Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Wanita Misterius



" Tunggu sebentar, saya mau bayar makanannya. " Ujar April sambil membantu Kenzo duduk.


Senyuman tersungging di bibir Kenzo ketika April berbalik membelakanginnya. Perasaan di perhatikan membuatnya bahagia.


" Tunggu." Panggilannya membuat April menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya.


April mengangkat alisnya bertanya isyarat.


" Bayar pakai ini." Kenzo mengeluarkan gold card miliknya. April tidak menolak, dia langsung meraihnya dari tangan Kenzo. Memang sudah seharusnya dia yang bayar, kan dia yg mengajakku keluar. Lagian aku juga tidak punya uang. Mau bayar pake apa coba. Memangnya bisa pakai daun.


Karena khawatir, April sampai lupa kalau tidak memiliki se sen uang untuk membayar. Beruntung Kenzo menghentikannya dan mau membayar, sebelum dirinya malu.


Setelah selesai membayar April mengembalikan Gold card kepada Kenzo. Namun Kenzo tentu saja menolaknya. Karena sebenarnya gold card itu mau di kasihnya kepada April.


" Untukmu." Ujar Kenzo mendorong kembali tangan April yg memegang gold card.


Ragu-ragu April ingin menerimanya.


Tiba-tiba wajah Kenzo terlihat meringis, membuatnya bereaksi cemas. Seketika tanpa berpikir memasukkan gold card ke dalam tasnya.


" Kenapa, apa masih mual?" Ujarnya menelisik wajah Kenzo.


" Ayo Aku bantu berjalan, ke mobil." Ujarnya kembali sambil membatu Kenzo berdiri.


" Aku baik-baik saja. Aku ini seorang laki-laki." Kenzo sedikit canggung diperlakukan seperti orang lemah.


" Tentu saja kamu laki-laki. Saya gak bilang kamu perempuan." April masih ngeyel membopong tubuh Kenzo.


Meski begitu wajah Kenzo tersenyum bahagia, melihat kekhawatiran April untuknya. Dia menuruti gadis itu membopongnya, mengabaikan perasaan malunya karena banyak orang memperhatikan mereka. Hal ini adalah hal yang bersejarah dalam hidup Kenzo.


Tubuh April meski kecil, namun kuat juga membopong tubuh kekar dan berotot Kenzo.


▪︎


" Lho!!. Bukannya itu April dan saudaranya?" Ucap Bianca kepada ketika temannya. Matanya terus menatap ke arah April dan Kenzo di ikuti oleh tatapan ketiga temannya.


" Eh.. kalian ngerasa ada yg aneh gak sama April." Temannya Rani, mengungkapkan perasaan anehnya ketika memperhatikan April tadi.


" Aneh kenapa." Bianca menanggapi serius.


" Kalian gak perhatiin, April kelihatannya gemuk dan.. coba kalian perhatikan perutnya deh." Rani mengajak ketiga temannya perhatikan baik-baik tubuh April. Namun sayang terlambat, tubuh April langsung di tutupi tubuh Kenzo.


" Ah.. gak keliatan!!." Rani mendegus mendengus kesal.


" Eh.. si ganteng kenpa?" Pokus Bianca tertuju kepada Kenzo. Dia ingin menghampirinya.


" Mau kemana." Cegat Rani menarik tangan Bianca yang hendak menyusul Kenzo dan April.


" Bantuin Saudaranya April,, kelihatannya kaya sakit gitu??" Ucap Bianca eksaited.


" Jangan. Kamu gak ngerasa apa? hubungan mereka itu aneh. Dan aku yakin sekali pernah kenal sama yg dia bilang saudaranya itu." Jelas Rani.


Menatap tajam punggung Kendan April yang semakin menghilang dari pandangannya.


" Yah.. Yah.. Tu kan... mereka udah gak keliatan." Bianca semakin kesal tak perduli dengan kecurigaan Rani. Karena dia terlanjur tertarik dengan saudaranya April.


☆☆


Setelah membantu Kenzo masuk ke mobil, dengan sigap April memasangkan seat belt untuknya. Kenzo merasa begitu tak nyaman, jantungya berdetak begitu cepat, ketika wajah April begitu dekat dengan wajahnya hanya berjarak hitungan meli.Namun gadis itu tak menyadari semuanya.


" Biar Aku saja." Ujar Kenzo sedikit grogi.


Lima belas menit mereka sampai di Rumah sakit Dan langsung di sambut oleh Dr. Andre. Kenzo ternyata diam- diam sudah memberi tahu Dr. Andre.


Wajah Dr. Andre sedikit terseyum melihat ketidak berdayaan Presdir dingin di depannya. Ternyata ada juga yang bisa membuatnya tak berdaya begitu.


" Berbaringlah, biar saya priksa kondisinya. " Ucap Dr. Andre menggoda Kenzo.


" Tidak perlu!! aku baik-baik saja." Ketusnya.


Entah dari mana datangnya keberanian April. Tiba-tiba dia memerintah Kenzo dengan ketus.


" Turuti ucapan Dokter." Ucapnya sambil membaringkan tubuh Kenzo dengan paksa.


" Dokter, priksalah."


Dokter Andre benar-benar speechless melihatnya. Ternyata Presedir Kenzo bisa menjadi penurut begitu?? Hehehee... Dr Andre tertawa di dalam hati.


Wajah Kenzo terlihat cemberut, dia sangat tahu saat ini, Dr Andre yg biasa di bentaknya, sedang menertawakannnya dalam hati.


" Bagaimana." Tanya April ketika melihat Dokter selesai memeriksa Kenzo.


Dr. Andre menyipitkan mata, membuat hidungnya sedikit mengkerut.


" Penyakit lama." Ucapnya menggantung stetoscop di lehernya.


" Jangan dengarkan dia." Kenzo beringsut duduk, sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.


Mereka berdua menoleh sebentar ke arah Kenzo. Lalu mengabaikan nya.


" Dia mengalami Sindrom Couvade. Dan akan semakin parah kalau masih memiliki kebiasaan terlalu banyak minum kopi." Dr Andre melirik Kenzo. Bisa di pastikan saat ini Kenzo sangat kesal, dia pasti tidak ingin April mengetahuinya dan bisa jadi nantinya akan menertawakannnya.


" Sindrom Couvade harus di lawan. Orang yang mengalami ini biasanya butuh perhatian lebih."


" Itu maksudnya apa ya Dok?" April tak mengerti dengan apa yang Dokter jelaskan.


" Maksudnya Aku cuma masuk angin." Kenzo menyela. Lalu duduk di samping April dengan wajah dingin menatap Dr Andre. Membuat bulu kuduk Dr Andre berdiri. Wajahnya menjadi pucat pasi.


" Iya. Cuma masuk angin."


Dr. Andre terpaksa berbohong, karena kalau tidak begitu, bisa di pastikan hidupnya akan dibuat susah oleh Kenzo. Terlihat jelas dari tatapan mengancam Kenzo yang terlihat seperti mata pisau.


" Kalau begitu saya resepkan obat." Ucapnya buru buru menulis resep obat dengan tangannya yg gemetar. Membuat April curiga dengan situasi ini.


☆☆


April memperhatikan wajah Kenzo lekat. Pikirannya masih tidak tenang dengan keputusan Kenzo yang tidak mau dirawat dan hanya meminta resep obat.


" Kenapa melihatku begitu?" Ujar Kenzo yang merasa risih dengan tatapan April.


" Ah.. gak pa-pa. Biar Aku yg mengemudi." Ucapnya mengalihkan perhatikan Kenzo.


" Baiklah." Kenzo mengangkat sebelah alisnya.


Mereka berhenti di lampu merah, seorang wanita menyebrang di depan mobil mereka, dengan senyuman tersungging di bibirnya. Senyuman itu, senyuman yg tidak asing. Hingga mencuri pokus Kenzo.


Tiba-tiba dia berlari keluar mengejarnya. April tak sempat bertanya, Kenzo sudah berlari keluar menjauh bersamaan dengan klakson mobil orang-orang di liputan merah, karena Lampu sudah berubah hijau.


Suara klaksonan mobil tak di hiraukan Kenzo. Matanya pokus menatap punggung gadis tadi, gadis yang begitu misterius. Yang tiba-tiba selalu muncul di mimpinya. Dan ternyata gadis itu adalah sesuatu yg nyata. Bukan hanya ada di mimpinya saja.


^_^