Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Kekecewaan April



Warning!!!


Episode ini mengandung adegan 18+


Mereka tak berhenti sampai disitu saja. Kali ini Kenzo sepenuhnya sadar melakukannya.


Wangi tu..buh April membuatnya kembali ber..gairah.


April tak sadar ketika Kenzo perlahan me..***** bi..birnya.


Perlahan April membuka matanya yang mengantuk dan berat. Kenzo benar-benar tak merasakan lelah. Dia dengan lembut menge..cup setiap inci tu..buh April, membuatnya menge..linjang nik..mat. Kali ini April tak melawan, dia menik..mati setiap sen..tuhan Kenzo. Mungkin karena dia sudah melepaskan beban dan rahasia di hatinya.


Lagi dan lagi me..reka ber..cinta. Hingga tu..buh April terasa remuk dan tak sanggup lagi. Kenzo benar-benar kuat, tu..buh kecil April tak bi..sah lagi me..lanjutkan kegilaan ber..cintanya.


Langit sudah begitu terang, cahaya mentari menerobos masuk disela gorden. Apakah lelaki ini seorang yang hiper..se..x?? April benar-benar tak kuat melayaninnya lagi.


" Aow.. sakit." Dia meringis memegang perutnya. Membuat Kenzo seketika menghentikan per..cintaannya.


" Kenapa?? mana yang sakit." Ucapnya panik menanyai April.


April berkeringat dingin, wajahnya memucat, tiba-tiba darah segar keluar di sela pahanya.


" Ka.. kamu berdarah."


Kenzo begitu cemas dan panik melihat darah yang terus mengalir di paha April. Apakahah gadis ini keguguran?


Dia langsung berdiri mengenakan bajunya. Kemudian membungkus tubuh April dengan selimut.


" Buka!! buka Pintunya." Teriaknya menggedor pintu hotel dengan kuat.


Dia sangat panik dan takut. Bolak balik menggedor pintu dan menayai April.


" Apa sangat sakit sekali??"


April takk bisa menjawab, dia terus meringis memegang perutnya.


" Jangan khawatir, kamu dan anak kita akan baik-baik saja." ucapnya menenangkan April.


~ Anak kita? apa maksudnya?


Karena kesakitan yang begitu hebat, April tak memperdulikan lagi ucapan Kenzo tadi.


Kenzo kembali menggedor pintu dengan sangat emosi.


" Buka..!! Kalau kalian masih tidak membukanya sekarang. Jangan salahkan aku menghancurkan hotel ini!" Teriaknya mengancam, sambil menendang nendang pintu dengan keras.


Pintu kamar akhirnya terbuka, Kenzo dengan panik langsung menggendong April, tanpa berdebat lagi.


Dia berlari tanpa memperdulikan sekitar. Dan segera membawa April ke Rumah sakit.


Wajah Kenzo terlihat begitu khawatir. Dia tak bisa melepaskan gengamannya dari tangan April.


" Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja.


April segera di tangani Dokter. Mereka awalnya canggung melihat April yang di bungkus dengan selimut.


Dengan cepat perawat menarik tirai dan mengenakan baju rumah sakit kepada April selesai membersihkan darah yang mengalir di pahanya.


Kenzo begitu tidak tenang karena belum mengetahui kondisi April.


" Dok.. istri sama anak saya bagaimana" Ucap Kenzo. Menayai Dokter yang tengah sibuk memeriksa April. Dokter itu terlihat begitu tenang memeriksanya. Dia seorang Dokter Wanita, tergantung namanya di bet pengenal. Dokter Alma, seorang Dokter spesialis Obgyn.


" Tidak perlu khawatir? banyinya aman. Hanya pendarahan ringan." Dokter itu tersenyum melihat Kenzo yang panik.


" Hanya saja, Tuan Muda harus memperhatikan ritme dalam melakukan hubungan se..x. Jangan terlalu bersemangat."


Kenzo merasa malu mendengarkan. Dia berpikir apakah semua benar-benar karena ulahnya yang tidak membiarkan April istrihat semalam, makanya dia bisa pendarahan begitu.


Kenzo benar-benar mengutuk dirinya sendiri. Karena ulahnya dia hampir mencelakai buah hatinya.


" Jadi kalau istri hamil gak boleh melakukan itu ya Dok.?" Kenzo bertanya pelan dengan wajah yang sedikit canggung.


" Boleh.. boleh saja. Sebenarnya pendarahan ini umumnya tidak berbahaya. Tuan Muda bisa tetap berhubungan intim lain waktu, tetapi lakukanlah lebih lembut. Tuan muda dan istri bisa mengganti posisi ber..cinta dengan yang lebih aman, misalnya spooning ( Posisi memeluk dari belakang, menghadap ke arah yg sama dalam ke adaan berbaring )atau penetrasi ( Mema..sukkan Mr. P pria ke dalam Mis V ) dari belakang untuk mencegah pendarahan.


Tab...tab...


Langkah kaki terdengar mendekati kamar rawat April.


" Cucuku bagaimana. Bagaimana keadaan cucu dan menantuku Dokter."


Nyonya Melisa langsung bertanya dengan tergesa gesa sesampainya di dekat Dokter. Wajahnya terlihat begitu tidak tenang. Napasnya ngos-ngosan, terlihat jelas seperti berlari terburu-buru. Setelah menerima kabar tentang April yang di larikan ke rumah sakit.


Dr. Alma tersenyum.


" Tenang?? menantu dan cucu Nyonya baik-baik saja. Tidak perlu cemas."


Mendengar itu membuat nyonya Melisa bernafas lega.


Tetapi tidak dengan April. Dia begitu bingung mendengar semuanya. Apa maksud semua ini, dia benar-benar tak paham. Cucu? bagaimana mungkin nyonya Melisa tahu dirinya hamil, jelas- jelas baru tadi malam dia memberitahu Kenzo.


April tiba-tiba berusaha mengingat semuanya, lelaki yang merenggut kesuciannya seperti tak asing, suaranya, jamahannya. Bayangan itu terputar bergantian seperti klise di otaknya.


April menjadi lemas tak berdaya. Dadanya begitu sesak dan sakit. Dia tak percaya dengan semuannya. Ternyata lelaki itu adalah Kenzo? lelaki yang membuatnya kehilangan kesuciannya, lelaki yang membuatnya menandatangi kontrak nikah hanya untuk keturunan.


April tersenyum getir, penuh rasa sakit dan sesak di garis wajahnya.


~ Jadi inikah alasannya selama ini dia menyuruhnya menandatangani kontra pernikahan dan harus memberikannya seorang keturunan?


Sungguh semua itu membuat April benar-benar tak percaya dengan semuannya. Sakit, sangat sakit yang ia rasakan saat ini. Hatinya benar-benar hancur. Air matanya mengalir begitu saja.


Dia menyamping membelakangi Kenzo dan Nyonya Melisa menyembunyikan wajahnya sembab dan rasa sakitnya. Dia ridak ingin menunjukkan kelemahannya. Walau ingin sekali rasanya dia berdiri memaki dan mengutuk keluarga itu.


Namun itu tidak dia lakukan, rasa sakitnya dan tubuhnya yang lemah membuatnya tak mampu melakukannya.


Nyonya Melisa dan Kenzo mendekat ke arah April.


" Bagaimana, apa masih sakit?" Tanya Kenzo di ikuti tatapan cemas dari Nyonya Melisa.


Namun tak ada tanggapan dari April.


" Sudahlah, jangan ganggu Dia? biarkan Dia beristirahat." Ujar nyonya Melisa, menepuk ringan pundak Kenzo.


Kalau begitu ibu pulang dulu, kamu juga sebaiknya pulang mandi. Lihat penampilanmu." nyonya Melisa mengarahkan pandangannya ke penampilan Kenzo yang acak acakkan dan terlihat kelelahan bahkan masih mengenakan baju tidur.


Kenzo mengangguk menyetujui saran ibunya.


April menggepal erat tangannya menekan rasa sesak di hatinya. Matanya sengaja ia pejamkan. Tidak ingin berbicara kepada keluarga itu. Dia bukan hanya merasa terhina, tapi April merasa selama ini sudah di tipu oleh keluarga itu.


^_^