
"Ahahaha... Ahahaha..."
Tertawa bersama dan berlarian diatas tanah lapang dipinggiran sungai hingga kedua insan yang masih anak-anak tersebut lelah... Mereka berdua beristirahat dengan berbaring di tengah rerumputan... Angin segar berhembus diantara mereka yang nampak lelah dan berkeringat...
"A-Aku lelah..."
"Ehehehe~ Tapi, kau berhasil, kan?"
"Itu... karena aku tidak akan berhenti sebelum bisa menangkapmu, meskipun lelah..."
"..."
Sejenak percakapan mereka pun canggung, karena sang gadis kecil nampak kebingungan harus menjawab apa. Namun dalam hatinya dia sangat senang ditemani anak laki-laki yang jika dilihat dari postur lebih muda darinya.
Tak terasa oleh mereka, titik senja mulai meredupkan cahaya matahari, membuat mereka harus berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.
"Ano... Sudah sore... Bagaimana kalau kita pulang?"
"Ya!"
"Besok kita bermain lagi ya?"
"Oke! Um, ngomong-ngomong, siapa nama kakak?"
"Namaku Ruruberry, kau bisa memanggilku Ruru~"
"Aku Ryuichi Venzo~! Jangan lupa ya?"
"Ya~ Sampai jumpa besok, Venzo-kun!"
"Sampai jumpa besok, Ruru-chan!"
Dengan begitu, berakhirlah kebersamaan kecil mereka sebagai teman baru. Namun keduanya tidak pernah tahu bahwa hari ini adalah hari pertama dan terakhir mereka bersama...
Esoknya, saat anak laki-laki tersebut menunggu teman bermainnya kemarin muncul, dia tak kunjung muncul disana...
Dan ketika sang gadis terlihat sedang bersama seorang pria bertubuh tegap, gadis tersebut merasa sedih...
"Ah, disana kamu rupanya- Eh, pakaianmu rapi sekali~"
Anak laki-laki tersebut memuji penampilan sang gadis kecil, namun tak merubah raut sedihnya sedikitpun. Sang gadis kemudian menjelaskan alasannya.
"Maafkan aku... Hari ini adalah hari terakhir kita bertemu... Kami harus pergi..."
Tanpa ada pemberitahuan, tanpa ada pembicaraan sebelumnya dia terkejut. Pergi dalam artian yang dia mengerti.
"Eh? Kenapa kamu pergi? Kita bisa bermain lagi kan?"
"Kami akan pergi jauh... Jadi kita tidak akan bisa bermain lagi..."
"Sampai kapan?"
"Selamanya..."
Kesedihan tak terelakkan mendatangi anak laki-laki tersebut. Sesaat kemudian pria berpakaian rapi disebelah gadis kecil mengingatkan sambil tersenyum.
"Ruru, sudah waktunya untuk pergi..."
Tanpa perlawanan, gadis yang dipanggil Ruru itu mengikuti pria disebelahnya, berbalik, lalu melangkah menjauhi anak laki-laki tadi... Namun, sebelum benar-benar jauh, gadis tersebut menoleh kebelakang, lalu berbisik dan tersenyum dengan air mata yang mengalir...
"Terimakasih... Venzo-kun..."
"Ruru-chan... RURU-CHAAAAAN!!"
"WAAAAAAAAAH!!"
Aku, Ryuichi Venzo, terbangun dari tidurku saat perjalanan menuju Kyoto. Setelah berteriak karena mimpi tadi, aku mendapatkan hadiah dari Kazura secara langsung.
BLETAK!
"Berisik, dasar otak mesum!"
Yang jelas, itu sakit sekali dan memaksa syarafku untuk bangkit dari istirahatnya sembari adu mulut dengan Kazura.
"Aku mimpi buruk, dan teriakan itu refleks. Kau tahu tidak, otak berotot?!"
"Apa kau bilang?! Kau membuatku terkejut, dasar Ero! Aku memukul kepalamu itu juga refleks dari refleksmu!"
"Refleks dari refleks? Kau ingin berkelahi?"
"Jangan paksakan tubuh kecilmu, sialan!"
Akhirnya, adu pukul asal-asalan seperti lelucon orang bodoh yang beda pendapat pun terjadi, menambah keributan di dalam Kereta Cepat. Jelas itu mengundang tatapan heran para penumpang lain yang melihat kami terlihat bodoh sekali.
"Dua orang bodoh kambuh lagi..."
"Yah, maklumi saja, mereka memang seperti itu, Senpai..."
Mendengar kicauan mereka, kami berhenti di tengah pergulatan yang tidak jelas, lalu membalas mereka.
"KALIAN JUGA MASUK HITUNGAN ORANG BODOH!"
"Ya, ya, silahkan lanjutkan adu pukul kalian, aku ingin konsentrasi dengan Program baruku..."
"Silahkan lanjutkan dengan tenang, Sensei, Senpai. Aku ingin istirahat..."
Begitulah seterusnya sampai akhirnya Kereta melambat ketika mendekati Stasiun Kyoto. Dan itu pun membuat perkelahian bodoh kami berhenti.
Kami pun bergegas membawa barang-barang kami untuk berpindah ke kereta listrik. Dari Stasiun Kyoto, menuju Distrik S, Kota IH.
Mungkin memerlukan waktu sedikit lebih lama dari Pusat Kota Kyoto menuju kota kecil IH karena Kereta Listrik tidak secepat Kereta Peluru. Tujuan selanjutnya adalah Stasiun K yang masuk Wilayah Kota IK.
Kami memilih transportasi umum karena terasa lebih nyaman ketika perjalanan berbaur dengan orang lain, merasakan rasanya di tengah kegiatan masyarakat sedikit memberikan nilai sosial pada diri kami yang mungkin jarang bergaul dengan masyarakat sekitar ketika berada di Shinjuku maupun Shibuya, kecuali pada waktu sekolah.
Akhirnya, setelah lama menunggu perjalanan melewati beberapa kota, sampailah kami di kota IK. Tak memerlukan waktu berlama-lama, kami keluar dari kereta listrik untuk selanjutnya melakukan perjalanan dengan kendaraan lainnya. Taksi.
"Wah, jadi ini daerah tempat tinggal Sensei?"
Izano yang pertama kali bertanya.
"Yup, beberapa menit lagi kita sampai..."
Kazura juga ikut bertanya padaku selanjutnya.
"Apakah hari ini ayahmu ada di rumah?"
"Entahlah, mungkin hari ini ayah sudah berangkat untuk mulai mengantarkan barang ke pelabuhan..."
Ya, ayahku adalah seorang pekerja keras. Dia bekerja sebagai sopir truk bagian pengantaran barang di sebuah perusahaan Kyoto Pusat selama beberapa tahun. Dan pekerjaannya yang sampai saat ini masih berjalan, lebih dari cukup untuk memenuhi kehidupan harian kami.
Beberapa menit kami melintasi jalan raya menggunakan taksi, akhirnya kami sampai di sebuah rumah semi-permanen dengan pagar setinggi dada orang dewasa. Pada pintunya, tertulis "Ryuichi", tanda itu adalah rumah keluarga kami.
Turun dari taksi dan membawa semua barang bawaan yang kami masukkan ke dalam bagasi, aku menarik nafas perlahan seraya menggumam.
'Ah, aroma yang penuh kenangan...'
Perlahan tapi pasti, bekas ingatan yang lama tertoreh di kepalaku, ketika aku dan Ayah bertengkar hebat, kembali diputar. Ayah memiliki temperamen yang tergolong sulit untuk ditentang ketika sedang berargumen dengan orang lain, termasuk aku yang juga memiliki sifat turunan darinya. Ketika itu Ayah tiba-tiba saja membahas soal Bulan Sabit Berdarah Kyoto, dan menyalahkanku atas kecelakaan yang menimpa ibuku.
Jujur, setelah ibuku memenangkan pertarungannya dengan Pasukan Iblis yang dipimpin Lucifer, dia mengalami koma selama beberapa waktu di Rumah Sakit. Setelah sadar, barulah semuanya terjadi...
Ibuku mengalami gegar otak belakang, yang membuatnya kehilangan ingatan saat ini namun mengingat dengan jelas kenangan masa lalu. Beberapa tahun dalam masa pemulihan, kondisi ibuku berangsur membaik, namun tidak dengan emosi Ayah yang menyadari jika aku yang menyebabkan hal ini. Dia mengetahui jika Ibu mengorbankan dirinya ketika menyegel Lucifer ke dalam tubuhku. Dan pertengkaran hebat pun dimulai setelah aku lulus dari Sekolah Menengah Pertama.
Segel Klan Nakamura yang digunakan Ibu adalah sebuah segel khusus yang membutuhkan energi dari tubuh penggunanya. Semakin besar kekuatan yang ingin disegel, maka pengorbanannya semakin besar.
Karena saat itu Ibuku kehabisan energi setelah bertarung melawan Lucifer, akhirnya Segel tersebut memaksa Ibu mengorbankan sebagian dari ingatannya untuk menghasilkan energi yang diperlukan saat penyegelan berlangsung.
Meninggalkan masalalu tersebut, aku masuk ke halaman rumah diikuti yang lain, lalu mengetuk pintu ketika sampai di muka pintu untuk mengkonfirmasikan kedatanganku.
"Ya, sebentar~!"
Suara halus nan anggun menyambut kedatanganku. Aku menunggu beberapa saat agar penghuni rumah membukakan pintunya, mengijinkanku untuk masuk.
Beberapa saat sebelum suara langkah kaki sampai di depan pintu, sosok tersebut berucap.
"Siapa ya? Apakah ada temanmu yang ingin berkunjung, Davion?"
"Tidak ada, bu. Tapi, beberapa hari yang lalu Venzo memberi kabar jika dia akan pulang bersama teman-temannya, kan? Apakah Ibu sudah lupa?"
Ternyata Davion nii-san juga sedang berada di rumah...
Setelah pintu yang terbuat dari kayu tersebut terbuka, nampak sosok yang sudah lama merindukanku, ya, sosok Nakamura Meika. Alasan mengapa Ibu masih menggunakan marganya ketimbang menggunakan marga Ayah adalah, karena dia adalah generasi Klan Pembasmi Iblis. Karena kehormatan tersebut lah, dia tetap menggunakan marga keluarganya.
"Anakku..."
"Aku pulang, bu..."
Tak perlu waktu lama, Ibu memelukku sambil berurai air mata.
"Anak kecil kesayanganku... Kenapa kau baru pulang, nak?"
"Maafkan aku, Ibu. Aku 'kan bersekolah di Shibuya... Jadi, aku hanya pulang di waktu libur."
"Eh? Benarkah? Ah, Ibu lupa soal itu..."
Karena teman-temanku nampak lelah menunggu, aku memperkenalkan mereka juga pada Ibuku.
"Oiya, Ibu, ini teman-teman yang tinggal satu kontrakan denganku."
Satu persatu dari mereka kemudian memperkenalkan diri mereka pada Ibuku.
"Saya Engetsu Kazura."
"Saya Yamaguchi Izano."
"Saya Kyuasagi Rinjou."
Secercah senyum terlihat dari wajah Ibu saat melihatku pulang ditemani teman-teman seangkatan.
"Wah, temanmu banyak juga ya, nak? Sebentar, Ibu akan membersihkan kamarmu dulu agar bisa dipakai-"
Aku tidak ingin merepotkan, jadi aku menahan pergerakan Ibuku yang ingin kembali ke dalam untuk sekedar membersihkan kamar yang lama tak ditempati.
"Sudahlah, Ibu... Biarkan kami yang membersihkannya. Benar 'kan, teman-teman?"
Seperti yang diharapkan, respon mereka menjadi antusias saat aku memberikan tanda semacam itu.
"Ya, biarlah kami yang membersihkannya!"
"Lagipula, kami akan menginap disini selama 2 minggu, jadi kami ingin membantu kegiatan apapun disini..."
"Tidak perlu repot-repot, sebelum beristirahat kami ingin melakukan sedikit gerakan..."
Sebenarnya Ibu ingin agar kami langsung beristirahat karena perjalanan yang cukup jauh. Tapi karena kami tetap bersikeras ingin membersihkan kamar lamaku, akhirnya Ibu angkat tangan dan membiarkan kami yang melakukan bersih-bersih.
"Ah, apa boleh buat? Anak-anak muda sekarang tidak ingin kalah dari yang lebih tua..."
Akhirnya, dengan membawa tas yang berisi baju ganti dan lain sebagainya, kami masuk ke rumah dengan mengikuti Ibu yang mengantar kami menuju lantai 2.
Kamarku berada di lantai 2, tepatnya disebelah kamar kakakku. Aku menemukan kakakku sedang duduk di ruang tamu bersama- seorang gadis?
"Oh, Venzo? Bagaimana kabarmu? Apa kau makin kurus? Hahahaha!"
"Dasar nii-san! Oiya, apakah dia-?"
"Yap, dia pacarku, dulu dia adalah teman sekolahku..."
Gadis itu kemudian berdiri dan tersenyum untuk sekedar memperkenalkan dirinya padaku yang berhenti sejenak di depan lorong yang tersambung ke ruang tamu.
"Salam kenal, Venzo-chan... Namaku Kazuriha Liliana..."
Yah, masih terasa canggung sih, berkenalan dengan pacar kakakku, tapi mau bagaimana lagi, untuk membalasnya, setidaknya aku harus menggunakan ekspresi anehku.
"Y-Ya, salam kenal juga, aku Ryuichi Venzo... Etto... Bagaimana aku harus memanggilmu?"
"Anggap saja aku kakak perempuanmu, itu lebih baik... Tidak masalah kok, benar 'kan, Vion-kun?"
"Yah, jika kau nyaman dengan itu, bagaimana aku melarangnya? Venzo, anggap Liliana-chan sebagai kakak perempuanmu sendiri..."
Vion-kun? Rupanya aku salah mengira, mereka sudah jauh seperti yang kubayangkan- Intinya, mereka sudah sangat dekat!
"Umm, baiklah, Liliana nee-san... Nii-san, aku ingin bersih-bersih dulu, nanti aku akan kembali..."
"Baiklah, setelah istirahat, ajak teman-temanmu itu berkeliling disekitar sini... Sepertinya Ayah akan pulang besok..."
"Aku mengerti..."
Dengan berakhirnya percakapan kami, aku bergegas menuju lantai 2 untuk menyusul teman-teman yang mulai membersihkan kamarku dan merapikan barang-barang bawaan mereka.
Ah, hari pertama yang cukup bernostalgia...
Tak lama kemudian, ketukan pintu terdengar... Suara Davion nii-san yang menyambut ketukan tersebut.
"Tunggu sebentar!"
Setelah sampai di lantai 2, Ibu meninggalkan kamarku setelah selesai mengantarkan teman-temanku ke dalam kamar.
"Jika tempat tidurnya tidak cukup, Ibu akan menyiapkan tempat tidur lantai lagi untuk kalian..."
"Terimakasih, bu..."
Untuk selanjutnya, aku mulai membantu Kazura, Izano, dan Rinjou yang mulai bergerak untuk membersihkan debu-debu yang menempel di setiap sudut kamar, sebelum meletakkan baju gantiku di lemari lama.
Disamping itu, sembari melakukan gerakan kebersihan, para pemuda kesepian ini mulai melayangkan beberapa pertanyaan. Yang pertama adalah Kazura.
"Hey, Venzo..."
"Hmmm?"
"Sebenarnya tubuh kurusmu itu dari gen siapa? Kulihat Ibumu punya tubuh yang ideal, kakak laki-laki yang ada di ruang tamu tadi juga berbobot. Lantas kenapa kau punya tubuh yang tipis seperti papan setrika?"
Terdengar suara tawa yang ditahan dari Izano dan juga Rinjou.
"Tanyakan topik yang lain, ***. Jangan tanya aku soal itu. Aku makan banyak, tapi berat badanku tidak bisa bertambah..."
Izano tak mau kalah, menghentikan tawanya lalu ikut masuk ke dalam pembicaraan.
"Sensei, pernahkah kau memeriksakan diri ke dokter? Siapa tahu kau mengidap penyakit cacingan..."
Kini giliran Kazura yang menahan tawa karena pertanyaan Izano yang lumayan memancing emosiku.
"Hey bocah, kau ingin berkelahi dengan gurumu yang kurus ini, hmm?"
"Ampun, Sensei..."
Dan yang semakin membuat hari ini bertambah buruk adalah, Rinjou ikut menambah ranjau di percakapan kami.
"Yang jelas, sebuah fakta yang tidak bisa dibantah, kemungkinan karena Ero-sensei memelihara cacing dalam tubuhnya maupun tidak pernah istirahat dalam berpikir..."
Aku menghentikan pekerjaanku sejenak, lalu menatap Rinjou dengan keinginan besar untuk sekedar berkelahi.
"Oi, rupanya kalian mengajakku berkelahi... Kemarilah kalian berdua, dasar murid-murid sialan!!"
Sebelum tubuhku berhasil menggapai kedua makhluk pemancing tersebut, pintu kamar terbuka, dan muncul seorang gadis dengan rambut panjang terurai dan poni rapi mengembang menutupi dahinya.
"A-Ano..."
Sekejap aku menolehkan pandanganku ke sumber suara dan terkejut akan kedatangan sosok tersebut.
"A-A-"
Kazura pun mamberikan sambungan dari ekspresiku dengan kata-kata yang patah.
"Apa yang A? Kau mengenalnya?"
Sosok gadis tersebut merasa bahagia ketika melihatku, lalu datang dan memelukku begitu saja, membuat teman dan juga kedua muridku yang ingin kuberi hukuman tercengang.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Venzo-kun~! Syukurlah kau baik-baik saja~!"
"Ayame?!"
Dengan terjadinya hal itu, semua kembali meneriakiku.
"KENAPA KAU LAGIIIII, SIALAAAAAAN???"