World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 43 - Keseharian Bersama Teman Baru



Beberapa hari ini, aku, Ryuichi Venzo, memutuskan untukĀ  bersama Ramalia--sosok Sandstorm Dragon yang berubah menjadi seorang gadis hanya untuk belajar hidup menjadi manusia. Ya, aku mengajarkannya sembari dia menemaniku untuk melatih kekuatan imajinasiku hingga aku bisa berkembang pesat, bahkan dapat mengungguli Divisi Kedisiplinan. Baik, jalanku menuju Raja Harem dimulai!


"Venzo~! Venzoooo~! Bangun!"


Suara manis itu kemudian membangunkanku, yang tertelungkup di padang pasir. Rupanya aku kehilangan konsentrasi sehingga kekuatan imajinasiku menghilang dan Ramalia berhasil melemparku dengan ekor panjangnya saat memasuki mode Sandstorm Dragon...


"Ah, maaf. Rupanya aku kehilangan konsentrasi. Ahahaha!" Celetukku sambil menggaruk kepala. Dia pun tersenyum sederhana lalu membalas.


"Venzo, aku lapar..."


"Ah, baiklah. Kita pergi ke kota untuk membeli makanan."


Dengan riangnya, dia melompat-lompat disekitarku sambil berseru "Makan, makan!"


Yah, semenjak dia menjadi manusia, selera makannya jadi lebih baik. Sebelumnya, dia lebih memilih daging ataupun makhluk hidup lainnya, berhubung dia masih dalam wujud naga pasir...


Itu jelas membuatku lega, dan mengurangi kasus hilangnya beberapa petualang yang masuk daerah .


Adaptasinya untuk menjadi seorang manusia pun berangsur membaik semenjak aku selalu memberikannya gambaran gadis kecil untuk merubah wujudnya lewat Smartphoneku. Wajar saja, isi Smartphoneku itu memang kebanyakan adalah gambar-gambar loli. Mengapa kalian tertawa? Kalian menghinaku ya? Itu hanya untuk referensi, tahu?!


Mengesampingkan hal itu, perjalananku dari menuju dimulai. Kami berdua bertemu beberapa makhluk yang mirip seperti sistem dungeon--itu kuhadapi untuk kemudian mempelajari skill baru dengan dua bilah pisau di tangan. Seperti contoh, sekarang aku sudah memiliki beberapa skill dikarenakan bantuan sistem imajinasi yang diusung di Planet ini.


Karena dari awal atributku adalah Sadistic, status yang lebih dulu naik adalah kecepatan. Dalam hal kekuatan, aku rasa beberapa tahun berjalan pun, statusnya tidak akan naik secara signifikan.


Beberapa misi berhadiah pun kuambil untuk sekedar menyokong biaya keseharianku bersama Ramalia--mulai dari misi rank D dengan bayaran sebesar 20 Keping Experian Silver sampai misi rank A dengan bayaran tertinggi yang pernah kudapat sebesar 100 Keping Experian Gold.


Jadi, dengan mengorek informasi lebih soal Experian, seringkali aku berbaur dengan Petualang lain untuk sekedar membicarakan soal misi dan yang lainnya di sebuah Bar sekaligus Penginapan pusat di tengah kota Sanderio. Dari sistem keuangan disini, sampai cara untuk mendapatkan hadiah tanpa gangguan Petualang Lain pun kudapatkan. Ramalia tetap bersamaku sambil memperhalus perubahannya menjadi manusia dengan memudarkan sisik dari wujud naga pada tubuhnya. Kini, dia seutuhnya sudah dapat menghilangkan sisiknya ketika berubah menjadi manusia, meskipun dia harus menguras tenaga otaknya tiap kali merubah diri. Yeah, kita sama-sama berjuang disini. Aku bangga padamu, Ramalia.


"Venzo~ Aku lapar~"


Itulah yang paling sering diucapkannya setelah berhasil menyelesaikan misi. Mau tak mau, setelah mengurus beberapa ***** bengek--kami bergegas menuju Penginapan untuk check-in. Penginapan yang ternama di Kota Sanderio yang sekarang juga menjadi Penginapan langgananku--Divertia.


Sebenarnya untuk biaya, aku sudah dibantu oleh Perdana Menteri Sanderio sendiri lewat IDku. Namun aku ingin mencoba mandiri dengan mencari uang dari hasil kerja kerasku.


Malam pun tiba. Karena cukup lelah setelah menyelesaikan misi rank B selama beberapa kali, aku bergegas menuju kamar sewa, lalu menata tempat tidur untukku dan juga Ramalia.


Masalahnya ada disini--meskipun aku membelikan pakaian tidur untuknya lewat toko digital, dia tetap saja tidur tanpa pakaian sembari memelukku. Itulah yang membuat kantung mataku bertambah tebal.


Akhirnya, aku lebih memilih untuk melakukan apa yang menjadi tugasku, selain melatih diriku sendiri--menulis. Perlahan, aku mulai merangkai beberapa kisah yang kualami menjadi sebuah cerita singkat. Meskipun tidak terlalu banyak, namun setidaknya itu memberikan beberapa waktu untuk hal berguna.


Pagi harinya, Ramalia malah membangunkanku yang tertidur sambil duduk dengan posisi smartphone masih menyala di pangkuanku.


"Venzo~! Venzo~! Ayo bangun dan sarapan~!"


Sambil mengucek mataku untuk mengadaptasikan sinar yang masuk ke ruangan dari jendela kamar, aku berusaha untuk bangkit dan perlahan mengaktifkan reaksi otot tubuhku yang sudah cukup beristirahat.


Beberapa jam kemudian, setelah mandi dan sarapan pagi, kami bergegas melangkah menuju Alun-Alun Kota Sanderio untuk melihat misi yang tersedia di Papan Pengumuman.


"Hmmm..."


Ramalia pun juga ikut melihat-lihat beberapa lembar kertas yang berisi keterangan misi beserta gambar yang memberikan deskripsi di masing-masing misi. Kuakui, daya belajar Ramalia yang selalu ingin tahu ini memang luar biasa cepat. Bahkan, dia bisa menguasai bermacam-macam bahasa dalam waktu yang singkat untuk makhluk asing sepertinya. Adaptasi perubahan tubuhnya pun semakin tajam, bahkan kau tidak akan tahu perbedaannya dengan manusia pada umumnya. Terimakasih untuk hal itu, aku jadi semakin terbantu dan juga semakin mudah untuk berlatih--meskipun waktu yang diberikan tinggal beberapa puluh tahun lagi...


Dia pun menarik-narik bajuku sembari memberitahu.


"Venzo~! Bagaimana dengan yang ini?" Tanyanya dengan wujud gadis belia yang tingginya hampir sejajar denganku.


Sekarang ini, dia mencoba merubah wujudnya menjadi gadis seumuranku, dengan tanda rambut berponi warna coklat pasir panjang dengan tambahan ahoge ditengah kepalanya yang bergerak ke kiri dan kanan.


Tanpa diduga, beberapa pria bertubuh besar datang dari belakang kami lalu berseru.


"Minggir! Kami yang akan mengambil misi itu! Anak kecil dan nona manis tidak akan bisa menyelesaikannya!"


Cih, masih ada saja orang-orang sombong di Planet ini. Ingin sekali aku menghajar mereka sekarang, tapi keputusanku akan mendatangkan keributan yang mengacu ke kerusuhan massal.


Namun tidak bagi Ramalia yang sepertinya belajar banyak tentang cara bersosialisasi--dia bertanya pada kumpulan orang kekar bersenjata mainstream tersebut.


"Umm, apa kalian tega merebut misi ini dari kami?" Ucapnya dengan mata yang ingin dikasihani.


Sekejap raut wajah mereka berubah drastis, dari garang menuju seringai penuh rencana.


"Oh, apakah nona memiliki pertukaran yang setara dengan misi ini, atau nona ingin ikut dengan kami? Silahkan pilih. Hahahaha!"


Dari cara bicaranya dan arah pandang mereka pun, aku tahu jika mereka meminta tubuh Ramalia untuk pertukaran yang setara.


"Maaf, tidak bisa." Balasku sembari menarik tubuh Ramalia kearahku. Sontak mereka nampak kesal padaku karena keinginan mereka terbaca olehku.


Ada sekitar 6 orang dari sekian banyak Petualang pun mulai geram lalu mengacungkan senjata dari punggung mereka kearahku.


"Hei! Mau main-main denganku, bocah kurus!? Seberapa besar kekuatanmu, ha!?"


"Oi! Ada pertarungan disini!"


"Wah! Anak kurus itu menantang Petualang Kelas A!"


Mereka mulai menjauh dari cakupan area pertarunganku melawan 6 orang Petualang tadi yang sudah mengaktifkan kekuatan imajinasi mereka.


Hanya berbekal senjata bawaan, aku harus melawan Petualang yang nampaknya lebih berpengalaman dariku. Senjata mereka bahkan lebih besar--ada yang membawa Pedang Raksasa, Rantai Bermata Bola Duri, juga Dua Pedang Hitam beraura!


Tapi ini juga demi Ramalia!


Imagination Battle Skill - Lightning Speed!


"Huh, hal semacam itu aku bisa membacanya, bocah kurus!" Ungkap salah satu dari mereka sembari merapal mantra khususnya.


Imagination Battle Skill - Earth Destroyer!


Sekali lompatan tinggi, seseorang yang membawa Pedang Raksasa tadi bersiap menghantamkan Pedangnya ke tanah. Sedangkan yang lain bersiap membantu dengan bantuan skill.


Imagination Battle Skill - Silence Slash!


Imagination Battle Skill - Broken Promise!


Imagination Battle Skill - Wind Force!


Rentetan skill diarahkan padaku yang berlari sembari mencari waktu yang pas untuk memberikan serangan, dikarenakan Daya Imajinasiku yang masih terbatas, aku tidak bisa membuang skill sia-sia disini!


Sementara itu Ramalia menahan diri agar tidak ikut bertarung--aku sudah memberitahunya sebelum kejadian.


"Tolong jangan berubah disini, karena aku tidak ingin kau jadi buruan apalagi terluka. Itu akan menjadi tanggung jawabku untuk menjagamu sebagai teman. Paham?"


Aku sudah mengajarkannya bahwa teman itu harus saling menjaga dan melengkapi. Dia mengangguk meskipun rasanya berat untuk membiarkanku bertarung sendiri pada situasi yang tak diharapkan.


Retakan tanah yang dihantam Pedang Raksasa pun membentuk menjadi patahan-patahan yang menghancurkan arena. Mau tak mau aku harus melompat agar tak terkena efeknya.


Sesaat setelah melompat, aku menyilangkan lenganku didepan dan mereka memberikan serangan padaku.


"Kuharap kau siap menerima serangan kami, bocah kurus!"


Kemudian, sesaat tubuh mereka bersinar, dan mereka mempersatukan senjata mereka--setelah itu suara mereka terdengar berseru bersamaan.


Imagination Combination Skill - Ligerion Blast!


Sebuah pukulan keras dari beberapa senjata yang berubah menjadi sebuah Meriam menghantamku.


Hal itu malah membuat skillku lebih cepat aktif karena skillku ini memerlukan serangan dari lawan. Dan semakin besar daya rusak serangan lawan, maka semakin besar pula pembalikannya--jika kalian paham, ini adalah semacam skill counter yang kupelajari dari hasil latihan.


Imagination Battle Skill - Counter Cross!


Tebasan menyilang yang kupukulkan kearah mereka terlihat besar, mereka pun berusaha menghindarinya karena rupanya skill kombinasi yang mereka lepaskan menguras kekuatan imajinasi mereka.


BOOM!


Ledakan besar terdengar hingga mengguncang sekitarnya. Berkat daya dorong peluru meriam mereka, aku terdorong jauh kebelakang. Dengan sigap aku memutar tubuhku lalu bersiap untuk menapak tanah dengan tepat.


Hup!


Kakiku pun merespon seperti pegas dan membiarkanku untuk melakukan roll kebelakang, kemudian berhenti dalam posisi duduk sembari mengaktifkan skill lain, mereka tidak menduga sama sekali--


"Heeeeyaaaaa!"


Imagination Battle Skill - Dual Punishment!


Skill ini adalah skill yang memanfaatkan serangan lawan juga, namun skill ini memiliki sistem charging dimana skill ini dapat aktif ketika menerima serangan dalam jumlah tertentu.


Tebasan melintang dengan kecepatan tinggi langsung menebas mereka ditengah cahaya yang terang. Sebentar kemudian, kubah dimensi lain memudar dengan 6 orang tersebut terbujur tak sadarkan diri. Aku menghela nafas lega lalu menyusul Ramalia, meninggalkan keributan yang diakibatkan oleh keheranan sekaligus kekaguman dari Petualang lain yang menjadi penonton.


...


"Master, rupanya dia sudah memulai tahap pertarungannya..."


"Hanya dengan senjata dua bilah pisau, dia mampu melawan 6 orang Petualang sendirian..."


[Oh? Lumayan. Aku juga menontonnya dari visual kalian. Aria, Arion, kembalilah sebelum dia menyadari keberadaan kalian berdua.]


""Dimengerti, Master!""