World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 18 - Pertemuan (Kembali) dengan Ayame



Hari ini adalah hari pertama setelah kedatangan kami di Kyoto, tepatnya di kota kecil IH. Aku,  Ryuichi Venzo, mengajak serta ketiga teman yang sedari tadi sudah kubangunkan untuk sekedar berjalan-jalan di kompleks perumahan, kemudian memutuskan untuk keluar dari kamar. Davion nii-san juga sudah bangun dan bergegas dari meja makan dengan seragam rapi.


"Baiklah, aku berangkat dulu. Oi, Venzo, ajak teman-temanmu untuk sarapan!"


Kebetulan hari ini Ibu dan Liliana nee-san yang memasak bersama. Tidak seperti biasa.


Oiya, Davion nii-san dan Liliana nee-san sudah bertunangan, jadi wajar jika mereka berdua terkadang menginap di rumah salah satu pihak.


"Baiklah..."


Dengan perasaan malas aku kembali ke lantai 2 untuk memberitahu ketiga makhluk asing ini ikut sarapan.


"Oi, waktunya sarapan. Ayo turun!"


Sesaat mereka menutup buku yang nampaknya mereka ambil dari rak buku milikku, yang juga baru kuisi beberapa doujinshi.


"Masih pagi, keparat! Waktu yang tepat untuk membaca doujinshi itu malam hari!"


"Iya, iya..."


Akhirnya, mereka mendengarkan ceramahku, mengembalikan bukunya, dan bergegas turun ke lantai 1 untuk sarapan.


Setelah sarapan selesai dengan tenang dan tanpa pembicaraan berarti, aku memimpin para pasukan keluar rumah untuk sekedar berjalan-jalan disekitar kota, berkat saran dari kakak laki-lakiku juga.


Pintu perlahan kubuka, dan udara pagi yang segar menyambut kami. Rasa segar yang dibarengi dengan hangatnya sinar matahari yang belum terik mengawali agenda hari ini.


"Jadi, kemana tujuan kita hari ini?"


Kazura bertanya sembari mempersiapkan otot-ototnya untuk sekedar menikmati perjalanan yang akan datang.


"Hmm... Kita akan berjalan-jalan disekitar sini, dan berhenti di taman kota..."


Tidak seperti kami yang nampak sedikit antusias, Rinjou mengeluh sambil memainkan Smartphonenya.


"Aku tidak terlalu peduli keramaian..."


"Meskipun banyak loli?"


Sekejap dia menyimpan Smartphonenya setelah mendengar ucapan lanjutanku. Secercah senyuman menyembul dari wajahnya.


"Baiklah, aku kalah lagi..."


Kami pun sepakat untuk jalan-jalan disekitar kota dengan peranku sebagai penunjuk jalan. Aneh memang, mereka yang ingin ikut ke tempatku, tapi aku yang harus repot memandu mereka hanya untuk sekedar jalan-jalan.


Beberapa blok terlewati, aku sempatkan menyapa beberapa orang sekitar yang masih mengenalku.


"Oh, anak kedua Iruka-san! Bagaimana kabarmu?"


"Terimakasih, saya baik-baik saja."


"Oh, bersama teman-temanmu juga? Semoga betah disini ya?"


Yang dimaksudkan sedikit menundukkan kepala mereka lalu balas menyapa.


"Terimakasih..."


Sebentar saja melewati beberapa blok dekat rumahku, kami sampai di sebuah taman kecil. Terlihat beberapa anak kecil bermain disana dengan riang. Yah, sebagiannya adalah gadis-gadis kecil sih...


Sungguh pemandangan yang menyegarkan mata kami


...Mungkin hanya mataku dan Rinjou saja terasa segar. Dua sosok lain disampingku hanya memandang dengan ekspresi biasa saja.


Dasar pecinta wanita dewasa, tidak mengerti betapa sucinya tarian dan senyuman gadis-gadis kecil...


Aku melihat tempat duduk yang terbuat dari semen sedang kosong, jadi aku memutuskan untuk menempatinya.


Sebenarnya, ada beberapa tempat duduk seperti yang kusebutkan. Aku memilih tempat yang dekat dengan kami.


Yang lain mengikutiku duduk tanpa perintah.


Dengan kecepatan kilat, Rinjou beraksi dengan Smartphonenya, menyorot kearah beberapa gadis kecil yang sedang berlarian kesana-kemarin, lalu terdengar beberapa kali bunyi kamera sedang menangkap gambaran objek yang disorotnya.


Sebelum aku sempat memberikannya nasehat agar mematikan suara kameranya, dia tersenyum sambil berkata padaku.


"Ini referensi untuk aplikasiku."


Referensi sih referensi, tapi setidaknya matikan dulu suara kamera Smartphonemu, kampret! Kau tahu 'kan pendamping mereka ada disana juga!?


Yang jelas, pendamping mereka yang kusebutkan, mulai memandang kearah sumber suara kamera dengan tatapan ngeri, lalu mulai memanggil anak-anak mereka untuk kembali.


'Setidaknya matikan shutter voice kameramu, idiot!' bisikku sedikit kesal pada Rinjou, yang baru teringat juga akan etika tersebut.


...Sudah terlambat, namaku bakalan tercoreng disini.


"Venzo... kun?"


Aku benar-benar mendengar suara sosok gadis seumuranku disini, ketika aku menoleh kebelakang, aku menemukan Ayame berdiri di posisi yang tidak jauh dariku.


"A-Ayame?"


"Jadi, kau mengenalnya?" tanya Kazura.


"Jelas, bodoh. Aku kan lahir disini!"


"Sensei, penampilannya lumayan imut..." Izano menyambung pertanyaannya.


"Kau mau melangkahiku?"


"Sebenarnya aku tidak minat... Tapi, ada aura loli pada dirinya..." jelas Rinjou.


"Ada benarnya juga- Eh! Terkutuklah mata lolimu itu, sialan!"


Yah, jika dilihat dengan seksama, memang dia terlihat seperti gadis normal. Tapi jika kau seorang pecinta loli, tidak tersamarkan hal itu darinya. One piece putih yang tidak transparan dikenakannya di musim panas ini.


Sungguh keindahan sejati yang perlu dikagumi, tapi tidak terlalu berlebihan. Sederhananya, aku hanya memberi pujian kecil sewaktu memandangnya.


"Itu... terlihat manis untukmu..."


Sembari wajahnya memerah, dia meminta sesuatu hal.


"Ano... Bisakah kita bicara sebentar? Tolong ikutlah denganku!"


Itu diinginkannya ketika kembali bertemu denganku-- tidak, sepertinya memang sudah direncanakan olehnya, berhubung aku sendiri hanya tinggal disini selama 1-2 minggu saja.


Kazura menyikut pinggulku, mengisyaratkan agar aku menurutinya. Sementara Izano dan Rinjou sedang asyik menikmati keindahan taman dengan sekedar berkeliling setelah melihat Ayame. Aku tahu bahkan tanpa kau memberikan tanda, bodoh...


"Baiklah, aku akan ikut denganmu..."


Akhirnya, aku memisahkan diri dari trio kampret itu, lalu berjalan bersama Ayame meninggalkan taman.


Terasa mulai canggung kembali, aku bertanya pada Ayame selagi sudah cukup lama aku tidak mendengar kabar tentangnya.


"Oh iya, bagaimana kegiatanmu?"


Sejenak diam, dia pun menjawabnya sambil menyeimbangkan langkahnya bersamaku.


"Umm, aku bersekolah disekitar sini, dan kau tahu-- beberapa lelaki mulai tertarik denganku, entah itu adik kelas, seangkatan, maupun kakak kelas... Dan, aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya..."


Sepertinya dia masih belum bisa terlalu dekat dengan laki-laki, seiring dengan semakin terlihat kedewasaannya, aura yang dipancarkan cukup memberiku pukulan keras pada kesadaranku, bagaimana jika aku juga menginginkannya untuk bersamaku?


Menyadari perjalanan semakin menjauhi perkotaan menuju perbukitan, aku menanyakan maksudnya.


"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan? Apakah ini semacam--"


"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu saja kali ini-- itu tidak apa-apa kan?"


Tidak bisa aku menolaknya, ini seperti sebuah undangan untuk konsultasi darinya, jadi sepertinya yang aku perlukan adalah mendengarkan semua yang ingin disampaikannya ketika hanya ada aku sebagai teman masa kecilnya dulu.


Jujur, dia adalah pertama kali yang melihatku kehilangan kendali atas tubuhku sendiri saat itu, ketika kita sedang menghadapi berandalan yang umurnya jauh diatas kami.


-Tidak... Venzo-kun!


--Huahahaha! Bocah sialan! Matilah! Tetaplah mengeliat seperti cacing karena sudah berani memukul kami--


Dengan itu, salah satu segel yang ada dalam tubuhku terlepas akibat diriku yang hampir menghadapi kematian. Aura gelap yang terpancar cukup menakutkan dilihat oleh orang awam. Terasa seperti kematian melambaikan tangan kearahmu...


-Boss! D-Dia bangkit lagi!


-Hajar lagi sampai dia mati! Aku tidak peduli! Dia adlaah kutukan di kota ini!


Namun, dengan sekali hempas, mereka terpelanting jauh kebelakang dan terseret di jalanan.


-Boss! Iblisnya keluar! Kita mundur, Boss!


-Kalian penakut!


Saat Ayame masih menangis melihatku, aku menerima sebuah pukulan dari batangan besi yang dipegang oleh bos dari kawanan preman tersebut hingga patah.


Tapi, tubuhku tidak bergeming sama sekali, itulah tampilan yang terlihat di dalam, ketika jiwaku sedang digantikan oleh sosok kegelapan yang tersegel di tubuhku.


-Huh? Sepertinya ada daun kering yang jatuh di kepalaku...


Melihat reaksiku setelah dipukul, bos tersebut jatuh dengan rasa takut yang luar biasa, tubuhnya gemetaran sembari menyeret dirinya sendiri menjauhiku yang memunculkan dua sayap hitam dari punggungku.


-Hiiiii! Dia monster!


Sebelum berhasil lari dari jangkauan, tubuhku terbang menghampiri orang dewasa tersebut sembari memasang wajah dingin.


Dan sebelum sampai kepada pembantaian yang akan dilakukan oleh tubuhku, Ayame memelukku erat sembari memohon.


-Tolong, aku tidak ingin melihatmu seperti ini! Kembalilah, Venzo-kun!


Dengan itu, sebuah cahaya menembus ruang yang memenjarakanku dan menarikku kembali pada kesadaranku.


Aku pun jatuh disana, dipelukan Ayame. Orang-orang pengganggu tadi memilih untuk lari terbirit-birit meninggalkan kami.