
Aku--Suzuki Akira, bersama Keluarga Ryuichi, mengunjungi makam di perbatasan Kota IH dan IK untuk berdo'a pada orang yang mereka cintai dan mereka sayangi...
Sebuah batu nisan yang masih belum lama berdiri kokoh, tertulis disana nama sosok yang mendiami makam tersebut.
Ryuichi Venzo
Hari ini adalah tepat 100 Hari dari Peristiwa 4 Pahlawan SMA Shibuya menghilang tersambar petir. Hal itu pun menjadi banyak pertanyaan antar ilmuwan ternama, karena setelah 4 pemuda tersebut tersambar petir, cuaca kembali cerah. Fenomena yang sepertinya dibuat-buat oleh makhluk asing hanya untuk mengambil mereka, ataupun mereka benar-benar ditelan ombak lautan ganas--itupun hampir tidak mungkin karena pada saat kejadian dimulai, rata-rata gulungan ombak hanya setinggi pinggul orang dewasa. Mereka pun kuyakin bisa melewatinya.
Ryuichi Meika, ibu dari mendiang Ryuichi Venzo, menyalakan dupa dan menancapkannya di makanan persembahan yang didominasi oleh buah-buahan dan beberapa coklat--sepertinya itu makanan favoritnya selama masih hidup. Juga, diletakkan satu majalah dewasa. Apakah dia juga perlu membaca hal ero di Surga? Dan juga, covernya didominasi oleh gadis loli!
Itu menjadi pertanyaan pertamaku disana.
"Ano... Mengapa anda meletakkan majalah itu untuk sesajen?"
Davion menjawabnya.
"Ah, Ibu tahu jika Venzo menyukai hal ini. Juga, ini hadiah dariku sebagai kakaknya. Limited Edition. Hahaha!"
Rupanya kakak laki-laki ini memang mengerti adiknya. Aku berpikir mungkin memang seperti itu arti saudara yang sesungguhnya.
Meika menambahkan.
"Aku hanya khawatir jika dia bosan... Sebagai Ibu yang baik, aku juga harus mengerti kesukaannya... Benar kan, sayang?"
Iruka mendesah pelan seraya menjawab.
"Tidak masalah asalkan kau suka itu."
Ryuichi Iruka meletakkan sesajen tersebut di depan batu nisannya, sembari menepuk kedua tangannya beberapa kali untuk penghormatan, diikuti oleh Ryuichi Davion, serta Liliana-san, istri dari Davion.
"Semoga kamu bahagia disana, nak. Meskipun ibumu rindu padamu..."
Yah, mengingat hal itu, ibunya mulai terisak selagi melakukan do'a.
"Venzo, semoga kamu sehat disana ya, nak? Maafkan ibu yang tidak bisa melindungimu lagi... hiks..."
Dengan penuh kasih sayang, Iruka-san memeluknya, sembari menenangkan.
"Kita tidak bisa mencegahnya pergi, Meika. Lagipula itu sudah takdir dari Tuhan. Tuhan tahu segalanya."
Davion pun menyampaikan sepatah dua patah kata untuk adiknya lewat batu nisan di depannya.
"Aku minta maaf jika aku terlambat, tapi lihatlah. Kau punya kakak ipar sekarang. Bahkan dia sudah hamil. Aku yakin kau pasti memberi sebuah atau dua patah kata selamat untuk kami, 'kan? Kakak iparmu juga sempat memintaku untuk mengelus perutnya sembari memanggil namamu karena itu keinginan anak kami. Kau benar-benar adikku yang keren! Sepertinya anak kami ingin menjadi sepertimu. Tapi mungkin aku akan menceritakan tentangmu jika dia sudah lahir nanti, agar dia tahu jika dia memiliki keluarga yang unik... Astaga, air mataku ikut menetes karena ini... Semoga kau nyaman disana, Venzo..."
Sebentar kemudian, Liliana-san menyambut Davion-san dengan penuh haru. Yah, dia memang lelaki yang hebat.
Tak lupa, sosok gadis yang juga sama denganku, diangkat menjadi bagian dari keluarga Ryuichi, yaitu Ryuichi Ayame, berdo'a untuknya.
"Venzo-kun... Apakah kau kesepian disana?"
Perlahan, air matanya mulai membasahi pipi lembutnya, seraya melanjutkan.
"Terimakasih atas segalanya... Demi diriku, bahkan kau rela melakukan apa yang kau inginkan... Aku masih mengingat apa yang pernah terjadi dulu, ketika kau memaksaku keluar dari keluarga Schneider, dan semua yang kau katakan... *hiks* Bahkan aku tidak bisa memberikan rasa terimakasihku padamu secara langsung..."
Ya, aku sempat mendengar cerita dari Iruka-san, bagaimana dengan perjuangannya, Venzo serta ketiga temannya memutuskan untuk melepaskan Ayame dari belenggu Keluarga Schneider, dan berbicara pada Ayahnya untuk membantu sebisanya. Iruka-san setuju akan hal itu meskipun beliau harus bekerja lebih keras lagi untuk menghidupinya. Kini Ayame menjadi gadis yang cukup riang di Keluarga Ryuichi, juga dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya ke SMA Shibuya, tempat dimana Venzo dulunya bersekolah.
Setelah selesai dengan mendo'akan Venzo, kami kembali pulang ke rumah. Ya, kini aku adalah bagian keluarga Ryuichi, diangkat oleh Ryuichi Iruka. Margaku pun ikut berganti menjadi Ryuichi Akira.
Kehilangan keluargaku di masalalu membuatku sadar, dunia ini memiliki perputaran siklus. Sanng Pencipta tidak serta-merta hanya memberikan ujian saja layaknya seorang guru di sekolah, namun juga memberikan buah dari ujian untuk siapa saja yang dapat menghadapinya.
"Akira, ayo sarapan~" seru Meika-san mengingatkanku yang masih merapikan beberapa interior di Kamar Venzo agar aku merasa nyaman. Buku-buku koleksinya semasa hidup tidak sedikitpun kuubah ataupun kupindahkan tempatnya. Hanya kubersihkan beberapa debu yang menempel.
"Sebentar lagi..."
Selesai dengan bersih-bersih bulanan, aku merebahkan tubuhku di ranjang, sembari meluruskan punggungku sejenak. Aku berucap pada diriku sendiri.
"Entah mengapa, aku ingin membaca hal-hal berbau ero..."
Tiba-tiba saja, suara gemuruh terdengar didekatku. Kepalaku yang mendongak kearah sumber suara menemukan rak buku sedang terbuka di bagian tengahnya dan menampakkan rak buku lain dibelakangnya. Apakah ini semacam koleksi rahasia milik Venzo?!
Buru-buru aku mengecek rak buku rahasia tersebut, dan memeriksa beberapa isi dari rak buku itu.
Keterkejutanku menggema didalam kamar ketika aku menemukan apa yang ada di dalam rak buku yang hanya muncul saat sebuah kode disebutkan.
"APA??!!"
Ya, sebuah rak buku tersembunyi yang berisi segala macam bacaan vulgar, tanpa sensor. Mulai dari tema loli sampai NTR, semua ada disana, dan ditempatkan dengan rapi sesuai urutan, mulai dari kiri ke kanan berdasarkan abjad dari masing-masing genre.
Aku menutup mulutku untuk menghindari suara-suara lanjutan yang dapat mengundang keributan disini, dan sebagai gantinya aku hanya berkata dalam hati dengan penuh ketegangan.
'Ternyata ini maksudnya... Sepertinya malam ini akan kuhabiskan tanpa tidur...' ucapku sambil membalik beberapa lembar dari salah satu bacaan sesat yang kupilih barusan.
Pada saat itu, suara ketuka pintu terdengar. Dengan cepat aku mengembalikan buku tersebut lalu bertanya kepada sosok yang berada di sisi lain dari pintu kamar.
"Siapa?"
"Ini aku, Davion. Apakah aku boleh masuk?"
Oh, ternyata Davion-san. Sungguh langka sekali.
"Masuklah..."
Knop pintu pun berputar. Perlahan, sosok tersebut membuka pintu dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamar, ketika aku sedang mengamati beberapa manga ero lain di dalam rak.
Yah, rasanya memang Davion-san sudah terbiasa dengan kegemaran Venzo, bahkan dia tidak sedikitpun memberikan teguran saat aku menemukan rak rahasia Venzo hari ini. Sambil berdiri disampingku, dia berkata.
"Ah, sudah lama sekali rak rahasia ini... Dan masih aktif..."
Tangannya menyusuri setiap sudut rak perlahan, dan kembali berucap.
"Masih lengkap. Benar-benar Venzo, tidak mau kehilangan satupun koleksi yang kuberikan."
"Jadi ini pemberian Davion-san?" tanyaku penasaran.
Dia mengambil salah satu buku di rak dengan tulisan 'Vanilla' di tempatnya seraya menjawabnya.
"Soal ini, dia selalu jujur. Sebenarnya, sungguh aneh jika pemuda sepertinya mengaku menyukai hal-hal semacam ini--bahkan dianggap tabu di masyarakat. Namun dia memiliki prinsip hidupnya sendiri dan tidak bisa dipatahkan oleh orang awam."
Prinsipnya? Sekuat apa prinsip itu?
Davion-san melanjutkan.
"Aku masih ingat kata-katanya saat Ayah menemukan hobinya ini dan memutuskan untuk berbicara di ruang tamu saat tengah malam. Ketika itu Ayah juga mengajakku untuk membicarakan hal ini. Venzo tetap bersikukuh dengan hobinya meskipun Ayah memarahinya karena memalukan."
Aku menangkap cerita tersebut dan mencoba menelaah. Memang benar, mengatakan hobi pribadi apalagi tentang hal-hal berbau seksual itu sangat dihindarkan oleh orang kebanyakan. Hal itu dianggap memalukan di masyarakat.
Terkekeh sebentar, Davion kembali menyampaikan alasannya.
"Aku akan memberitahu kenapa--bahkan Ayah sendiri tidak bisa mematahkan prinsip Venzo dan menyerah... Pahlawan (Hero) tidak akan lahir tanpa H dan Ero. Bahkan sebelum kami dapat menangkap maksud dari penyataannya, dia menjelaskannya secara gamblang bahwa katanya didasari dari dua bentuk, yaitu bentuk cinta antara lawan jenis juga dari bentuk penggabungan suku kata, juga saat Ayah mengatakan tidak selalu, dia kembali mematahkan pendapat Ayah dengan pendapatnya sendiri soal kelahiran manusia yang jelas berhubungan dengan hal ero. Aku yang menyadari hal tersebut langsung tertawa esok harinya."
Yang jelas, aku pun terheran sampai mulutku menganga karenanya. Bukannya tidak mengerti atau bingung dengan kata-kata itu. Yang membuatku heran adalah--sebenarnya seluas apa imajinasinya, sampai dapat menggabungkan sesuatu yang umum dengan segi penggabungan suku kata semacam itu?!
"Hahaha! Reaksimu sama denganku ketika pertama mendengarnya! Rupanya bukan aku dan Ayah saja yang terheran-heran."
Tidak bisa dipercaya, ternyata sosok yang diberitakan menghilang dari jagad raya dan disebut sebagai salah satu dari 4 Pahlawan Muda Okinawa ini--imajinasinya diluar batas kewajaran manusia yang kutemui...!