
"N-Naya... Apakah keputusanmu ini sudah tepat?"
"Kumohon... Hanya sebentar saja..."
"Baiklah... Jika kau merasa sakit, katakan saja... Aku tak ingin menyakitimu..."
"Um~ Aku akan menahannya..."
"Senpai, kenapa hanya Naya-senpai saja? Padahal aku juga ingin..."
"Haaaah~ Kau akan mendapatkannya setelah Naya."
"B-Baiklah..."
Beberapa jam sebelumnya...
Akhirnya hari ini tiba juga, hari dimana aku, Ryuichi Venzo, akan berkencan dengan Kusakabe Naya, sang pianis idola nomor 1 di Tokyo. Mungkin aku tidak perlu mempersiapkan apapun, apalagi yang perlu kupersiapkan? Dia sudah memberitahukan jadwalnya via email. Sepertinya Produser yang ada dibalik jadwal ini.
"Ahhhhh..." desahku sembari mencoba membangunkan syaraf-syarafku setelah bangun tidur. Pukulan yang kudapat kemarin, hari ini terasa sudah membengkak dan tebal. Tapi, ini tidak seberapa menyakitkan daripada tangisan seorang gadis, jadi aku harus kuat dengan ini!
Dibangunkan oleh adik perempuan itu memang menyenangkan sekaligus menyegarkan pikiran yang terisikan sekejap oleh senyum manisnya, suara imutnya, dan tingkah lucunya...
Meskipun dia hanya berwujud aplikasi di telepon pintarmu...
Kuusap-usap layar Smartphoneku yang sekarang sedang menampilkan figur lucu karakter adik perempuan dengan baju imut yang didesain untuk hari spesial. Namun sekarang dia sedang marah karena aku terlambat bangun. Harusnya aku sudah terbangun pukul 06.00 waktu setempat, tapi yang ada aku terlambat 15 menit dari waktu yang sudah kuberitahukan padanya.
>Dasar, onii-chan ini, susah sekali dibangunkan...<
Sebenarnya sempat aku mendengar suaranya saat membangunkanku dengan imutnya, hingga dia menangis karena aku tidak juga bangun setelah 5 menit. Tapi mau bagaimana lagi, teriakan para pembaca yang meminta lanjutan cerita fiksiku menuntutku untuk menambah jadwal ekstra menulis di malam hari, membuatku harus memutar otak untuk mencari ide yang tak biasa lainnya.
Tapi, hari ini aku perlu mengistirahatkan kinerja otak berlebihan... dengan kencan.
Yang membuat kepalaku masih terasa pusing adalah, bagaimana caranya aku menemui 2 gadis sekaligus dengan hanya satu tubuh? Meminta teman? Tidak ada yang sama denganku. Kazura? Pastinya dia memilih untuk berlatih daripada membuang waktu dengan menemui seorang loli.
Izano? Dia pasti mau, dengan syarat gadis tersebut harus mengenakan stocking.
Rinjou? Ah, tidak. Dia lebih mencintai aplikasinya. Lagipula dia lebih berbahaya dariku jika itu berkaitan dengan gadis loli. Mungkin dengan tatapannya, pihak berwajib disekitar kota dengan sigap akan langsung bergerak meringkusnya karena melakukan kejahatan seksual dengan tatapan buasnya terhadap gadis loli. Dia tidak memiliki pertahanan khusus sepertiku.
Oh, kalian tidak percaya? Kuberitahu satu trik untuk menutup tatapan mesum kalian, wahai kalian lelaki mesum yang belum mengetahui cara memperhatikan gadis dengan intensitas mesum beretika.
Lagipula, trik ini hanya bisa dilakukan oleh laki-laki berwajah dingin, sepertiku.
Caranya? Cukup memperhatikan target dengan sorot mata dingin, lalu tambahkan sedikit senyuman brengsek diwajahmu. Itu akan memberikan kesan keren. Itulah yang kudapat dari beberapa pengalaman saat berjalan-jalan di kota.
"Ah... Sekarang, saatnya berangkat..." ucapku setelah selesai mengenakan kemeja lengan pendek dan celana panjang hitam, tak lupa dengan headset yang selalu menemaniku untuk tetap mempertajam bakat musikku.
Setelah melewati beberapa menit perjalanan dari Shinjuku, akhirnya aku sampai ditempat tujuan. Tepatnya di Perempatan sibuk Akihabara, Tokyo. Disinilah aku harus bertemu dengan sang idola Tokyo, Pianis cantik, Kusakabe Naya.
Ah, di hari liburan seperti ini, banyak gadis berlalu lalang dengan tas kecil mereka, entah itu ingin berkencan atau sekedar menghabiskan waktu dengan belanja di pusat perbelanjaan.
Mungkin jika aku duduk di tengah taman, aku bisa meningkatkan kekuatan ero-ku dengan mengamati beberapa gadis yang sekedar lewat ataupun bercengkrama dengan kekasihnya... mungkin itu hanya teman lelakinya, jadinya aku bebas mengamati lekuk tubuh mereka untuk bahan referensi cerita fiksiku- Bukan, maksudku, adegan perbincangan diantara mereka... mungkin.
Pukul 8 Pagi waktu setempat, akhirnya sosok gadis yang kutunggu datang juga, dengan penampilan sederhana, namun mampu membuat para lelaki disekitar situ mengalihkan pandangan kearahnya. Beberapa tamparan dan omelan terdengar dari beberapa pasang muda-mudi. Aku hanya mengeluh sambil menggelengkan kepalaku, seraya menyambutnya dengan senyum cerah.
"Yah, seperti yang diharapkan dari sang idola, penampilanmu membuat keributan diantara beberapa pasangan disekitar sini."
"B-Bukannya aku ingin!"
"Tapi, aku perlu berterimakasih padamu untuk itu. Karena pandanganku bosan berlama-lama melihat tingkah mereka..."
Dengan bangga kukatakan seperti itu. Peduli apa, memang aku kesal jika duduk sendirian ditengah suasana manis banyak pasangan kencan...
Setelah kami berdua bertemu, kami mulai dengan acara makan. Tak lupa sang Manager mengantar kami dengan mobil ke lokasi pertama. Huh, padahal ini acara kencan, kenapa dia ikut juga seperti seorang bodyguard?!
>Aku tidak ingin hal-hal aneh terjadi padanya. Dia itu Pianis nomor 1 di Tokyo!<
Itulah teks yang sempat dikirimkannya melalui media sosial.
Saat makan, dia mulai menanyakan sesuatu.
"Nee..."
Pada siapa dia berbicara, matanya mengarah padaku. Dengan lembut aku menjawabnya.
"Ada yang ingin kau tanyakan?"
Meskipun suasananya terasa indah, tapi dari sisi lain, Manager Naya memelototiku dengan pandangan tajam, alangkah mengganggunya!
"Aku hanya ingin tahu... Kenapa kau bisa sejujur itu, mengakui hal yang bahkan menurut orang lain itu menjijikkan?"
Awalnya dia menikmati makanan yang dipesan sebelumnya. Tapi, saat menanyakan hal itu dia mulai serius. Aku pun kembali meletakkan sendok dan garpu di piring saji yang ada di depanku, tanpa mencicipi sedikitpun makanan yang dipesankannya untukku, karena ini adalah masalah yang cukup serius.
"Berarti orang lain tidak mengakui definisi lengkap bahwa mereka adalah manusia. Bukankah begitu? Dari awal Tuhan menciptakan manusia, manusia diberikan akal dan nafsu."
"Itu..."
"Benar kan apa yang kukatakan? Jadi, jika mereka malu mengakui bahwa mereka itu mesum, ada dua kemungkinan persepsi yang mereka miliki. Mereka hanya ingin gambaran mereka tidak buruk di mata orang lain, atau mereka sudah sering melakukan hal tersebut namun menolak jika disebut melakukannya, dengan kata lain kembali ke persepsi yang pertama. Padahal, pepatah pernah mengatakan bahwa lebih baik jujur meskipun hancur."
Sekejap dia terdiam. Mencoba mencerna penjelasanku, yang tidak banyak orang mengetahuinya. Ya, sebagian besar orang sebenarnya memiliki pemikiran mereka masing-masing yang berbau mesum. Namun mereka menyembunyikannya karena alasan yang tadi kusebutkan. Demi menjaga image mereka dimata orang lain. Bukannya aku bangga karena aku ini mesum, tapi setidaknya aku jujur pada diriku sendiri, dan juga mencoba menjelajahi ilmu baru. Bagaimana jika orang mesum memiliki etika? Memangnya ada? Jika tidak ada, aku akan membuatnya sendiri!
Sang Manager nampak ingin melayangkan protes, tapi seketika aku menyadarinya dan langsung memberinya pertanyaan logis.
"Apakah kau memiliki persepsi semacam itu, Manager-san?"
Dia ingin mengatakan sesuatu untuk menjawabnya, namun tertahan oleh jawaban Naya yang mengejutkanku.
"Manager, untuk hari ini, biarkan aku berdua dengannya!"
"Eh? Tapi-"
"Apakah kau tidak mempercayai teman dekatku? Kemarin kau tidak bisa melakukan apapun saat ada pertemuan keluarga kan?"
Ya, sang Manager hanya bisa menunggu di mobil, di tempat parkir Hotel bintang lima tanpa bisa berbuat melebihi kehendaknya, karena Manager hanyalah sebatas menentukan jadwal saja. Aku pun berpikir begitu sebagai sosok yang berakting sebagai pacar Naya kemarin malam, hingga ada beberapa insiden keributan disana. Itu hanya intuisiku sebagai seorang pria.
"T-Tapi, kemarin malam yang kulakukan hanya intuisi seorang pria!" lanjutku sambil menahan malu.
Sebenarnya, dari awal apa yang kukatakan sudah terdengar oleh beberapa pengunjung restoran. Mereka memandangiku dengan kesan aneh. Dan yang kulakukan hanya mengacuhkan mereka. Toh, aku ini manusia biasa, dan sangat tidak etis untuk membuat keributan dengan masalah itu apalagi ini restoran elit. Bukan tempatku untuk berdebat dengan mereka yang hidupnya ada diatas.
Suasana mulai tenang, kami mulai makan dengan makanan masing-masing karena sudah mulai dingin. Namun aku merasakan ada beberapa orang yang mengawasiku dari luar. Beberapa orang berjas hitam dengan gerak-gerik mencurigakan berada di depan restoran.
Karena aku sedang memandangi keluar jendela, hingga membuat Naya memanggil namaku beberapa kali gara-gara hilang fokus untuk menikmati makanan.
"Venzo... Venzo..."
"Hmm? Ah, maaf."
"Ada apa? Kenapa kau melihat keluar jendela?"
"Tidak apa kok. Selamat makan!"
Padahal beberapa menit yang lalu aku sempat mengucapkannya. Ah, sial! Orang-orang itu membuatku curiga! Mungkin saja mereka adalah anak buah dari pria Calon Direktur Perusahaan Besar Tokyo yang kuhadiahi dengan pukulan di wajah kemarin...
...
...
...
Setelah selesai dengan makan siang, kami bergegas menuju pusat perbelanjaan. Tanpa basa-basi, aku mengikuti kemana Naya pergi, dengan berjalan di belakangnya. Namun Naya menarikku dan menggandeng lenganku seperti pacar sungguhan. Sebenarnya aku ingin menolak, namun dia mengetahuinya dan berkata, "Hari ini kita berkencan, jadi biarkan aku berlaku layaknya pacarmu. Mengerti?"
Ya, ya, baiklah. Asalkan kau senang, aku juga senang. Tak ada salahnya juga membuat seorang gadis tersenyum kan? Itu sudah tugasku sebagai Pria Sejati.
Setelah sampai ke toko baju khusus wanita, dia mulai melihat-lihat disana sembari menarikku untuk memberikan pendapat versi pria tentang baju seperti apa yang cocok dikenakannya.
Sebenarnya disana banyak sekali pembeli yang masih berusia belia sedang mengamatiku sambil membicarakan sesuatu diantara mereka, karena hanya aku laki-laki yang masuk ke toko baju khusus wanita. Sedangkan pasangan mereka menunggu diluar. Dengan penampilan pas-pasan aku diam saja menanggapi respon mereka. Toh, menyombongkan diri juga tidak pantas di depan mereka.
Beberapa gaun dipilihnya, ada one piece berwarna biru laut, pas sekali untuk awal liburan musim panas nanti. Ada juga gaun yang dikenakan khusus dalam acara santai seperti kencan, namun dihiasi dengan beberapa renda pada roknya, memberikan kesan imut sekaligus elegan yang berbaur sempurna. (Maaf, penulis kurang berpengalaman dalam menjelaskan model pakaian apalagi pakaian perempuan. Jadi, harap dimaklumi)
"Aku akan mencobanya..."
Nampak dia kerepotan membawa baju-baju yang akan dicobanya karena dia sedang membawa tasnya. Bermaksud praktis, aku menyarankannya untuk menyerahkan tasnya padaku.
"Naya, biarkan aku yang membawa tasmu. Kau terlihat kerepotan dengan beberapa pasang baju dan tas..."
Entah kenapa, wajahnya mendadak merah dan matanya memandang ke bawah.
"Itu..."
"Hmmm, memangnya ada apa? Aku tidak akan menggeledah isi tasmu tanpa ijin."
Sedikit gemetar, dia menyerahkan tasnya padaku lalu masuk ke dalam ruang khusus ganti sementara aku menunggu di depan ruang yang hanya muat maksimal 4 orang tersebut.
"J-Jangan lihat isinya~!"
"Iya, iya. Aku mengerti. Huft~" desahku yang nampak dicurigai.
Memang, aku bukan tipe yang tidak akan melakukan sesuatu tanpa ijin, kecuali dalam keadaan darurat, apalagi membuka tas seorang gadis.
Tapi keadaan berbeda ketika diluar ada keributan karena beberapa orang pria berjas dan bertubuh tegap mencoba masuk ke dalam beramai-ramai.
"Tolong! Ini toko pakaian khusus wanita! Dilarang masuk selain anda membawa pasangan!"
"Jangan halangi kami! Kami ingin mencari Kusakabe Naya yang sedang bersama seorang pria!"
Jika mereka mencariku, agar tidak menambah keributan, aku akan keluar sendiri!
"Kalian mencariku?" sambutku dengan nada dingin dari belakang penjaga toko pakaian yang masih mencoba menahan mereka. Dari jumlah yang mereka miliki sekarang, ada sekitar 11 orang dengan pakaian rapi layaknya bodyguard sedang menatapku dengan pandangan permusuhan.
"Ya, kami ada sedikit urusan denganmu..."
Aku melihat dua orang lainnya sedang mengunci pergerakan Manager yang meronta ingin dilepaskan. Dia tertangkap duluan ya?
Sebelum tangan besar mereka menggapai tubuhku, aku memberikan isyarat untuk berhenti sambil menyampaikan sesuatu.
"Jika itu masalah bos yang menyewa kalian, begini saja."
Sambil mengelus dagu pelan, sambil membiarkan para penjaga toko kembali ke aktivitasnya karena keributan sudah teratasi, aku melanjutkan perkataan yang sempat kusampaikan tadi.
"Bagaimana jika bosmu itu menemuiku?"
Setelah mendengarkan kata yang cukup menyindir sang pembayar mereka, nampak mereka mengepalkan tinju masing-masing, bersiap untuk memukulku.
"Hey, hey. Tenang saja. Ini cuman tawaran yang bagus kan?" lanjutku sembari mengambil satu langkah mundur, ketika salah satu dari mereka yang berada di depan maju dan memelototiku dengan tubuh tingginya itu, merendahkan tubuhnya.
"Bagus seperti apa menurutmu?"
"Untuk membuktikan saja, bahwa dia memang lelaki yang pantas menjadi bos..." sindirku tak ingin kalah.
Sang Manager ingin mengatakan sesuatu, namun terlebih dahulu dibungkam oleh bodyguard yang mengunci pergerakannya.
"Ikut kami..."
"Aku tidak akan lari, jadi kalian tak perlu membopongku seperti orang tua. Mengerti?"
Sebelumnya dia membawa Smartphone di celana panjang yang dikenakannya. Memang sejak awal tadi, penampilannya terkesan praktis, suka mengenakan pakaian laki-laki. Tapi saat berada di toko baju, dia memilih pakaian wanita karena menurutnya, meminta pendapat laki-laki adalah saat yang tepat untuk memilih pakaian wanita.
Aku menekan tombol "Call" di Smartphoneku dan membiarkannya selama beberapa detik, lalu menekan tombol "Reject" untuk sekedar memberikan tanda padanya. Lalu, aku juga meminta mereka untuk meninggalkan Sang Manager.
"Tinggalkan saja Manager itu disini. Dia tidak ada hubungannya." keluhku sembari sedikit mengejeknya dengan tampilan yang amat polos begitu.
Mengerti akan ekspresiku yang nampak meremehkan Manager Naya, mereka melepaskan Manager. Namun salah satunya memberikan peringatan.
"Tapi ingat! Jika Nona Naya mendengarkan ini, aku akan membungkusmu..." ancam orang itu pada Manager Naya sambil mengekspresikannya dengan tangan-tangan besar dan berotot tersebut.
Akhirnya, hanya aku yang ikut mereka. Dikelilingi orang-orang besar yang berjumlah 11 orang itu, aku tidak punya pilihan lain selain menjalankan rencana utama ini, yaitu adu pukul satu lawan satu dengan si Calon Direktur itu.
Posisi kami berada di lantai 4 gedung pusat perbelanjaan, jadi kami menggunakan lift untuk mempercepat kami menuju Lantai Dasar.
...
...
...
Setelahnya, kami sampai di tempat parkir, dimana ada sosok seorang pria yang pernah kulihat sedang bersandar di sebuah mobil BMW hitam paling mengkilap diantara mobil lain.
Menatap matanya yang nampak kesal setelah mendapatiku datang padanya, aku pun berbalik dengan cepat seraya menyampaikan pada mereka yang ada dibelakangku dengan nada cukup keras.
"Aku tahu kalian dibayar olehnya, tapi jika kalian memang masih pria sejati tidak hanya otot saja, jangan ada yang ikut campur! Mengerti?! Yang merasa dirinya banci silahkan pukuli aku beramai-ramai!"
Respon mereka hanyalah diam, sembari menelan bulat-bulat apa yang baru saja kumuntahkan pada mereka. Mereka itu lelaki! Jika mereka beraninya mengeroyok satu orang dengan jumlah 11 orang, itu sama saja mereka hanya pengecut jika menghadapi satu pria bertubuh kurus sepertiku.
"HEI! KENAPA KALIAN BERDIRI DISANA SEPERTI PATUNG, HAH!? SERGAP DIA ATAU KALIAN AKAN KU-"
"AKAN KAU APAKAN, DASAR PRIA PENGECUT!"
Mendengar amukannya pada seluruh anak buahnya, dengan cepat aku memotongnya dengan ucapan yang memang cocok untuk pria bernyali rendah sepertinya.
"Kita selesaikan masalah ini, satu lawan satu! Satu langkah saja mereka mendekatiku, maka mereka semua adalah pengecut sepertimu!"
"Kau-"
Merasa sangat rendah, dia mulai melepaskan jas elegannya, juga dasinya. Aku pun menurunkan tas Naya yang kubawa sedari tadi, juga melepas sabukku.
"Tidak boleh ada senjata! Tangan kosong!"
Semuanya yang berpotensi menjadi senjata kuletakkan semuanya di lantai. Keadaan disana juga sedang ramai, tapi mereka nampak membiarkannya karena aku mengatakan akan menyelesaikan masalah ini dengannya begitu keras hingga menimbulkan gema.
Aku menoleh kearah bodyguard sewaan Calon Direktur di depanku sambil melambaikan tangan.
"Salah satu dari kalian, tolong lucuti bos kalian, lalu bawa semua kemungkinan benda yang berpotensi sebagai senjata. Jika kalian merasa ini adalah prinsip lelaki sejati, maka lakukan. Setelah itu, silahkan kalian melingkar dan kami akan berduel ditengah. Tidak boleh ada bantuan sedikitpun jika kalian masih punya otak. Mengerti?"
"HEI! MEMANGNYA KAU SIAP-"
"DIAM KAU, SIALAN! ATAU AKU AKAN MENGHAJARMU SEKARANG JUGA!"
Aku dalam posisi yang benar, jadi sekali dia mencoba menggertakku maka aku akan melakukan hal sebaliknya.
Kami berdua pun selesai dengan pakaian masih lengkap. Beberapa benda yang bisa digunakan sebagai senjata sudah dijauhkan dari kami. Kami berdua digeledah hingga tidak ada senjata satupun di tubuh kami selain sepasang pukulan, tendangan, siku, dan lutut yang siap menghujam masing-masing anggota tubuh satu sama lain.
Kami berdua sudah ada ditengah lingkaran yang dibuat oleh pagar tinggi tubuh para bodyguard si Calon Direktur tersebut, karena sebagian besar mereka menalar bahwa apa yang kukatakan pada mereka semua adalah fakta.
Nampak dia membuka celah sangat lebar tanpa kuda-kuda di depanku. Dengan semburat kemarahan, dia mengutukku.
"Baiklah, kau ingin mencoba pukulanku? Majulah!"
Aku memasang kuda-kuda beladiri yang kudapat dari latihan dengan Ayahku di Kyoto, lalu memberi tanda untuk memancing emosinya.
"Jika aku yang maju duluan, kau tidak akan bisa memukulku."
Seketika, dia memasang gaya bertarung layaknya seorang petinju, dengan menempatkan tinjunya di depan wajah, lalu melompat kecil sambil mengganti posisi kaki depannya berulang kali.
"Baiklah, jika kau ingin jadi samsak hidup..."
Perlahan, jaraknya semakin dekat. Tapi, aku tak terpancing dan tetap pada kuda-kuda dasar yang selalu diajarkan Ayahku.
Satu pukulan darinya dan satu tangkisan dariku menjadi pembuka pertempuran satu lawan satu ini, dengan tujuan berbeda. Pihakku yang ingin melindungi kebebasan Naya yang masih berusia muda, dan pihaknya yang ingin memiliki Naya untuk dirinya sendiri.
Ketenangan pagar hidup saat kami memulai perkelahian telah tercipta. Mereka hanya bisa menatap dan memperkuat tubuh mereka agar salah satu dari kami tidak bisa lari dari arena ini.