Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
Perasaan Kenzo



Indri tersenyum bahagia penuh kemenangan,, sementara pak Muldi bergegas pergi dengan perasaan bersalah karena berpikir telah membuat marah nona Mudanya,, Pak Muldi sangat sayang kepada Indri,, sewaktu kecil pak Muldi yang merawatnya ketika ibunya sibuk dirumah sakit mengurus Ayahnya,, pak Muldi juga yang selalu menemaninya disaat dia kesepian dan butuh teman curhat, bagi keluarga Beliondra pak Muldi bukan hanya sekedar kepala pelayan dirumah itu, dia sudah seperti keluarga mereka sendiri.


" Nyonya Melisa yang cantik...? bagaimana sandiwara mogok makannya? apa berhasil meluluhkan si Tuan muda berhati batu itu..?


Indri terlihat kepo mengorek orek informasih dari ibunya,,


" Hus... kenapa ngatain kakak kamu kayak gitu? gak boleh gitu lagi..?! tegur nyonya Melisa lembut.


" Emang benar kok..?! Hatinya keras seperti batu,, Abang gak pernah senyum sekalipun sama Indri, biarpun dia Abang Indri sendiri,, tapi nyeremin.!!? pantesan gak laku laku, bukan karena jelek, tapi cewek cewek pada takut.


" Indriii... gak boleh gitu ah ngomongnya,, bagaimanapun Abang mu itu anak mama juga lho, sama kayak kamu dan Brayan lahir dari rahim yang sama. Kamu gak kasian lihat Abangmu? dia selama ini yang menjadi Tulang punggung buat keluarga besar kita. Dia mungkin kesepian, makanya tidak tahu caranya tersenyum. Jadi... mendingan kamu bantu mama buat mulusin rencana mama, biar mama cepat gendong cucu, dan kamu bisa jadi onti."


Indri mengangguk paham dan setuju dengan rencana ibunya. " jadi bagaimana..? apa rencana mama udah setengah berhasil?"


Nyonya Melisa tersenyum ambigu sambil menyeruput kopinya.


" Yah... nyonya Melisa gak asyik.." Protes Indri karena tak mendapat informasi yang ingin dia dengarkan.


" Wedang jahenya non?"


Pak Muldi meletakkan wedang jahe buatannya didepan Indri.


" Gak kepengen lagi." jawab Indri ketus.


" Laah kenapa nNon..?? Bapak salah apa lagi??"


Pak Muldi bertanya bingung sambil menoleh kearah nyonya Beliondra yang tersenyum santai,, sementara Indri menelungkupkan wajahnya diatas meja.


*


April duduk termenung di kantin rumah sakit, kesedihan tergambar jelas diwajahnya,, Cobaan datang bertubi-tubi menghampiri. Bundanya, Ayahnya, dan dirinya. Air mata menetes bagai embun di pipinya tanpa ia sadari.


Kruk..kruk... suara perutnya sedari tadi protes minta di isi,, tapi dia tak menghiraukan, rasa lapar yang ia rasakan tak sebanding dengan perasaannya yang saat ini begitu sekit dan menyimpan banyak beban. Mengingat bundanya yang harus bergantung hidup pada alat medis membuat dadanya kembali sesak.


Saat ini dia benar-benar sendiri, tidak ada tempat untuk mengeluh atau sekedar bercerita, bahkan sahabat satu satunya Yuri hilang tanpa kabar.


Kenzo menatap wajah sedih April dari kejauhan tidak berani menyapanya. Entah ada apa dengan dirinya,, melihat April yang begitu menderita membuat hatinya juga ikutan sakit.


Gadis kecil itu,, bagaimana bisa menanggung begitu banyak penderitaan, itu yang dipikirkan Kenzo dari tatapannya.


Dua orang anak kecil sekitar usia 7 dan 10 tahun melintas didepan kenzo, dia manggilnya.


" Dek..dek...sinih..?" Panggilnya sedikit pelan.


Anak kecil itu keduanya saling melempar tatapan ragu.


Kenzo berjalan mendekati keduannya, kemudian berjongkok didepan anak perempuan yg berusia sekitar 7 tahun.


" Om boleh minta tolong gak..?!


Anak itu tidak menjawab, tatapannya terlihat polos dengan mata yang berbinar menatap tanjam Kenzo. Tatapan Matanya seperti terselip keraguan dan rasa takut.


" Om bukan orang jahat kok,, om cuma mau minta tolong,, boleh tidak?"


Anak itu hanya mengangguk mengiyakan,, karena sepertinya mereka sedikit percaya dengan ucapan Kenzo.


" Lihat cewek cantik yang duduk disana gak?" arah tangan Kenzo menujuki April yang sedang duduk termenung dalam kesedihan.


Anak itu mengangguk. " Nah sekarang om mau minta tolong sama Adek yang baik dan cantik,,, kasihkan ini ke Kaka cantik itu bisa kan?" Pinta Kenzo tersenyum ramah seraya menyodorkan bungkusan yang berisi makanan untuk April.


Anak itu mengangguk setuju, dibibirnya yang mungil dan manis tersungging senyuman tulus.


Garis wajah Kenzo terlihat bahagia, kemudian tersenyum lebar sambil mengelus rambut anak itu.


" Selesai.." ucapnya terlihat bahagia.


Kenzo kembali memberikan bungkus tersebut kepada anak kecil tadi.


Anak kecil itu berlari menghampiri April.


" Kaka cantik.." Panggilnya sambil mengoyang goyang tangan April.


April mendongak melihatnya. Matanya terlihat suram,, dia berusaha memaksimalkan senyuman, melihat anak kecil yang berdiri manis didepannya sambil mengoyang tangannya.


" Eh... iya sayang...? Kamu manggil kakak tadi?" Tanyanya ramah.


Anak kecil itu mengangguk seraya menyodorkan bungkusan dari Kenzo. April mengernyit bingung.


" Bu..at saya..?" ujarnya tak percaya menunjuk diri sendiri.


Anak kecil itu kembali mengangguk.


" Dari siapa sayang...?" April bertanya penasaran.


Anak itu mengarahkan telunjuknya ke tempat Kenzo berdiri tadi,, April mengikuti arahan tangan anak kecil itu,, tapi disana tidak terlihat seseorang yang dia kenal, dia hanya melihat seorang anak lelaki tanpa berkedip memandang ke arah keduanya.


" Gak ada siapa- siap..pa." ujar April pelan menoleh kembali kearah anak kecil tadi,, namun anak itu sudah berlari meninggalkannya dalam kebingungan.


" Apa ini dari Aryo ya..?" tebak April bergumam sambil membuka isi dari bungkusan tersebut. Tenyata didalamnya terdapat kotak bekal dihiasi gambar senyuman diatasnya. Wajahnya sedikit tersenyum melihat gambar itu.


Matanya kembali mencari cari keberadaan orang yang memberikannya makanan. Namun masih tidak menemukannya.


Dari balik tembok, Kenzo tersenyum bahagia melihat April bisa kembali tersenyum karena melihat gambar yang dia buat.


" Ada apa bos.." Tanya Thomas asistennya tiba-tiba, sambil mengikuti Kenzo bersembunyi dibalik tembok.


" Astaga.. Kamu..!!!" Kenzo begitu kaget di buatnya. Matanya melotot dan Kenzo terlihat tidak senang mengetahui Asisten Thomas memergokinya.


" Iya bos.."


Thomas menjawab dengan polos. Tidak mengerti dengan reaksi Kenzo yang dibuatnya kaget dan marah karena merasa sedikit malu.


" Ngumpet dari siapa bos?"


" Siapa yang ngumpet..!!?" Kenzo berdalih kemudian berjalan terburu buru diikuti oleh Thomas dibelakangnya.


Kenzo masih terlihat kesal, dia berbalik menatap Thomas.


" Kamu..!?" Tunjuknya


" Iya bos.." sahut Thomas.


" Kamu..!! berdiri disitu.." Ucapnya memberi perintah. Namun dia terlihat kacau dan bingung.


Thomas tak mengerti dengan bosnya itu, dia memikirkan kesalahan apa yang sudah dia perbuat, karena sepertinya bosnya Kenzo terlihat kesal kepadanya. Melihat bosnya sudah menjauh, Thomas kembali ketempat pertama bosnya bersembunyi tadi, dan berusaha mengintip kerah yang janggal di lihatnya.


Thomas tersenyum mengetahui kesalahannya.


Rupanya Kenzo malu karena ketahuan oleh bawahannya mengintip seorang wanita, dan wanita itu adalah April.


" Bos... bos.... memangnya apa yang salah sih, dengan jatuh cinta? Kenapa malu gitu.. Kalau cinta bilang dong..? jangan hanya diintip aja?"


Thomas berbicara kepada dirinya sendiri.


***