
Hari yang disibukkan oleh transfer nafsu yang berujung dengan ketidaksadaranku, kini aku--Ryuichi Venzo, berada di situasi rumit dalam Inner Realm milik Lucifer. Bagaimana tidak, aku sedang diperebutkan oleh dua wanita mitologi berbeda, dan masalah utamanya adalah, mereka berdua itu wanita yang berbahaya dengan batasan libido yang tidak terukur, juga si pemilik Inner Realm bersikap tidak peduli dan meninggalkanku dalam perebutan ini!
Ada ekspresi keterkejutan pada Lilith, lalu terlihat ekspresi sedikit kecewa.
[Ara~ Waktunya sudah habis, dan syarat penyembuhan sindromnya telah terpenuhi... Jadi aku harus kembali ke tempatku... Mohon maaf ya atas kerepotan ini?]
Aphrodite menunjukkan senyum kemenangan karena itu, karena saingannya menghilang. Namun Lilith kembali menjelaskan.
[Tapi, karena inangku menunjukkan ketertarikan dibalik rasa malunya padamu, maka ini tidak akan lama~ Ufufu~]
Sialan!! Mengapa semua masalahku tidak menjauhkan diriku dari gairah??!! Apa ini karena pengaruh Lucifer dan Aphrodite yang ada di dalam tubuhku?
[Sudah saatnya juga kau kembali, Aphrodite...]
Aphrodite kesal mendengar himbauan dari Lucifer sang pemilik Inner Realm.
[Moo~! Lucifer-san jahat sekali~! Aku sudah lama tidak memeluk Pangeran!]
Bersamaan dengan itu, Lilith bersiap meninggalkan Inner Realm Lucifer dengan ruang distorsi yang muncul dibelakangnya, mengucapkan salam padaku.
[Ah, kalau begitu, aku mohon pamit, Lucifer-sama dan Aphrodite... Juga, Yang Terpilih~ Aku akan datang lagi~]
Setelah menghilang dibalik distorsi yang memudar, aura Lilith yang kurasakan ikut menghilang dari sekitar Inner Realm. Lucifer bernafas lega di singgasananya. Aku mempertanyakan itu, karena Aphrodite masih ada disini, memelukku dengan manja.
[Haa... Akhirnya pergi juga...]
"Apanya woi?! Kau hanya melihat saja, tidak membantuku sama sekali, dasar sial!"
[Pangeran~ Mari bermain denganku~ Ufufu~]
Masih berada dalam pelukannya dan mengingat sensasi tubuh wanita, aku kembali dipaksa masuk ke dalam mode cabulku dan menjawab terbata-bata.
"T-Tunggu sebentar! Aku akan melihat kesadaranku dulu!"
Lucifer memberitahu setelahnya sembari menunjuk kearah distorsi visual di tubuh luarku.
[Tidak perlu. Nampaknya pemilik kontrak Lilith sudah mengurus tubuhmu, dan terlihat kau menikmati tidur lelapmu.]
Benar juga, 'sih. Tapi, kulihat ada yang tidak beres dengan Ruru-senpai. Dia memangku kepalaku di pahanya sembari menangis. Entah apa yang dikatakan, tapi sepertinya dia menganggap apa yang dilakukannya padaku yang membuatku kehilangan kesadaran.
[Oh, tipe yang selalu khawatir terhadap tindakannya ya? Cukup rapuh juga gadis yang kaupanggil Ruru-senpai itu...] kata Lucifer mengelus dagunya. Itu bukan suatu hal yang perlu dibahas,'bukan? Lagipula, aku akan kembali ke dalam kesadaranku untuk menjelaskan bahwa aku baik-baik saja!
Aku melepaskan diri dari Aphrodite lalu berkata.
"Aphrodite, maafkan aku. Tapi aku akan kembali ke dalam kesadaranku untuk memberitahunya agar dia tak mengkhawatirkanku..."
Aphrodite tersenyum mendengarnya, dan membalas.
[Seperti yang diharapkan dari Pangeran~ Bila itu untuk gadis yang kau lindungi, aku baik-baik saja. Tapi sebelum itu-]
Dengan cepat Aphrodite menyambar bibirku dengan kelembutan bibirnya, dan itu terjadi selama 1 menit. Yah, agar aku bisa lepas, apalagi yang harus kulakukan?
1 menit berlalu, Aphrodite melepaskan ciumannya, dan menampilkan ekspresi wajah puas.
[Terimakasih atas hidangannya, Pangeran~]
Aku membenahi posturku lalu berdehem untuk melegakan tenggorokanku.
"Ehem! Baiklah. Aku akan pergi..."
[Meskipun merepotkan, datanglah jika membutuhkan.]
[Hati-hati, Pangeran~ Datang lagi, ya~?]
Melalui sebuah lorong panjang, akhirnya aku menemui ujung dengan cahaya putih, ujung yang bermuara ke kesadaranku sendiri.
...
--Gelapnya, sepertinya aku belum membuka mataku karena sudah mulai terdengar suara kecil tangisan kakak kelasku.
"Uunnhh..." keluhku sembari membuka mata. Dengan itu, Ruru-senpai langsung memelukku sambil menanyai keadaanku tergesa-gesa.
"M-Maafkan aku! Membiarkan diriku sendiri kehilangan kendali... S-Sekali lagi maafkan aku, Venzo-kun!"
Wah, dadanya menempel pada dadaku meskipun dibatasi oleh kain dari pakaian kami berdua. Semerbak harum aroma tubuhnya entah parfum merk apa yang dia gunakan-- Tidak! Tanganku ingin memberontak dari diriku, mengabaikan akal sehatku!
Mencoba menyadarkan diri, tapi dengan apa? Tidak ada yang bisa digunakan untuk menolong akal sehatku saat i--
<>
Nah, saatnya melepaskan diri secara lembut.
"Ano... Senpai, aku baik-baik saja, jadi kau tidak perlu khawatir lagi... Maka dari itu..."
Ketika dia menyadari betapa erat pelukannya padaku, suhu wajahnya naik secara drastis, warna merah memenuhi wajahnya dan kelabakan melepaskanku.
"W-WAAAAAAAH!! Maafkan aku!!"
Kami pun memutuskan untuk mendengarkan secara seksama pengumuman yang sempat terdengar disampaikan oleh sosok pria dengan suara dalam dan maskulin.
<>
...
Di lokasi lain, materi dihentikan sementara untuk mendengarkan pengumuman yang membahas detail dari pertandingan ini. Di bangku paling belakang kelas Nuevo, sosok pemuda dengan rambut setengah mengarah ke belakang dan setengah lagi menutupi satu matanya mengeluh.
"Merepotkan sih, tapi namaku bakal dipanggil juga, 'kan? Lebih baik kudengarkan saja..."
Dengan santai, dinikmatinya kembali makanan yang berada di pangkuannya, yang lain pun fokus terhadap audio yang diperdengarkan di seluruh sudut Akademi ini.
<>
"Benar, 'kan?" keluhnya sembari membuka bungkus makanan lain.
<>
...
Di kejauhan, meskipun hanya terdengar gema kecil, sosok berjubah sedang berdiri diatas salah satu gedung didekat Akademi Experian. Kedua tangannya belum keluar dari saku jubahnya yang bergerak tertiup angin. Tak lama kemudian datang lagi sosok berjubah lainnya disana, berkata dengan nada khas seorang gadis yang bersemangat.
"Ah, sebentar lagi ya? Aku tak mengerti apa yang diinginkan Master akan hal ini, namun yang pasti akan menjadi menyenangkan, 'bukan?"
Yang sedari tadi tetap berdiri tanpa mengeluarkan kedua tangannya dari saku itu masih diam, lalu mengucapkan beberapa kata.
"Entahlah."
Sore itu terlewat dengan aman, kecuali ketiga pemuda yang baru saja kembali dari Latihan 100 Tahun mereka, sedang mencari Venzo yang masih belum kembali ke kelas.