
Bayangan April sepenuhnya sudah menghilang dari pandangan Kenzo, namun tatapannya masih tertuju kemana tempat bayangan April menghilang. Kenzo menyunggingkan senyum mendalam yang misterius.
" Gadis ini, memang unik." Gumamnya masih terpaku, seakan ada energi yang menghipnotisnya, sehingga dia tanpa sadar berdiri terlalu lama memandang kearah bayangan April yang sedari tadi sudah lenyap dari pandangan matanya.
Asisten Thomas memperhatikan Kenzo yang sudah berdiri cukup lama memandang kearah kiridor yang terlihat biasa saja, dan tidak ada yang spesial hanya lalu lalang perawat yang bekerja di Rumah sakit sesekali terlihat.
Asisten Thomas mendekat dan memanggil dengan sopan, namun tak ada respon.
Kenzo seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri, sehingga tak mendengar beberapa kali panggilan dari Asisten Thomas.
" Presdir... Presdir.... Tuan Muda Kenzo...." Panggil asisten Thomas, sambil mengguncang pelan bahunya, namun masih tak ada respon dari Kenzo.
" Tuan Muda...?" panggilnya sekali lagi namun cukup keras.
Kenzo merespon, berbalik menatap ke arah suara sambil mengangkat alisnya merasa terganggu.
Tatapan matanya bertanya bertanya.
Melihat Tatapan tidak bersahabat Kenzo membuat ucapan tertahan di tenggorokan.
Asisten Thomas berusaha bersikap tenang, namun masih terlihat sedikit ketegangan di wajahnya.
" Tuan muda,, mau sampai kapan disini? orangnya sudah tidak ada."
Kenzo melipat kedua tangannya memperhatikan wajah Thomas yang seketika menunduk, dia kemudian menepuk punggung Thomas sambil menghela napas lega.
Kemudian melangkah, Kenzo behenti sejenak tepat di depan pintu kamar inap ibunya, kedua tangannya ia masukan kedalam kantong celananya, berdiri santai mendengarkan suara tawa bahagia ibunya.
Sesat kemudian Kenzo masuk, namun kedatangannya seperti diabaikan oleh nyonya Melisa, dia sepertinya terlalu asyik mengobrol dengan perawat.
" Wah nampaknya Nyonya Beliondra sekarang sudah sehat sepenuhnya ya?" Sindirnya, karena merasa diabaikan.
Nyonya Melisa melirik sekilas kearah suara, lalu dengan bersemangat menjawab sindiran anaknya.
" Iya, ucapanmu memang benar, Ibu sekarang benar² sudah sehat seribu persen." sambil tersenyum ke arah perawat.
Kenzo mengerutkan dahi mendengar jawaban dari ibunya yang antusias dan sangat bersemangat. Wajahnya di penuhi binar binar kebagiaan.
" Ada angin apa ini? ibu terlihat berbedah dari sebelumnya?"
Dia semakin dekat melangkah kearah ibunya, kemudian menatap kearah perawat,, tanpa disuruhpun perawat itu segera berlari keluar melihat tatapan Kenzo.
" Hal sebesar ini, sampai kapan mau kamu tutupi dari Ibumu ini?" Sahutnya. Sedikit raut kekesalan terlihat di wajah nyonya Melisa.
Kenzo seperti bisa menebak isi pikiran ibunya. Dia mengangkat alisnya.
" Hal sebesar ini apa bisa di sembunyikan dari seorang nyonya Beliondra?"
" Memangnya kalau ibu tidak kepo, kamu bakalan ngasih tau Ibu!! sekarang, jujur sama Ibu, sejak kapan?! jadi itu alasan kamu menggagalkan semua perjodohan yang sudah Ibu atur."
Sedikit nada kesal, dari suara nyonya Melisa. Namun sepertinya kekesalan itu tidak sungguh-sunguh.
" Hahahaha.... ibu memanglah Ibuku." Kenzo tiba-tiba tertawa, namun tawanya tersirat makna yang mendalam.
Kenzo menyeringai sambil mencium pipi ibunya lalu pergi begitu saja.
" Dasar anak nakal!!!"
☆☆
April seperti tenggelam dalam kesedihannya, mengigat kembali semua hal yang terjadi dalam keluarganya secara bersamaan dan begitu tiba-tiba, dia bahkan tidak tahu apa yg terjadi kepada tubuhnya sendiri, saking banyaknya masalah dan beban pikirannya.
Apa jadinya dia kalau sampai tahu saat ini dirinya tengah hamil, bahkan sudah menginjak usia kandungan 5 bulan, apa yg terjadi sebenarnya kepada April, hingga dia tak menyadari dirinya hamil.
Tanpa ia sadari setitik air mata jatuh di pipinya. Phonselnya tiba tiba berdering, membuat suasana yang tadinya tenang menjadi sedikit berisik, dengan cepat ia menekan tombol jawab, ia takut mengganggu istirahat kedua orang tuannya. seperti berbisik ia menjawab sapaan dari phonselnya.
" Ada apa?" Tanyanya pelan kepada si penelpon.
" Kamu masih di Rumah sakit?" Tanya suara yang terdengar dari phonselnya, ternyata itu suara sahabatnya Yuri.
" Masih ." April menjawab dengan suara yang di tekan pelan.
Lalu Yuri bertanya lagi tanpa berbasa basi. " Nanti sore aku mau kesitu, boleh kan?" Ada nada keraguan dalam suara Yuri yang sempat disadari April.
Merasa ada yang Yuri sembunyikan, April kembali bertanya. " Ada apa? apa ada hal yang mau kamu katakan?" Ucapnya tegas namun lembut.
Dengan berat Yuri berusaha berterus-terang, sambil menatap Aryo yang terus memohon untuk mengajaknya. " i..itu. "
April menghela napas berat sambil mengulang pertanyaannya. " Ada apa?"
" Aryo boleh ikut kan?" tanyanya ragu.
" Ia boleh. " jawab April singkat, kemudian mengakhiri percakapannya.
☆☆
Suasana di kediaman Beliondra Nampak sangat sibuk, Melisa ibu dari Kenzo Beliondra nampak sangat bersemangat semenjak keluar dari rumah sakit, dia memanggil kepala pelayan dan seluruh pelayan di kediaman Beliondra yang berjumlah 34 pelayan ditambah kepala pelayan dan asistennya menjadi 36 orang.
Beberapa pelayan saling berbisik" ada apa ya, kok nyonya menyuruh kita kumpul.
" Iya, ada apa." ucap yang lain bingung saling tatap sambil menggeleng tidak tau.
Nyonya Melisa duduk di kursi kebesarannya, tersenyum memperhatikan kebingungan dari seluruh pelayannya.
" Rumah ini sebentar lagi kedatangan tamu special,, seorang bayi,,, dan kalian harus mempersiapkan kamarnya dengan sangat mewah dan teliti." seketika pelayan saling menatap semakin tidak mengerti.
" Aku mengerti makna tatapan kalian, jangan rusak mutku, karena sekarang waktunya untuk kebahagiaan keluarga Beliondra.
Nyonya Melisa kemudian berdiri dari kursi kebesarannya.
" Baiklah sekarang kaliang boleh lanjut bekerja. Pengumuman sekian.
Tanpak jelas kebahagia di raut wajah nyonya Melisa.
" Oh ya, satu lagi kabar bahagianya. Kalian naik haji.
Mata seluruh pelayan berbinar binar saking senangnya mendengar ucapan nyonya Melisa, dengan semangat mereka bergegas kerja.
Suara berisik di luar kamar membuat Brayan yg masih tertidur terganggu. Dengan males dia terpaku bangun, karena sudah tidak bisa tidur lagi.
Brayan berjalan keluar dari kamarnya dengan penampilannya yg masih berantakan.
Dia melihat sekeliling ruangan dipenuhi pelayan yang sedang sibuk bersih bersih tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
" Ini sedikit aneh.." Ia berucap kepada diri sendiri sembari menatap bingung tingkah pelayan dirumahnya.
" Pak Muldi, sini deh."
Brayan memutuskan mencari tahu apa yg sebenarnya terjadi kepada pak Muldi selaku kepala pelayan dirumahnya.
Pak Muldi yang dipanggil pun segera menghampiri anak kedua Keluarga Beliondra tersebut.
Sambil membungkuk hormat pak Muldi bertanya." Ya tuan muda kedua, ada apa manggil bapak?"
" Ini ada apa? kok kelihatanya pada sibuk."
Brayan melempar tatapan kepada pelayan yg begitu terlihat serius bekerja.
Pak Muldi mengikuti arah tatapan Brayan, kemudian menatap Brayan kembali. Dengan sedikit senyuman diwajahnya pak Muldi mulai menjelaskan dengan sopan.
" Oh, itu Nyoya yang printaiin Tuan,
Pak Muldi sedikit maju,
ia mendekatkan mulutnya ketelinga Brayan dan berbisik.
" Katanya? menyambut bayi."
Brayan yang tadinya sangat serius mendengarkan bisikan pak Muldi seketika berdiri kaget dan juga bingung.
" Bayi..." Ucapnya lantang."
" Siapa yg melahirkan?"
Brayan masih tidak mengerti.
Pak Muldi hanya menjawab dengan gelengan kepala, karena pak Muldi sendiri tidak tahu.
☆☆
" April....."
Teriak Yuri sambil berlari menerjang kearah April yang sedang berjalan menuju arah kamar pasien, di tangannya ada sekantong plastik berisi obat. Yuri memeluk April sambil melingkarkan kedua tangannya bergelantung manja dipundak April.
" Kangennnn...." Ucapnya lagi dengan nada yang amat sangat manja.
" O..yah. Om sama Tante gimana?"
Ekspresi manjanya berubah menjadi serius.
Sebelum menjawab pertanyaan Yuri, April menatap galau kearah Aryo yang sedari tadi hanya diam melihatnya dan Yuri.
April berusaha melempar senyum yang sedikit dipaksa karena merasa canggung akan keberadaan Aryo.
" Hay...Ril..?" Sapa Aryo tersenyum canggung menatap April.
" Hay.." Balas April singkat, masih dengan senyum canggungnya.
Kemudian dia melihat kembali sahabatnnya yang sedari tadi masih dengan suara cerewetnya.
" Ayah udah mendingan. Bunda... " Tersirat Sedikit keraguan dinada suaranya.
" Masih menunggu donor yang cocok."
Wajah April seketika berubah sedih.
" Kamu yang kuat ya.." Yuri berusaha menyemangati April dengan tulus
Berbarengan dengan Aryo, yang memberikannya tatapan semangat.
April hanya membalas dengan anggukan, support dari sahabatnnya Yuri dan juga Aryo yang entah sudah menjadi mantan atau tidak, keduanya masih mempunyai hubungan yang menggantung.
happy reading 😘😘😘