
" Suruh semua orang orang kita berangkat ke pinggiran kota A. Namun jangan sampai terlalu kentara. Kamu ikut aku ke Kantor dan siapkan berkas Tender yang kita menangkan dengan Perusahaan Alson."
Kenzo mengepal erat tinjunya. Tatapannya seperti mata pisau.
" Hmmm berani sekali kamu mengancamku. Kamu belum tahu siapa Aku." Gumamnya
" Presedir, ada panggilan untuk anda." Ucap Asisten Thomas sambil menyodorkan ponsel kepada Kenzo.
[ Hallo.. Presedir Kenzo, apa semua yang aku minta sudah anda siapkan??" ] Suara itu terdengar seperti sudah di samarkan.
" Tentu saja?" jawab Kenzo tersenyum, namun senyumannya terlihat menakutkan.
" Tapi bagaimana aku tahu anda sedang tidak membohongiku." Ucap Kenzo berusaha mengulur waktu nemberi kesempatan anak buahnya melacak lokasih nomor tersebut.
Kenzo menatap dengan isyarat Asisten Thomas. Kemudian Asisten Thomas membalas isyatnya dengan kode tangan kalau lokasinya sudah terlacak.
" Baiklah 30 menit semuanya siap." Ucapnya kepada si penelpon mengahiri percakapannya.
Mobil dengan cepat melaju menuju pinggiran Kota A.
Sesampainya di tujuan. Mereka disambut oleh lima pria kekar bersenjata lengkap menggunakan pakain hitam seperti ninja. Senjata di todongkan ke kepala Asisten Thomas dan Kenzo.
Mereka mengarahkan Kenzo menunuju ke tempat ketua mereka berada.
Sesuai kesepakatan Kenzo menyerahkan berkas tender yang di inginkan si penelpon untuk di tukar dengan April.
Namun Kenzo tiba-tiba menarik kembali berkasnya yang sempat di sodorkannya.
Bibirnya tersungging.
" Apa kalian pikir aku ini begitu bodoh." Ucapnya sambil menatap tajam lelaki yang mengenakan topeng di depannya.
" Kamu jangan coba- coba bermain-main denganku." Ucap lelaki itu, namun ekspresinya tidak terbaca. tetapi dari gestur tubuhnya dia terliahat begitu santai.
" Baiklah, aku akan menyerahkan kepadamu berkas ini. Namun aku harus melihat kondisi istriku terlebih dahulu. Aku tidak mentolerir jika di tubuhnya tegores sedikit saja."
" Tenang saja... istrimu aman tanpa lecet sampai Anda menyerahkan berkas itu tanpa ada manupulasi sedikitpun. Bagaimana, bukankah itu barter yang adil?"
Pistol masih di todongkan ke arah Kenzo dan Asisten Thomas."
Kedua alis Kenzo terangkat di ikuti lengkungan di bibirnya.
Dia sangat paham dengan semua trik murahan musuhnya. Ketika kode terdengar dari anak buahnya kalau semuanya berjalan sesuai rencananya Kenzo berdiri dari duduknya.
Dia tertawa cukup keras, membuat 5 pria kekar yang menodongkan semjata ke arahnya dan Asisten Thomas saling bertatapan aneh.
Ekpresi wajah Kenzo seketika berubah menakutkan.
" Berani sekali kalian mengancamku!" Ucapnya sambil mengeluarkan senjata dari dari dalam jasnya dengan cepat melumpuhkan semua penjaga di ruangan itu.
Pria yang mengenakan topeng tadi berdiri panik.
" Jangan berani macam-macam kepadaku, istrimu masih bersama anak buahku. Cepat serahkanberkas itu sekarang." Ucapnya di penuhi kemarahan dari setiap perkataanya.
" Hah..!! anak buahmu? bawa mereka semua masuk."
Pria yang mengenakan topeng itu tubuhnya hampir jatuh gemetar melihqt anak buahnya semua sudah di lumpuhkqn oleh anak buah Kenzo.
" Sekarang silahkan kamu pilih. Kaki, tangan, atau kepalamu yang harusku tembak karena telah brani menggangu wanitaku."
Lelaki itu segera bersujud meminta ampun di depan Kenzo.
Kenzo mengangkat topeng yang menutupi wajah lelaki itu. Alisnya terangkat sebelah.
" Ampuni nyawaku Presedir."
Pria itu masih memohon. Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya begitu ke takutan
" Mengampuni nyawamu??" Kenzo menyungkingkan sedikit bibirnya. Ekspresinya wajahnya bengis.
" Itu tergantung, aku harus memeriksa istriku, apa tubuhnya terdapat goresan atau tidak.
" Ikat dan bawah Dia." Printahnya kepada anak buahnya. Kenzo lalu pergi melihat kondisi April.
Kecemasan terlihat di matanya melihat April yang terduduk lemas di kursi mobil.
" Kamu baik-baik saja?"
April tak menjawab. Dia memandangi wajah itu dalam diam, wajah yang menatapnya dengan tatapan cemas. Pikirannya benar-benar bleng kacau. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apakah dia harus berterima kasih atau tidak karena telah menyelamatkannya.
Kenzo tak lagi menanyainyai. Dia merasa sedikit lega, setidaknya April bisa di te.ukannya dalam ke adaan baik baik saja.
Suasana begitu hening. Tidak ada yang berucap sepatah katapun dari ke duanya.
Sesampainya di lobbi Apartemen. Tanpa berucap Kenzo langsung menggendong April lalu membawanya masuk ke dalam Apartemen.
" Hubungi Dr. Andre." Printahnya kepada Asisten Thomas yang mengekor di belakannya.
Perlahan Kenzo meletakkan April ketempat tidur. Mata mereka saling bertatapan dalam diam.
" Presedir.. Dr. Andre akan sampai dalam waktu 20 menit." Lapor Asisten Thomas membuat keduanya seketika menunduk menghindari pandangan satu sama laiinya.
~ Ada apa dengan suasana canggung ini, apa aku sudah merusak momen keduanya?
Asisten Thomas sedikit merasa bersalah dan canggung dengan semuanya, dia tanpa berucap lagi meninggalkqn ruangan itu.
☆☆
Aryo tersadar darj mabuknya, namun kepalanya masih sedikit berat. Pandangannya mengedar ke ruangan tempatnya saat ini. Tatapannya jatuh ke pada dua bocah lelaki yang dengan anteng duduk memandanginya. Dia adalah adiknya Aryo.
Aryo mulai memperjelas pandangannya.
" Kalian ngapain di duduk si situ?" Ujar lembut kepada kedua adiknya.
" Kita beldua lagi nungguin tata bangun?" Ucap si bungsu adiknya yang berkisar usia 4 tahun. Ucpannya memang belum begitu jelas terdengar.
Aryo beringsut duduk.
" Kesinih.." panggilnya. Kedua bocah itu mendekat kearah Aryo. Langsung saja Aryo memangku dan menciumnya.
" Pengasuh kalian ke mana?" Tanya Aryo
" Bi Irma lagi masak ka?" Sahut adiknya yg paling besar, usianya berkisar 6 tahun.
" Kalian tau gak? siapa yang udah bawa kakak pulang."
" Ow... yg bawa kakak pulang kakak Yuri. Habis antarin kk ke kamar kk Yuri langsung pulang." Jawab adiknya yang paling besar.
Aryo terdiam mendengar. Dia berusaha mengingatnya. Samar samar dia memgingat ucapan Yuri.
~ Hari ini adalah hari terahir kita bertemu.
" Apa maksudnya?" Gumam Aryo.
^_^