Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
Lamaran Kenzo



Aryo berlari mengejar Yuri yang sudah cukup jauh dari mereka.


" Yuri.. tungguin dong.." Teriak Aryo dengan napas tersengal-sengal."


Yuri akhirnya berhenti, dia berbalik melihat Aryo yang berlari mengejarnya.


" Akhirnya,,,, kamu kekejar juga, kamu ini tuli ya? dari tadi aku panggil panggil gak berhenti henti.


" Tuli pala lho!" Yuri berniat menggetok kepala Aryo namun tangannya terhenti melihat Aryo berusaha melindungi kepalanya, sambil berteriak minta ampun.


" Udah..! gak jadi." ucap Yuri ketus sambil berjalan pelan didepan Aryo.


Aryo hanya mengekor dari belakang, berjaga-jaga kalau Yuri membulinya.


Tiba-tiba sesampainya diparkiran mereka ditangkap oleh orang orang dengan mengunakan setelan jas berwarna hitam yang tak dikenal, dan membawanya masuk kedalam mobil Van berwarna hitam.


" Kalian siapa." ucap Yuri meronta panik. Namun tidak dihiraukan oleh ke empat lelaki berbadan kekar yang menangkapnya.


" Apa mau kalian! kenapa menangkap kami!"


Aryo berteriak lantang, namun mulutnya langsung dilakban oleh mereka.


" He..kalian ngapain, lepasin kami..!?"


Yuri semakin berteriak sambil meronta ronta melihat Aryo yang mulutnya sudah dilakban, sementara kedua kaki dan tangannya di ikat.


" Bos bagaimana ini,, perempuannya berisik sekali."


lelaki itu berbisik kepada seseorang pria yang duduk didepan memantau.


" Lagian kenapa kalian nangkap cewek itu sih."


lelaki yang sepertinya ketua dari kelompok itu terlihat kesal. Lalu dia memerintahkan anak buahnya juga melakban mulut Yuri.


Sesampainya disebuah gudang kosong dipinggiran kota A, mobil Van hitam itu berhenti, lalu menyeret Aryo masuk ke dalam gudang, sementara Yuri mereka biarkan pingsan dan langsung mengantarkan dengan hati-hati Kerumahnya. Mereka seperti seorang ahli karena mereka berhasil mengantar Yuri sampai kedalaman kamarnya tanpa sepengetahuan orangtuanya.


Kembali ke gudang tempat Aryo diseret masuk, didalam Sanah dia dipukuli sampai babak belur.


Kenzo yang melihat sedari tadi adegan tersebut dari monitor laptopnya tersenyum puas. Dia kemudian menelpon Thomas.


" Sudah cukup! antar dia Kerumah sakit." kemudian menutup sambungan telepon dan leptopnya.


Thomas memerintahkan anak buahnya mengantarkan Aryo Kerumah sakit yang terletak jauh dari kota A untuk mengobati lukanya. Ya.. yang menangkap Aryo dan Yuri adalah anak buah Thomas dan semua itu adalah perintah dari Kenzo.


Thomas bahkan sudah mengatur dokter terbaik untuk Aryo. Semuanya seperti sudah disusun dengan matang dan rapi, bahkan sampai polisipun tidak akan tahu.


☆☆


Diruang kerjanya Kenzo terlihat sedang berpikir, sambil memutar mutar bolpoin ditangannya seusai melihat video Aryo yang dipukuli hingga babak belur.


Dia kembali menelpon Thomas dan menyuruhnya menemui pak Sanjaya, supaya mengatur waktu untuknya melamar April. Karena dia tidak mau kecolongan oleh pria lain, dia tidak ingin rencananya yang sudah tersusun rapi menjadi berantakan. Dia ingin menjadikan April sebagai prisai agar tidak perlu menjalin sebuah hubungan pernikahan yang sesungguhnya.


Thomas akhirnya bergegas menuju rumah sakit tempat pak Sanjaya dirawat, penampilannya terlihat sangat rapi. Sesampainya dirumah sakit, dia tidak langsung menemui pak Sanjaya melainkan mengatur Dokter terbaik agar ikut bersamanya. Setelah itu dia dan Dokter menemui pak Sanjaya.


Dokter mulai memeriksa dan memberikan perawatan terbaik kepada pak Sanjaya, dengan sabar Thomas menunggunya selasai diperiksa dan dirawat. Akhirnya Dokter memberi instruksi kalau Thomas sudah boleh menyampaikan permintaan bosnya kepada pak Sanjaya.


Dia juga mengatakan kepada Dokter itu kalau mulai dari sekarang ini, dia yang bertanggung jawab merawat pak sanjawa. Dokter itu hanya mengangguk paham dengan perintah dari Asisten Thomas, setelah memberi hormat langsung meninggalkan ruangan itu.


Melihat kedatangan Thomas asisten dari Presdir Kenzo pak Sanjaya dengan bersusah payah berusaha duduk, namun dengan segera dihentikan oleh Asisten Thomas.


" Tidak perlu duduk pak.. sebaiknya bapak tetap berbaring saja. Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Presdir."


Asisten Thomas terlihat ragu mengatakannya, melihat dari kondisi pak Sanjaya dan istrinya yg kurang baik.


" Katakanlah ada apa?"


Seperti pak Sanjaya sudah siap mendengar apa yang akan disampaikan Asisten Thomas melihat dari keraguan di wajahnya.


" Presdir mengatakan ingin sesegera mungkin bisa melamar April anak bapak?"


" Saya mengerti, tolong sampaikan kepada Presdir Kenzo untuk menunggu beberapa hari lagi, saya akan menghubunginya."


" Baiklah kalau begitu, Presdir juga sudah menjadwalkan operasi pencangkokan ginjal untuk istri bapak dua hari lagi."


Pak Sanjaya terlihat terkejut dan juga sangat senang mendengarnya, hingga sulit dilukiskan dengan kata-kata.


Dia dengan antusias dan bahagia mengatakan ketulusannya kepada Asisten Thomas.


" Tolong sampaikan rasa terima kasihku kepada Presdir Kenzo. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepadanya."


☆▪︎


April kembali setelah cukup lama mengantri karena disuruh mengambil obat untuk ibunya oleh perawat, ternyata sebenarnya itu atas perintah dari Asisten Thomas, April terlihat kaget segaligus senang melihat ayahnya yang terlihat lebih baik dan tampak bahagia.


" Ayah...? kondisi..Ayah?" ucapnya terlihat ragu dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


" Ayah bagaimana bisa pulih secepat ini." ucapnya lagi sambil memandangi pak Sanjaya.


" Syukurlah nak, ini mungkin yang dikatakan sugesti untuk diri sendiri, mengetahui bundamu akan segera dioperasi dua hari lagi membuat ayah sangat sehat dan bersemangat."


April tidak bisa menyembunyikan kegembiraan diwajahnya, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yg barusan di dengarnya.


Dengan girang dan bersemangat dia bertanya lagi kepastiannya. " Benarkah itu yah..? itu artinya bunda akan baik-baik saja kan Yah?"


" Iya, itu benar nak..?" pak Sanjaya berucap sambil tersenyum bahagia. April dengan girang langsung memeluk Ayahnya.


Dia akhirnya melepaskan pelukan ayahnya, kemudian melangkah perlahan mendekati ibunya.


" syukurlah.... syukurlah..." Gumam April tampak sadar meneteskan air mata bahagia sembari memandangi wajah teduh ibunya.


Pak Sanjaya mengatur napasnya berusaha mencari waktu yang tepat menyampaikan permintaan dari Presdir Kenzo, Pak Sanjaya tidak ingin apa yang akan disampaikannya merusak kebahagiaan anaknya, tapi dia juga tidak ingin menyembunyikan ini dari April, karena cepat atau lambat dia harus mengatakannya.


" Nak...." panggil pak Sanjaya dengan suara berat.


April menoleh kearah pak Sanjaya kemudian mendekatinya.


Dia terlihat cemas melihat raut ayahnya yang tiba-tiba berubah menjadi kelam.


" iya Yah ada apa?"


Pak Sanjaya tak berkata, dia menatap lekat lekat wajah putrinya dengan tatapan ragu ragu.


" Ayah kenapa ?" April bertanya bingung semakin tak mengerti melihat tatapan ayahnya.


Pak Sanjaya akhirnya dengan berat mengatakan semuanya kepada April, dia juga menceritakan kalau Presdir Kenzo yang menyiapkan operasi untuk ibunya, mendengar itu April terdiam tidak tahu harus berkata apa, dan pada akhirnya walaupun begitu berat, dia memutuskan menerima perjodohan yang diatur oleh Ayahnya, dia sekarang benar-benar pasrah kepada takdirnya. Karena dia tahu betul kalau hanya dirinya satu - satunya harapan Perusahaan dan juga ibunya.


Nasip ratusan orang dan kesembuhan ibunya tergantung dari keputusannya.


Pak Sanjaya bernapas legah mendengar keputusan Putrinya yang tidak menolak perjodohannya. Lagi pula siapa yg tidak merasa bisa menikqhkqn putrinya dengan keluarga Beliondra.


Hanya saja pak Sanjaya merasa semuanya sedikit aneh. Seorang yg terpandang dan banyak di inginkan kaum pengusaha besar untuk menjadi menantunya, kenapa bisa memilih putrinya yg biasa saja.


" Yah April keluar bentar dulu ya..?"


Pak Sanjaya tak menghentikan putrinya, dia tahu betul saat ini April butuh waktu untuk sendirian dan menenangkan diri.


Dia berjalan bengong disekitar rumah sakit, tanpa terasa langkahnya sudah sangat jauh dari rumah sakit, namun dia tidak memutuskan untuk segera kembali,, butuh waktu baginya menerima keadaan ini. Semua terjadi begitu cepat dalam hidupnya, membuatnya tidak bisa memilih ataupun menolaknya.


Dia berteriak seperti orang kesurupan sambil menendang kaleng minuman dengan keras.


" Tuhan..... ini semua tidak adil untukku!!" Kemudian menendang lagi kaleng minuman mengunakan semua tenaganya tanpa berpikir.


Dreeett..bum..


terdengar suara mobil yang dengan tiba-tiba mengerem mendadak dan menabrak pinggiran trotoar.


" Shiitt....!! sial...siapa itu yang melempar kaleng kearahku." Ucap seorang lelaki terdengar gusar karena marah.


April terdiam berusaha menyembunyikan dirinya, mengetahui kalau dirinyalah yang dengan sengaja menendang kaleng itu,, tapi dia tidak berpikir kalau akan mengenai orang.


Laki laki itu akhirnya keluar dari mobil sambil memegang kaleng yg mengenainya.


" Hey kamu.. apa kamu yang melemparkan kaleng ini kearahku."


April menggelengkan kepalanya sambil menunduk tidak mau nenaku.


" Kamu yakin bukan kamu, disini tidak ada orang lain selain kamu ya?" ucap lelaki itu sembari menunjuk sekeliling dan mulai tidak sabaran untuk menghampiri April.


" Kamu kenapa menunduk...! angkat mukamu,, kalau memang bukan kamu pelakunya."


Dengan terpaksa April mengangkat wajahnya pelan pelan. Dia memperhatikan wajah itu secara menyeluruh.


" Kamu..." Om..." ucap mereka secara bersamaan dan terlihat terkejut.


happy reading 😘😘