoda, ketika terlihat jelas sosok tersebut.
"Aku... tidak tahan lagi... Venzo-kun..."
Ketahanan Venzo akan hal ero melebihi ketahanan pria pada umumnya, bahkan godaan berlebih pun tidak memberikannya dampak spesifik hingga membuatnya gelap mata. Namun berbeda lagi saat dimana dia telah berpindah sistem, juga ada sosok Dewi Cinta di dalam tubuhnya, ditambah dengan sosok Fallen Angel yang sangat berbakat menjadi Incubus, membuat pertahanannya seakan rentan terhadap sedikit godaan.
"R-Ruru-senp--mmpphhhh!!"
Lengan itu pun memaksanya menengok ke sumber suara, dan disambut ciuman manis dan lembut dari si pemanggil. Setelah beberapa lama, ciumannya menjadi lebih intens dengan lidah yang seakan bertukar tempat.
Ciuman tersebut terjadi cukup lama, dimana permainan lidah yang diiringi permainan tangan mewarnai pengobatan Syndrome tersebut. Venzo tak lagi dapat berkutik jika itu menyangkut hal semacam ini, yang mana dimulai oleh gadis itu sendiri, selain pasrah dan mengikuti alurnya agar tidak ada kekecewaan mendalam setelahnya.
[Hmm? Aku merasakan aura ini lagi...]
Gumaman Lucifer yang berada di dalam tubuhnya memaksa Venzo untuk bicara di dalam Inner Realm milik Lucifer.
"Kau tahu siapa yang menyebabkan ini, 'bukan?"
[Siapa lagi kalau bukan Lilith, istri si iblis bodoh itu? Kita pernah bertemu dia sebelumnya.]
Perkataan Lucifer menjadi pertanyaan di kepala Venzo. Lucifer pun mendengus.
[Itu lho, bocah...! Yang kumaksud iblis bodoh adalah Trihexa Satan...]
"Trihexa Satan???!!!"
[Huh? Kenapa dengan wajahmu itu? Jangan-jangan... kau takut?]
Merubah raut wajahnya, Venzo membalas dengan ketus.
"Huh! Apanya yang menakutkan dari iblis bodoh itu?"
Lucifer bertepuk tangan dan memuji Venzo.
[Ahahaha! Bagus, bagus, begitulah seharusnya pemilik kontrak dari seorang Malaikat Jatuh! Tapi, meskipun dia terbilang iblis yang kelewat bodoh, begitu pula dengan kekuatannya...]
Sekelebat ditengah percakapan di dalam Inner Realm, ketika ditubuh luar masih terjadi proses pengobatan yang terbilang tidak layak untuk ditonton anak-anak, sosok bayangan datang dari belakang Venzo.
[Ara~ Kita bertemu lagi, Yang Terpilih!]
Sosok wanita cantik dengan Dress merah semerah rambut Venzo membalut kulit indahnya dengan penuh glamor, rambut coklat panjang terurai menjadi mahkotanya, mata berbinar. Ketika sosok itu membelai bahu Venzo, terasa ada serangan mental yang langsung menghantamnya, membuatnya bergetar.
"L-Lilith?" ucapnya terbata-bata.
Ya, sosok yang sering digambarkan sebagai sosok wanita dengan dua tanduk melengkung dan ekor hitam berujung seperti daun sekop itu, kini berwujud wanita cantik yang memberikan dampak besar pada nafsu Venzo, yang auranya malah semakin bersinar meskipun gemetar.
[Hahahaha! Seperti yang diharapkan dari pemegang dua kontrak, memang berbeda!]
Lucifer yang mengatakan hal itu sambil tertawa lepas melihat Venzo dipenuhi nafsu. Venzo pun membalas sembari bertanya akan efek kehadiran Lilith.
"Diam kau, malaikat jatuh! Memangnya kau tidak merasakan apapun?"
[Aku? Ah, kehadiran Lilith memang memiliki dampak besar. Tapi, ini kan tubuhmu. Jadi efeknya akan dikirimkan langsung ke tubuhmu sendiri. Lihatlah.]
Setelah memperjelas, Lucifer memunculkan sebuah lubang dimensi seperti cermin, yang memperlihatkan Venzo sedang menekan Ruru dalam ciuman yang mengalirkan Esensi Lusteria antar bibir.
"Woah! Beringas sekali diriku diluar!"
Lilith pun memberitahu Venzo.
[Itu dikarenakan efek negatif Lusteria akan mengendalikan tubuhmu saat esensi itu ditarik dari tubuhmu. Tapi, benar-benar hebat, bahkan Nafsumu semakin besar seiring lama dihisap~]
Rasa ketertarikan Lilith akan Venzo yang diungkapkan lewat gerakan penuh hasrat tersebut membuat Venzo menelan ludah. Lilith melanjutkannya.
[Ah~ Sepertinya aku ingin mencicipimu secara langsung~ Tidak masalah, 'bukan, Lucifer-sama?]
Lucifer mengeluh.
[Dasar Succubus... Lakukan sesukamu, aku tidak akan mengganggu...]
Sebelum Venzo dihimpit oleh tubuh indah yang diadaptasi oleh Lilith sendiri, lubang dimensi besar muncul di Inner Realm Lucifer, terdengar suara teriakan dari dalam dimensi.
[TUNGGU SEBENTAR!!!]
Dari dimensi baru itu, muncul sosok wanita rambut pirang berpakaian gaun putih yang juga memperlihatkan banyak kulit, dengan mahkota rotan, terbang kearah Venzo dan menghantam wajah Venzo dengan dadanya.
[Pangeran ini milikku!]
Ya, sosok tersebut adalah alasan Venzo memiliki esensi langka tipe Lusteria. Dewi Cinta, Nafsu, dan Kelahiran--Aphrodite.
[Ara? Siapa wanita ini?]
Pertanyaan Lilith yang masih dalam posisi memeluk Venzo juga, dijawab datar oleh Lucifer yang tampak tidak peduli.
[Dia adalah pemegang kontrak kedua selain aku ditubuh ini. Anak Dewa Petir dari Wilayah Yunani.]
Aphrodite pun ikut bertanya pada Lucifer, membuat Lucifer terpaksa menjawabnya juga.
[Lucifer-sama, siapa wanita yang tiba-tiba saja muncul dan mencoba memiliki Pangeran ini?]
[Ugh... Dia adalah Lilith, ratu succubus sekaligus istri dari Raja Iblis Trihexa Satan.]
Disanalah akhirnya terjadi perdebatan antara Aphrodite dengan Lilith.
[Baiklah, Lilith-san. Sepertinya anda baru saja memasuki teritori yang telah memiliki penghuni.]
[Ara? Dia manusia yang kucari, dan aku ingin mencoba tubuhnya juga~]
[Masih ada manusia yang lain, Lilith-san. Dan anda tidak bisa seenaknya memutuskan bahwa Pangeran ini harus melayani anda!]
[Tapi dia menyukai gadis yang mengikat kontrak denganku, lho~ Itu artinya dia juga tertarik padaku, 'bukan?]
[Tidak jika Pangeran menolaknya!]
[Dia tidak akan menolaknya~]
Perdebatan yang dibarengi dengan sedikit dorongan diantara dada mereka yang mengabaikan Venzo pun berbuntut panjang, meninggalkan Lucifer yang juga mengeluh soal ini.
[Inilah yang merepotkan jika dua wanita sedang memperebutkan satu pria...]
Venzo nampak meminta tolong, namun Lucifer juga mengabaikannya.
"L-Lucifer! Tolong aku! Mmmmppphhhh!"
Lantas kedua wanita yang memperebutkannya itu menegurnya.
[[Kau tidak boleh pergi~!]]