
Matahari hampir terbenam,, cahaya bias kemerahan bekumpul di kaki cakrawala. Hal ini menarik perhatian mata sayup penuh keresahan dari balik tirai rumah sakit. Kamar itu tata letaknya memang sangat nyaman sepertinya memang disediakan untuk orang orang yang berkuasa,,.terlihat jelas dari perabot bak hotel sweet bintang lima serta ukuran kamar yang begitu besar dan luas dengan disain yang elegan dan nyaman, dari dalam kamar bisa terlihat jelas aktivitas jalanan bahkan bisa melihat keindahan matahari yg meninggalkan bumi, menyusut perlahan dibalik gedung gedung kota yg menjulang kelangit.
Hidup ini apakah seperti matahari yg datang dan pergi,, bisakah meninggalkan jejak keindahan dan kerinduan dihati yang melihatnya.
" April... ada apa nak? kamu sudah berdiri cukup lama disitu,, apa ada hal yang sedang mengganggu pikiranmu." Panggil pak Sanjaya yg sedari tadi memperhatikan April seperti sedang gunda menatap keluar jendela.
Dia menoleh dan tersenyum.." Gak da pa pa kok Yah.. April hanya ingin melihat matahari terbenam saja." Sahutnya,, namun dari sorot matanya terlihat menyembunyikan sesuatu, sambil menutup tirai kamar dan berjalan ke shopa diruangan itu,, dia kemudian duduk mengambil remote dan menyalakan TV. Tapi pokusnya tidak tertuju pada layar TV.
Ekor matanya melirik kearah ponsel yg sendari kemarin tidak terdengar kabar dari sahabatnya Yuri,, keresahan mulai menyelimuti hatinya,, karena tidak biasanya sahabatnya Yuri absen mengirimnya chat.
" Tu anak apa kabar ya..? tumben sekali gak da kabarnya." April tidak ingin penasaran dia kemudian mengrimkan chat kepada Yuri.
Chat
" Hay.. kamu dimna? ke pa gak da kabarnya? kamu baik baik saja kan..!?"
[✓✓] namun sepertinya Yuri sama sekali tak membaca chatnya.
April kemudian berinisiatif untuk menelpon.
panggilannya masuk, tapi tetap tidak ada respon dari Yuri,, hal ini membuat April semakin cemas.
" Ada apa nak.. kok kamu kelihatan cemas gitu?"
" Gak da pa pa kok Yah,, April hanya kepikiran Yuri,, semenjak kembali pulan dari sini dia gak da kabarnya,, ditelpon juga gak angkat." Ujarnya.
" mungkin dia sedang keluar ke minimarket dan lupa membawa hp." sahut pak Sanjaya menenangkan April.
" Ya juga,, mungkin saja." Gumamnya
" lebih baik kamu makan malam,, dari tadi kamu belum menyentuh makanan."
April hanya mengangguk tidak menolak lagi,, kemudian berjalan keluar menuju kantin rumah sakit.
**
Yuri yang kebingungan mencari keberadaan Aryo, duduk melamun sambil berpikir di tepian pantai, perasaannya yang kalut dan cemas berusaha ia tenangkan. lebih dari dua jam dia duduk termenung seorang diri tanpa sadar kalau hari sudah mulai gelap,, cahaya mentari sudah sepenuhnya terbungkus selimut malam.
Dering phonselnya yang sedari tadi terus berbunyi menyadarkannya, dia mengambil ponselnya kumudian dengan malas menekan " hallo."
[ " Kamu dimana..!! jam berapa sekarang..!! kenapa belum kembali,, kamu sudah keluar dari pagi, tanpa kabar pula." ] Suara itu terdengar kesal dan marah marah. Yuri yang diserbu tak bisa berkata kata, telinganya serasa pekik mendengar semprotan ayahnya,, dia melihat waktu diponselnya.
" Astaga sudah jam sembilan malam." Yuri sedikit terkejut melihat sekelilingnya yang terlihat sepi dan gelap sambil bergegas bangkit tanpa mejawab sepatah katapun ucapan dari Ayahnya. Panggilannya dia matikan. dan belari menuju mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh dari tempat dia duduk.
" Ais...!! Ayah pasti marah besar nich.. bagaimana menjelaskannya?" Grutunya panik sambil mebenturkan pelan kepalanya kesetir mobil. " bodoh amat dah..!! pulang dulu aja." Dia kemudian berkendara menuju rumahnya. Sesampainya dirumah,,, dia memarkirkan mobilnya ke garasi, dan mulai masuk dengan cara mengendap endap seperti pencuri. Merasa keadaan rumah aman dia mengembalikan kunci mobil Ayahnya ketempat biasanya dan bergegas lari masuk ke kamarnya.
" Ah... aman.!? ujarnya pelan sambil menghembuskan napas lega,, kemudian tanpa berpikir lagi melemparkan tubuhnya yang sangat amat lelah ke tempat tidur.
Suara ketukan pintu yang cukup keras dari luar kamarnya tak ia hiraukan.
tok...tok..tok...
" Yuri... Yuri...! kamu dari mana saja,, kenapa membawa mobil bapak!!" Teriak ayahnya meminta penjelasan.
" Sudahlah pak, yang penting anaknya kan sudah pulang, besok pagi aja ditanyain." Ujar ibunya berusaha menenangkan kemarahan dari bapak Yuri.
" Ibu selalu manjain dia !! begini ni jadinya." sengut Bapak Yuri dengan kesal meninggalkan pintu kamarnya yang tidak terbuka. Sementara Yuri yang mendengar Omelan Bapaknya terlihat acuh karena pikirannya masih menerawang jauh ke Aryo.
Yo..? kamu sebenarnya dimana sih." Gumamnya,, suaranya terdengar jelas begitu khawatir,,, matanya kini mulai berkaca-kaca.
**
Kediaman Beliondra terlihat tenang namun sebenarnya sangat menakutkan,, ya,, bagaimana tidak, Nyonya Melisa Beliondra kini sangat marah besar,, dia tak mau bicara kepada siapapun selain kepala pelayan di dirumahnya.
Kekesalannya bukan tanpa alasan,, pasalnya Kenzo tidak menuruti keinginan dari ibunya itu,, dengan semangat dan susah payah Nyonya Beliondra mengatur pertemuan keluarga untuk bertemu calon menantunya, tapi Kenzo secara tegas menolak,, hal itu tentu saja membuat nyonya Beliondra tidak mengerti dengan jalan pikir putra tertuanya itu,, calon menantunya kini sedang mengandung keturunan keluarga besar Beliondra,, tapi malah tidak mau diperkenalkan dengan keluarga. Seisi rumah terkena imbasnya termasuk Brayan dan Indri yang tidak tahu apa apa.
" pak muldy.." pangggil Kenzo yang terlihat lelah setiba pulang dari kantornya.
" Ya tuan muda besar." Sahut pak Muldi sopan dan seperti biasa berdiri menyambut kepulangan Kenzo beserta pelayan yang lainnya. Karena memang tidak ada yang berani untuk tidur kalau tuan muda besar rumah itu belum pulang,, mereka akan bertanya apa saja yang dibutuhkan oleh Kenzo.
Kenzo memang terlihat tegas dan dingin jarang bicara dan terkesan menakutkan Dimata para penghuni kediaman Beliondra,, meski begitu dia adalah orang yang adil dan peduli kepada seluruh bawahannya.
" nyonya besar bagaimana,, Apa masih marah?" Tanyanya sambil memijat pelipis mata.
" Masih tuan ,, Nyonya juga tidak mau meninggalkan kamar, seisi rumah dicuekin." Jelas pak Muldi.
Sementara seluruh pelayan selain pak Muldi masih membungkuk hormat tanpa bergerak.
" Baiklah kalian semua boleh pergi." Perintahnya mengibas tangan, kemudian berjalan menuju ruang kerjanya. Beberapa menit berlalu, Kenzo masih terlihat bekerja meski sudah dirumah.
suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangannya.
Tot..tok...tok...
" Tuan.. bagaimana dengan makan malam,, apa mau dipanaskan sekarang?" tanya pak Muldi
" Tidak perlu,, buatkan secangkir kopi saja."
" Baik tuan." jawab pak Muldi, namun dia tidak langsung pergi,, tatapannya sedih menatap pintu ruang kerja Kenzo,, dia sangat perduli dengan Kenzo meskipun bukan anaknya, Namun pak Muldi sudah menjaga dan merawatnya dari kecil,, dia jarang sekali melihat senyuman dari bosnya itu
" Hah... sampai kapan dia akan bekerja seperti robot." Gumamnya menarik napas berat. kemudian berbalik dan pergi.
happy reading 😘😘