Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
Perasaan Cinta Yuri



Perasaan April terasa tak karuan, saat melihat Aryo, dia kembali mengingat perjodohan yang sudah diatur oleh Ayahnya.


Sesaat dia termenung, seakan tenggelam dalam lamunan, April seakan lupa tentang keberadaan sahabatnya dan Aryo, hingga suara Yuri membuyarkan lamunannya.


" Ril....." panggil Yuri sambil mengguncang pelan bahunya.


" Kamu gak pa²kan?"


April tersadar kemudian menatap terkejut kearah Yuri. " Ya, kenapa?"


Yuri merasa April tidak baik-baik saja, wajahnya nampak terlihat letih dan pucat.


" Sebaiknya kamu istirahat aja dulu Say? wajahmu kaya mayat hidup. Biar om sama tante aku yang jagain." Yuri menatap Aryo, seakan memberinya kesempatan untuk mengobrol dengan April.


" Oh ya Yo? bisa tolong bawa April ke IGD, kayaknya dia juga butuh penanganan Dokter." Yuri mendorong Aryo mendekat kearah April.


April tersenyum geli menatap tingkah sahabatnya. Dia tau benar maksud dari sahabatnnya itu. Dengan lembut April menolanya.


" udah... Aku gak pa² kok."


" Gak pa² bagaimana. Itu muka coba lihat di kaca, udah kayak di hisap vampir." Dengan sedikit kesal Yuri menendang kaki Aryo yang kurang peka.


Akhirnya Aryo pun ikut membenarkan ucapan Yuri.


" Ya Ril, kelihatan wajahmu sangat kelelahan. Aku ngomong gini bukan karena disuruh Yuri. Coba kamu pikirkan, kalau kamu juga sakit Om sama Tante siapa yang yang jagain. Sebaiknya kamu aku temanin kamu diinfus vitamin, jangan nolak." Ajak Aryo tegas.


Melihat ke seriusan Aryo, April berat juga ingin menolaknya. Akhirnya ia mengangguk setuju.


Yuri tersenyum akhirnya bisa membuat kedua orang yg penting baginya bisa kembali bicara.


" Semoga masalah kalian terselesaikan, aku yakin kalian saling mencintai. Yuri..kamu harus mengubur Aryo dari perasaanmu! jangan jadi sahabat yang jahat." Tegas batinnya berusaha tegar. Kemudian dia dengan segera mendorong dua sejoli itu pergi.


Ada sedikit perasaan sedih yang Yuri rasakan, pasalnya ia sudah mengenal dan mencintai Aryo jauh sebelum Aryo dan April bertemu.


Dia mencintai Aryo sejak dia duduk di bangku kelas 2 SMP, memang terdengar seperti cinta monyet sih, tapi mau gimna lagi, namanya juga perasaan.


Aryo merupakan tetangganya di komplek Rinjani. Yuri pindah ke kota A mengikuti kedua orang tuannya. Ayahnya di pindah tugaskan ke Kantor pusat di Kota A.


Aryo meskipun temasuk tajir namun tidak sombong, dia selalu mengurus adik adiknya, ketika orang tuanya bekerja, Yuri bahkan sering membantunya menjaga adik-adiknya.


Meskipun ada pengasuh, tapi dia tetap tidak ingin menyerahkan tugas menjaga adik adiknya sepenuhnya kepada pengasuh.


Hal itu membuat Yuri Sangat kagum, lambat laun perasaan cinta itu tumbuh dihati Yuri tanpa ia sadari. Mengingat itu Yuri tersenyum getir.


" Sudah saatnya Aku melepaskanmu Yo." Lirihnya sambil menatap punggung Sahabatnya dan lelaki yang pernah ia cintai.


Dia kemudian tersenyum, menguatkan diri sambil menarik napas dalam-dalam, berusaha benar benar seikhlasnya melepas Aryo untuk bersama sahabatnya April.


Yuri tidak lagi menatap kearah dua sejoli itu, iapun berjalan masuk ke kamar pasien 307, kamar kedua orang tua April dirawat.


Melihat kondisi bu Lidia dan pak Sanjaya, yang terbaring bersamaan, membuat Yuri sangat prihatin dengan apa yang dialami sahabatnnya.


Dua kantung infus tergantung disamping bu Lidia, tidak hanya itu, beberapa peralatan medis yg tidak terlalu di ketahui Yuri juga menempel di tubuh bu Lidia.


" Sebegitu parakah. " pikir Yuri yang menyaksikan dengan tak kuasa menahan sedih.


Beruntung kondisi pak Sanjaya tidak terlalu buruk, dia hanya sedang tertidur karena pengaruh obat.


Yuri tak bisa berkata-kata lagi, melihat keadaan kedua orang tua sahabatnnya itu.


Tetapi Yuri tiba-tiba saja teringat akan bentuk tubuh April yg sedikit aneh, pikirnya menjadi tidak tenang mengingat kembali hal buruk yg pernah terjadi kepada sahabatnya itu.


Semoga saja pikirannya salah, pikirnya semakin takut.


☆☆


Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit mencari ruang IGD. April berjalan dengan langkah sedikit lamban mengekor disamping Aryo, yang terlihat serius memperhatikan setiap ruangan.


Melihat perawat lewat, Aryi dengan sopan bertanya letak ruang IGD, memang rumah sakit ini bukan cukup besar, tapi terlalu besar, hanya nomor kamar dan lantai yang membedakan, bahkan April beberapa kali sempat tersesat. Beruntung di setiap lantai ada bagian pelayanan informasi dan penjagaan yang begitu ketat oleh satpam di setiap lokasi.


Perawatpun menuntun keduanya kepada seorang scurity, lalu meminta tolong mengantarkan mereka menuju ruang IGD.


" Terimakasih..?"


Aryo mengucapkan terimakasih kepada seorang perawat perempuan yang membantunya. Perawat itu hanya membalas tersenyum sambil mengangguk, kemudian meninggalkan kami bersama scurity.


April terlihat tidak enak hati karena sedari tadi cuma diam, padahal April sangat tau benar letak IGD, dan tidak mungkin dia tidak tau, secara ibunya berbulan bulan telah dirawat di Rumah Sakit Harapan.


Namun ke inginan April terhenti, ketika Aryo tiba tiba saja bertanya kepada seorang perawat. April pun terpaksa diam dan hanya mengikuti saja.


Mereka akhirnya berjalan mengikuti arahan petugas.


Sesampainya diruang IGD, mereka menemui Dokter, setelah itu Dokter langsung menyuruh April berbaring di blangkar kosong di ruangan tersebut agar bisa segera di tangani.


Dokter dengan seksama memeriksa keadaan April, ya hanya pemeriksaan ringan saja.


Katanya April hanya kurang tidur dan kelelahan, tensinya juga rendah. Dia sudah diberi infus Vitamin dan obat penambah darah.


" Tidak perlu cemas, istirahat beberapa jam, akan mengembalikan kondisinya ke prima." Dokter sedikit tersenyum menjelaskan, melihat wajah Aryo yang nampak terlihat cemas.


" Terimakasih." Ucap Aryo santun kepada Dokter.


Dokter pun meninggalkan April dan Aryo agar bisa memberi ruang kepada pasien untuk beristirahat.


Aryo yang sedari tadi berdiri saja, akhirnya bisa duduk dengan tenang.


" Kamu dengar kan, apa yang dikatakan Dokter tadi. Kondisi kamu tidak baik baik saja." Aryo mulai menceramahi April.


April tersenyum tulus mendengar ceramah dari Aryo.


Dia membalas, dengan kata² yang biasa ia ucap ketika dulu Aryo mulai menceramahinya.


" Iya pak Ustad.."


kata kata itu hanya keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa April sadari, membuat suasana berubah canggung.


April berusaha memejamkan mata. Karena merasa sedikit canggung oleh kata-katanya tadi.


Tapi sebelum itu, dia meminta izin Aryo karena merasa tidak enak harus meninggalkannya untuk tidur.


Aryo hanya tersenyum mengangguk mengizinkan. Dia sama sekali enggan pergi meninggalkan April.


☆☆


Sementara itu, anak buah asisten Thomas yang siaga menjaga April memberikan laporan kepadanya. Dia dengan segera menelpon dan mengirimkan foto April yang berjalan bersama seorang laki-laki kepada AsistenThomas. Ya laki laki itu tentu saja Aryo, namun anak buah Thomas mana tau.


Asisten Thomas menerima laporan dari anak buahnya, namun dia kelihatan sedikit ragu ingin melaporkan hal tersebut kepada Kenzo, karena saat ini wajahnya terlihat bahagia, dan ini adalah hal yg langkah dan jarang di lihat oleh asisten Thomas.


Tapi dia tidak tahu tingkahnya yang terbilang tegang itu, membuat Kenzo malah memperhatikannya. Kenzo bukanlah orang yang tidak bisa membaca suasana, sedikit saja perubahan dari Asisten Thomas ia pasti tau, tidak ada hal yang dapat disembunyikan dari seorang Kenzo.


" Ada apa..!"


Kenzo mulai curiga melihat perubahan dari wajah Asisten Thomas.


Asisten Thomas terdiam dan sedikit kaku. Kesannya Asisten Thomas terlihat bingung membuat Presedir Kenzo mengerutkan alis sedikit tidak suka dengan respon tersebut.


" Ayo katakan, ada apa." Suara Kenzo semakin terdengar tidak sabaran.


Thomas yang di tanyai masih diam karena merasa prustasi, dia masih berperang dengan dua jiwanya, antara melaporkan atau tidak. Pasalnya cowok yang difoto itu dia mengenalnya, dia sendiri yang pernah melaporkan kalau lelaki itu pacarnya April.


Thomas sedikit pucat, ini seperti kiamat kecil baginya, kalau dia laporkan suasana hati Tuannya itu akan kaco, imbasnya pasti kena ke dia dan dia juga tidak ingin kebahagiaan yang dia lihat tadi di wajah bosnya sirna.


Tapi kalau tidak ia laporkan, Takutnya Kenzo akan tau, dan dia pasti juga bakalan kena imbasnya karena tidak serius bekerja. Ini bahkan lebih parah lagi. Ini seperti memakan buah simalakama. Kasian sekali kau Thomas.


Melihat asisten Thomas yang masih diam tidak menjawabnya, Kenzo lalu berjalan menghampirinya, tanpa bicara ia mengambil phonsel yang dari tadi membuat ekpresi Thomas terlihat panik dan tidak jelas.


Kenzo segera melihat apa yang ada di phonsel asisten Thomas. Wajahnya berubah masam, Kenzo mulai mengerutkan dahi.


Asisten Thomas berusaha mengambil kesempatan menyelinap keluar, melihat wajah tidak mengenakan dari bosnya.


Namun sayang, aksinya terlambat satu detik, belum sempat asisten Thomas melangkahkan kakinya ke luar pintu, suara dingin terdengar menyuruh Dia menghentikan langkahnya.


" Berhenti !"


Suaranya seperti bom atom yg akan meledak.


Sambil tersenyum canggung asisten Thomas akhirnya terpaksa berbalik kembali ke posisinya, gagal kabur maka siap menerima kekesalan bosnya.


" Emang nasip." Asisten Thomas hanya berani mengeluh dalam hati.


happy reading 😘😘😘