Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Ketakutan Kenzo



April kebingungan dan takut, bibirnya bergetar, tatapannya kosong dan hampa. Dia terlihat linglung, rasa sakit di kakinya seperti tak bisa dia rasakan, dia terus berjalan, namun sesaat langkahnya terhenti menatap ke depan pintu kamar yang bukan miliknya dengan tatapan putus asa yang menyakitkan. Ini bukan rumahnya, tetapi saat ini dia terjebak di tempat ini.


Dia tertuduk lemas, air mata tak bisa tertahan lagi, mengalir begitu meyesakkan. Dia bangkit, lalu berlari dengan putus asa ke kamar mandi, warna darah yg keluar dari kakinya menempel di setiap pijakan. Tubuhnya yang gemetar ketakutan langsung dia masukkan ke dalam Bathtub membiarkan air mengalir perlahan hingga meredam tubuhnya.


Warna air dalam Bathtub berubah menjadi warna darah akibat luka di kakinya yang mengeluarkan darah.


Dia perlahan menyusut membiarkan tubuhnya sepenuhya terendam. Kejadian menyakitkan waktu itu terus berputar di ingatannya, lelaki yg mengambil kesuciannya seperti terdengar tertawa di ingatannya, membuat rasa sakit dan perasaan putus asa menguasai hatinya.


Dia tenggelam dalam ke pahittan hidup. Seluruh tubuhnya benar-benar dia tenggelamkan tanpa perlawanan.


Tubuhnya kini mulai melemas dan semakin menyusut ke dasar Bathtub, dia benar-benar menyerah dan pasrah dengan hidup.


**


Kenzo mengigat kembali perkataannya kepada April. Kenapa dia bisa bersikap bodoh dan di kendalikan emosi?? sampai sampai dia melupakan apa yg pernah dialami April. Bodoh..!! Sangat bodoh..!! makian itu dia tunjukan kepada dirinya. Kenapa bisa dia melupakan hal nekat yang hampir di lakukan gadis itu, dan kenapa dia mengorek kembali luka di hati April?? semua ini kesalahannya, dia begitu pengecut sehingga tidak berani berterus terang kalau lelaki yg menodai April adalah dirinya. Sungguh bejat.


" Arkkkk....."


Dia marah dan menyesali ucapannya tadi kepada April. Perasaannya menjadi tidak tenang, dia takut gadis itu akan melakukan hal nekat lagi, dengan panik segera dia berlari masuk melihatnya.


Noda darah yg menempel di lantai membuat Kenzo semakin bertambah panik.


Dia bergegas mengikuti jejak darah itu dengan perasaan takut. Takut hal buruk akan di lakukan gadis itu lagi.


Dugaanya ternyata benar, apa yang terlihat di depannya membuatnya sangat syok dan terkejut, tubuh gadis itu teredam tidak bergerak di dalam Bathtub, di tambah warna darah menutupi permukaan air membuat Kenzo semakin panik.


Wajahnya pucat, tangannya gemetar hebat mengangkat tubuh kecil April yang terendam di dalam Bathtub dan kini terkulai lemas.


Dia saat ini tidak bisa berpikir lagi. Hanya ke takutan yang mengerogotinya.


Kenzo menepuk nepuk pelan wajah April sambil memanggil lirih namanya dengan suara yg bergetar. April tak merespon, Kenzo panik menggoyangkan berkali kali tubuh itu.


Dia benar-benar terlihat sangat ketakutan dan juga bingung dengan apa yang harus di perbuatnya.


Segera Kenzo menggedong tubuh April keluar dari kamar mandi lalu membaringkannya ke tempat tidur. Kemudian dengan panik Kenzo berusaha menggosok tangan April yg dingin membuatnya agar tetap hangat.


" Ku mohon... bangun...??" Suaranya tedengar sedih dan menyayat.


" Kamu bangun..?!! aku tidak mengizinkanmu mati dan meninggalkanku. Kamu harus bangun. Bangun....!!" Teriaknya dengan suara yg gemetar sambil meguncang terus menurus tubuh April.


" Uhuk... uhuk..."


Kenzo merasa sangat lega, melihat April terbatuk dan memuntahkan air yang masuk ke tubuhnya.


Tangis kebahagian terlihat jelas di wajah Kenzo, dia karena sangat lega memeluk tubuh April.


" Uhuk... uhuk..." April kembali terbatuk.


Kenzo melonggarkan pelukannya, lalu menepuk pelan punggung April.


Wajah Kenzo terlihat khawatir bertanya cemas sambil memeriksa tubuh April.


April terdiam melihat kelakuannya. Mengapa lelaki ini selalu saja membuatnya bingung. Dia menghempas tangan Kenzo kemudian memunggunginya. Ingin rasanya ia berteriak memberitahu Kenzo kalau saat ini dirinya tengah hamil, dia merasa muak dengan semuanya. Tapi April tidak punya keberanian untuk berterus terang. Air matanya mengalir dalam diam mewakili perasaan sesak yang saat ini dirasakannya.


**


Aryo terus menatap layar ponselnya, tidak ada balasan dari April atas ajakannya. Dia sangat kecewa memikirkan apa April benar-benar ingin putus darinya, tapi kenapa? apa kesalahan yang sudah di perbuatnya, pertanyaan itu ingin sekali lagi dia tanyakan kepada April.


Orang pertama yang ingin di temui nya adalah April. Saat dia terbaring di Rumah Sakit orang yang selalu di pikirkanya adalah April. Tapi kini saat dirinya kembali, bahkan satu pesanpun tak ada dari April.


" Yo..?! kamu kah itu.'' Sapaan itu membuatnya mengalihkan pandangan ke arah suara.


" Kamu kemana aja..? aku sangat mengkhawatirkanmu tau?" Yuri seperti ingin menangis melihat Aryo baik-baik saja sambil meninju pelan bahu Aryo, kemudian mengambil posisi duduk berhadapan dengan Aryo.


Mereka sekarang sedang berada di Cafe Es Krim favorit April.


" Kamu sendiri baik-baik aja?" Tanya Aryo.


" Seperti yang kamu lihat? bay the way, semenjak hari itu kamu kemana aja? beneran kamu Sminar ke luar Kota?"


" Ah.. iya benar..? Jawabnya, namun wajah Aryo terlihat aneh, dia terkesan seperti menyembunyikan sesuatu.


" Syukurlah kalau kamu baik-baik saja."


Aryo tersenyum membalasnya.


" Kamu ngapain ke sini? tumben amat sendiri?? biasanya kalau kami ajak selalu lo tolak." Ujarnya sambil sesekali menyendok es krim kemulutnya.


Yuri menjadi gelapan dengan pertanyaan Aryo. Dia takut ketahuan kalau sebenarnya dia sengaja ke cafe tempat biasa Aryo dan April nongkrong karena merindukannya,, siapa sangkah Aryo ternyata benar-benar nongkrong di sini?


Dan ingin rasanya Yuri menjawab pertanyaan Aryo tentang dirinya yg selalu menolak ikut nongkrong bersama April dan dirinya, buat apa coba dirinya harus ikut dan menyaksikkan kemesraanya bersama April. Hatinya terlalu sakit untuk melihat orang yang sejak lama dia suka, ternyata menyukai sahabatnya sendiri.


" Oh ya Ri...? April apa kabar?"


" Ah... April?? Dia..... dia baik-baik aja kok?" Jawabnya berusaha terlihat meyakinkan. Namun wajahnya terlihat begitu tegang dan menghindari tatapan Aryo. Tapi Aryo seperti menangkap ke anehan dari sikap Yuri.


" Oh ya... aku permisi dulu, takut Nyokap nyariin." Pamitnya buru-buru berdiri. Yuri ingin segera pergi karena takut Aryo akan menayakan lebih tantang April. Yuri tidak tega harus mengatakan kalau wanita yang dia cintai sudah bertunangan dan akan segera menikah.


Sikap Yuri yang tidak wajar justru membuat Aryo bertanya-tanya. Apa lagi saat dia mengigat April yang tidak membalas pesannya. April tidak akan melakukan hal itu kalau tidak ada apa-apa yang terjadi dengannya.


" Tunggu..!" Aryo berusaha menghentikan Yuri. Namun Yuri berpura-pura tidak mendengarkan Aryo. Dia terus melangkah dengan terburu-buru. Kemudian menghentikan Taksi dan segera pergi membuat Aryo tidak bisa mengejar dan mengintrogasinnya.


Perasaan lega namun juga khawatir di rasakan Yuri saat ini. Dia melihat Aryo yang terus memandangi Taksi yang di tumpanginya lewat kaca spion.


Mungkin saat ini dia bisa menghindar dan menutup mulut, tapi cepat atau lambat Aryo pasti tahu.


Happy reading