
Seperti biasa April selalu bangun di pagi hari, terlepas dari apapun kondisinya, mungkin karena ia sudah terbiasa, semenjak kejadian waktu itu, kejadian yang meninggalkan luka dan tarauma mendalam di hidupnya, membuat mimpi buruk selalu menggahantui di setiap malamnya. April tak pernah bisa tidur nyenyak, dia akan selalu terjaga. Tetapi anehnya, malam ini mimpi itu tidak muncul lagi. April bisa tidur sedikit lebih santai. Akan tetapi kali ini saat ia bangun tubuhnya terasa sangat pegal dan nyeri. Dia saat ini belum sadar dimana dia berada, pandangannya samar samar menangkap sosok pria yang berbaring di sampingnya. Antara mimpi dengan kenyataan April tidak bisa membedakannya, matanya sayup sayup menatap lama wajah yang di kenalnya dengan sebutan Ken. Hatinya berdebar, tangannya perlahan dan lembut mulai menyentuh wajah Kenzo yang masih terlelap. April ingin memastikan apakah semua yang di lihatnya saat ini hanya sekadar mimpi atau tidak. Meski dia sangat yakin semua yang di lihatnya hanyalah sekedar mimpi, karena tidak mungkin seorang Kezo tiba-tiba berbaring di kamarnya dan di samping dia pula.
Kenyal dan lembut, terasa disetuhan tangan April. Namun dia masih tak percaya, sekali lagi dia menyentuh wajah itu.
Tap!! tangan Kenzo meraih pergelangan tangannganya.
April terhentak kaget dan terlambat
bisa menaeik tangannya. Matanya terbelalak,, gerakan Kenzo yang tiba-tiba membuatnya terdiam kaku.
" Kenapa?? apa wajahku sebegitu menariknya untuk kau sentuh."
Tatapan Kenzo terlihat begitu menggoda, disertai senyuman yang terlihat menawan.
" Aaaaaaaaaa...... "
Teriakan April begitu keras dan terdengar syok, reflek menendang tubuh Kenzo.
" Aow.... !!! "
Kenzo meringis kesakitan memegang bagian bawah perutnya.
" Kecil kecil tenagamu kuat juga. Kamu tidak tahu apa, ini bagian berharga dalam hidupku."
Dia masih terlihat kesakitan memegang perut bagian bawahnya sambil mengoceh.
" Ka.. kamu.. ngapain disini!!" Ujarnya panik, tidak perduli dengan kesakitan Kenzo. !
" Menurutmu..?!" Jawaban Kenzo terdengar ambigu.
April tak paham dengan jawaban Kenzo, tatapannya kini mengedar ke seluruh ruangan yang terlihat asing olehnya.
" Ini aku di mana?" Gumamnya bingung, merasa tidak familiar dengan tempat di mana saat ini dia berada.
Kenzo bisa melihat kebingungan di wajah April, namun tatapannya tiba-tiba tersendat di bagian tubuh April yg terlihat indah dan menggoda, dia sampai tak bisa berkedip dan bernafas. Hem putih yang di kenakan April hanya bisa menutupi tubuh bagian atas sampai di atas lututnya, sementara kakinya yang jenjang dan putih mulus terekspos. Kenzo baru sadar kenapa wanita ini begitu seksi dan menggoda.
April melihat ke anehan dari tatapan Kenzo yang melihatnya dengan tatapan menegangkan dan berhasrat.
Kemudian beralih memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. Betapa sangat malu dan terkejut ia melihat penampilannya yang seksi dan menggoda.
" Aow... dasar cabul..!!" Maki-nya sembari menutup bagian tubuhnya yang terekspos dengan selimut.
" Ka.. kamu..!! di mana bajuku, dan siapa yang menggantinya."
Kenzo tak menjawab, wajahnya memerah memikirkan apa yang tadi di lihatnya, dia memilih meninggalkan April dan meredakan perasaannya yang sesaat sempat menggila.
Dia berjalan ke kamar mandi dan segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sungguh gila, pikirnya dengan apa yang terlintas di benaknya. Kenapa wanita itu begitu menggoda?? tidak pernah dia seperti ini, meski banyak wanita yang melemparkan diri ke tempat tidurnya, namun dia sama sekali tak pernah tertarik atau bereaksi gila seperti tadi. Ada apa dengan tubuhnya yang sulit ia kendalikan?
April berusaha mengingat kejadian semalam, aneh rasanya saat ini dirinya bersama dengan lelaki yang menyebalkan itu. Dia kembali memperhatikan keseluruhan penampilan tubuhnya dari atas hingga bawah. Matanya berhenti di kedua telapak kakinya yang di bungkus kasa putih. Jarum infus masih nenempel di tangannya. Dengan hati-hati April melepasnya. Dia merasa tidak membutuhkan lagi, kondisi saat ini baik-baik saja, itu yang ia pikiran, ya... walaupun tubuhnya masih sedikit agak legalisir dan lemas. Tapi dia yakin dia saat ini lumayan baik.
Ingatannya satu persatu terkumpul. Dan wajahnya kini menjadi malu ketika mengingat pelukannya bersama Kenzo di saat dia menangis seperti orang bodoh. Dia ingin menyembunyikan dirinya kalau bisa. Pikiran aneh menumpuk di otaknya,, apa yang terjadi dengannya dan Kenzo semalam, apa dia sudah melihat seluruh tubuhnya.
" Arrrkkk....." pemikiran itu membuatnya gila. Bagaimana tidak dia berpikir aneh, bajunya tiba-tiba berubah,, jadi siapa yang sudah menggantinya? Apakah manusia menyebalkan itu? pikirnya.
Di tengah kegilaan dan rasa malu yang menyelimuti perasaan April, tiba-tiba Kenzo melangkah keluar dari kamar mandi dengan hanya menutupi tubuh bagian bawahnya mengunakan handuk. Sementara garis garis lekukan tubuhnya yang kekar dan berotot terpampang nyata.
" Ka.. kamu..?! apa yang kamu lakukan?" Ujarnya terdengar gagap dan canggung sambil berusaha menutupi pandangannya dengan ke dua tangannya, namun matanya sesekali masih mengintif tubuh mengoda Kenzo, lewat celah jemarinnya yg merenggang dengan sendirinya.
Kenzo tersenyum melihatnya membuat April memalingkan wajahnya karena merasa malu. Ia menyadari akan apa yang di lihatnya itu sungguh memalukan.
Kenzo semakin tersenyum melihat kelakuan April yang lucu dan menggemaskan, dia mempunyai pikiran jail ingin menggoda April.
" Kenapa?? apa kamu begitu tergoda oleh tubuhku, dan ingin menyentuhnya seperti yang kamu lakukan ke wajahku tadi?"
" A.. a.. aku ma-na ada. Dasar mesum..!!" April tergagap masih kemudian menutup matanya.
" Ce.. cepat pakai bajumu!" Surutnya meram melek.
Kenzo tak menggubris permintaan April, justru ia semakin berinisiatif menggodanya. Dia berjalan semakin mendekat ke arah April.
" A.. a.. apa yang mau kamu lakukan."
" Memangnya apa yang akan di lakukan laki laki dan wanita di dalam satukamar yang sama?"
" Jangan Macam-macam." Ancam April sambil melempari Kenzo dengan batal.
Kenzo tak berhenti, dia semakin berjalan perlahan mendekati April.
" Ku bilang berhenti di situ..!! kalau tidak aku akan teriak!!" Ancamnya semakin menyusutkan dirinya kepojok ranjang.
Kenzo tersenyum seperti senyuman pria mesum, membuat April bergidik. Dia tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia benar-benar takut.
Kenzo dengan brani menyibak selimut yang menutupi tubuh April.
" Ku mohonnn jangan??!" Teriaknya kembali menutup mata tak brani menyaksikan apa yang akan dilakukan lelaki ini kepadanya.
" Perbannya harus di ganti, kalau tidak kakimu bisa impeksi."
Kenzo berjongkok melepas perban di ke dua kaki April.
" Apa yang kamu lakukan??"
" Menurutmu?? memang apa yang kamu pikir mau aku lakukan? sampai sampai kamu berteriak histeris begitu.
April tidak menjawab, wajahnya memerah seperti udang rebus karena malu. Dia sudah berburuk sangka kepada Kenzo, lagian siapa suruh dia bersikap aneh seperti itu pikirnya.
Kenzo selesai mengobati dan mengganti perban di ke dua kaki April.
" Jangan lupa. Kamu itu milikku!!"
Happy Reading....
Hay reader semua yang selalu mensupport karya aku, maaf author baru bisa Upgrade sekarang, soalnya author akhir akhir ini sibuk bangett.. author juga punya pekerjaan tetap selain menulis.
Menulis merupakan hobbi author,,
jadi dukung selalu author dengan cara like n komen ya,, sahabat haluku semua😘😘