
Hatinya kini menjerit,, mereka juga harus memikirkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan selanjutnya. Keadaan perusahaan Ayahnya kini diambang kebangkrutan membuat kepalanya terasa ingin meledak.
Dokter meninggalkan mereka usai menjelaskan semuanya,, Bundanya didorong ke luar dari ruang operasi menggunakan blangkar, selang oksigen masih menempel di hidungnya, keadaannya terlihat tidak lebih baik dari sebelum operasi,, ginjal bundanya ternyata benar-benar sudah parah, kini harus bergantung hidup pada peralatan medis.
" Bunda..?" April memanggil tak berdaya melihat bundanya yang kini dibawah kembali keruangan mereka,, seharusnya dibawah keuangan ICU namun peralatan medis diruangan VIP tempatmerekajauh lebih lengkap,, mengapa April tidak memperhatikan sebelumnya? Tapi itu tidak penting menurutnya, yang terpenting saat ini Bundanya bisa mendapatkan perawatan
Melihat istrinya menggunakan bantuan peralatan medis, membuat pak Sanjaya terdiam lemas. Dia berusaha menekan perasaan di dadanya yang terasa sesak,, wajahnya berubah pucat dan meringis menahan sakit, dia mulai terbatuk batuk.." huk..huk..huk.."
Suara batuk pak Sanjaya membuat April menoleh cemas kearahnya dan segera berjalan menghampiri. " Ayah...!! Ayah kenapa,,??
Wajahnya pucat karena merasa khawatir,, matanya menyipit memandangi Ayahnya.
" Dimana yang sakit." uajarnya bertanya sambil memeriksa.
Pak Sanjaya tak bisa menjawab,, dia terlihat masih menahan keskitan dan kembali terbatuk. " huk...huk..huk.."
" Minum Yah... ? wajah ayah sampai pucat gini,, Ayah juga gak sempat sarapan dan minum obat tadi pagi,, maafin April Yah , ini semua salah April karena lalai."
Pak Sanjaya tersenyum, Garis wajahnya yang terlihat menua terlihat sangat jelas,, usianya yang kini mengijak 50 tahun membuatnya tidak lagi memikirkan diri sendiri. Dia tidak ingin putrinya yang masih mudah kehilangan keceriaannya karena Dia dan istrinya yang sakit sakitan.
" Ayah baik- baik saja." sahutnya berbohong. " jangan terlalu cemas,, Sekarang bantu tambahkan air putih ke gelas ayah,,, Ayah mau minum obat, biar putri Ayah yang cantik ini tidak khawatir lagi.
Pak Sanjaya mengangkat gelasnya yang hampir kosong.
" Iya...? tapi ayah makan dulu? karena perut gak boleh kosong kalau mau minum obat,, April sudah beliin bubur tadi tadi pagi,, April panasin dulu ya?"
Setelah selesai makan,, April membantu Ayahnya meminum obat,, dan menuntunnya ketempat tidur,, meski awalnya ditolak oleh pak Sanjaya, namun April bersikeras menyuruh Ayahnya berbaring,, dia tidak ingin sakit Ayahnya bertambah parah.
" Ayah istirahat dulu,, April mau keluar sebentar." Ujarnya berpamitan.
April melangkah keluar,, tiba tiba matanya terasa sedikit berkunang kunang, perutnya juga mendemo minta di isi,, April berusaha memperjelas pandangannya, dia megedip ngedipkan matanya yang terasa berat sambil memegang tembok rumah sakit sebagai penopangnya agar tidak jatuh, merasa lumayan nyaman dia kembali melanjutkan langkahnya, namun tubuhnya tidak mau bekerja sama, dia mulai oleng,, kepalanya terasa semakin pusing,, tubuhnya kini sudah tidak mampu berdiri ,, dan sebelum terjatuh,,dengan cepat sebuah tangan menangkapnya sebelum tubuhnya benar benar menyentuh lantai.
" Mba...mba tidak apa apa?"
Suara seorang laki laki yang terdengar masih muda menayainya cemas.
Pandangan April tidak jelas menatap wajah penyelamatnya,, dia buru buru bangun melepaskan diri dari dekapan lelaki tersebut.
" Terimakasih.?" Ucapnya sedikit membungkuk kumudian buru buru pergi.
Brayan menatap kelantai, sepertinya jam tangan April terlepas ketika menangkapnya tadi.
" Hey..... nona..!!! jammmu.."
Brayan berusaha memanggil April berniat memberikannya jam tangannya,, tapi April seperti buih menghilang begitu cepat dari pandangan Brayan, padahal Brayan tak sampai satu menit melihat kelantai.
" Sudahlah..kalau begitu jam mu aku simpan saja, siapa tahu takdir mempertemukan kita kembali,,, "
Brayan kemudian memasukkan jam tangan tersebut kesaku celananya.
*
" Bagaimana operasinya?? apa berjalan lancar."
Kenzo bertanya melalui panggilan telpon kepada asistennya Hendra yang selalu memantau keadaan April dan keluarganya.
[ "Operasinya berjalan lancar,, hanya saja kondisi tubuh ibunya sangat buruk dan tidak bisa merespon ginjal yang baru dicangkokkan,, kata Dokter akan menjadwalkan operasi besar kedua." ]
Setelah mengarahkan asisten Thomas, Kenzo langsung menutup panggilan telponnya.
Dia kemudian lanjut menelpon Kerumahnya.
" Hallo,, pak Muldi, Nyonya besar bagaimana sekarang?"
Pak Muldi terdengar seperti ragu ragu untuk menjawab.
'' Ada apa..?!!"
[ A.a.nu.. Ma..sih sama Tuan? nyonya mogok makan.. dan masih mengunci diri dikamar. Katanya kalau Tuan muda belum membawa pulang menantunnya nyonya tidak akan mau keluar dan makan?]"
Kenzo benar-benar dibuat pusing tujuh keliling oleh tingkah ke kanan kanakan ibunya.
" Baiklah,, katakan pada nyonya untuk segara makan sekarang,, segera sy akan membawa pulang menantunya."
" [ " Ba..ik Tuan muda..?" ]
Pak Muldi mejawab dengan perasaan berat lalu menutup panggilan telpon,, dia merasa bersalah karena membohongi Kenzo. Dia menatap lemas kearah nyonya Beliondra, Gurat wajahnya tak enak dipandang.
" Sudah...?? jangan melihatku seperti itu,, anak itu kalau tidak sekali kali digituin gak bakalan bisa nurut."
Nyonya Beliondra berusaha memberikan penjelasan kepada pak Muldi,, dia terlihat santai menyeruput kopinya. Memanfaatkan dirinya sendiri ternyata bisa menjadi senjatah ampu untuk memaksa anak itu menuruti keinginannya,, saat ini hatinya sangat legah mendengar kalau anak tertuanya itu akan membawa menantu kerumahnya,, dia tidak akan mendengar lagi ledekan teman teman arisannya, kalau anaknya itu tidak menyukai wanita,, memikirkan saja membuat buluh kuduk nyonya Beliondra merinding.
" Selamat siang menjelang sore..? nyonya Beliondra yang masih cantik dan awet muda..?!" Puji Indri sambil berlari kecil menuruni tangga dengan penuh semangat menyapa dan menghampiri ibunnya. Sikapnya yang manja membuat iri setiap mata yang melihat,, mereka terlihat seperti bukan ibu dan anak, melainkan seperti seorang sahabat.
" Selamat Sore Tuan putri.?? Mau minum kopi?" Tawar nyonya Beliondra tersenyum sambil menggerling genit.
" Gak ah.. jus aja,, kopi gak baik buat lambung."
Matanya melirik manja kearah pak Muldi yang sedang duduk membaca koran tidak jauh dari tempat ibu dan anak itu duduk.
" Pak Mu..ldi..?" Panggilannya centil.
Pak Muldi berdehem pura pura tak mendengar,, menyibukkan diri membolak balik koran.
Indri berdiri,, matanya tertuju kearah pak Muldi yang pura-pura bersikap cuek terhadapnya,, Garis bibirnya sedikit terangkat,, Dia berjalan menghampiri pak Muldi.
" Pak Muldi,, Indri mau dong,, dibikinin wedang jahe sama kaya bang Kenzo dan bang Brayan. Pintanya bersikap manja.
Pak Muldi menurunkan koran yang menutupi wajahnya,, Dia menatap penuh selidik guratan wajah Indri.
" Yakin,, nona muda maunya wedang jahe,, bukan jus yang beli buahnya ke Himalaya sana?" Tanya pak Muldi terkesan menyindir,, memastikan sambil berjaga-jaga dengan kebiasaan Indri, yang permintaannya kadang tidak masuk akal,, dan siapa tahu tiba tiba berubah.
" Yakin dong...??"
" Emang harus buatan bapak ya non? disini kan banyak pembantu non,,?"
" Bapak gak mau..?!" Indri berucap ketus,,Ndan mengambek.
" Iya...iya...bapak buatin,, jangan ngambek lagi."
***
Happy Reading