Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Sindrom Couvade



Kenzo merasa bersalah sekaligus lega, melihat April kini baik baik saja. Meski demikian Kenzo tetap menghubungi nomor Dr. Andre, meminta dia ke Apartemennya.


Suasana di dalam kamar begitu hening, Kenzo ataupun April keduanya sama-sama diam dalam pemikiran masing-masing. Mata Kenzo tanpa sendu menatap punggung April. Ingin rasanya Kenzo berterus terang tentang perasaannya, tapi entah kenapa semua itu seakan tertahan di hatinya. Ada apa dengannya? kenapa sulit sekali mengatakan kalau saat ini dia sangat memperdulikan April.


Dia mungkin tahu kalau rasa pedulinya kepada April bukan hanya karena anak yg dikandungnya. Tetapi kenapa Kenzo seakan menolak perasaan itu? dia terlihat bingung, perasaannya bercampur aduk.


Kenzo berdiri mengambil kotak obat, tanpa bicara dia menyentuh kaki April. April melirik, namun dia tak berucap sepatah kata, biarkan Kenzo menyentuh kakinya.


Perlahan Kenzo membersihkan kaki itu, kaki yg masih terbalut perban yang tadinya berwarna putih, namun kini berubah menjadi warna merah karena terkena darah April.


Kenzo mendesah. " Gadis ini sungguh tidak menghargai kakinya sama sekali." pikirnya.


Dia dengan sabar mengoleskan obat ke kaki April, April bereaksi, kakinya bergerak sesaat merespon rasa sakit.


" Apakah sakit..?"


April tak menjawab, dia mengabaikan pertanyaan serta kekhawatiran Kenzo. Dalam hatinya mencibir, kenapa lelaki ini harus pura-pura peduli kepadanya, membuat dia semakin tambah bersalah dan takut.


April tak tahan dengan perhatian yang Kenzo berikan kepadanya, hatinya menagis. Apa yang akan dia lakukan ke depannya dia benar benar tidak tahu. Haruskah dia mengakui kalau saat ini dirinya tengah hamil? setidaknya Kenzo tidak akan terlalu marah kepadanya dan juga keluarganya.


☆☆


" Pak Muldi? Apa belum ada kabar dari Tuan muda?" Tanya Nyonya Melisa yg dari semalaman belum melihat batang hidung anak tertuanya Kenzo.


" Belum Nyonya? sepertinya semalam Tuan Muda Besar tidak pulang, telponnya juga tidak di angkat?"


" Anak itu..!! benar benar bikin orang kesal. Apa dia lupa kalau lusa hari pernikahannya di gelar. Ah... bikin pusing saja."


Nyonya Melisa menggerutu kesal sambil memegang kepalanya karena pusing memikirkan kelakuan anak tertuanya.


" Coba telpon Asistennya. Lalu tanya dia di mana anak nakal itu."


Pak Muldi mengangguk, lalu menelpon Asisten Thomas.


" Nyonya? Asisten Thomas bilang, tadi malam Tuan muda menginap di Apartemennya. Dan sepertinya sekarang masih di sana."


Mendengar itu Nyonya Melisa mengenyit.


" Apartemen?" Gumamnya


" Pak Muldi yakin?" Tanyanya ragu.


" Iya Nyonya? Asisten Thomas tadi bilangnya gitu?"


Nyonya Melisa masih ragu, seakan tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. Kenzo menginap di Apartemennya? ada apa dengan putra tertuanya itu, sungguh membuatnya bingung dan bertanya-tanya. Lebih dari 5 tahun anak itu belum pernah menginjakkan kaki ke Penthosenya, semenjak kejadian waktu itu.


☆☆


" Bi Sumi, tolong ganti bajunya Nyonya?


Kenzo berjalan menghampiri bi Sumi sambil memijat jidatnya. Bi Sumi merupakan wanita paruh baya usianya menginjak 50 tahun, dia yang selama ini merawat dan membersihkan Apartemennya.


" Tuan baik-baik saja? wajah tuan kelihatan pucat gitu?"


" Aku baik-baik saja Bi? hanya sedikit pusing. Bibi tolong urus nyonya ya?"


" Baik Tuan?" Jawab bi Sumi, lalu pergi.


Bi Sumi selasai membantu April mengganti pakaiannya.


" Nyonya, apa mau makan sesuatu?"


April diam tidak merespon ucapan bi Sumi.


" Uwek... uwekkk...."


Dari luar kamar, seperti suara Kenzo sedang muntah, April mendengarkan, dahinya berkrut, dia tampak berpikir.


" Nyonya, permisi sebentar?"


Bi Sumi bergegas keluar melihat kondisi Kenzo.


" Tuan. Tuan kenapa? apa Tuan kurang sehat?" Bi Sumi bertanya khawatir melihat wajah Tuannya pucat dan terus terusan muntah.


'" Bibi buatkan minuman jahe ya?"


Kenzo mengangguk mengiyakan saja tawaran bi Sumi. Tubuhnya terlihat begitu lemas sambil terus memijit kepalanya.


" Apa Tuan tidak sebaiknya ke Dokter?"


" huwek... huwek..." Kenzo kembali muntah di wastafel, membuat bi Sumi panik.


April yang mendengarkan, perasaannya sedikit terusik dan bertanya tanya, ada apa dengan kondisi tubuh mahluk dingin yg suka berubah ubah itu??


Suara bel terdengar beberapa kali.


" Bi, tolong bukakain pintunya." Ujar Kenzo terdengar lemas dan menahan mual.


Dr. Andre masuk.


" Tuanmu kenapa?" Dr. Andre bertanya pelan kepada bi Sumi yg berjalan di sampingnya.


" Gak tau, dari tadi muntah muntah."


Melihat Dr. Andre, Kenzo berusaha semampunya berdiri, lalu membawa Dr. Andre ke kamarnya.


Dr. Andre terlihat bingung melihat April masih terbaring lemas di tempat tidur. Dia ingin bertanya ada apa lagi dengan gadis itu, bukankah seharusnya kondisinya akan baik baik saja? tapi kenapa saat ini terlihat begitu lemah?


Pemikiran itu hanya tersimpan di kepalannya tanpa berani di utarakan Dr. Andre.


Dr. Andre selesai memeriksa April. Wajah Kenzo terlihat di penuhi begitu banyak pertanyaan kepadanya.


" Dia baik baik saja, hanya sedikit syok dan stres." Ujar Dr. Andre menjelaskan.


Mereka bejalan keluar meninggalkan April.


" Sebaiknya kita ke ruang kerjaku saja." Ajak Kenzo.


Dr. Andre mengangguk, menuruti ajakan Kenzo.


" Apa dia baik baik saja?"


Kenzo langsung menanyai Dr. Andre dengan cemas, saking cemasnya sampai lupa mepersilakan Dr. Andre duduk terlebih dahulu.


" Saat ini dia baik baik saja, tapi kalau hal seperti ini masih terus terjadi, itu tidak akan baik buat kandungnya."


Panggilan bi Sumi menghentikan percakapn mereka.


" Tuan.. minuman jahenya mau Bibi antar ke situ?" Tanya bi Sumi.


" Boleh Bi, tolong sekalian buatkan jus buat Dr. Andre.


Setelah itu Kenzo melanjutkan kembali percakapannya bersama Dr. Andre.


" Apa dia tidak perlu mendapat penanganan Medis atau semacamnya begitu?"


Dr. Andre tersenyum melihat kegelisahan di wajah Kenzo. Dia berpikir, ternyata manusia ini masih bisa di sebut manusia. Hati nuraninya masih melekat di dirinya.


" Kenapa?" Tanya Kenzo merasa tidak tenang melihat Dr. Andre terdiam.


" Apa Bayinya sungguh baik baik saja?"


" Jangan khawatir,, Bayinya baik baik saja."


" Syukurlah.." ucap Kenzo dengan perasaan lega, namun wajahnya terlihat pucat seperti berusaha menekan rasa mual di perutnya, tubuhnya sampai berkeringat dingin.


" Huwek...Huwek..." Kenzo tak tahan lagi, dia menutup mulutnya dengan sapu tangan.


Melihat itu Dr. Andre tersenyum. Lalu bertanya.


" Apa akhir-akhir ini kamu merasakan ada yg aneh dengan tubuhmu?"


" Bagaimana kamu bisa tau. Akhir ahir ini tubuhku kurang nyaman, aku juga tidak punya selera makan, entah kenapa, aku hanya suka minum kopi dan bau kopi. Sedangkan yang lainnya seperti makanan membuatku enek dan mual melihatnya. Apa Dokter tau aku kenapa?" Tuturnya panjang lebar.


Dr. Andre kembali tersenyum mendengar penuturan Kenzo.


" Gejala yang Tuan Muda alami, istilah kedokterannya di sebut Couvade atau Sindrom Couvade atau di sebut juga gejala kehamilan yang di alami pria.


" Maksudnya...?? Aku tidak mengerti maksud Dokter."


" Jadi maksud saya,,,, Tuan sedang mengantikan Nona mm ngidam.


" Ngidam..?? kok bisa Dok,, emangnya cowok bisa ngidam? lagian bukannya pase ngidam sudah berahir? usia kandungnya saja suda 5 bulan."


" Bisa. Tentu saja bisa, hal seperti ini khusus biasa terjadi kepada para pria yang.... bersimpati kepada rasa sakit yang di alami pasangannya.


Dan biasanya pria yang sering melakukan aktifas dan olahraga juga akan cenderung lebih sering mengalami ngidam, karena tubuh pria yang rutin berolahraga memerlukan asupan nutrisi lebih. Dan masalah pase ngidam buat wanita hamil itu, tergantung? bahkan ada juga yg ngidamnya samapai hari melahirkan."


" Minuman jahenya Tuan." Bi Sumi meletakkan minuman jahe di depan Kenzo, lalu meletakkan lagi minuman jus di depan Dr. Andre. Setelah itu Bi Sumi meninggalkan keduanya.


Kenzo masih tidak terlalubyakin dengan penuturan Dokter Andre. Tergambar dari mimik wajahnya.


" Sebaiknya ngidam yang Tuan muda alami jangan di splekan lo, karena itu juga bisa berakibat buruk bagi kondisi Tuan, apa lagi kalau sampai Tuan muda menolak mengkonsumsi makanan. Sebaiknya tetap dipaksakan buat makan, jangan cuma minum kopi aja, gak baik juga buat kesehetan." Jelas Dokter Andre berusaha membuat Kenzo tidak mengabaikan ucapannya.


Happy reading...