
" Thomas...!"
Panggilan itu membuat bulu kuduk Thomas sedikit meriding.
namun sebisa mungkin ia berusaha bersikap tenang.
" I..ya Presdir." jawabnya sopan, dengan sedikit ketegangan yang berhasil ia samarkan.
Asisten Thomas berdiri seperti biasanya, seakan yang barusan terjadi tidak pernah terjadi, hanya itu satu satunya keahlian terakhirnya menghindari badai.
Kenzo tersenyum getir, tapi seperti bukan senyum sih, entahlah susah mengekpresikan wajahnya. Yang jelas ada raut kesal disenyumannya, terlihat seperti seseorang yang cemburu, ya itu tepatnya. ' Cemburu.'
Tapi untuk apa dia cemburu, secara hubungannya dan April tidak terlalu dekat, atau apa mungkin dia tidak ingin sesuatu yang akan menjadi miliknya diganggu orang lain, entahlah hati manusia susah ditebak.
Aouranya mulai terlihat dingin meski begitu dia kembali duduk ketempatnya. Dia terlihat berusaha menahan emosi, entah apa yang ia rencanakan, karena ekspresinya tiba tiba berubah tenang dan sulit untu ditebak dengan mata awam, tapi tidak untuk asisten Thomas yg sudah mengenalnya bertahan tahun. Dia sangat tahu segalanya dan mungkin sebentar lagi kita juga bakal tahu apa yg sedang direncanakan Kenzo.
" Thomas...! panggilnya lagi, terdengar lebih tegas dari sebelumnya.
Thomas menghampiri, menunggu perintah, karena bisa ia lihat dari ekpresi bosnya, akan ada perintah untuknya. Thomas punya pirasat tidak enak.
Menunggu perintah bosnya, membuat Thomas berpikiran macam-macam.
Benar sekali, apa yang dipikirkan Thomas.
" Beri pelajaran lelaki itu ! berani sekali dia mendekati milik keluarga Beliondra. Dia harus tahu, dengan siapa ia berhadapan !" Tegasnya mengepalkan tinju.
Thomas hanya bisa menerima perintah tersebut, tanpa bisa menolaknya.
Bersikap sopan dan tenang di depan Kenzo sudah menjadi kebiasaannya. Sebelum dia meninggalkan ruangan kerja kenzo, Thomas dengan sopan memberi hormat dengan membukukan sedikit kepalanya.
☆☆
Dua jam sudah berlalu, Aryo masih setia menemani April yang tertidur pulas, nampaknya April memang sangat kelelahan.
Aryo memandang wajah teduh April, wajah yang walau sedikit terlihat pucat, wajah yang walau tanpa polesan makeup namun terlihat ayu dan cantik.
Wajah itu yang menghiasi hari harinya selama dua tahun terahir. Wajah yang selalu terukir senyum bahagia di setiap incinya, tapi sekarang senyum itu, sudah sangat jarang terlihat diwajahnya, bahkan hampir tak terlihat seperti dulu lagi.
Aryo menghela napas panjang memikirkan kembali keputusan April yang dengan tiba-tiba memutuskan hubungan mereka secara sepihak, dia bergumam dalam hati apa yang membuat April meninggalkannya, dia tahu betul pasti ada sesuatu hal yang disembunyikan April darinya, tapi dia tidak tahu hal apa yang disembunyikan April, karena tidak mungkin hanya karena orang tuanya sakit. Bagaimanapun ia memikirkannya, ia tak bisa mendapatkan jawabannya, Aryo membiarkan April istirahat dan keluar membelikannya makanan ke kantin Rumah sakit.
Akhirnya Waktu tidur nyenyaknya berahir juga, dengan sedikit malas April berusaha membuka matanya yang masih sedikit berat, dia teringat akan kedua orang tuannya, sehingga membuatnya terbangun.
Kehawatiran terhadap Kedua orangtuanya tak pernah hilang dari pikirannya, meski ia tertidur pulas sekalipun dia masih tetap memimpikan kedua orang tuanya.
Dia mengangkat tangannya untuk melihat waktu, tapi di tangannya tak terpasang arloji. " ah gue lupa, jamku ketinggalan ditoilet pasien." gumamnya. Dia berusaha bangkit hendak meninggalkan ruangan IGD mengingat sepertinya ia tertidur cukup lama dan sudah saatnya ia kembali merawat kedua orang tuanya.
Ia memperhatikan sekeliling tidak ada satu orang perawat pun, dengan terpaksa ia mencabut selang infus sendiri ditangannya kemudian bergegas ke ruang rawat kedua orangtuanya. April mendapati Yuri sedang menyuapi Ayahnya makanan.
Melihat April yang sudah kembali, Yuri cilingak celinguk mencari keberadaan Aryo.
" Loh Ril..Kok udah balik aja, Aryonya mana? Kamu udah ba.." kata-katanya dengan cepat dipotong oleh April, karena tidak ingin Ayahnya khawatir. Karena sebenarnya Yuri ingin mengatakan kamu udah baikan.
" Udah kok,,,April memberi isyarat mata agar Yuri berhenti melanjutkan pertanyaannya.
" Kamu dari mana Nak..? kamu baik baik saja kan?" pak Sanjaya bertanya sedikit cemas.
" April tadi dari kantin Yah..la..par.hehe.." ucapnya berbohong.
Pak Sanjaya tak lagi bertanya, ia merasa sedih memikirkan anaknya seorang diri merawatnya dan istrinya. Keputusannya menjodohkan April dengan Kenzo mungkin terdengar egois, tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang, nasip perusahaan dan ratusan karyawan berada ditangan April. Mau tidak mau dia harus egois.
Pak Sanjaya yakin Keluarga Beliondra, pasti akan membuatnya hidup nyaman dan bahagia. Pak Sanjaya tertunduk tidak berani menatap wajah anaknya, dia hanya mengucapkan kata maaf kepada April, lalu dia berbaring membelakangi Yuri dan April.
Yuri memang tak tahu situasi apa yang terjadi diantara April dan Ayahnya, ia juga tak berniat bertanya hanya bisa menatap April yang terlihat sedih.
" Yang sabar ya say...." ucapnya pelan seraya menepuk pundak April berusaha memberinya kekuatan. April hanya mengangguk seraya tersenyum menatap sahabatnya yang tersenyum penuh beban menatapnya.
Yuri tadinya ingin menanyakan April apa yg sempat dipikirkannya tadi, namun sepertinya situasinya tidak mendungkung. Yuri hanya bisa menatap penasaran bentuk tubuh sahabatnya yg terlihat aneh dengan perasaan cemas.
" Kamu sama Aryo sebaiknya balik aja say... biar Ayah aku yang jagain,, Kamu juga pasti lelah."
Yuri hanya mengangguk mengiyakan, dia tau mungkin sahabatnya ingin sendiri, jadi dia tidak membantah ucapan dari sahabatnya meskipun ia sendiri masih ingin menemani April dan menuntaskan kecemasan hatinya.
" Baiklah say...aku pamit dulu ya? kamu jangan terllu lelah dan harus istrahat yang cukup okay?"
Setelah itu Yuri menatap kearah pak Sanjaya yang masih membelakangi mereka, entah dia tertidur atau hanya berpura-pura tidur.
" Om Yuri pamit dulu.." Pamitnya meski tak mendapat respon dari pak Sanjaya.
April mengantar Yuri hingga pintu depan kamar, mereka berpelukan cukup lama, hingga tiba tiba terdengar suara Aryo yang ngos ngosan dan terlihat panik memanggil nama April.
" April...." panggilnya sambil berlari kearah April dan Yuri.
" Aryo.." ucap kedua terkejut melihat tampilan Aryo.
Dengan tiba tiba Aryo memeluk April, hal itu membuat hati Yuri merasa tidak nyaman, walau dia sudah berusaha mengiklaskannya, namun hatinya masih saja terasa sakit.
" Kamu kemana aja..? aku mencarimu, kata suster kamu pergi tanpa memberitahu mereka? apa kamu sudah baik baik saja?"
Dia membombardir April dengan begitu banyak pertanyaan membuat April tersenyum canggung.
"Aku baik baik saja, Maaf membuatmu cemas, aku pikir kamu sudah pulang?"
Meski sudah berusa iklas namun Yuri masih tidak cukup kuat melihat perhatian Aryo terhadap April, Yuri lalu memutuskan berpamitan terlebih dahulu kepada April, dia tidak ingin mengganggu keduanya.
" Say... aku balik duluan ya...?" ucapnya berusaha tersenyum dan terlihat baik-baik saja lalu berjalan mebelakangi keduanya. Namun tiba-tiba Aryo memanggilnya.
" Yuri....tunggu sebentar,, biar aku mengantarmu.
" Gak usah Yo, aku bisa naik taxi." jawabnya tanpa berbalik dan masih terus melangkah.
" Yuri...biar Aryo mengantarmu." panggil April seraya mendorong Aryo untuk mengejar Yuri.
" Baiklah kalau begitu aku juga pamit pulang ya, ini makanan untukmu. Tadi aku kekantin rumah sakit membelinya, Tapi kamu sudah tidak ada disana." ucapnya seraya menyodorkan makanan yang sempat ia beli kepada April, kemudian Aryo berlari mengejar Yuri yg sama sekali tidak menghentikan langkahnya.
Happy reading 😘😘