World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Extra Imagine - Mencabut Rumput



Di suatu hari...


Dimana ketenangan sedang menghinggapi kehidupan suatu kelompok...yang dianggap ***...


Di sebuah mansion besar milik organisasi Dark Mind, Hirohito Hiroshi yang entah berapa puluh--bahkan berapa ratus hektar luasnya...


Sekitar 22 manusia sedang mencabut rumput dengan luas yang kurang lebih sama dengan ukuran sebuah desa...


"Haaaah, melelahkan sekali..."


Kiriya Yuriko mengeluh karena terik sinar Canis Majoris yang mulai memanas. Sementara itu dari kejauhan via VirComm yang muncul di depannya, Kiriya Rozuke memberikan nasehat untuknya.


"Sekali-kali juga tidak apa-apa kan?"


"Tapi, ini membosankaaaaaan~!" Keluhnya lagi.


*Kegiatan ini diputuskan saat Hiroshi selesai berjalan-jalan disekitar mansion dan mendapati rumput indah di halaman belakangnya mulai terlihat tak terawat dengan banyaknya ilalang yang mengganggu pemandangan.


Karena itulah, dikumpulkan para anggota Legendary Arcane via Virtual Communication.



Panggilan yang disampaikan Hiroshi lewat pesan video tersebut membuat para anggota Legendary Arcane langsung berkumpul ditempat yang disepakati. Ruang Rapat Mansion Hiroshi.


Dikumpulkannya para ksatria dengan jubah gelap berlambang bunga yang menjadi aksen di beberapa bagian jubah tersebut.


Di pusat sorotan itu, beradanya singgasana utama milik Hirohito Hiroshi, *** Imaginer--berputar perlahan.


"Hari ini, aku memiliki tugas untuk kalian kerjakan."


Tony Walker langsung mengambil pertanyaan.


"Jika saya boleh tahu, tugas seperti apa yang akan kami lakukan untuk anda, Tuan Hiroshi?"


Hiroshi membebankan dagunya pada kedua tangan yang ditempatkan diatas meja dalam diam, menampakkan keseriusan pada tugas kali ini. Aura ketegangan terasa menyeruak dari seluruh anggota Legendary Arcane.


"Anoo... Master..."


Hibiki mencoba memecah keheningan yang menakutkan ini. Lantas Hiroshi kembali bersuara setelah memutuskan berdiri dari singgasananya.


"Baiklah. Kalian akan kutugaskan untuk membersihkan rumput ilalang yang mengganggu pemandangan di halaman belakang."


"""HAAAAAAAAH???"""


Jelas itu menuai protes keras dari sosok-sosok yang tidak suka melakukan pekerjaan merepotkan selain bertarung habis-habisan. Klein Harvey dan Alice Fritzy yang pertama kali, namun mereka tidak saling menyangka.


""Yang benar saja, Master?!""


"Hei, cebol! Kenapa kau mempertanyakan hal yang sama sepertiku?!"


"Berisik kau, Monyet! Itu pertanyaanku!"


Ditengah argumen mereka, tiba-tiba saja sepasang tangan besar sudah memegang masing-masing kepala yang membuat keributan, lalu mengangkat mereka seperti karung.


"Tidak sopan ribut di depan Master. Kita berangkat."


Victor Balward menarik Alice dan Klein meninggalkan Tuan mereka yang mendesah pelan karena keributan bodoh sehari-hari ini. Meskipun keduanya dibawa menjauh, permasalahan tidak selesai. Mereka tetap saja ribut seperti kucing dan tikus.


"Lepaskan aku, Om Botak! Biarkan aku melempar monyet sialan ini ke Dimensi Kegelapan! Grrrrr!!"


"Apa kau bilang, Cebol?! Dan aku akan memperlihatkanmu Tongkat Besarku! Grrrrr!!"


"Diam atau kupukuli kalian sampai hangus."


"...Baik..."


"Baik."


Yang lain pun menerima perintah Hiroshi sebagai Tuan mereka, lalu meninggalkan Ruang Rapat dengan tenang*.


Sebenarnya di awal mereka bekerja dengan tenang...


Sampai akhirnya...


"HYAHYAHYAHYAHYA!!!"


Suara seruan keras keluar dari mulut sosok pria yang sedang menebas ilalang rumput dengan kedua cakar yang terpasang di kedua lengannya.


"Tokiya-san?! Apa yang kau lakukan?" Tanya Kaguya yang muncul sebagai hologram di depan pria itu yang masih asyik dengan kegiatan memotong rumput.


"Begini lebih cepat kan?" Balasnya sembari terus menebaskan cakar panjangnya kesana-kemari.


Melihat Tokiya yang menggunakan kemampuannya untuk mempercepat selesainya tugas, beberapa anggota lain saling memandang, lalu mengangguk sebagai respon untuk sepakat menggunakan kemampuan khusus mereka masing-masing.


Dengan ketenangan yang dia buat seperti biasa, seorang gadis rambut pendek menarik perlahan katana yang ada dipinggangnya, sembari merapal sesuatu.


"Wahai penguasa air, kekuatanmu adalah mutlak. Jadilah tajam dan rapikan semua yang kuadili dengan pedangku! HYA!"


Dengan seruan terakhir, ditebaskannya katana biru tersebut dengan kecepatan tinggi. Gelombang tipis melintang muncul dari tebasan tersebut, memotong seluruh ilalang didepannya.


"Wah, hebat juga kau, Vernathrea Alarice!"


Sikapnya yang tergolong formal dan nampak terlatih seperti sosok Anggota Kerajaan pun membalas pujian Tokiya.


"Maafkan ketidaksopananku, Asano Tokiya-kun. Tapi sepertinya kau lupa, bahwa aku tidak terlalu menyukai keformalan atas diriku. Aku bukan lagi Anggota Kerajaan Vernathrea. Aku hanyalah Levia Alarice..."


"Lagi-lagi seperti itu, kah? Sungguh rendah hati... Baiklah, maafkan aku, Levia..."


"Begitu lebih baik..."


Gadis yang memiliki nama Levia Alarice, kemudian berpindah tempat, kembali ke tugasnya.


Di sisi lain, Ishimoto Aneko, wanita dengan pakaian mirip penyihir, membuka sebuah Distorsi dengan tongkatnya, menari-nari seperti sedang melakukan ritual.


Lantas, bermunculan beberapa makhluk besar dan mirip manusia dari dalam distorsi tersebut. Mata mereka menggambarkan ketertarikan terhadap Aneko.


"Wahai para pengikutku yang setia, maukah kalian mengabulkan permintaanku?"


"""""""Apapun yang anda minta, Yang Mulia!"""""""


Tanpa perintah yang detail, para bawahan yang dipanggil Aneko itupun dengan rajin mulai mencabuti rumput ilalang disekitar kaki mereka, benar-benar seperti bawahan terlatih.


Dengan seksama, Aneko mulai mengamati setiap gerak-gerik bawahannya. Dan salah satu bawahannya pun mendapatkan sebuah pujian dan tawaran yang cukup menggelitik telinga pria.


"Kerja bagus. Aku akan memberikan asupan cinta yang lebih jika kau melakukan hal yang dapat memuaskanku~ Fufufu~"


Salah satu bawahan pertama yang didekati Aneko pun mempercepat pekerjaannya dan merespon dengan semangat.


"Dilaksanakan, Yang Mulia!"


Anggota lain, sosok seorang wanita dengan ekspresi antara bahagia dan datar pun bersenandung.


"Ayo, ayo~ Bersenang-senang, mencabut rumput, perintah Tuan Hiroshi, mari dilaksanakan~"


Dengan kaki diatas yang terikat oleh sebuah rantai dari balik distorsi skala kecil, dia berpindah dengan perlahan bersamaan dengan beberapa ilalang yang selesai dicabut.


Meski begitu, tak ada rasa lelah pada dirinya seakan mencabut rumput sambil digantung itu adalah sebuah hal yang biasa.


"Sungguh bersemangat sekali, Ixtel!" Seru anggota lain yang mencabut rumput dengan menggelindingkan sebuah roda besar seukuran tubuhnya. Yang namanya disebut pun menjawabnya.


"Ah, ini karena perintah Tuan Hiroshi, jadi ini adalah tugas, Subaru-san~"


"Baiklah, kalau begitu aku juga ikut! Horaaaaaaaah!"


Subaru menyerukan semangatnya sambil terus menggelindingkan roda besar miliknya, ilalang pun lenyap beserta rumput yang terlindas roda tersebut. Anggota lain yang berkostum seperti seorang pastur menyayangkan kegiatan ini.


"Sungguh kesalahan, Subaru. Menghamburkan sesuatu tanpa hasil jelas itu adalah sebuah dosa. Seperti ini yang benar." Tuturnya sambil mengayunkan tongkatnya.


"Mau bagaimana lagi, Leo-san? Kekuatanku hanya melaksanakan tugasnya seperti itu..." jawabnya sembari mengangkat kedua tangan disamping.


Anggota lain, masih berdiri dengan 2 kipas berukuran cukup besar.


"Sepertinya tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan tenaga, kalau begitu! HYAAAAAAH!!!"


Kibasan kedua kipasnya mendatangkan angin sangat dahsyat yang langsung memotong rumput ilalang dalam wilayahnya.


"Woah, Elysia-chan benar-benar hebat~!"


Wanita bernama Elysia itupun menyunggingkan senyumnya pada hologram yang muncul dengan ekspresi dari matanya terlihat lembut.


"Ini tidak seberapa, Yuriko-san... Melaksanakan tugas dari Master adalah hal terbaik yang bisa kulakukan sebagai Imaginer..."


Berbeda dengan Elysia, salah satu gadis dengan senapan laras panjang dipunggungnya nampak kesal karena dia tidak berhasil mencabut satu ilalang diantara ratusan ilalang yang tersisa.


...


...


...


"Kalau begitu aku juga akan mulai. Hiyaaaaaaaah!!!"


Padang ilalang yang awalnya tinggi, kini tinggal tersisa rumput yang terbakar, berkat tebasan sepasang pedang sosok gadis ponytail dari atas langit.


--Ya, hari ini adalah agenda dimana anggota Legendary Arcane sedang melakukan kegiatan bersih-bersih, yaitu mencabut rumput ilalang yang mulai memenuhi halaman belakang mansion besar milik Hiroshi.


Keabnormalan dalam kegiatan mencabut rumput ilalang tersebut semakin menggila karena yang lain mulai tertarik untuk melakukan apa yang membuat kegiatan ini cepat selesai. Salah satunya adalah Alice.


"Ayooooo, Bahamut!!!"


Raungan Naga hitam bercorak keunguan yang menggema dibarengi dengan ganasnya lidah api yang disemburkan dengan skala besar diatas padang ilalang, menyebabkan gosongnya area tersebut.


"Nyahahahahaha~! Begini lebih mudah~!" Ucap Alice setelah tertawa puas disebelah Bahamut yang menemani seorang gadis kecil yang dirasa memanggilnya hanya untuk kegiatan yang sangat tidak jelas ini.


"Pemanggil yang bodoh..." keluh Bahamut sambil menggaruk kepalanya bosan. Alice pun membalas.


"Sekali-kali tidak apa-apa kan seperti ini?"


"Terserah kau saja..."


Di sisi lain, Klein Harvey dalam mode Monkey Kingnya bersantai dengan monyet-monyet penjaga, mengamati kinerja monyet-monyet lain yang mencabuti rumput didepannya.


"Kuakakakaka~! Kerja bagus, anak-anak! Bersihkan sampai ke akar-akarnya! Jangan sampai satu ilalang pun lolos!"


"Dilaksanakan, Yang Mulia!"


Layaknya mesin pemotong rumput, mereka mencabut banyak ilalang dengan kecepatan dan akurasi tinggi. Namun dikarenakan wilayah Klein dan Alice berdampingan, para monyet mengira wilayah Alice adalah bagian dari wilayah Harvey juga sehingga bekas ilalang yang dicabut menumpuk di wilayah Alice.


Dan ketika Alice mendapati tumpukan yang tidak diinginkannya itu ada diatas wilayahnya yang bersih...


"Dasar monyet-monyet sialan..."


Kekesalannya pun hinggap dikepalanya.


Diambilnya kapak dari distorsi miliknya, lalu mulai melangkah berat sembari memasang wajah garang.


Sekali lagi, Bahamut menepuk dahinya sambil menggerutu.


"Lagi-lagi..."


Mulai berlari karena semakin kesal, Alice memutar-mutar kapaknya diatas dengan kecepatan rotasi yang bertahap menuju daerah Klein Harvey yang sedang bersantai. Merasakan ada bahaya yang ditangkap dari antena jubah Monkey King Mode miliknya, Klein berdiri tiba-tiba dari singgasananya.


"Oi, oi, ada apa ini?"


Ketika dia melihat sekeliling, barulah dia menyadari bahaya yang dirasakannya. Seorang gadis kecil yang dirasanya terlalu semangat dan terlalu jahil karena tidak ada pekerjaan yang berarti--berlari kearah kawasan latihannya dengan kapak yang berputar cepat.


"Lain kali ajari anak buahmu untuk membuang sampah pada tempatnya, dasar raja monyet sialan~!"


Waspada akan apa yang terjadi setelah ini, Klein mengambil Tongkat Sakti dari distorsi yang diciptakannya sembari membalas teriakan Alice.


"Jangan main-main, cebol sialan!"


Tapi sudah terlambat, Alice sudah selesai melakukan lompatan cepat lalu berhasil menghantamkan kapak berauranya ke tanah yang berada di kawasan tugas Klein Harvey, sehingga retakan tanah dan guncangan keras dihasilkan.


IMAGINATION BATTLE SKILL - EXPLOSION MAGMA!


Dari retakan tanah yang merambat ke bawah para monyet yang sedang mencabut rumput dengan semangat, keluar ledakan merah yang melontarkan monyet-monyet dari Klein Harvey ke langit.


Sebagai efeknya, rumput wilayahnya yang hampir selesai semua, kini ikut gosong terkena skill Alice. Yang jelas, Klein Harvey mengamuk dan berlari kearah Alice dengan Tongkat Sakti Jingu Bangnya yang sudah membesar seukuran tiang listrik.


"Kemari kau, dasar cebol!!"


"Apa? Mau berkelahi denganku, Monyet?!"


Sekelebat saat mereka baru memulai adegan perkelahian, Alice menghilang begitu saja setelah sebuah bayangan hitam besar menyambar--juga bulu-bulu halus dari kulit Klein Harvey yang mendadak berdiri.


"Aku sudah bilang jangan membuat kegaduhan."


Sosok bayangan besar sudah berdiri tegap dibelakang Klein Harvey, membuatnya seketika teringat akan yang satu ini.


Menoleh perlahan, Alice sudah berada di tengah lipatan lengan orang ini dengan kesadaran yang menghilang. Respon pertamanya ketika menatap sosok bertubuh lebih besar darinya itu, hanya tertawa kecil. Dia tahu, dia tidak akan sanggup melawan orang ini--meskipun dia masuk ke dalam Monkey King Modenya maupun memperbesar ukuran Tongkatnya ke ukuran raksasa.


Setelah tawa kecilnya usai, sosok dengan kepala kinclong itu menangkap lehernya dengan lengan besar--hingga terdengar bunyi ruas tulang yang bergeser sebelum teriakannya selesai.


"GYAAAAAAA--"


KRAKKK!


Selesai dengan melenyapkan kebisingan, pria besar dengan nama Victor Balward itu pun berlalu, kembali pada tugas utamanya--mencabut rumput. Sedangkan kedua korbannya dibiarkan tergeletak dengan rumput memenuhi mulut mereka, mengakibatkan gelak tawa yang pecah diantara beberapa anggota lain yang melihat mereka lewat VirComm.


"Hahahaha, bodoh sekali!!"


"Hihihihi, sungguh malang nasib kalian berdua~"


"Sepertinya rumput di mulut kalian kurang banyak..."


"Aria-nee, apa yang sedang mereka lakukan?"


"Mereka hanya melakukan hal yang tidak penting, Arion. Jangan ditiru ya?"


Yang lain pun memutuskan mengikuti cara anggota yang menggunakan kekuatannya untuk mencabut rumput...


Kecuali Kiriya Rozuke, yang hanya bisa menggunakan scythe-nya untuk membabat rumput perlahan.


Beberapa puluh menit berlalu, dan dia bahkan masih mendapatkan 1% wilayahnya bersih dari ilalang. Keluhan keluar dari mulutnya setelah menyeka keringat diakibatkan suhu yang mulai meningkat.


"Haaaaah~ Ini melelahkan..."


Namun karena melihat beberapa anggota lain menggunakan masing-masing kekuatannya untuk mencabut rumput, dia berinisiatif menggunakan sebagian dari kekuatannya juga.


Ketika itu, Tony Walker juga sudah menggunakan buku hitamnya untuk memanggil para Undead dari bawah tanah dan memerintahkan mereka sesuai keinginannya.


"Wahai para pengikutku, cabut rumput ini sampai bersih!"


Seperti seorang pencerah, sosok rambut panjang dengan satu frame kacamata yang melindungi mata kanannya itu berpidato seolah para Undead menjadi pendengarnya. Dan para Undead tersebut bergerak sambil jongkok dengan tangan mereka mencabut ilalang disekitar.


Sama seperti Aria dan Arion yang sedang bermain lempar-lemparan menggunakan Tombak Hitam Bercahaya milik Arion--Lance Noire D'Apollo.


Esensi Cahaya Lance Noire yang mengandung kekuatan pencabik itu hanya berefek diluar pegangan Aria dan Arion sebagai sosok pemegang julukan Twin Arts of Olympus.


"Aria-nee! Tangkap!!"


"Hup! Kukembalikan!"


"Tidak buruk juga, Aria-nee!"


Dengan jarak yang jauh, mereka melemparkan tombak tersebut secara bergantian, ilalang yang awalnya menjulang tinggi diantara rumput kini terlihat rapi dengan hamparan rumput hijau saja.


Menatap lokasi lain, Rozuke mendapati sebuah Tameng besar yang dipasang stabil diatas Tombak--dengan sosok gadis bersayap bersantai dibawahnya.


Menghubungi via VirComm, Rozuke menyambungkannya dengan gadis tersebut.



Sedikit terkejut dengan kemunculan VirComm dari Rozuke, Luna buru-buru membenahi rambutnya yang sedikit berantakan sambil membalas.



Diamatinya rumput disekitar Luna, dan tidak nampak satupun ilalang yang mengganggu pemandangan.


Ucapnya datar.




Lalu, Rozuke menutup VirCommnya kemudian kembali ke kegiatannya.


"Kali ini aku juga perlu sedikit serius..."


Dengan scythe yang dibawanya, dia menarik nafas dalam sembari memasang kuda-kudanya. Mendapati hal itu, Kiriya Yuriko memasuki wilayah latihan Rozuke sembari berucap.


"Wah, kau ingin menggunakan kekuatanmu?"


"Melakukannya secara manual itu melelahkan, Yuriko."


Alice yang ternyata sudah bangkit dari ketidaksadarannya ikut menonton dari atas langit. Klein yang menikmati aksi selanjutnya dari Rozuke lewat matanya, juga Tony Walker yang memasang aura ketertarikan.


Setelah beberapa detik, dia membuka matanya, lalu berputar dengan scythenya. Gelombang yang cukup besar keluar dari putaran penuh tubuhnya--memotong ilalang tinggi disekitarnya.


WUSSSSH!!


Yuriko bertepuk tangan setelahnya, dan Alice bersorak kegirangan dari atas.


"Tidak buruk juga...!"


"Wah, kereeeen!!"


Mungkin bisa dihitung beberapa anggota yang mencabut rumput dengan normal. Pria botak besar yang menghajar dua anggota lain yang berisik tadi--lalu pria lain dengan rambut pirang sebahu namun diikat ke belakang (hampir mirip pembersih kecil yang biasa digunakan pihak kepolisian untuk mengumpulkan barang bukti), juga seorang gadis--errr, maksudku wanita berkacamata dengan tubuh yang proporsional mengenakan sarung tangan berbentuk seperti tiang penyangga gedung jaman kuno beraura gelap. Hanya mereka saja. Namun pekerjaan mereka selesai dengan cepat berkat dukungan kekuatan yang mereka miliki.


Hamparan luas wilayah Rozuke pun bersih. Mereka yang sudah selesai pun berkumpul di tempat Rozuke untuk selanjutnya kembali ke dalam Mansion Hiroshi.


"Kalian sudah selesai?"


"--Secepat yang bisa kau bayangkan."


"Pekerjaan mudah, semudah mencabik manusia-manusia hina pencuri hak orang lain!"


"Lumayan juga untuk mempertajam skill dari Dewi Perang!"


"Tuhan memberikan keajaiban yang memudahkanku. Semoga kemudahan dan keselamatan menyertai kita semua. Amin."


"Roda keberuntungan tidak pernah berbohong!"


"Nikmatnya berbagi cinta tidak harus dengan sesama manusia juga kan? Lingkungan pun memerlukan cinta lho~"


"Heh? Padahal kami masih ingin bermain lagi~ Tapi aku tidak mau merusak Tempat Latihan seperti yang lain. Benar kan, Aria-nee?"


"Nyahahahaha~! Mau bagaimana lagi? Skillku hanyalah skill penghancur! Juga, apakah tidak aneh kalau naga ikut mencabut rumput? Dengan apa? Dengan giginya? Nyahahahahaha~!"


"Punyaku pasti rapi jika kau tidak mengganggu, cebol sialan!"


"Hah?! Padahal anak buahmu sendiri yang membuang ilalang bekas dicabut ke wilayahku, Monyet tolol!"


"Mau berkelahi, cebol?!"


"Mau dikunyah Bahamut, Monyet?!"


"Grrrr..."


"Jangan memulai keributan lagi atau kalian yang akan kukirim ke langit."


""...Baik.""


"Pedang terhebatku hari ini hanya digunakan untuk memotong rumput. Betapa mengenaskan."


"Lebih baik daripada tidak digunakan sama sekali, bukan?"


"Benar juga, sih. Terimakasih sudah mengingatkanku, Chihaya..."


"Itu sudah tugasku sebagai senior adik kelas yang sulit ditata sepertimu."


"Maaf, hehe~"


"Oi, Hibiki! Sampai kapan mau begitu terus?"


Mereka yang berkumpul pun saling menyahut satu sama lain dengan gaya bicara mereka masing-masing...


Meninggalkan gadis yang masih belum berhasil mencabut satu ilalang pun, wajahnya dibuat memerah karena itu--suhu disekitarnya pun mulai naik, hingga fenomena fatamorgana keluar disekitar Hibiki.


"D-Dasar..."


Kekhawatiran beberapa anggota pun terjadi--sebelum mereka berhasil mencegah Hibiki, 4 moncong meriam ukuran besar muncul dari punggungnya sesaat setelah senapan dipunggungnya ditarik ke depan.


Scope yang entah dengan pembesaran berapa kali itupun diarahkan menuju wilayahnya sendiri.


4 AMALTHEA CANON - MAXIMUM BURST!


"Oi, bahaya! Hibiki mulai mengamuk!"


"Dan kalian tahu apa yang harusnya kita lakukan, bukan? Berlindung dengan kekuatan masing-masing..."


Setelah Rozuke mengatakan itu, dengan cepat mereka mengantisipasinya dengan kekuatan masing-masing.


OBLIVION!


DARK QUARTZ TOWER!


UNDEAD WALL!


LOVER'S HOPE!


CELESTIAL SHIELD!


IRON BODY!


PROTECTION MELODY!


THUNDER WAVE - DEFENCE MODE!


BAHAMUT! METAMORPH DRAGON ARMOR!


Dan sisanya yang tidak sempat mengeluarkan skill pertahanan, memilih untuk melarikan diri sebelum ledakan besar terjadi.


"Oh sial. Lari!!"


Dan sebelum mereka mencapai setengah dari perjalanan menuju mansion, meriam besar Hibiki sudah memuntahkan kekuatan dari sinar penghancur yang menghasilkan gelombang ledakan besar dan merembet jauh kearah mansion.


Beruntungnya, Hiroshi yang menyadari ada getaran keras yang mengguncang seisi mansion langsung berinisiatif mengaktifkan skill pelindung disekitar anggota tersisa yang tidak sempat mengaktifkan skill pelindung mereka masing-masing.


IMAGINATION BATTLE SKILL - UNDERWORLD GREAT LEGACY!


Ledakan pun melahap area luas disekitarnya hingga gosong, bahkan hutan dikawasan luar mansion Hiroshi terkena imbasnya. Mereka yang merasakan kekuatan sebenarnya dari Hibiki pun bergetar.


"Benar-benar menakutkan..."


"Khukhukhu... KHUHAHAHAHAHAHA!"


Gadis itu tertawa lepas seakan dia menang dalam perang--perangnya sendiri dengan ilalang yang kelewat kuat. Dia tertawa walaupun pakaiannya compang-camping akibat ledakan dari senjatanya sendiri, asap juga mengepul dari rambutnya yang mengeriting. Yang lain pun menepuk dahi sembari menyesalkan hal ini terjadi.


Dan hal itu mengakhiri kegiatan mereka hari ini, dengan laporan tugas pada Hiroshi bahwa kegiatan mencabut rumput telah diselesaikan dan padang ilalang yang awalnya menjulang tinggi mengganggu pemandangan, telah berhasil dicabut...


...


...


...


...bersama dengan rumput-rumputnya yang terbakar habis--bahkan tanah wilayah yang digunakan untuk berlatih telah diberi tambahan desain hiasan kawah yang acak.


Hiroshi ikut menepuk dahi dari tempat duduknya di Ruang Belakang yang jendelanya mengarah langsung ke halaman belakang--tempat anggota Legendary Arcane melaksanakan kerja bakti.


"Astaga..." keluhnya.